
Setelah menutup pintu kamar, Shinta segera kembali ke meja rias. Baru saja beberapa langkah, bel kamar berbunyi lagi. Shinta segera berbalik dan membuka pintu dengan cepat.
"Ya ampun tuan! Bukannya sudah ku katakan tadi," ketus Shinta.
"Pengantin pria dilarang bertemu dengan pengantin wanita sebelum resmi," tutur Leon datar.
"Nah itu masih ingat!" ucap Shinta sambil bergerak untuk menutup pintu lagi.
"Tunggu, nona!" seru Leon sambil menahan pintu agar tidak tertutup.
Lily yang menunggu dari tadi, akhirnya memutuskan untuk melihat ke depan. Dia sangat terkejut melihat Shinta yang berusaha menutup pintu. Dapat dipastikan jika seseorang di luar sana berusaha untuk masuk ke dalam kamar.
Awalnya Lily ingin menegur Shinta agar membiarkan seseorang itu masuk ke dalam kamar. Namun, setelah Lily melihat siapa orang yang akan masuk itu adalah Leon, timbul pikiran Lily untuk membiarkan saja mereka. Dengan santainya Lily kembali ke dalam.
"Ih, tuan! Kan sudah ku bilang tidak boleh, ya tidak boleh," ketus Shinta.
Aksi dorong-mendorong pintu masih saja berlanjut saat Lily mengambil air minum di atas meja.
Ya ampun! Masih begitu dari tadi. Batin Lily.
Lily melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul sepuluh. Masih ada waktu sekitar tiga jam lagi.
"Aha! Mending nonton siaran langsung!" seru Lily sambil mendaratkan bokongnya diatas sofa.
Lily juga mengisi perutnya dengan memakan buah-buahan dan dessert yang sudah tersedia di atas meja.
"Nona!" seru Nana.
Lily langsung menoleh saat mendengar Nana menyapanya. Lily terperangah melihat Nana yang terlihat cantik mengenakan gaun senada dengannya. Pilihannya tidak salah. Nana terlihat lebih muda mengenakan gaun itu.
"Iya, Nana. Pas kan Nana pilihanku!" seru Lily.
"Iya, nona. Terima kasih. Oiya, di mana nona Shinta?" tanya Nana.
"Tuh!" ucap Lily sambil menunjuk arah di mana Shinta dan Leon sedang berlomba mendorong pintu.
"Ya ampun! Pasti salah paham," ucap Nana sambil menggelengkan kepalanya.
Nana merasa kasihan melihat Shinta dan Leon yang tidak selesai saling mendorong. Dia melangkahkan kakinya untuk menyudahi kesalahpahaman mereka.
"Nana, jangan!" perintah Lily.
"Tapi nona," sanggah Nana.
Lily menarik tangan Nana dan membawanya duduk di samping.
"Di sini saja, Nana. Biarkan saja mereka. Mana tahu berjodoh. Hihihi," ucap Lily antusias sambil tertawa kecil.
Nana terdiam. Mungkin ada benarnya yang dikatakan oleh Lily. Selama ini yang Nana ketahui tentang Leon adalah pria itu masih melajang hingga saat ini. Bisa jadi mereka berjodoh. Nana akhirnya menurut dan duduk di samping Lily sambil memakan cemilan yang sudah tersedia di atas meja.
"Seru kan, Nana! Kapan lagi nonton siaran langsung seperti ini. Hihihi," tutur Lily.
Pergulatan saling mendorong pintu semakin memanas. Lily dan Nana menatap kedua tokoh utama bergantian hingga suara ponsel Lily mengagetkan mereka.
Drt ... drt ...
"Iya sayang," sapa Lily.
__ADS_1
"Akhirnya, aku bisa mendengar kau memanggilku 'sayang' untuk pertama kali. Ku harap seterusnya," ucap Zack.
"Ish, kau itu!" gerutu Lily.
"Jangan merajuk, please!" bujuk Zack.
"Ada apa kau menelpon?" tanya Lily.
"Hampir saja aku lupa karena mendengar suara merdumu," rayu Zack.
"Aku akhirinya panggilan telponnya!" ancam Lily.
"Jangan sayang! Aku hanya bercanda. Apa Leon sudah kembali dari kamarmu?" tanya Zack.
"Belum," jawab Lily singkat.
"What? Apa yang dia lakukan di sana?" Zack tidak percaya dengan yang barusan di dengarnya dari Lily.
"Sebentar. Aku akan mengalihkannya ke video call," ucap Lily sambil menekan gambar video di layar ponselnya.
Zack segera mengangkat panggilan video dari Lily.
"Sayang, mengapa putih semua?" tanya Zack bingung.
"Tentu saja putih. Itukan dinding kamar. Hihihi," tutur Lily sambil terkekeh.
"Jadi, kau hanya ingin memperlihatkan dinding yang putih saja?" tanya Zack lagi.
"Tunggu sebentar! Nah, sudah kelihatan kan siaran langsungnya?" tanya Lily.
"Sayang!" seru Lily.
"Ya."
"Ayo taruhan!" ajak Lily.
"Taruhan apa?" tanya Zack.
"Taruhan siapa yang akan jatuh tersungkur?"
"Ok. Aku pilih Leon," ucap Zack.
Zack sangat yakin sekali jika Leon yang akan keluar menjadi pemenangnya. Apalagi lawannya seorang wanita.
"Ok. Aku sudah pasti Shinta," jawab Lily.
"Shinta?" tanya Leon bingung.
"Yang wanita namanya Shinta. Dia yang merias wajahku," tutur Lily.
"Oh. By the way, biarkan aku melihat wajah pengantinku," pinta Zack.
"No!" Lily menolak permintaan Zack dengan tegas.
"Kau tega sekali. Aku sangat merindukanmu selama dua hari terakhir," ucap Zack lembut.
"Bersabarlah untuk beberapa jam lagi, sayang," bujuk Lily.
__ADS_1
"Baiklah, aku menerimanya dengan terpaksa," ucap Zack.
"Hihihi. Sudah dulu ya. Aku masih ingin melanjutkan menonton siaran langsung Leon versus Shinta," tutur Lily.
"Tunggu! Jika ada taruhan, berarti ada hadiah. Apa hadiahnya bagi yang menang?" tanya Zack.
"Terserah kau saja," balas Lily singkat.
Kedua mata Lily mulai tidak fokus. Tontonan di depannya semakin memanas. Sepertinya mereka akan segera mengetahui siapa yang akan keluar menjadi pemenangnya.
"Tiga permintaan," ucap Zack.
"Apa Zack?" Lily tidak begitu mendengar dengan jelas ucapan Zack. Dia meminta pria itu untuk mengulangi ucapannya lagi.
"Aku bilang tiga permintaan. Yang kalah harus melaksanakan atau mengabulkan tiga permintaan dari si pemenang. Bagaimana? Deal?" tanya Zack.
"Ok, deal," balas Lily singkat.
"Jangan putuskan panggilan video call! Aku ingin melihat secara langsung siapa pemenangnya," perintah Zack lembut.
"Ok ... ok. Sepertinya sudah hampir selesai," tutur Lily.
"JIKA KAU KALAH KAU AKAN KU PECAT!" teriak Zack dari layar ponsel.
Leon yang mendengar suara teriakan dari tuannya itu, tanpa sadar menambah kekuatannya. Dengan sisa tenaganya yang terakhir, Leon berhasil mendorong pintu kamar Lily dengan kuat. Shinta tidak bisa menahan pintu. Tubuhnya jatuh tersungkur, dengan bokongnya mendarat ke lantai terlebih dahulu.
Bruk ...
"Aw, bokongku sakit sekali," ucap Shinta sambil mengelus pelan bokongnya.
"Maafkan aku, nona," ujar Leon lembut.
Leon mengulurkan tangannya untuk membantu Shinta berdiri. Akan tetapi, tangan Leon di tepis oleh Shinta. Gadis itu ternyata tidak terima Leon mendorong pintu dengan kuat dan membuatnya tersungkur.
"Bukannya sudah ku katakan, tuan. Pengantin pria tidak boleh bertemu dengan pengantin wanita sebelum resmi!" cecar Shinta.
Shinta sangat tidak suka jika seseorang tidak mau mendengar kata-katanya, apalagi yang berhubungan dengan sesuatu yang bersifat pamali. Gadis itu membalikkan tubuhnya. Dia sangat terkejut saat mendapati nyonya Lily sedang berada di sana bersama Nana.
"Ya ampun! Nyonya kembali ke kamar rias sekarang juga!" teriak Shinta.
"Ehm... nona, saya rasa anda salah paham," ucap Zack yang berusaha untuk menyudahi kesalahpahaman yang terjadi antara dia dan gadis di depannya.
"Mau bahas apa lagi, tuan?" tanya Shinta ketus.
"Begini nona ..."
"Shinta. Namaku Shinta."
"Baiklah. Begini nona Shinta, saya bukan pengantin pria melainkan asisten dari pengantin pria.
"A-pa?" Shinta terkejut mendengar penuturan Leon.
💕💕💕
Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recomended banget loh! Penasaran kan? Cusss mampir 😘😘😘
__ADS_1