Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 36. Atika


__ADS_3

Lagi-lagi Rafa mengirimi Bram beberapa foto mereka yang saat ini sedang berada diatas kapal. Bram yang mendapat kiriman foto-foto tersebut langsung gerak cepat sebelum tuannya itu mengiriminya teks untuk segera di posting di status WA nya.


"Asyik ya yang lagi main diatas kapal," tulis Bram di salah satu foto.


Rafa tersenyum melihat status WA Bram. Asistennya itu semakin pintar saja. Tanpa disuruh, dia sudah mengerti yang harus dilakukan.


Suasana di kapal sangat ramai tetapi tidak riuh. Mereka sambil bersenda gurau sambil menikmati minuman dan makanan mereka. Menikmati makanan hanya khusus untuk bumil Naya. Mereka berempat hanya minum es saja untuk melepas lelah mereka setelah berkeliling water front.


"Bang ... bang... 0812 atau 08 berapa?" tanya Atika pada seorang remaja pria yang duduk di belakangnya.


Lily yang duduk di hadapannya langsung tersedak mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut adik sepupunya itu. Kemarin Bilin, sekarang Atika.


"Astaga anak zaman now emang beda sama jaman old," ucap Lily didalam hatinya sambil menggelengkan kepalanya.


"0812348*****," jawab pria di belakangnya.


Lily semakin tercengang ketika remaja itu dengan mudahnya memberikan nomor WA nya pada Atika.


"Biase jak bah kak," tutur Bilin.


"Nyesel gue muji dia kemaren," ucap Lily.


"Baru tau yeee. Ha.. ha.." balas Bilin sambil tertawa.


Puas mengarungi sungai Kapuas dan menikmati keindahannya, mereka pun beranjak dari water front menuju tempat makan.


Wajar saja jika perut mereka bernyanyi keroncong lagi karena sekarang sudah hampir jam sepuluh malam. Mereka bersenda gurau selama perjalanan menuju tempat makan yang letaknya tidak begitu jauh dari water front. Kecuali Atika dan Naya. Naya terlelap tidur karena kenyang. Sedangkan Atika sibuk berbalas pesan dengan remaja pria yang tadi baru di kenalnya.


Tempat makan kali ini terletak di bawah jembatan tol 1 Kapuas. Setelah perempatan jalan, lurus sedikit langsung belok ke kiri dekat tikungan. Tempatnya tidak begitu jauh setelah jalan raya.


Setelah Rafa memarkirkan dan mematikan mesin mobil, mereka segera turun. Naya yang tadinya ketiduran, ikut turun karena terbangun.


Pengunjung sudah tidak begitu ramai. Jadi mereka bisa leluasa mencari tempat duduk. Tempat ini juga menyajikan berbagai macam menu makanan.


Karena setelah terkena angin dingin dari sungai Kapuas, Lily memutuskan ingin makan makanan yang berkuah. Dia menjatuhkan pilihannya pada ikan kakap asam pedas. Rafa, Atika, dan Bilin memilih tom yang seafood.


Naya yang dari tadi tidak dipedulikan langsung memanyunkan bibirnya.


"Eh bumil kenapa?" tanya Lily.


"Gue mau pesan makan, eh buku menu malah langsung kalian kembalikan ke pelayan," oceh Naya.


"Hah!" Mereka berempat berseru bersama.


"Nda salah ke kak, makan lagi!" Komentar Atika yang mendengar Naya ingin memesan makanan lagi.


"Ya engga lah," ketus Naya.


"Ya ampun Nay. Itu makanan lari kemana? Badan lu udah tambah buket aja tau Nay," seloroh Rafa.


Buk


Naya melempari Rafa dengan tempat tisu.


"Ya udah. Ntar gue panggil pelayannya lagi. Gue juga masih mau pesen dimsum," ucap Lily menengahi mereka agar tidak ribut lagi.


"Gue sumpahin ntar kalo lu punya bini, pas hamil kek gue makannya berkali lipat dari gue," ketus Naya pada Rafa.

__ADS_1


"Eits jangan dong Naya bulet," bujuk Rafa.


Yang di bujuk bukannya semakin tenang justru semakin kesal. Naya memanyunkan bibirnya pada Rafa.


"Eh Nay, kalo lu kesel-kesel sama gue, anak lu ntar mirip gue loh," goda Rafa.


"ih amit-amit deh," ucap Naya sambil mengusap perutnya.


Lily sedang malas untuk menimpali mereka berdua karena perutnya sudah keroncongan dari tadi. Sehingga dia tidak punya tenaga untuk meladeni mereka. Dia lebih memilih menikmati suasana malam di bawah jembatan tol.


"Aaa ... yes... yes..." teriak Atika.


Lily yang sedang menikmati suasana malam dibuat terkejut olehnya.


"iii ... nape bah kau tu?" tanya Bilin yang masih cuek.


"Nah!" Atika memperlihatkan layar ponselnya pada Bilin.


"aaa kan Atika. kok kau gitu sih. Itu kan crush on nye aku," rengek Bilin.


"iii ... Mane gak lah aku tu tau," jawab Atika.


"ish jahat lah. Kau di balas follow same die. Kok aku nda sih," rengek Bilin.


"Makanya Bilin kalo lagi crush on sama orang itu cukup satu aja. Lah ini, tiap ada cowok di tanyain 08 berapa bang," oceh Lily.


"Tapi itu kan crush on nya Bilin," rengek Bilin lagi.


"Sebodo amat," celetuk Atika.


Kebetulan bakpao telur asin dan kacang hijau yang di pesan oleh Lily diantar tepat waktunya. Lily mengambil satu bakpao kacang hijau yang berukuran kecil dan langsung memasukkannya ke mulut Atika dan Bilin satu persatu.


"Diem juga kan," ucap Lily.


Lily menoleh ke arah Naya yang berada di sampingnya. Dari tadi dia tidak mendengar suara Naya dan Rafa setelah mereka saling goda.


"Ya ampun, bisa-bisanya nie bocah berdua tidur disaat kek gini," ucap Lily sambil menepuk keningnya.


"Ha ... ha.. Eh bentar kak jangan di bangunkan. Foto dulu, foto dulu." Sifat jahil Atika mulai muncul ke permukaan.


Klik ... klik ...


"Tarok di IG ah," ucap nya langsung membuat story IG nya.


Lily hanya tersenyum. Dia belum tahu bagaimana Naya mengomel jika tahu foto aib dirinya di sebar luaskan di media sosial.


"Kok senyam-senyum sih kak," tanya Atika.


"Ngga. Siapa yang senyum."


"Lah itu barusan," cecar Atika.


"ih ... salah liat," elak Lily.


Adu mulut mereka terhenti saat makanan yang mereka pesan datang. Aroma khas ikan asam pedas sukses membuat perutnya konser. Aroma tom yang juga tidak ketinggalan menggelitik hidung.


Naya dan Rafa terbangun mencium aroma makanan yang berhasil mengusik tidur mereka.

__ADS_1


"Eh pada bangun. Hampir mau gue habisin loh!" ucap Lily.


"Kualat ntar lu sama bumil," seloroh Naya.


Mereka segera menikmati makan malam yang terhitung telat. Semua piring yang berada diatas meja bersih mengkilat. Entah memang makanannya yang enak atau mereka yang kelaparan. Keduanya hanya beda tipis.


Dimsum yang di pesan Lily menjadi makanan penutup mereka. Naya dengan santainya memakan dua bakpao dan tiga siomay. Lily hanya bisa membulatkan kedua matanya. Dia tidak ingin berkomentar lagi. Bisa panjang urusannya jika mengomentari porsi makan Naya saat ini.


Rafa yang sudah siap ingin mengeluarkan suara, mulutnya langsung di tutup Lily dengan sebuah siomay. Lily membulatkan kedua matanya. Dia memberi ancaman pada laki-laki itu agar tidak berkomentar. Telinga sudah lelah mendengar mereka yang tidak ada capeknya beradu mulut.


Dengan susah payah Rafa mengunyah siomay yang ada di mulutnya. Tatapan tajam Lily masih betah menatapnya. Mulutnya terbuka lagi saat siomay itu sudah habis seperti siap untuk bersuara. Dengan sigap Lily langsung memasukkan satu siomay lagi ke dalam mulut Rafa.


Rafa merasa dirinya teraniaya. Sampai-sampai dia tidak berani membuka mulutnya lagi. Siomay kedua sudah habis di dalam mulutnya. Dia segera menutup mulut dengan kedua tangannya dan menggelengkan kepalanya. Lily menaikkan dua jempol kepadanya sambil menaik turunkan kedua alisnya.


Naya yang tidak tahu apa yang terjadi diantara mereka berdua terlihat cuek saja. Dia sedang asyik berselancar di dunia maya.


"ATIKA!" teriak Naya tiba-tiba.


Yang di teriaki namanya hanya melongo saja dan tidak terlalu merespon.


"Hapus ngga!" perintah Naya sambil memperlihatkan layar ponselnya pada Atika.


"Oh."


"Lah, dia cuma ber-oho aja. Hapus ngga! Cepetan!" perintah Naya.


"i.. nda bisa kak," ucap Atika santai.


"Kenapa ngga bisa? Kan tinggal di hapus aja. Sini hape nya!" oceh Naya.


Atika dengan santainya memberi hapenya pada Naya. Naya mengusap layar ponselnya tetapi tidak bisa.


"Kan kak, udah dibilangin nda bisa," kok hape nya kek gini.


"Tadi ngga sengaja ke gembok kak," jelas Atika.


"Ya kan tinggal dibuka aja." ketus Naya.


"Kuncinya ketinggalan di rumah, kak." jawab Atika.


Lily, Bilin, dan Rafa tertawa mendengar jawaban Atika. Mana ada gembok hape ada kunci fisiknya.


Naya mengembalikan ponselnya dengan wajah cemberut. Niat hati ingin menghapus foto aib dirinya yang tertidur di tempat makan justru nihil.


"Tenang kak, tunggu viewers aku banyak yang liat otomatis ke hapus sendiri kok, kak."


"Beneran!" seru Naya sambil mencondongkan tubuhnya ke depan.


"Ho oh kak," jawab Atika.


"Ya udah, berapa lama?" tanya Naya.


"Ya kalo banyak yang udah liat otomatis ke hapus kok kak," jelas Atika.


Lily, Rafa, dan Bilin tertawa tanpa bersuara. Mereka sampai memegang perut. Bisa-bisanya Naya dibodohi Atika. Mana ada ceritanya seperti itu. Naya itu terkenal sudah dikerjai dan dibodohi. Tapi hari ini, Atika telah memecahkan rekor bisa membodohi Naya.


Lily sampai memegang kedua rahang pipinya yang terasa sangat pegal akibat tertawa berlebihan.

__ADS_1


~Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh. Yukss mampir~



__ADS_2