Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 22. I love you aunty ....


__ADS_3

Lily dan Emily sangat asyik bercengkrama. Lily dengan telaten menyuapi Emily sampai gadis kecil itu menghabiskan makanannya. Sedangkan Emily, dengan senang hati bergelayut manja di pangkuannya. Sesekali di usapnya pipi Lily dengan kedua tangan mungilnya, dan mengecup pipi Lily berkali-kali.


Nana yang sedang berbicara dengan Naya merasa sangat senang melihat keakraban yang baru saja terjalin diantara Lily dan Emily. Padahal yang dia tahu selama ini, Emily nya sangat susah untuk di dekati oleh orang lain. Walaupun dia Adah seorang gadis yang sangat ceria dan ramah.


Lain halnya dengan Naya. Dia biasa saja melihat Lily bisa begitu akrab dengan Emily. Sahabatnya itu walaupun kadang otaknya agak gesrek, dia sangat menyenangi anak kecil. Berbanding terbalik dengannya yang kurang menyukai anak kecil. Karena baginya mengurus anak kecil itu merepotkan. Nyatanya, justru dia yang hamil duluan. Lebih parahnya lagi, anaknya nanti lahir tanpa seorang ayah.


"Yeay... pintar. Makannya habis," sorak Lily. Dia bertepuk tangan menyemangati Emily.


Emily yang merasa senang tidak mau ketinggalan bertepuk tangan. Dia memperlihatkan senyuman terbaiknya untuk Lily.


"Thank you aunty cantik," ucap Emily.


Lily tersenyum mendengar ucapannya. "Sama-sama Emily imut," balasnya.


Dia mencubit pelan kedua pipi chubby Emily. Ia juga menghujani Emily dengan kecupan dan ciuman sayang.


"Lu berdua udah kelar?" tanya seorang pria.


Lily, Naya, Nana, dan Emily sontak terkejut mendengar suara seorang pria yang tiba-tiba memecah kehangatan mereka.


"Elu, Fa. Gue kirain siapa," ucap Naya.


Rafa tidak memberitahu mereka jika dia akan menyusul ke mall. Hal yang sangat penting membuatnya tidak sempat untuk menghubungi mereka. Setelah mendapat informasi dari Bram, dia segera meninggalkan apartemennya dan disinilah dia berada. Duduk diantara mereka bertiga.


Dia baru menyadari jika Lily dan Naya tidak hanya duduk berdua. Ada seorang anak kecil di pangkuan Lily.


"Eeee buset ... dapet anak dari mana, lu? tanya Rafa pada Lily.


"Lucu kan? cantik lagi," ucap Lily.


Lily mengusap rambut cokelat Emily dengan sayang.


Rafa mengalihkan pandangannya ke Naya. Pandangannya menuntut penjelasan.


Naya yang mengerti arti pandangan Rafa tidak ingin menjawabnya. Justru menyuruh Rafa untuk bertanya lagi pada Lily.


"Tanya aja sama orang yang punya anak," jawab Naya.


Rafa mengalihkan pandangannya ke Lily.


"Ly, anak lucu nan cantik ini dapet dari mana?" tanya Rafa menahan rasa geramnya pada Lily.


"Dari kolong meja," jawab Lily tanpa memperhatikan Rafa. Dia sibuk bercengkrama dengan Emily.

__ADS_1


Pletak ...


"Auw... kok gue di jitak lagi sih, Fa." kesal Lily.


Dia mengusap keningnya lagi. Emily yang melihat kening aunty cantiknya di jitak lagi, langsung mendaratkan cubitan kecilnya di tangan Rafa.


"Hmmm... kebiasaan. Uncle nakal, tidak boleh pukul kening aunty lagi," oceh nya.


Emily mengomel sambil menautkan kedua alisnya dan berlagak seperti seorang ibu yang sedang memarahi anaknya.


Ha... ha... ha...


Lily dan Naya menertawai Rafa diomeli seorang gadis kecil yang berusia tiga tahun. Sedangkan Nana, hanya mengulum senyum.


"Tidak boleh pukul-pukul kening aunty cantik lagi!" perintah Emily.


Dia juga menaikkan jari telunjuknya ke arah Rafa, dan menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan.


Rafa bukannya marah, malah tersenyum melihat tingkahnya. Dia mencubit gemas kedua pipi gadis itu. Yang kemudian ditolak oleh Emily.


"Uncle... no... no...! tidak boleh cubit pipiku!" tukas Emily.


Ha... ha... ha...


"Wuiihh... calon-calon dimusuhin, nih." ucap Naya.


Rafa tidak memperdulikan perkataan Naya. Dia melihat Emily yang sejujurnya memang lucu dan cantik. "Namanya siapa sayang?" tanya Rafa.


"Emily, uncle." jawab Emily.


"Nama yang bagus." ucapnya.


Drt... drt... drt...


Ponsel Nana berdering. Meskipun berada di dalam tas, getaran ponselnya sangat terasa. Setelah dilihat nama yang tertera di layar ponsel, dia segera mengangkatnya dan berbicara pelan.


"Maaf tuan, nona. Kami permisi pulang dulu. Daddy nya sudah menunggu di parkiran," ucap Nana pada mereka. Setelah sambungan telponnya terputus, dia segera memasukkan ponselnya ke dalam tas. Tuannya sudah menelpon dan memberitahunya untuk segera ke tempat parkir.


"No... Nana. Em masih ingin dengan aunty," rengek Emily.


Emily semakin erat memeluk Lily. Dia merasa sangat nyaman berada di dalam dekapan Lily. Air matanya mulai menggenang di kedua pelupuk matanya. Tidak sampai satu menit kemudian, air mata itu turun dengan derasnya melewati pipinya yang chubby.


Lily merasa sangat terenyuh ketika melihat air mata Emily. Diusapnya kedua mata dan pipi Emily dengan lembut.

__ADS_1


"Cup... cup... jangan menangis, sayang. Kau membuat hati aunty terluka," rayu Lily. Dia berusaha menenangkan Emily. Jujur saja, hatinya juga sedih harus berpisah dengan gadis kecil itu.


Bukannya berhenti, tangisan Emily justru semakin menjadi-jadi. Lily segera berdiri dan menggendongnya. Mengelus rambutnya dan menepuk pelan punggung gadis kecil itu. Dia bergoyang kesana kemari sambil menenangkannya. Perlahan tangisan Emily pun mereda. Hanya isakkan kecil yang tertinggal di bibir mungilnya.


Rafa mendekatkan dirinya pada Naya. Dia menyikut lengan Naya dan berkata pelan "Eh... Nay. Ntar kalo lu udah lahiran ngga usah capek-capek nyari baby sitter."


Naya menatap Rafa dengan bingung. "Maksud lu, Fa?" tanyanya.


"Noh... udah ada yang bisa di jadiin baby sitter," ucap Rafa sambil memonyongkan mulutnya ke arah Lily.


Naya melihat kearah mulut Rafa yang moyong. Awalnya dia tidak mengerti maksud Rafa. Tapi setelah diresapi, akhirnya dia paham yang dimaksud oleh Rafa.


"He... he... he... bener juga kata lu, Fa. Yang pasti gratis. Keuangan negara gue aman terkendali," Naya terkekeh membayangkan jika Lily menjadi baby sitter nya.


Cukup lama Lily menenangkan Emily hingga tanpa disadari gadis kecil itu tertidur dalam buaiannya. Dia memberi kode kepada Nana untuk bisa mengambil alih Emily dirinya. Rasa sedih itu kembali muncul saat Nana sudah mengambil alih Emily dari gendongannya. Tangannya yang sedikit kebas sama sekali tidak dihiraukannya.


Dia tak ingin melihat gadis kecil itu menangis lagi hanya karena tidak ingin berpisah darinya. Emily terlihat terlelap dalam gendongan Nana. Di kecup nya pucuk kepala Emily, dan di usapnya dengan lembut punggung kecilnya.


"I love you aunty," ucap Emily.


Kepalanya bergerak sedikit ketika dia mengucapkannya. Di tepuk nya perlahan punggung Emily agar dia tidak terbangun. Nana memberinya kode bahwa dia sudah siap untuk pulang.


"I love you too, my little Em," ucap Lily.


Nana melangkahkan kakinya berjalan keluar restoran. Lily melihat kepergian mereka dengan hati yang sedih. Dia sendiri tidak tahu kenapa bisa merasakan rasa yang sesedih ini ketika melihat kepergian si kecil Emily. Padahal mereka baru saja bertemu. Air matanya sedikit menggenang di sudut matanya.


"Oh... so... sweeeetttt...!" ucap Naya dengan gaya yang dibuat-buat imut.


Lily yang tadinya bersedih justru kembali kesal dengan kelakuan Naya karena telah merusak moment sedihnya. Dia mencibirkan bibir nya dan menghempaskan tubuhnya ke kursi.


"Sedihnya batal ya, Ly?" goda Rafa.


"Tau ah gelap," balas Lily.


* * *


Di sisi lain ...


Zack sudah lama menunggu kedatangan Nana dan putrinya di dalam mobil. Dia masih terlihat kesal karena tadi di halangi untuk bertemu Lily.


"Argh..." teriaknya frustasi.


~Yuk...kakak-kakak komen yukss yang mau lihat visualnya Lily dan Emily~

__ADS_1


Author tunggu ya komennya 😘😘😘


__ADS_2