
Dua bulan kemudian ...
Emily kecil sudah lama sembuh dari sakitnya. Mansion Zack sudah kembali ramai seperti biasanya.
"Daddy... daddy," teriak Emily.
Dia membuka pintu ruang kerja Zack dan berlari ke arahnya.
"Em, ingin bermain di mall. Sudah banyak segini belum, Dad?" tanya Emily sambil memperlihatkan kelima jarinya yang terbuka ke arahnya.
Zack tertawa melihat tingkah lucu putrinya itu. Emily sudah lama sembuh, hanya saja dia sengaja mengulur waktu agar Emily lupa akan janjinya untuk pergi bermain di mall. Ia ingat sekarang sudah lewat dari lima hari. Emily sudah sangat sehat untuk beraktivitas di luar.
Dia sangat protektif dengan putri kecilnya itu. Dari hal sekecil apapun selalu diperhatikannya. Ia ingin memberikan yang terbaik untuknya.
Emily merentangkan kedua tangannya tanda dia minta di gendong. Zack meraih tubuhnya, dan mengangkatnya ke atas sebelum mendarat di pundaknya.
"Ah ... daddy, aku ingin di gendong. Bukan duduk di bahu dad," ucapnya sambil tertawa.
Dia pun segera merubah posisi tubuh Emily.
"Putri Daddy mau bermain? Baiklah, kita pergi ke mall sekarang." ucapnya.
"Yeay... Nana, ayo kita ke mall!" ajak Emily.
Zack mengendarai mobilnya keluar mansion bersama Emily dan Nanny nya. Dia lebih suka mengendarai mobilnya sendiri daripada menggunakan jasa supir. Supir di mansion nya hanya untuk Emily dan Amber.
Di sepanjang perjalanan, Emily terlihat senang sekali. Dia bernyanyi sambil belajar berhitung bersama nanny nya. Sesekali dia juga akan bertanya jika melihat sesuatu yang di lihatnya sangat aneh menurutnya atau yang belum di kenalnya sama sekali. Zack sangat menikmati waktu seperti ini dengan Emily.
Sekitar dua puluh lima menit, mereka telah tiba di salah satu mall Jakarta. Emily terlihat sangat antusias. Dia mulai bersorak ketika mobil memasuki area parkir mall. Sepertinya dia sudah hapal jika sudah memasuki area itu tandanya akan segera memasuki mall.
Zack mengambil alih Emily dari gendongan nanny. Dia tidak pernah membiarkan Emily berjalan sendiri di mall. Putri kecilnya ini sangat aktif. Jika dia sudah mulai berlari sangat sulit untuk mengejarnya.
Area bermain terletak di lantai tiga. Zack memilih menggunakan eskalator. Dia sangat tidak suka jika harus berdesakan dengan orang lain di dalam lift. Eskalator adalah pilihan terbaiknya jika berada di tempat umum.
Karena hanya pergi bermain, Zack hanya memakai kaos oblong putih dengan celana jeans pendek selutut. Sandal gunung yang digunakan membuatnya terlihat santai, dan membuatnya terlihat lebih tampan.
Tanpa dia sadari, dia berhasil membuat pengunjung mall terutama kaum hawa meneteskan air liurnya. Gadis kecil yang berada di dalam gendongannya pun tidak luput dari pandangan mata mereka.
Baru saja tiba di depan arena bermain, Emily sudah meronta meminta kepada Daddy nya untuk segera di turunkan dari gendongannya.
* * *
Sudah hampir dua jam mereka berada di arena bermain. Zack yang tadinya sibuk menyelesaikan pekerjaannya dengan ponselnya, kini mulai merasa jengah. Pekerjaannya sudah selesai dari setengah jam yang lalu. Dan sekarang rasa bosan mulai menderanya.
Emily terlihat masih bersemangat bermain. Dia tak tega jika harus memaksa putrinya itu untuk menyudahi permainannya. Akhirnya, dia memutuskan untuk berkeliling mall. Sebelum dia pergi, dia menitipkan pesan kepada nanny agar bertemu kembali di sebuah resto lantai dua.
Zack melangkahkan kakinya menjauhi arena bermain. Dia sendiri sebenarnya tidak tahu akan pergi kemana. Setidaknya dapat mengusir rasa bosannya.
Di sisi lain ...
"Enak banget sih lu, Nay. Bisa makan sepuasnya. Pakek alesan ngidam lagi," oceh Lily.
"Makanya hamil aja, biar bisa makan sepuasnya," ucap Naya.
"iisshh ... amit - amit deh. Punya pacar aja belom. Gimana ceritanya gue mau hamil." gerutu Lily.
__ADS_1
"Udah ... terima nasib aja. Lagian juga sehari sebelum peraturan Rafa, lu udah puas makan banyak." balas Naya.
"Yeee... pantesan waktu itu gue yang di suruh pesen makan. Ternyata elu udah tau duluan rencana Rafa," oceh Lily.
Tak ingin makanan yang dimakannya menyembur keluar, Naya hanya bisa terkekeh akan kelemotan Lily.
Dua bulan yang lalu terkahir kali mereka ke mall, mereka berdua memesan makanan yang hampir memenuhi permukaan meja. Saat ini sangat jauh berbeda. Mereka tidak lagi memesan sebanyak waktu itu.
Sepulangnya dari mall, Rafa langsung memerintahkan dua orang koki untuk mengurus pola makan mereka. Terutama untuk Naya yang sekarang sedang mengandung.
Untuk Lily, dia dipaksa untuk mengikuti pola makan sehat dan terpaksa mengikutinya. Berat badan Lily waktu itu terhitung over weight. Jika dilihat orang lain, dia akan terlihat seperti orang yang sedang mengandung.
Dengan terpaksa mengikuti pola makan sehat, berat badan Lily sangat ideal. Seluruh tubuhnya tampak proporsional. Lemak yang sempat menginap di tubuhnya juga sudah terusir.
Lily memainkan sendok salad buahnya. Dia sudah terbiasa tidak makan terlalu banyak. Cemilannya juga nyaris tidak tersentuh lagi. Sesekali dia juga memainkan kakinya dengan mengayunkannya ke depan dan ke belakang.
"Auw ...," teriak suara anak kecil.
Lily segera melihat ke bawah meja. Seorang anak kecil duduk di bawah mejanya. Mata mereka saling bertatapan. Warna matanya sangat mirip dengan orang di masa lalunya. Rambut cokelatnya yang sebahu sangat indah. Wajahnya juga sangat imut dan cantik.
Lily turun dari kursinya dan ikut berjongkok dengannya di bawah meja.
"Kamu kenapa disini sayang?" tanya Lily.
"Aku lagi sembunyi aunty," ucap nya polos.
Lily sedikit menaikkan tubuhnya hingga kepalanya saja yang terlihat di atas meja. Dia melihat kesana kemari jika saja ada orang yang kehilangan anaknya. Tapi nihil. Semua pengunjung resto terlihat sangat tenang. Termasuk sahabatnya yang sibuk makan sendiri. Dia kembali berjongkok masuk ke bawah meja.
"Mama sama Papanya mana sayang?" tanya Lily lembut.
Gadis kecil itu menautkan kedua alisnya. Dia terlihat kurang mengenali kata itu.
Gadis kecil itu tersenyum. Sederetan gigi putihnya tampak begitu rapi.
"Dad lagi jalan-jalan di mall. Mommy terbang naik pesawat, aunty." jawabnya polos.
Lily terkekeh mendengar ucapannya. Dia mengulurkan kedua tangannya untuk menggendong gadis kecil itu keluar dari bawah meja. Gadis kecil itu dengan senang hati menerimanya.
Ketika mereka keluar dari bawah meja, Naya yang sudah selesai makan langsung terkejut melihatnya.
"Ya ... ampun, Lily. Dapat anak dari mana lu?" tanya Naya.
"Hebat kan gue, Nay. Baru aja tadi lu bilang suruh gue hamil. Noh ... langsung dapet anak, gue. Udah cantik, lucu lagi." ucap Lily sambil terkekeh.
Gadis kecil yang kini berada di pangkuan Lily ikut terkekeh walaupun dia sendiri kurang mengerti ucapan Lily dan Naya.
"Berhenti deh becanda nya. Itu bocah dapet dari mana?" tanya Naya khawatir.
"Di kolong meja." jawab Lily.
Pletak ...
Naya menjitak kening Lily dengan keras. Dia geram melihat tingkah Lily yang nyeleneh tingkat dewa.
"Auw... kok gue di jitak sih, Nay? Emang beneran gue dapetnya di bawah kolong meja." jelas Lily.
__ADS_1
Pletak ...
lagi-lagi Lily mendapat jitakan dari Naya.
"Nay! Sakit tau. Lu keknya udah ketularan, deh. Suka ngejitak." Lily berkata dengan cemberut.
"Cup... cup ... cup... aunty. Em tiup ya, biar tidak sakit lagi," ucap gadis kecil itu.
Gadis kecil itu mengusap kening Lily dengan tangan kecilnya. Setelah itu mengecup kening Lily dengan lembut.
Naya yang melihatnya hanya bisa menghela napasnya.
"Namanya siapa sayang?" tanya Naya.
"Namaku Emily, aunty." jawabnya dengan sopan.
"Wah... namanya mirip sedikit sama aunty." ucap Lily.
Emily menatapnya dengan kedua mata birunya. Lily seolah-olah terperdaya dengan tatapan itu. Tatapan yang dulu pernah membuat hatinya terpenjara di hati pria itu.
"Nama aunty, Lily."
Lily memperkenalkan dirinya kepada Emily. Emily tertawa karena mendengar bunyi yang sama dengan namanya.
"Ayo nona, dimakan lagi!" perintah nanny nya.
Lily dan Naya melihat ke arah wanita paruh baya itu.
"Maaf nona sudah merepotkan. Maaf kan nona muda saya sudah mengganggu waktu makannya nona-nona," ucap wanita itu dengan sopan.
"Tidak apa-apa kok, Bu." jawab Lily dan Naya berbarengan.
"Panggil saya Nana saja," ucap nanny.
"Em tidak mau makan lagi, Nana. Em sudah kenyang." ucap Emily sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Masa sudah kenyang. Ini saja baru dua suap." tambah nanny.
Emily semakin merapatkan tubuhnya di dalam dekapan Lily. Dia seperti merasa nyaman berada di dalam pelukan Lily.
"Biar saya aja yang bantu menyuapinya," tawar Lily.
Nana awalnya tidak enak hati. Tapi kesehatan nona mudanya sangat harus diperhatikan. Dia akhirnya menyerahkan piring makan kepada Lily.
Lily mengurai dekapan Emily. Dia memperbaiki posisi duduk Emily agar mudah menyuapinya.
"Aunty suapin ya? Mau?" tanya Lily.
Emily tersenyum dan mengangguk dengan senang.
Lily menyuapi Emily dengan sangat telaten. Sesekali diajaknya sambil bermain agar Emily mau makan dengan lahap. Sambil menunggu Emily selesai dengan makannya, Naya mengajak Nana untuk mengobrol.
Zack sudah selesai mengukur luas dan keliling mall. Dia segera menuju ke resto yang sudah dijanjikan sebelumnya. Dia berharap Emily dan Nana nya sudah berada disana. Bahkan jika perlu, Emily sudah selesai makan. Suara tawa putri kecilnya terdengar sangat lepas. Dia sudah tidak sabar untuk mendekatinya.
Sangat mudah mencari dimana putrinya berada dengan suara tawanya itu. Pandangan matanya terhenti ketika mendapati pemandangan yang tidak pernah di jangkau oleh pikirannya.
__ADS_1
~Hai my lovely readers. Aku ada novel yang recommended loh! Yukss mampir...~