
"Tuan, maaf menyela anda. Sebaiknya kita membawa nyonya ke dokter," ucap Nana sambil jalan terburu-buru.
"Lily sakit!" Zack terkejut mendengar permintaan Nana yang memintanya untuk membawa Lily ke dokter.
"Mommy sakit, Nana?" Gadis kecil itu turun dari pangkuan sang ayah. Dia melangkahkan kaki mungilnya menuju ke dapur berniat untuk melihat keadaan mommy nya.
"Nona muda ikut Nana saja. Kita bersiap-siap membawa mommy ke dokter.
Zack berjalan ke arah dapur mengecek keadaan Lily. Istri tercintanya terlihat kacau namun tetap cantik.
Lily terduduk di sebuah kursi. Seorang maid membantu Lily mengurut kaki dan punggungnya.
"Sayang, kau sakit?" tanya Zack khawatir sambil berjalan menghampiri Lily.
"Aku rasa, aku masuk angin."
Zack tidak ingin berlama-lama. Dia segera menggendong Lily ala bridal. Beberapa maid yang berada di sana tersenyum malu melihat kemesraan majikan mereka.
"Zack, turunkan aku!" perintah Lily sambil memukul pelan pundak Zack. Pria tampan itu tidak peduli dengan keinginan istrinya. Dia terus berjalan melewati ruang makan. "Zack! Aku malu," ucap Lily sambil membenamkan kepala di dada bidang Zack.
Zack mengentikan langkah kakinya tapi tidak menurunkan Lily. "Mengapa harus malu? Kau kan istriku," ucap Zack.
Lily memukul dada Zack. Dia kesal karena pria itu berkata asal. Tak ingin berlama-lama jadi tontonan para maid, Lily akhirnya menyuruh Zack untuk mempercepat langkah kakinya ke mobil.
Satu jam kemudian, rombongan Zack tiba di salah satu rumah sakit ternama di ibu kota. Meskipun Zack terkenal akan ketampanan dan kaya, dia tidak ingin mendapat perhatian khusus pihak rumah sakit. Lagipula Lily melarangnya untuk melakukan hal itu.
Zack dengan rela mengambil nomor antrian dan mendaftarkan Lily sebagai pasien. Nana yang sedang sibuk mengurus Emily dan Lily tidak memperhatikan ke mana tuannya itu mendaftar.
"Tinggal tunggu panggilan," ucap Zack sambil mendaratkan bokongnya di atas kursi tunggu. Dia duduk di samping Lily sambil memijat pelan kepala istri tercintanya.
"Kepala mommy sakit ya, dad?" tanya Em dengan wajah polos.
"Dad tidak tahu," jawab Zack asal.
"Kenapa dipijit dad?" tanya Emily lagi.
"Entahlah! Dad hanya suka memijatnya saja," Zack asal menjawab pertanyaan Emily.
"Kalau begitu Em juga mau dipijat," ujar Emily sambil memindahkan bobot tubuhnya di atas pangkuan Zack.
__ADS_1
Zack tidak bisa menolak keinginan sang putri tercinta. Jadilah, dia menjadi tukang pijat dadakan.
"Enak Daddy," ucap Emily dengan gaya manjanya.
Iya enak. Tangan Daddy yang pegal Em. ucap Zack dalam hati.
Keluarga kecil Zack menjadi pusat perhatian di ruang tunggu pasien. Ada yang menggilai ketampanan Zack, gemas dengan tingkah Emily, dan merasa iri dengan Lily yang memiliki keluarga impian kaum hawa. Untung saja nama Lily cepat dipanggil oleh seorang perawat.
"Nyonya Lily, silahkan masuk!" seru si perawat di depan pintu ruang dokter.
Keluarga kecil Zack langsung masuk ke dalam. Seorang dokter pria dengan perawakan seumuran Zack menjadi dokter Lily saat ini.
"Ada keluhan apa, nyonya?" tanya sang dokter.
"Istri saya tadi pagi ..." Zack menjelaskan semua kejadian dari pagi hingga dia tiba di rumah sakit.
"Baik. Kalau begitu saya periksa anda dulu!" seru dokter Ryan.
Dokter Ryan mengarahkan stethoskop ke dada Lily. Gerakan itu langsung ditahan oleh Zack.
"Tuan, Jika ada memegang tangan saya, bagaimana saya bisa memeriksa istri anda?" tanya dokter Ryan.
"Tentu saja, tuan. Memang harusnya bagaimana?" dokter Ryan balik bertanya.
"Cara lain saja!" perintah Zack.
Lily langsung mencubit perut kiri Zack. Pria itu langsung mengaduh kesakitan. "Jika kau begitu terus, bagaimana dokter akan mengetahui diagnosanya?" Lily berkata geram.
"Auw, tapi dia ingin menyentuhmu," Zack tak mau kalah.
Dokter Ryan tersenyum melihat perdebatan kecil pasangan suami istri di depannya. Jika saja pasiennya tidak banyak hari ini, dia dengan senang hati akan mengerjai suaminya.
"Baiklah. Kita gunakan cara lain saja. Sepertinya suami anda tidak terima jika saya menyentuh anda, nyonya."
Lily memaksa untuk tersenyum karena ucapan dokter tepat mengenai sasaran.
"Kapan terakhir anda datang bulan?" tanya dokter santai.
Pertanyaan dokter berhasil membuat Zack naik pitam. Dia menggebrak meja tanpa sadar. "Apa tidak ada pertanyaan yang lebih sopan?" ucap Zack sambil menahan amarah yang siap menyembur.
__ADS_1
Dokter Ryan hanya bisa menghela napas. Dia tahu, pasien yang berada dihadapannya salah memasuki ruang dokter.
"Sebentar!" perintah dokter Ryan. Dia memanggil asisten perawatnya untuk mengantarkan tuan dan nyonya muda itu ke ruangan dokter yang sangat pas menangani kasus Lily.
Delapan bulan kemudian.
"Nope Daddy (tidak Daddy)!" Emily melipat kedua tangan di depan sambil menggelengkan kepala.
"Warna biru kan juga bagus Em." Negoisasi masih terjadi di antara ayah dan anak itu.
"Green lebih bagus." Emily tak mau kalah.
"Dua-duanya saja." Kepala Lily hampir pusing dibuat oleh mereka berdua. Perihal memilih warna baju, selimut, dan mainan saja mereka berdua ribut. Ini masih tidak apa-apa.
Dua Minggu lalu, saat akan mendekor kamar calon baby twin, Emily dan Zack sampai bertengkar, padahal masa mengidam Lily sudah lewat. Lily ingat saat pertama kali mengetahui bahwa dia hamil.
Zack terdiam mematung saat mendengar Lily hamil anak kembar. Meski belum diketahui gendernya, Zack sabar terharu mendapat kabar baik itu. Tak ubahnya dengan Lily. Dia begitu antusias menjaga dan merawat calon bayi mereka.
"Kita ambil dua-duanya saja, ok!" Lily memutuskan untuk menengahi perdebatan unfaedah antara ayah dan anak itu. Lily meraih baju bayi dari Zack dan Emily.
Baru beberapa langkah menuju kasir, Lily merasakan ada sesuatu yang keluar dari dalam tubuhnya.
"Zack!" teriak Lily.
* * *
Hai my lovely Readers! Aku punya novel yang recomended banget loh! Yuks mampir!
Judul: Pemuas Ranjang CEO
Karya: Momoy Dandelion
Sudah tiga tahun Bara dan anaknya ditinggalkan oleh sang istri, Silvia yang lebih memilih mengejar karir daripada mempertahankan rumah tangganya. Kondisi perekonomian Bara jauh meningkat, namun tidak memiliki wanita di sampingnya. Zack menyarankan agar Bara mau menikah lagi dan mengakhiri kesendiriannya. Namun, Bara masih trauma menjalin hubungan lagi dengan wanita.
Retha, seorang guru TK dengan segala permasalahannya, terpaksa harus mengambil pekerjaan sampingan sebagai pemberi layanan pijat plus plus demi membayar hutang sang ayah dan biaya sekolah adiknya.
Kedua insan yang saling membutuhkan itu akhirnya dipertemukan saat Retha ternyata mendapat panggilan untuk melayani Bara yang ternyata ayah dari muridnya. Meskipun memalukan, Retha tetap melakukan pekerjaannya demi uang. Sementara, Bara juga membutuhkan seorang wanita untuk mengisi kekosongan hidupnya.
Bagaimana kelanjutan kisah Bara dan Retha? Akankah cinta mereka berlabuh?
__ADS_1