
Lily terdiam saat menduga kata yang terpotong dari Liora. Ada rasa bersalah yang melingkupi hatinya. Lily menganggap Rafa murni sahabatnya. Namun, ketika sahabat itu jadi cinta membuat Lily menjadi kalang kabut sendiri.
Dia bukannya mengharapkan makan malam yang romantis. Tapi kebanyakan pria umumnya yang ingin mengungkapkan perasaannya pasti memilih tempat yang romantis dan ajakan yang romantis pula. Meskipun akan berakhir penolakan dari Lily.
Lily sudah bertekad akan menolak Rafa jika dia benar mengungkapkan perasaannya pada Lily. Banyak alasan kuat yang bisa Lily jadikan pegangan untuk menolak Rafa, diantaranya; Perasaannya murni persahabatan, dia sudah menganggap Rafa seperti saudara kandungnya sendiri begitu juga dengan Naya, pengalaman pahit cintanya membuat dia lebih menghargai sebuah perasaan, dan penantian tujuh tahun bukanlah waktu yang cepat. Sebuah penantian yang berujung kepedihan hati.
Untuk itu, dia tidak ingin merusak hubungan Liora dan Rafa. Perasaan Liora pasti sangat sakit jika Rafa meninggalkannya hanya karena jatuh cinta pada salah satu dari sahabatnya sendiri.
Tekad Lily sudah bulat. Dia harus menyelesaikan semua masalah perasaan. Masalah hatinya dengan Zack saja sudah bisa diatasinya. Apalagi masalah hati dengan Rafa.
Rafa menatap Lily dari atas sampai ke bawah, kemudian kedua matanya naik lagi ke atas. Dia tidak habis pikir dengan sahabatnya satu ini. Bisa-bisa nya dia mengenakan piyama ke restoran.
Saat ini mereka sedang berada di sebuah restoran. Restoran yang sudah di cap oleh Lily sebagai resto favoritnya saat pertama kali tiba di kota hujan.
Tadi sore Lily memberitahu Rafa bahwa ajakannya untuk makan di restoran jadi diterimanya. Rafa tidak menaruh curiga sedikitpun dengan Lily. Karena dia tahu sifat sengklek Lily.
Merasa di tatap oleh Rafa seperti itu membuat Lily merasa sangat puas. Dia sengaja mengenakan piyama saat ke restoran. Masih bagus piyama polos. Piyama yang dikenakan Lily bermotif kartun seorang anak kecil perempuan yang terkenal jahilnya. Marsha and the bear. Semua pengunjung dan pelayan restoran menahan tawa saat melihat penampilan Lily.
Bahkan seorang anak kecil berteriak "Mi, Marsha. Marsha."
Sepertinya Marsha adalah tokoh kartun favoritnya. Lily tertawa dalam hati. Rencananya berhasil untuk membuat Rafa malu dan ill feel padanya.
"Lu kesambet apa, Ly?" tanya Rafa sambil meletakkan punggung tangannya ke kening Lily.
"Enak aja kesambet. Gue sehat bugar gini dibilang sakit," cecar Lily sambil menepis tangan Rafa.
"Hehehe ... malu kan elu," seru Lily dalam hati.
Dia sengaja melakukan itu agar Rafa dapat mengurungkan niatnya. Seorang pelayan datang dan memberikan buku menu. Lily dengan sengaja memesan banyak makanan. Rafa hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Lily. Dia sampai mengurungkan niatnya untuk memesan makanan untuknya, karena semua jenis makanan yang ada di dalam buku menu dipesan semua oleh Lily.
Rafa menaikkan kaki kanannya ke atas paha kaki kirinya. Kedua tangannya dilipat ke depan dada. Dia menatap tajam Lily. Yang di tatap justru santai bermain Pons di tangannya.
"Lu kesambet ya?" tanya Rafa lagi. Dia ingin memastikan jika Lily benar Lily atau benar tertempel sesuatu.
"Apaan sih Lu! Dari tadi nanyain gue kesambet mulu!" seru Lily sambil memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Lah itu! mesen banyak kek gitu!" seru Rafa.
"ih, kan elu yang ngajakin gue," cecar Lily sambil menatap Rafa.
"Bener juga sih! Emang sih bukan hanya Lily saja, Naya juga gitu kalo gue traktir. Tapi ngga pernah separah ini deh!" ucap Rafa dalam hati.
"Napa lu, Fa? Nyesel ya?" tanya Lily.
"Engga lah. Apa sih yang engga buat lu," jawab Rafa.
Deg
Biasanya Rafa memang selalu menggoda mereka. Kalimat itu sering dilontarkan oleh Rafa padanya dan Naya. Tapi karena saat ini sedikit berbeda, membuat jantung Lily berdetak lebih cepat dari biasanya. Lily segera menepis perasaan itu.
"Gue belom makan setengah harian. Cuma sarapan pagi aja. Capek lari-larian terus kehujanan. Ya, jadinya gue laper maksimal," tutur Lily.
"Hmm ... kirain busung lapar," tutur Rafa santai.
"iii ... amit-amit gue," ucap Lily sambil memukul pelan kepala dan meja bergantian.
Lily memulai ritual makannya. Restoran ini memang tidak salah dicap nya menjadi restoran favorit. Semua makanannya sangat enak. Rafa hanya makan beberapa suap saja. Dia merasa sangat kenyang saat melihat Lily makan.
"Eh, Fa. Katanya ada yang mau lu omongin ke gue? Apaan?" tanya Lily sambil mengunyah makanannya. Alhasil, Rafa terkena hujan makanan dari mulut Lily.
Rafa mengambil tisu yang sudah tersedia di atas meja. Dia mengelap hujan renyahan makanan dari Lily.
"Eh, sorry Fa. Ngga sengaja gue," ucap Lily sambil nyengir.
"Sengaja juga ngga apa-apa Ly. Gue ikhlas," ucap Rafa dengan nada yang dibuat seperti seorang korban kekerasan.
Lily terkekeh mendengar penuturan Rafa. Dia kembali mengingatkan Rafa untuk mengutarakan maksud dan tujuannya pada Lily.
Sebenarnya dia sendiri sangat grogi dengan situasi sekarang. Dia tidak bisa membayangkan reaksi Rafa jika mendapat penolakan darinya.
"Lu yakin nih gue sambil ngomong?" tanya Rafa.
__ADS_1
Lily hanya menganggukkan kepala. Dia sedang meminum habis airnya agar makanan di mulutnya dapat berjalan mulus menuju lambung.
"Ok. Gue harap lu siap!" seru Rafa.
"Gue udah siap lahir batin kok," ucap Lily santai.
"Emang lu tau apa yang mau gue sampein?" tanya Rafa penuh selidik.
Menurutnya Lily masih belum mengetahui suatu kebenaran tentang dirinya. Jadi sangat tidak mungkin jika dia sudah tahu.
"Iyesss. Udah buruan deh!" perintah Lily.
"Ya udah kalo lu yakin. Tapi lu jangan kaget!" tegas Rafa.
"Iya,"
"Jangan lari dari sini!" tegas Rafa lagi penuh dengan penekanan.
"Iya, bapak Rafa Ahmad," jawab Lily dengan sedikit keras.
"Lu ingat waktu lu pulang dari acara sekolah sepuluh tahun yang lalu?" tanya Rafa.
Lily sedikit bingung. Mengapa Rafa justru menguak cerita sepuluh tahun yang lalu. Perkiraan Lily tidak sesuai dengan keadaan saat ini. Bukannya Rafa mau mengutarakan perasaan pada dirinya.
"Bentar gue inget-inget dulu, Fa. Soalnya udah lama. Gue harus bongkar memori gue dulu nih!" tutur Lily.
Mereka terdiam cukup lama. Rafa tidak ingin tergesa-gesa dan memaksa Lily untuk mengingat peristiwa itu.
"Oh iya. Gue inget, Fa! Yang acara perpisahan kakak kelas itu kan," ucap Lily.
"Iya,"
"Memangnya kenapa, Fa?" tanya Lily bingung.
"Lu ngga lupa kan. Waktu itu lu kecelakaan?" tanya Rafa.
__ADS_1
Lily terdiam. Seketika ingatan itu terpampang di hadapannya.