
Lily merasa sangat mual. Kepalanya juga pusing. Keringat dingin mulai bercucuran. Jika dia tidak cepat-cepat ke kamar mandi, dia pasti akan pingsan di sini. Lily tidak ingin membuat heboh suami dan teman-temannya.
Dia segera berlari menuju kamar mandi. Isi perutnya bergejolak ingin keluar tapi tidak bisa. Naya segera menyusul Lily ke kamar mandi. Dia menitipkan bayinya pada Liora.
"Titip ya Lio." Naya menyerahkan baby L langsung ke pangkuan Liora.
"Iya. Gue di sini aja ya. Ngga mampu gue mau nyusul." Liora sadar akan kondisinya yang masih belum membaik. Naya mengangguk. Dia segera menyusul Lily.
"Elu, kenapa Ly?" Naya khawatir dengan keadaan Lily.
"Ngga tau Nay. Gue mual. Kepala gue juga pusing." Setelah tidak berhasil mengeluarkan isi perutnya, Lily membasahi tangan dan mengusap wajah hingga ke leher bagian belakang. Kemudian, dia menatap ke cermin. Wajahnya terlihat pucat.
"Jangan-jangan lu lagi isi," ucap Naya.
"Kan tadi gue udah bilang isinya ..." Ucapan Lily terhenti karena lengannya dicubit pelan oleh Naya.
"Apaan sih Nay! Sakit tahu." Lily tidak terima lengannya dicubit oleh sahabatnya itu.
"Maksud gue, elu itu lagi hamil." Kadang Naya geram dengan sifat Lily yang telat berpikir.
"Hah! Gue hamil?" Lily tak percaya dengan ucapan Naya.
Naya mengangguk, dia seratus persen yakin jika Lily saat ini sedang hamil. Ibu muda itu membalikkan tubuh berniat kembali ke ruang tengah untuk mengabari yang lain. Lily tahu apa yang ada di dalam pikiran sahabat baiknya itu. Dia juga tahu apa yang akan ibu muda itu lakukan.
__ADS_1
"Eits, mau ke mana Nay?" Lily menahan lengan Naya sebelum ibu muda itu pergi.
"Mau ke depan lah!" Naya berkata sambil melepaskan tangan Lily yang menahannya.
"Elu pasti mau bikin heboh." Ucapan Lily telak mengenai Naya. Dia hanya tersenyum tidak enak. Baru kali ini pikiran Lily sejalan dengan otaknya.
"Ya iyalah. Berita baik kayak gini kan harus disebarluaskan." Naya tak ingin kalah beradu kata dengan Lily.
"Nay, kan belum tahu kalo gue hamil. Kalo engga gimana? Elu kan tahu sendiri Emily ngarep banget punya adik dari gue. Ngga kasihan lu sama ponakan elu yang paling imut." Lily berusaha tetap tenang. Mual dan sakit kepala yang dideritanya tadi perlahan menghilang.
"Iya juga ya." Naya membenarkan ucapan Lily. "Bentar, gue inget masih nyimpen test pack. Lu tunggu di sini! Gue ambil dulu." Sekali lagi Naya membalikkan tubuh dan mulai melangkahkan kaki keluar dari kamar mandi. Akan tetapi, lagi-lagi Lily menahannya.
"Apaan lagi sih, Ly?" Naya mulai kesal dengan sahabatnya itu.
"Ih, itukan dulu. Elu masih perawan ting-ting. Sekarang kan udah ada pejantannya yang selalu nyiramin elu."
"Apa yang disiram, Nay? Perasaan gue yang nyiramin kembang di mansion, para maid deh," jawab Lily dengan polos.
"Ampun deh. Telat mikirnya kambuh." Naya menepuk jidat mendengar ucapan Lily. "Yang gue maksud siang malam Jumat, neng." Naya semakin geram dengan Lily.
"Ih, udah deh Nay. Jangan koar-koar dulu deh!" pinta Lily pada Naya.
Naya menatap Lily dalam diam. Mungkin Lily benar. Terlalu cepat menyimpulkan sesuatu yang belum pasti kebenarannya, tentu saja tidak baik. "Ok. Tapi ..."
__ADS_1
Lily tidak sabar menanti jawaban Naya yang sengaja digantung oleh ibu muda itu. Dia khawatir jika Naya memikirkan sesuatu yang aneh.
"Elu tetap harus cek pakek test pack dan gue orang pertama yang harus elu kasi tau sebelum suami elu." Tegas Naya.
"Ih, elu dikasih tahu ngga percaya deh. Gue ngga hamil, Nay." Lily hampir putus asa beradu pendapat dengan Naya.
"Jangan-jangan elu .." Lagi-lagi Naya menggantung ucapannya.
"Gue kenapa lagi Nay?" Lily mulai lelah.
Naya tersenyum dan langsung meninggalkan Lily di kamar mandi sendiri. Lily mempercepat memperbaiki diri dan menyusul Naya. Perasaannya tidak enak setelah melihat Naya berlari keluar dari kamar mandi.
Sesampainya Lily di ruang tengah, tempat mereka berkumpul. Suara tawa Rafa sudah menggema. Akhirnya, yang dikhawatirkan Lily terjadi. Rafa dan Naya pasti menggoda Zack.
"Ya ampun, Ly. Lu tega banget sama laki lu. Bisa-bisanya elu masih segel sampai hari ini. Gue pikir udah lepas segel minggu-minggu kemaren." Hari ini Rafa merasa mendapat jackpot. Setelah tadi pagi dia bergulat dengan ngidam anehnya Liora. Akhirnya, dia mendapat sesuatu yang bisa membuatnya senang.
"Zack, apa kau tidak tahu cara membuka segel?" goda Rafa. Keith yang duduk tidak jauh dari mereka, ikut tersenyum saat mendengar godaan Rafa.
Si tokoh utama hanya diam saja. Sebenarnya Zack tidak tahan untuk membalas Rafa. Akan tetapi, tatapan tajam Lily dari seberang membuatnya bergeming. Dia lebih baik merelakan dirinya menjadi bahan candaan daripada tidak mendapat jatah dari istri tercintanya.
"Eh, tunggu! Jangan-jangan Em masih tidur sama kalian!" Seru Rafa. Dia langsung tertawa saat mendengar ucapannya sendiri.
"Gagal-gagal." Rafa menimpali ucapannya.
__ADS_1