Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 34. Mengelabui Zack


__ADS_3

Mereka berlima segera meninggalkan halaman parkir hotel. Rafa meminta Doni mengantarkan satu mobil ke hotel tadi pagi. Sehingga memudahkan mereka untuk mengelilingi kota Pontianak.


Lily, Naya, dan Rafa masih saja tertawa. Mereka menertawakan kebodohan Zack. Lily pikir mantannya itu orang yang pintar. Ternyata bisa dikelabui juga.


Lain halnya dengan Atika dan Bilin. Mereka berdua terlihat bingung dengan kelakuan kakak-kakaknya itu. Mereka tidak mengerti apa yang ditertawakan oleh mereka.


"Kenapa sih kak?" tanya Atika. Jiwa kepo nya sudah meronta-ronta dari tadi.


"Ngga apa-apa," jawab Lily masih sambil menahan tawanya.


"Kalo nda ada apa-apa, kok ketawa terus dari tadi?" tanya Atika lagi.


"Udah anak ABG ngga bakalan ngerti," jawab Lily.


"Eh kak, kak Zack sama Emily nda ikut?" tanya Bilin.


Mendengar pertanyaan Bilin sontak membuat mereka tertawa lagi.


"iii kakak, ditanya malah ketawa lagi," sebal Bilin.


"Itu dia yang bikin ketawa. Kita dari tadi ngelakin si Zack biar ngga ikut," jawab Rafa.


"Kok gitu kak? Bukannya kak Zack baik ya?" tanya Atika.


"Iya baik. Saking baiknya ngilang selama tujuh tahun. Balik-balik langsung bawa paketan," tutur Naya.


"Maksudnya kak?" tanya Bilin


Dia masih bingung dengan arah pembicaraan mereka.


"Udah deh jangan kepo!" ketus Lily.


"iii cerita dong kak!" pinta Atika.


"Ngga bisa dek. Kalo di ceritain itu cerita panjang ... dan lama ..." ucap Lily sambil melebarkan kedua tangannya.


"ish, kayak iklan jak," oceh Bilin.


* * *


Tidak sampai setengah jam, mereka telah tiba di sebuah tempat makan. Lily, Naya, dan Rafa belum pernah ke tempat ini. Tempat makan ini tergolong baru. Baru beberapa tahun. Letaknya didalam gang tapi tidak begitu jauh dari jalan raya.

__ADS_1


Atika dan Bilin sengaja membawa mereka kesana. Karena menu makanannya beragam. Selain itu rasanya juga enak seperti makanan di rumah. Tempat makan ini juga sudah memiliki banyak pelanggan dan pengunjung dari luar kota. Meskipun tempatnya di dalam gang yang hanya pas dilewati oleh satu mobil, dan tanpa ada tempat parkir yang luas untuk mobil, tempat ini selalu saja ramai setiap harinya.


Mobil yang mereka kendarai sudah memasuki jalan utama, tinggal beberapa ratus meter lagi mereka akan tiba di tempat makan itu. Atika memberi aba-aba untuk belok kiri masuk ke gang yang dituju. Sekarang pukul setengah lima sore. Pengunjungnya sudah tidak terlalu ramai. Jadi mereka bisa memarkirkan mobil di dekat tempat makan.


Rafa mematikan mesin mobilnya setelah dia memarkirkan mobilnya dengan rapi. Mereka semua turun dari mobil disertai dengan suara perut yang berdemo minta diisi.


Kruyuk ...


Krook ...


Bunyi perut mereka bersahut-sahutan. Lebih lagi si bumil. Perutnya sudah berbunyi saat mobil mereka meninggalkan halaman parkir hotel.


"Ya ampun, tau aja nie perut pas sampe di tempat makan," celetuk Lily sambil memegang perutnya.


"Emang cacing lu doang. Cacing gue udah protes dari tadi kali. Plus cacing di perut anak gue," timpal Naya.


"Udah buruan masuk! Cacing gue udah parah nih demonya," ujar Rafa sambil menarik kedua tangan sahabatnya untuk segera memasuki tempat makan.


Atika dan Bilin sudah langsung masuk ke tempat makan lebih dulu. Mereka mengambil tempat duduk lesehan. Selain itu bagian dalam tempat makan lebih dingin dan membuat betah.


Mereka duduk lesehan sambil membuka buku menu yang baru saja diantarkan oleh seorang pelayan.


"Gue ikut aja. Males gue ngeliat buku menu. Ngga selera. Pengen cepet makan aja. Intinya yang pedes terus ayam," pinta Naya.


"Sini kak aku pilihkan. Nih, Kakak aku pesenin ayam cabe ijo jak ya," seru Atika.


"Boleh, keknya enak tuh," jawab Naya.


"iii ... gue juga ikutan deh," timpal Lily.


"Kalo saya pesan ikan nila goreng kriuk ya mba," ujar Rafa.


"Idih ... saya," ledek Lily dan Naya.


Setelah selesai memesan menu makanan yang mereka inginkan. Mereka berfoto ria sambil menunggu pesanan mereka tiba. Rafa mengirimkan beberapa foto kepada Bram. Dia sengaja melakukan itu agar Bram memasang status di WA nya. Otomatis Leon sang asisten Zack akan melihat status Bram dan pasti akan melaporkannya pada Zack.


Rafa melakukan itu dengan sengaja. Dia juga sudah tahu dari Bram jika Zack akan ke Pontianak karena dia membocorkannya pada Leon.


Rafa dapat menerima alasan Bram melakukannya. Dia tidak mempermasalahkan hal itu. Dia justru menunggu kedatangan Zack. Dia ingin lihat apa benar Zack berniat untuk kembali pada Lily.


Pesan yang dikirim Rafa segera di baca oleh Bram. Asistennya itu segera melakukan apa yang diperintahkan oleh tuannya. Tidak menunggu waktu lama. Status WA Bram kini di hiasi dengan foto-foto kebersamaan tuannya, Rafa dengan sahabat nya di sebuah tempat makan. Bram juga menambahkan sebaris kalimat di salah satu foto

__ADS_1


"Asyiknya yang lagi makan di kota orang" tulis Bram.


Disisi lain


Leon sedang bersantai di sebuah cafe sore itu. Semenjak kepergian tuannya, dia merasa sedikit lebih santai walaupun pekerjaan di kantor sangat banyak. Setidaknya dia tidak terlalu repot dengan mengurusi hal pribadi tuannya.


Dia menatap layar ponselnya. Dan melihat status WA yang baru saja ada di berandanya. Dia melihat status Bram dimana ada beberapa foto yang menampilkan tiga orang yang dikenalnya, dan dua orang remaja yang baru dikenalnya beberapa hari yang lalu saat tuannya memposting foto mereka jalan-jalan bersama.


Dia melihat tidak ada tuan dan nona mudanya disana. Leon segera mengscreen shoot status itu. Dia segera mengirimkannya pada tuannya, Zack.


Drt ...


Drt ...


Drt ...


Drt ...


Drt ...


Ponsel Zack bergetar lima kali, tanda ada Liam pesan masuk di ponselnya. Zack saat ini sedang berada di dalam kamarnya. Setelah mengantar putrinya kembali ke kamarnya, Zack segera turun kembali ke lobi hotel. Keadaannya masih sama seperti dia tinggali tadi.


Dia sempat menunggu beberapa saat, dan akhirnya memutuskan kembali ke kamarnya. Dia sedang duduk santai sambil menikmati suasana sore di tepi jendela kamarnya. Dia juga menyeduh secangkir kopi untuk dirinya sendiri.


Dia meraih ponselnya dan membuka kunci pada layar ponselnya. Leon. Nama yang tertera di sana. Dia membuka pesan dari Leon yang berisikan lima foto. Dia mengklik satu persatu agar gambarnya bisa ter-download.


Setelah foto itu menampilkan gambar yang bagus. Zack terkejut dan tanpa sengaja menumpahkan secangkir kopi miliknya. Rasa panas terasa di sekitar tangannya. Dia segera mengambil beberapa lembar tisu untuk mengelap tangan dan meja yang ketumpahan air kopi.


"****!" umpatnya sendiri tanpa ada yang mendengar. Setelah tangan dan meja sudah bersih dari air kopi, Zack mengambil kembali ponselnya. Dia menatap lekat foto-foto itu.


"Kapan mereka pergi? Bisa-bisanya aku tidak tahu," geram Zack. Dia mengepalkan sebelah tangannya sambil memukulkannya ke permukaan meja. Dia merasa sangat kesal karena sudah dibodohi oleh mereka.


Di tempat makan


Rafa tersenyum melihat ponselnya. Sebuah pesan yang di dapatnya dari Bram berhasil membuatnya tersenyum lebar. Untung saja saat ini ke empat gadis itu sedang asyik berfoto. Mereka tidak menyadari apa yang dilakukan oleh Rafa.


"Misi berhasil," tulis Bram.


~Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recomended banget loh! Yuks mampir~


__ADS_1


__ADS_2