Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 8. Ngantor


__ADS_3

"Halo"


Pria itu mengawali percakapannya di telpon dengan seseorang di seberang sana. Dia mulai menyampaikan informasi yang sudah dikumpulkannya selama setengah hari ini. Dia juga mempersiapkan foto-foto yang sudah di cetaknya dan memasukkannya ke dalam amplop coklat. Dia tidak ingin mengambil resiko dengan mengirim file. Menurutnya cara lama lebih baik, aman, dan tanpa jejak (bukannya kebalik ya, pak). Hi... hi... hi... Dia juga masih menggunakan ponsel sederhana yang hanya digunakan untuk menelpon dan SMS.


Setelah menyudahi percakapan dan mematikan ponselnya. Dia menghidupkan mesin mobilnya dan meninggalkan tempatnya. Pekerjaannya sudah cukup sampai disini. Hanya mencari informasi seorang gadis yang menurutnya tidak berbahaya.


Lily, Naya, dan Rafa masih betah berada di dalam restoran. Lily dan Naya tidak pernah kehabisan topik pembicaraan. Tapi lebih banyak hal absurd yang dibahas oleh mereka berdua. Sedangkan Rafa, hanya sesekali ikut nimbrung jika dimintai pendapat atau menyela, jika mereka mulai keluar jalur dari topik yang di bahas.


Kali ini Rafa benar-benar yakin jika Lily sudah kembali normal. Lily sudah lebih banyak bicara dan tertawa. Lily sebenarnya gadis yang cukup tangguh. Hanya saja kepolosan hatinya yang membuat dirinya terjatuh tanpa ada pegangan.


"Jadi, besok lu udah bisa masuk kerja kan?" tanya Rafa yang tiba-tiba sehingga membuat Lily dan Naya berhenti dari obrolan mereka.


Lily merapikan tempat duduknya dan menatap Rafa. "Emang gue masih di terima kerja di tempat lu, Fa?" tanya Lily.


Rafa mencondongkan tubuhnya dan menatap Lily "Lu lupa, siapa yang punya perusahaan?" tanya Rafa sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Oh iya... pak CEO nya ada di depan mata. Hi ..


hi... hi..." Lily tertawa sambil menutup mulutnya.


"Besok lu masuk ya, Ly? Soalnya ngga enak jarah isi pantry sendirian." pinta Naya dengan wajah imut yang dibuat-buat.


Lily sengaja tidak langsung menanggapi keinginan kedua sahabatnya. "Kerjain dikit ahhh...sambil nyelam minum air" ucap Lily dalam hati.


"Hmmmm..." Lily sengaja bergumam dengan keras agar Rafa dan Naya mendengarnya. Di tambah bumbu acting sedikit biar tambah kres. Hi... hi... hi...


"Ayo donk, Ly! Masa elu tega sama gue sih." bujuk Naya sambil mengguncangkan tangan Lily.


"Gue sih mau, tapi ..." jawab Lily memasang muka sedih.


"Lu masih belum siap kalau nanti ketemu sama Zack lagi?" tanya Rafa.


Lily menggelengkan kepalanya.


"Terus apa, Ly?" Naya penasaran dengan respon Lily.


Lily menundukkan kepalanya dan tampak raut kesedihan di mukanya.


Hati Rafa terenyuh melihat Lily bersedih lagi. Dia ingin menyemangati Lily, namun bibirnya malah terasa berat untuk mengutarakan kepeduliannya. Dan Rafa memilih diam.


drttt...drrtt...


Bram. Nama yang tertera di layar ponsel Rafa. Rafa segera menjawab dan berjalan keluar restoran.


Tak berapa lama, ponsel Naya juga bergetar. Naya mengambil ponselnya dan tersenyum melihat layar notifikasi dari aplikasi oren yang menginfokan jika paketnya sudah diterima. Naya selalu lupa daratan jika jari-jarinya sudah berselancar di aplikasi oren.


Beberapa menit kemudian ...


Lily merasa heran dengan suasana yang tiba-tiba sepi (sepi dari suara Naya dan Rafa aja ya, hi... hi... hi...)."Kok sepi sih." ucap Lily dalam hatinya.


Lily mengangkat kepalanya perlahan. Rafa yang tadi duduk di hadapannya hilang entah kemana. Lily menoleh ke arah Naya yang duduk di sampingnya. Betapa terkejutnya Lily melihat Naya yang duduk dengan santainya sambil berkutat dengan ponselnya.


Lily menampol lengan Naya dengan geram "Emang dahhh... temen ngga ada akhlak!" teriak Lily cemberut.


"Eeee... meonggg." latah Naya yang terkejut karena tiba-tiba ditampol oleh Lily. Untung saja ponselnya tidak ikut latah. Hi... hi... hi...


"Apaan sih, Ly. Hampir jatoh kan hape gue." Naya membolak-balikkan ponsel di tangannya.


"iiisshhh...." gumam Lily yang akhirnya benaran cemberut.

__ADS_1


Rafa kembali ke dalam restoran setelah selesai berbicara dengan Bram.


"Udah selesai main-mainnya?" Rafa bertanya kepada Naya dan Lily sambil duduk di kursinya yang tadi.


"iiisshhh..." kompak Lily dan Naya.


"Besok lu masuk kerja ya, Ly. Kasihan Bram. Keteteran dia terlalu banyak yang diurusin." perintah Rafa yang terdengar pelan namun tegas.


Lily mengurai tangan yang tadi dilipatnya di depan dada. Dia mengembangkan bibirnya dan memberikan senyuman terbaiknya kepada Rafa. "Fa... tapi gaji gue yang seminggu absen jangan di potong ya, Fa." Lily merayu Rafa sambil menangkupkan kedua tangannya dan menaruhnya di bawah dagunya "pleaaasseee..." rayunya lagi.


"Jadi tadi itu cuma gara-gara lu ngga mau di potong gajinya?" ketus Naya.


Lily menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Potong aja, Fa. Kalo bisa sekalian tambahin denda dengan alasan 'sengaja melalaikan pekerjaan' biar makin pendek umur ATM sama dompetnya." Naya sengaja memanas-manasi Rafa karena masih kesal pada Lily yang menampol lengannya tiba-tiba.


"Jangan jadi kompor gas deh." balas Lily tak kalah ketus.


"Iiihhh ... siapa yang bilang gue kompor gas, gue itu tabungnya. Ngga ada tabung gas, ngga hidup tu api kompor." oceh Naya panjang lebar.


"Ehhh...bener juga ya, Nay. He...he...he..." ujar Lily sambil tertawa.


"Jadi?" tegas Rafa.


"Tenang aj , Fa. Besok gue mulai masuk kok. Tapi jangan dipotong ya, Fa. Rupiah gue." timpal Lily.


"Deal." jawab Rafa sambil memajukan tangan kanannya untuk bersalaman dengan Lily.


Lily menerima dan membalasnya dengan senyuman yang merekah.


Keesokan harinya ...


Lily masih berkutat di depan cermin. Semuanya sudah ok. Make up, pakaian, dan tas kerja sudah tertata rapi di tempat yang seharusnya. Untuk make up, Lily tak pernah menggunakan make up yang super-duper ngejreng. Dia hanya memoleskan sedikit saja.


"Pantesan si kue semprong ngga motong rupiah gue. iiiisshhh.... Sebodoh amat laaaa." Lily berdiri dan melangkahkan kakinya keluar kamar.


Dua puluh menit kemudian, Lily tiba di depan kantornya. Lily merasa beruntung tiba di kantor masih dalam keadaan sepi. Lily segera melangkahkan kakinya dan menuju ke ruangan favoritnya, pantry.


Di kantornya seluruh fasilitas karyawan sangat diperhatikan. Dari pantry yang selalu menyediakan kebutuhan perut karyawan, ruangan istirahat yang lengkap dengan tempat tidur, sofa, kotak P3K, kulkas mini, dan ruangan untuk bersantai untuk melepas penat. Sudah hampir seperti mall mini.


Lily membuka pintu pantry yang sudah lama dirindukannya. Aroma makanan lezat pun melayang-layang di sekitar hidungnya. Lily menghirupnya perlahan. "Wangi banget , Mpok." ucap Lily sambil duduk di dekat meja makan."


"Ehhh... non Lily. Udah ngantor ya hari ini?" tanya Mpok Atun sambil memindahkan nasi goreng yang sudah matang ke wadah makan yang lebih besar. Mpok Atun memberi riasan sedikit agar nasi goreng buatannya terlihat lebih menggugah selera. Istilah kerennya 'plating' , Mpok. Hi... hi... hi...


"Udah mpok." jawab Lily sambil mencomot kue diatas piring.


Mpok Atun berjalan ke arah meja dan meletakkan nasi goreng tepat di hadapan Lily. "Astagfirullah... itu wajah kenapa, non? habis nambah silikon, non? iiihhh ... non. Padahal kan non udah cakep dari sono nya." ucap Mpok Atun ketika menatap Lily.


"Kemaren habis nguras bak, Mpok." jawab Lily asal.


"Apa hubungannya nguras bak sama wajah, non?" Mpok Atun bertanya penasaran.


Lily melirik Mpok Atun "Bak air mata, Mpok."


"Oohhh ... nangis." seloroh Mpok Atun.


"Iyesss..." Lily menjawab sambil menganggukkan kepalanya sekali.


"Emang apa yang ditangisin, non. Sampe sembab gitu mukanya?" bukannya berhenti, Mpok Atun malah semakin penasaran.

__ADS_1


Untung stok sabar Lily sudah di upgrade kemarin. Hi... hi... hi .... "Zack, Mpok." jawab Lily sambil mengusap dadanya.


"Zack?" tanya Mpok Atun. Jiwa keponya sudah mulai lepas landas.


"Kucing aku, Mmmmmppoookkk." jawab Lily sambil mengambil nasi goreng ke dalam piringnya.


"Oooohhhh..." seloroh Mpok Atun sambil berdiri meninggalkan Lily.


Lily sempat terkejut melihat tingkah Mpok Atun. Emang emak-emak ngga ada lawannya. ucap Lily dalam hati. Lily segera menghabiskan nasi gorengnya dan bergegas ke ruangannya.


Lily duduk di kursi empuknya dan mulai merapikan berkas-berkasnya. Bram benar-benar membantunya satu Minggu terakhir ini. Semua berkasnya rapi dan berurutan.


Tok... tok... tok...


Seseorang mengetuk pintu ruangan Lily.


"Masuk." ucap Lily.


Pintu terbuka sedikit dan menampilkan sosok Mang Ujang "Permisi, Bu. Mau sampein pesannya pak Rafa. Jam sembilan nanti ada meeting." ucap Mang Ujang salah satu OB, sambil membungkukkan badannya sedikit.


"Ok. Makasih ya, Mang." jawab Lily.


Mang Ujang undur diri dari ruangan Lily.


Lily melirik jam tangannya. Masih ada waktu lima belas menit lagi sebelum rapat di mulai. Lily melangkahkan kakinya keluar menuju ruangan Rafa.


Tok ... tok ... tok ...


Lily mengetuk pintu ruangan Rafa. Setelah mendapat ijin masuk. Lily membuka pintu dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Rafa terlihat sudah siap untuk rapat pagi ini.


"Mau ke ruangan rapat sekarang atau lima menit lagi?" tanya Rafa sambil melirik jam tangannya.


Lily menimbang-nimbang sesaat. "Sekarang aja, Fa." jawab Lily.


Rafa dan Lily berjalan menuju ruang rapat yang terletak di lantai sebelas. Tiba-tiba, Lily menarik lengan Rafa "Eiiitsss... ngga pakek lift. Pakek tangga aja!" perintah Lily sambil merangkul lengan Rafa dan menyeretnya ke arah tangga.


"iiihhh... ogah." jawab Rafa sambil melepaskan rangkulan Lily.


"Ya udah ... meeting sendiri!" ketus Lily sambil melewati Rafa.


"Eeeehhh... iya...iya..." jawab Rafa sambil menarik kerah baju Lily. Menyebabkan Lily sedikit terhuyung.


Lily menepis tangan Rafa yang menarik kerah bajunya dari belakang. "Pagi-pagi tuh olahraga dikit. Lagian kan cuma turun, bukan naek." oceh Lily sambil memanyunkan bibirnya.


"Udah deh ngomelnya. Gue males, Ly. Kalau lewat tangga. Sakit kuping gue denger pujian karyawan cewek tiap lantai." jawab Rafa.


"iiihhh narsis, Lu." ledek Lily.


Rafa melewati Lily dan bersiap menuruni setiap anak tangga. "Buruaannn!" perintahnya.


Lily dan Rafa menuruni anak tangga satu persatu tanpa berbicara. Hanya suara sepatu mereka yang terdengar saling bersahutan.


Akhirnya, mereka sampai di lantai sebelas dengan napas yang sedikit putus-putus.


Tingg...


Suara pintu lift terbuka bersamaan dengan mereka yang baru saja tiba di lantai sebelas.


Rafa segera merapikan jasnya dan kembali ke mode CEO dingin. Lily tak mau ketinggalan untuk merapikan dirinya dan berdiri di samping Rafa.

__ADS_1


Dua orang pria keluar dari lift dan berjalan menghampiri mereka.


Rafa sempat melirik Lily sebentar. Rasa khawatir mulai menyelimuti Rafa.


__ADS_2