Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 101. Nanggung


__ADS_3

"Zack pintunya .."


"Sst, biarkan saja!" perintah Zack tanpa menghentikan aktivitasnya.


Pria itu kembali mengunci bibir Lily. Kali ini lebih dalam.


"Zack. Siapa tahu penting," bujuk Lily setelah bibirnya bebas.


"Ini lebih penting," jawab Zack singkat.


"Zack," rengek Lily.


"Please, sayang. Abaikan dulu! Ini sangat nanggung. Sebentar lagi juga hilang," bujuk Zack.


Tak perlu menunggu lama. Suara ketukan pintu terhenti. Lily tersenyum malu saat ucapan Zack menjadi kenyataan. Zack kembali melanjutkan permainan mereka. Permainan yang tadinya hampir selesai. Kini diulang kembali dari awal.


Zack tidak keberatan untuk mengulang dari awal. Pria itu sangat antusias mengulangi permainan. Lily tak habis pikir dengan tenaga yang dimiliki suaminya. Tenaga Zack seperti tidak ada habisnya. Namun, Lily menikmati setiap sentuhan yang dilalui oleh tangan dan bibir Zack. Bahkan, pria itu menyesap beberapa kali di bagian pangkal lehernya.


Ritme permainan mereka semakin cepat. Zack telah memberikan kenikmatan tiada henti pada Lily. Kini, giliran pria itu yang akan mencapai puncaknya.


Deru napas mereka masih tertinggal. Padahal permainan telah usai. Zack membalikkan tubuh ke samping dan meraih Lily ke dalam pelukannya. Menyapu pelan keringat di kening Lily. Sentuhan lembut itu perlahan membuat Zack lupa diri.


Dia kembali menghujani Lily dengan ciuman. Lelah dan nikmat yang bercampur menjadi satu membuat Lily tak kuasa menahan. Dia membiarkan Zack memimpin permainan yang sebentar lagi akan di mulai.


Zack yang mendapat respon baik dari Lily segera melanjutkan aksi untuk permainan kedua mereka.


* * *


Ruang makan.

__ADS_1


"Daddy, kenapa Em tidak dibukakan pintu tadi?" tanya Emily dengan wajah cemberut.


Lily yang sedang minum langsung tersedak mendengar pertanyaan Emily.


"Pelan-pelan sayang," ucap Zack sambil menepuk pelan punggung Lily.


Bagaimana aku tidak tersedak mendengar Emily bertanya seperti itu! Gerutu Lily dalam hati.


"Mommy, are you okay? (Mama, kamu baik-baik saja?)" tanya Emily khawatir. Tubuhnya yang kecil menghalangi dia yang ingin turun dari kursi untuk menghampiri mommy-nya.


"Mommy baik-baik saja. Em tetap di tempat duduk, ok!" perintah Zack pada putri kecilnya. Emily kecil menurut. Dia kembali melanjutkan menyantap makan malamnya.


"Sudah enakan?" tanya Zack.


Lily hanya mengangguk. Meski dia sudah tidak batuk karena tersedak tadi, namun dia belum bisa mengeluarkan suara.


"Lain kali kau harus berhati-hati sayang," ucap Zack tanpa beban. Ucapan Zack mendapat tatapan tajam dari Lily. Wanita muda itu kembali melanjutkan menyantap makan malamnya. Begitu pula dengan Zack.


"Bukannya Em ingin seorang adik?" Zack menjawab Emily dengan sebuah pertanyaan.


"Iya Daddy," jawab Emily sambil menatap Zack dengan wajah bingung.


"Jadi, Daddy harus fokus membuatnya tadi," jawab Zack sambil mengedipkan sebelah mata.


"Asyik. Nana dengar! Em akan punya adik bayi, Yeay," teriak Emily girang.


Nana, Cici, dan pak Griffin tersenyum malu saat mendengar jawaban dari tuan mereka. Mereka menahan senyum saat menatap ke arah Lily. Sedangkan Lily, kembali tersedak untuk yang kedua kalinya. Kali ini lebih parah dari yang pertama.


"Sayang. Bagaimana bisa kau tersedak hingga dua kali?" tanya Zack bingung sambil membantu istrinya.

__ADS_1


Lily tidak bisa membalas ucapan Zack. Akan tetapi, tangannya bebas melakukan apa pun. Lily mendaratkan cubitan di bagian perut Zack. Dia sangat geram pada suami bule nya itu yang berbicara tanpa filter.


Emily kecil mungkin tidak mengerti dengan jawaban bermakna Zack. Akan tetapi, tiga orang dewasa lain di ruang makan, pasti mengerti ke mana arah jawaban Zack sehingga membuat mereka tersenyum simpul seperti itu.


"Aw, sayang ini sakit," keluh Zack sambil memegang tangan yang mencubit perutnya. Bukannya terlepas. Cubitan Lily justru semakin erat. Seperti capitan kepiting.


"Daddy kenapa?" Teriakan sakit Zack menarik perhatian Emily.


"Dad, di jepit kepiting," Zack masih meringis kesakitan meski Lily sudah melepaskan tangan.


"Wow. Di mana kepitingnya? Em mau lihat!" seru Emily. Tubuhnya bergoyang ke sana kemari hendak turun dari kursi. Zack memberi kode pada Nana agar menahan Em tidak turun.


"Nona kecil, apa Em lupa saat sedang makan tidak boleh bergerak?" tanya Nana lembut pada Emily.


"Ups, Em lupa Nana. Sorry," ucap Emily dengan wajah imutnya.


"It's okay. Ayo duduk yang benar! Kita lanjutkan lagi makannya," ajak Nana.


"Siap Bu bos," ucap Emily sambil mengangkat tangan kanan ke kening tanda hormat. Semenjak menghabiskan waktu dengan Lily, dan kedua tantenya, Liora dan Naya. Perbendaharaan kata Emily semakin bertambah.


"Apa salahku sampai kau cubit?" Zack berbisik di telinga Lily agar tidak terdengar oleh Emily.


"Kau masih bertanya salahmu di mana?" Lily menatap tajam pada Zack.


"Ayolah sayang," bujuk Zack.


"Jangan sekali-kali mengatakan pada Em tentang membuat adik!" ketus Lily.


"Ah, rupanya kau malu," ucap Zack sambil tersenyum.

__ADS_1


Zack segera menghindar dari tangan Lily yang ingin menyerangnya lagi. Lily tak mau kalah, dia kembali menyerang Zack. Pria atletis itu tak ingin perutnya menjadi sasaran empuk cubitan Lily lagi. Dengan sigap dia menangkap tangan Lily.


"Not this time (tidak untuk kali ini)," ucap Zack tersenyum licik.


__ADS_2