
Pelayan wanita itu tersenyum sambil meraih kartu nama yang diberikan Nana.
"Tunggu sebentar, nyonya," ucap pelayan itu pada Nana sambil tersenyum.
"Nana," panggil Emily sambil menggerakkan tangan mungilnya yang di genggam Nana.
"Iya sayang," jawab Nana sambil menatap Emily.
"Em mau pee (buang air kecil)," ucap Emily sambil menggoyangkan sebelah kaki seperti sedang menahan sesuatu yang akan keluar.
"Sebentar sayang," ucap Nana.
Nana segera menggendong nona mudanya dan menghampiri resepsionis.
"Permisi nona," ucap Nana sopan.
"Iya nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis sopan.
"Dimana letak toilet?" tanya Nana.
"Toilet berada di lantai tiga. Setelah keluar dari lift, nyonya lurus saja. Di ujung jalan, nyonya langsung belok ke kanan. Toilet wanita berada di sana," jelas resepsionis dengan sopan.
"Terima kasih. Oh iya, bisa saya titip sebentar box kue saya?" tanya Nana sopan.
"Baik, nyonya. Saya akan meminta seorang room boy untuk menjaganya," jawab resepsionis.
"Terima kasih," tutur Nana sebelum pergi ke arah lift.
...✳️✳️✳️...
Tok ... tok ...
Leon mengetuk pintu kamar tuannya yang terletak di lantai tiga. Dia lebih memilih mengetuk pintu daripada membunyikan bel. Dia tak ingin menganggu tuannya. Lagipula dia tidak tahu seperti apa suasana hati tuannya itu pagi ini. Mengingat jika tuannya itu sedang dirundung kemalangan.
Dia berniat memberitahu tuannya akan keberadaan nona Emily pagi ini. Setidaknya dapat membuat semangat tuannya itu bangkit. Leon sudah berdiri kurang lebih lima belas menit di depan pintu kamar tuannya. Dia mulai merasa gelisah. Takut terjadi sesuatu pada tuannya. Saat dia akan mengetik pintu kamar tuannya lagi, pintu itu terbuka. Tentu saja kepalan tangan kanan Leon mendarat di kening Zack.
"Ah, ma-af tuan. Aku tidak sengaja," ucap Leon terbata.
Ya ampun, tuan. Siapa suruh kau tiba-tiba membuka pintu kamar. Leon bermonolog dalam hatinya.
Zack hanya bisa menahan marah. Dia juga terkejut ketika membuka pintu kamar justru mendapat sebuah pukulan di kening. Untung saja hari ini suasana hatinya sangat baik. Dia juga tidur sangat pulas tadi malam. Zack merasa tidak pernah tidur senyaman itu.
"Ikut aku!" perintah Zack.
"Baik tuan," jawab Leon sambil mengikuti langkah kaki tuannya dari belakang.
__ADS_1
Bugh
Zack teringat jika ponselnya masih berada diatas nakas. Dia segera membalikkan tubuhnya, dan langsung bertabrakan dengan Leon.
"Aw," keluh Zack.
"Aduh," keluar Leon.
"Kau itu!" ucap Zack kesal.
"Maaf tuan. Aku tidak tahu jika anda akan membalikkan tubuh anda," ucap Leon sambil memijat pelan keningnya yang sedikit sakit.
Tuanku ini sepertinya terbuat dari baja. Sakit sekali keningku!. Leon bermonolog di dalam hatinya.
"Kau tunggu aku di lobi hotel!" perintah Zack.
"Baik tuan," ucap Leon.
Leon segera melangkahkan kakinya menuju lift. Dia tidak ingin berlama-lama disana. Mengingat dia sudah melakukan tiga kali kesalahan.
Zack segera kembali ke kamar, dan mengambil ponsel yang terletak di atas nakas. Dia segera berjalan keluar kamar setelah mengambil ponsel.
Toilet lantai tiga hotel X.
Waktu yang hampir bersamaan dengan Zack yang keluar dari kamarnya.
"Tidak apa-apa sayang," ucap Nana sambil memperbaiki pakaian Emily.
"Em tidak tahu jika perut Em sakit. Jadinya Em poop (buang air besar), hihihi," ucap Emily sambil tertawa pelan.
"It's okay, Em. Em tunggu Nana di depan pintu toilet, ya. Nana akan membersihkan tangan dulu," tutur Nana.
"Okey dokey, Nana," jawab Em sambil memberikan sebuah jempol tangan kanannya pada Nana.
Gadis kecil itu melangkahkan kedua kaki mungilnya bergantian, menuju pintu depan sambil memainkan sebuah bola kecil berlampu yang didapatnya dari Nana sebelum datang ke hotel X. Bole kecil itu terjatuh, dan menggelinding di atas karpet. Bola kecil itu tidak menggelinding terlalu jauh. Hanya beberapa sentimeter saja dari tempatnya berada.
Em berusaha mengambil bola lampu miliknya. Tapi karena dia berjalan sambil melompat, Em pun terjatuh di lantai. Dia berusaha bangkit sambil memegang Bola kecil itu di tangan kanannya.
Pandangan mata Em langsung berbinar saat melihat sosok seseorang yang sangat dirindukannya. Em sangat mengenal pria yang mulai berjalan menjauh darinya. Pria itu baru saja keluar dari kamar. Dia berjalan lurus ke kiri menuju lift.
"Daddy," ucapnya pelan.
Em melihat Daddy nya di depan mata. Dia kemudian berteriak memanggil namanya.
"Daddy!" seru Em.
__ADS_1
"Daddy!" Em berteriak memanggil daddy-nya, namun Zack sama sekali tidak mendengar suar sekecil Emily.
Emily kecil tidak ingin kalah. Dia segera bangkit, dan berlari ke arah Zack sambil meneriakkan " Daddy!"
Zack dengan santainya berlenggang menuju lift. Setelah mendapat ponselnya, dia menghubungkan earphone dengan ponsel miliknya. Setelah terhubung, dia mendengarkan laporan perusahaan yang dikirim oleh salah satu sekretaris kepercayaannya. Jadi, Zack sama sekali tidak mendengar teriakan Emily sama sekali.
Emily tidak ingin menyerah. Dia berlari sekencang-kencangnya, dan berteriak sekuat tenaga. Pria yang dirindukan oleh gadis cilik itu sudah berada di depan mata. Emily ingin segera memeluknya. Air matanya mulai menggenangi kedua mata mungilnya. Dia sangat takut jika tidak bisa memeluk Daddynya.
Bugh
Emily kecil kembali terjatuh. Air matanya kini tumpah. Dia menangis sangat kencang.
Leon yang dari tadi menerima panggilan dari Jeremy, mendengar sayup-sayup suara seorang anak kecil yang menangis. Konsentrasinya terpecah antara mendengarkan laporan dari Jeremy, dan suara tangisan anak kecil.
Zack sudah berdiri di samping Leon. Dia menunjuk ke arah tombol lift agar Leon segera memencet tombol lift.
Ting
Pintu lift terbuka. Zack segera masuk ke dalam lift tanpa membalikkan tubuhnya. Sedangkan Zack memutuskan panggilan telponnya. Suara tangisan anak kecil itu terdengar sangat jelas kini. Tapi Leon berusaha untuk tidak memperdulikannya.
Dia segera membalikkan tubuhnya agar bisa mencetak tombol tutup dan lantai yang akan mereka tuju. Kedua mata Leon terbuka sangat lebar. Sosok mungil sedang terduduk di atas karpet sambil menangis tersedu-sedu.
Leon sangat mengenali sosok kecil itu. Emily. Nona muda yang sudah lama menghilang. Saat pintu lift akan tertutup. Leon segera menahannya. Dia berhasil keluar dari lift meninggalkan tuannya sendiri di sana.
💕💕💕
Hai my lovely readers. Thor punya rekomendasi novel yang oke banget loh! Thor juga ikutan baca ceritanya😘
Nah, biar ngga penasaran. Yuksss intip di bawah sinopsisnya 😘😘😘
Perjuangan Abimanyu untuk mendapatkan kembali cinta Renata, sang istri yang telah berulang kali disakitinya.
Tidak mencintai gadis yang menjadi wasiat terakhir ibunya membuat Abimanyu seringkali menyiksa dan menyakiti hati Renata hingga berkali-kali.
Akankah Bima bisa kembali mendapatkan cinta istrinya? Sementara hati Renata telah mati rasa akibat perbuatan Abimanyu yang telah menyebabkan buah hati dan ibunya meninggal dunia.
"Mas Bima-"
"Panggil aku Tuan seperti biasanya, karena kau hanyalah seorang pembantu di sini!"
"Ta-tapi Mas, kata Nyonya-"
"Ibuku sudah meninggal. Aku menikahimu karena keinginan ibuku, Jai kau jangan berharap dan bermimpi kalau aku akan menuruti keinginan ibuku untuk menjagamu!"
"I-iya, Tu-Tuan ...."
__ADS_1
Seru kan ceritanya! Mampir ya temen-temen.🥰🥰🥰