Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 79. I'm Sorry ...


__ADS_3

Kedua mata Zack membulat. Dia sangat mengenal suara kecil itu. Suara yang sangat dirindukannya sebulan terakhir. Leon memberi jalan agar Zack bisa masuk ke dalam.


Bukannya berjalan masuk ke dalam, tubuhnya justru mematung saat melihat pemandangan di depan matanya.


Seorang gadis lain yang juga sangat dirindukannya berada di sana. Memangku putri kecilnya. Zack merasa jika yang dilihatnya saat ini adalah sebuah ilusi. Rasa sakit hati dan kerinduan yang teramat dalam membuat sosok yang sangat ingin dilihatnya terpampang nyata di hadapannya.


"Ehem. Tuan, tuan!" panggil Leon sambil mengibaskan tangan kanan di depan wajah tuannya.


Zack masih berdiri mematung di depan pintu kamar. Dia takut jika yang dilihatnya akan segera menghilang saat dia memalingkan pandangan matanya ke arah lain. Zack merasa sedikit puas walau sekedar hanya menatapnya.


Lily. Kau terlihat sangat cantik. Kau tahu, aku sangat merindukanmu. Jika ini hanya ilusi. Biarkan aku menatap wajahmu sedikit lebih lama. Batin Zack.


"Hai Daddy!" sapa Emily sambil melambaikan tangan kanannya.


Senyum manis gadis itu merekah saat melihat daddy-nya. Pandangan mata Zack beralih pada sosok kecil, putrinya yang hilang. Zack membalas senyum Emily. Dia segera melangkahkan kakinya mendekati putri kecilnya. Pandangan matanya tertuju pada duplikat wajahnya versi mini.


"Mommy lihat! Daddy benar-benar datang. Hehehe," ucap Emily sambil tertawa kecil.


Dia menggapai wajah Lily dengan kedua tangannya agar melihat ke arah daddy-nya.


Zack dapat mendengar sangat jelas saat Emily menyebut kata 'mommy'. Karena terlalu fokus dengan Emily, Zack tidak lagi memperhatikan seseorang yang masih setia memangku Emily.


Lily masih berada di sana. Dengan posisi yang sama. Zack berpikir dia hanya berhalusinasi. Akan tetapi, sosok wanita itu sangat jelas. Begitu sampai di dekat mereka, Zack langsung ambruk. Kedua lututnya menghantam permukaan lantai. Air matanya kembali keluar tanpa izin terlebih dahulu.


Tangan kanannya memegang wajah mungil Emily. Tangan kirinya memegang bahu Lily. Emily tidak pernah melihat daddy-nya menangis seperti itu. Gadis kecil itu kebingungan saat melihatnya.


"Mommy! Daddy kenapa?" tanya Emily.


Lily yang tadinya menangis segera menghapus air matanya. Dia tidak ingin melihat Emily mengeluarkan air matanya lagi.


"Daddy rindu Em," ucap Lily.


"Oh. Bukan karena di cubit?" tanya Emily polos.


"Tidak sayang," jawab Lily sambil tersenyum.


Emily tersenyum melihat daddy-nya.


"I miss you too, Daddy," ucap Emily sambil merangkul kan kedua tangannya di leher Zack.


Zack tersadar dari lamunannya. Dia segera memeluk erat tubuh kecil kesayangannya.


"I miss you so much, Em," ucap Zack sambil mencium kening putrinya.


Zack memeluk Emily sangat erat. Dia tidak ingin putri kecilnya hilang. Dengan memeluknya erat membuat Zack merasa yakin jika Emily tidak akan pernah hilang dari jangkauannya lagi.


"Don't cry Daddy, please!" pinta Emily lembut.

__ADS_1


"Tidak sayang. Daddy tidak menangis. Ini air mata kebahagiaan," jelas Zack.


"Daddy," panggil Emily.


"Iya sayang."


"Look! Em sudah menemukan mommy," ucap Emily sambil melepaskan dekapan Zack.


Jari telunjuk mungilnya mengarah ke arah Lily yang masih duduk di sana menatap curahan kerinduan diantara ayah dan anak itu.


"Mommy?" tanya Zack.


"Yes, mommy," jawab Emily cepat.


Zack mengalihkan tatapannya pada Lily. Hatinya terenyuh saat melihat air mata gadis yang disayanginya mengalir dengan deras.


Leon dan Nana juga ikut larut dalam pertemuan yang mengharukan. Nana segera mengambil alih Emily dari pelukan tuannya. Dia tahu jika tuannya itu butuh waktu berdua dengan Lily.


Emily tidak merengek saat Nana mengambil alih dirinya. Dia menurut saja dengan Nana. Nana mengajak Leon untuk meninggalkan kamar.


"Hai," ucap Zack lembut.


Posisinya kini setengah berdiri. Hatinya perih melihat tangisan Lily tanpa suara. Entah sejak kapan gadis itu menangis, yang pasti kedua matanya sudah terlihat bengkak.


Lily hanya diam saja. Dia sudah tidak bisa berkata-kata. Bibirnya terasa kelu. Sedangkan kedua matanya masih tidak ingin berhenti mengeluarkan air mata seolah tidak akan berhenti sampai air matanya kering.


Lily menghambur ke pelukan Zack. Dia memeluk pria itu dengan sangat erat. Untung saja keseimbangan tubuh Zack sangat stabil, sehingga dia dapat menahan bobot tubuh Lily yang tiba-tiba memeluk dirinya.


"Ma-afkan aku, Zack," ucap Lily terbata sambil menahan isakkan tangisnya.


"No. I am sorry. Aku yang seharusnya meminta maaf padamu, sayang," balas Zack.


Zack membalas pelukan Lily dengan sangat erat. Dia mengusap pelan punggung Lily. Mereka berdua larut dalam tangis kerinduan.


Setelah beberapa menit mereka meluapkan kerinduan dengan tangisan, Zack mengurai pelukannya. Dia mengelap kedua pipi Lily yang basah oleh air mata dengan kedua tangannya. Sebelum mengurai pelukannya, Zack mengelap air mata di kedua pipinya.


"Cukup ini yang terakhir kau mengeluarkan air mata. Jangan ada air mata lagi, please!" pinta Zack pada Lily.


Lily hanya bisa menganggukkan kepalanya.


"Mommy!" seru Zack.


"Ya. Em memaksaku. Dia tidak ingin memanggilku aunty lagi," ucap Lily dengan suara parau, khas sehabis menangis.


"Aku rasa cocok," ucap Zack.


"Jika nenek sihir itu tahu, dia pasti akan mencekik ku," ucap Lily sambil tertawa kecil.

__ADS_1


"Nenek sihir?" tanya Zack.


"Ya, nenek sihir."


"Amber?" tanya Zack.


"Siapa lagi yang pantas disebut itu di sekelilingku?" Lily balik bertanya pada Zack.


"Kau benar," jawab Zack sambil tersenyum.


"Maafkan aku, Zack," ucap Lily pelan.


"Sayang. Bukankah sudah kukatakan jika kau tidak perlu meminta maaf," tutur Zack.


"Aku harus melakukannya. Maafkan aku karena tidak menuntut penjelasan padamu," ucap Lily.


"Tidak, sayang. Kau tidak bersalah. Aku yang kurang berjuang untukmu," ucap Zack sambil menatap Lily sendu.


"Lily. Bukannya kau ada pesta pertunangan?" tanya Zack.


"Ah, Untung kau ingatkan. Aku sampai lupa dengan pesta pertunangan," ucap Lily sambil menepuk pelan jidatnya.


Lily segera bangkit dari lantai. Namun, ditahan oleh Zack.


"Jangan pergi, please!" pinta Zack.


"Tidak bisa Zack. Aku harus pergi sekarang. Lihatlah sudah hampir waktunya!" ucap Lily sambil menunjuk ke arah jam dinding.


"Lily. Beri aku kesempatan lagi," pinta Zack.


"Zack, kita bicarakan nanti ok," ucap Lily.


Dia berusaha berdiri. Namun, Zack masih tetap menahan tangannya.


"Zack. Maafkan aku. Aku harus pergi sekarang. Jika pesta pertunangan Rafa dan Liora tidak akan berjalan, dan sudah pasti akulah pelaku yang menyebabkan batalnya pesta pertunangan mereka," terang Lily.


"Apa maksudmu? Siapa yang bertunangan dengan Rafa?" tanya Zack penasaran.


"Kau ini lucu sekali. Tentu saja Liora. Bukannya hampir seluruh pengusaha muda terkenal sudah hafal dengan kekasih Ra ..." ucapan Lily terpotong saat Zack mengecup pelan bibir Lily.


Cup


💕💕💕


Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh... yuks mampir😘😘😘


__ADS_1


__ADS_2