
"Rafa ... Napa sih harus pindah apartemen?" tanya Lily.
"Udah nurut aja!" perintah Rafa.
"Eh Fa, pamali tau kalo bumil tu pindahan sebelum lahiran," tutur Lily.
"Lu tanya aja sama bumil nya?"
Lily menoleh ke belakang. Dia mencari sosok Naya yang tadi berada di belakangnya. Tapi dia tidak menemukannya.
"Mana orangnya?"
"Tadi ada disono," tutur Rafa sambil mencibirkan bibir bawahnya menunjuk ke arah Naya yang tadi berada disana.
"Nay, Naya!" teriak Lily.
Lily berdiri dari duduknya. Dia berniat untuk mencari Naya. Baru beberapa langkah, sosok yang di cari sudah terlihat berjalan ke arah nya dari arah dapur.
Naya berjalan kembali ke ruang tengah sambil memegang ponselnya. Dia masih tersenyum menatap layar ponselnya. Hatinya sedang berbunga-bunga saat ini.
Lily bingung melihat Naya yang seperti itu. Selama lima bulan menemaninya, belum pernah dilihatnya wajah Naya yang tersenyum lepas.
"Lu kenapa Nay? Senyam-senyum sendiri," tanya Lily bingung.
Naya semakin melebarkan senyumannya.
"Mau tau aja atau mau tau banget?" Naya balik bertanya pada Lily.
"Ish, orang gue duluan nanya malah lu nanya balik. Lama-lama tinggal sama Rafa, tingkah lu ketularan kek dia. Hati-hati loh ntar anak lu mirip Rafa," cibir Lily.
"ih, amit-amit deh!" seru Naya sambil mengetuk pelan kening, kursi, kening, kursi.
"Gawat donk kalo mirip gue!" seru Rafa.
"Kok gawat?" tanya Lily.
"Ya gawat. Bisa-bisa diamuk gue sama bapaknya," jawab Rafa tanpa menatap lawan bicaranya. Tangannya masih setia mengusap layar ponsel dengan permainan online.
"Maksudnya?" tanya Lily lagi. Dia butuh penjelasan dari pernyataan Rafa.
"Nay, lu jelasin dah!" perintah Rafa.
Lily menatap Naya. Tatapannya sangat mengintimidasi Naya. Dia menuntut sebuah penjelasan darinya.
"Jadi, gue udah tau bapaknya anak gue Ly," ucap Naya.
"Hah! Serius lu!" seru Lily. Dia sangat terkejut mendengarnya.
"Ih, jelek banget sih ekspresi lu," ucap Rafa.
"Lu udah tau, Fa?" tanya Lily sambil menatap tajam pada Rafa.
"Ya iyalah. Apa sih yang gue ngga tau," jawab Rafa sambil menyombongkan dirinya.
"Jadi cuma gue aja dong yang baru tau!" seru Ly sambil menunjuk wajahnya sendiri dengan jari telunjuk kanannya.
"Iya," jawab Naya dan Rafa bersamaan.
"Ish," sebalnya.
__ADS_1
Lily menghempaskan tubuhnya ke sofa. Dia menyandarkan punggungnya dan melipat kedua tangannya di depan dada nya.
"Eleh, gitu aja ngambek," cetus Rafa.
"Bodo," jawab Lily sambil memanyunkan bibirnya.
"Udah jangan ngambek! Ntar tu bibir nambah dua senti," goda Rafa.
Lily justru semakin memanyunkan bibir bawahnya.
"Lu ngga penasaran siapa bapak anak gue, Ly?" pancing Naya.
Berhasil. Lily langsung melepas dekapan tangannya dan merubah posisi duduknya menghadap Naya. Sahabat baiknya itu sangat mudah merajuk, tapi sangat mudah juga dibujuk. Naya hanya bisa tersenyum melihatnya.
"Emang siapa bapaknya? lokal atau interlokal, Nay?" tanya Lily penasaran.
Puk ...
Rafa melempar Lily dengan bantal sofa. Bantal itu landing tepat di bagian belakang kepalanya.
"Rafa!" teriak Lily sambil mengusap bagian belakang kepalanya.
"Eleh, cuma bantal sofa doang. Ngga usah lebay deh!" ucap Rafa sambil berdiri dan berjalan ke arah balkon. Dia baru saja mendapat penggilan telpon dari Bram. Dia segera menjawabnya dan tidak ingin Lily mendengar percakapan mereka. Dia mengangkat ponsel dan memperlihatkannya pada mereka. Dia melakukannya untuk memberi tanda bahwa dia akan menjawab telpon itu.
Naya yang melihat hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Sedangkan Lily melambaikan tangan kirinya tanda mengusir Rafa.
Puk ...
Alhasil Lily mendapat bantal sofa terbang lagi dari Rafa. Dia ingin membalas Rafa dengan melempar kembali bantal sofa, tetapi Rafa sudah menghilang dari pandangannya. Dia hanya bisa mendengus napasnya dengan kasar.
"Udah deh jangan berantem Mulu sama Rafa!" seru Naya.
"Hmm, berantem mulu ntar lama-lama suka loh," ucap Naya dengan santainya.
"Ih, amit-amit deh, Nay."
"Eh, mana tau jodoh," ucap Naya sambil terkekeh.
"Liora, Nay. Liora!" seru Lily.
"Eh iya, lula gue," ucap nanya sambil menepuk jidatnya.
"Hah, lula? Apaan tuh lula? Lula Kamal yaa!" Lily terkekeh mendengar sahabatnya itu salah menyebut kata.
"Eh, kualat lu ngatain bumil. Ntar lebih parah lu ngomongnya belibet," jawab Naya.
"Ish, hobi banget sih ngancem mulu," cemberut Lily.
"Udah deh! Mau tau ngga nih bapaknya anak gue?" tanya Naya. Pertanyaannya berhasil membuat Lily bersemangat. Jiwa kepo nya meronta-ronta minta dikeluarkan dari sangkarnya. Tampak jelas dari kedua bola matanya yang berbinar.
"Lu kenal kok sama orangnya," ucap Naya. Dia tahu sahabatnya itu sudah tidak sabaran ingin mengetahui bapak dari anaknya. Dia sengaja mengulur nya dan memberi kesempatan pada Lily untuk menebaknya.
"Siapa, Nay?" tanya Lily bingung.
"Dibilang temen bukan, dibilang deket juga ngga sih," jelas Naya.
"Hah, siapa?" tanya Lily.
"Lu tau kok."
__ADS_1
Lily terlihat berpikir sangat keras. Dia memikirkan siapa orang yang dimaksud oleh Naya. Kedua matanya tiba-tiba membulat.
"Ah gue tau!" seru Lily.
Naya tersenyum mendengarnya. Dia senang sahabatnya dengan mudah dapat menebak orang yang dimaksud oleh Naya.
"Bram," ucap Naya dengan lantangnya.
Puk ... puk ...
Lengan tangan kiri Lily berhasil mendapat dua kali pukulan dari Naya.
"i, apaan sih, Nay? Kan gue bener. Lu juga yang bilang dibilang temen, ngga. Dibilang dekat juga ngga," protes Lily.
"Iya sih, Ly. Tapi kenapa harus Bram?" tanya Naya.
Lily hanya terkekeh mendengarnya.
"Ya udah, jadi siapa? Gue lagi males nih men tebak-tebakan," ungkap Lily.
"Keith Philips," jawab Naya.
"Oh."
Lily mendengar nama yang disebutkan Naya dengan santai dan hanya ber-oho saja. Beberapa menit kemudian, dia baru menyadari jika pria yang dimaksud Naya adalah teman masa sekolah mereka dulu. Lily segera menatap Naya dengan ekspresi yang sangat terkejut. Dia sampai menangkupkan kedua tangannya untuk menutup mulut.
"Kok bisa? Gimana ceritanya? Tau dari mana? Sejak kapan lu tau? Terus dia udah tau belom?"
Beberapa pertanyaan berhasil terlontar dari mulutnya tanpa hambatan.
"Buset dah! Banyak banget pertanyaannya," tutur Naya tersenyum.
"Udah buruan jawab semua!" perintah Lily.
"Sabar napa neng!" seru Naya. Dia mengambil segelas air putih diatas meja dan meminumnya perlahan. Dia meminumnya sampai tandas.
"Sebenarnya bukan salah dia sih. Intinya dia itu niat bantuin gue malah gue sambar," tutur Naya sambil tersipu.
"Hah! Wah, parah lu Nay. Ayam kali disamber. Terus, Nay," desak Lily.
"Ya udah, ternyata tuh selama ini dia nyariin gue mau tanggung jawab. Lu inget ngga waktu ada pelayan yang ngasi buket bunga ke gue waktu di resto hotel malem-malem?" tanya Naya.
Lily tidak ingin menjawabnya, dia ingin Naya segera menceritakan semua padanya saat ini juga. Dia hanya menganggukkan kepala tandanya dia mengingat kejadian itu.
"Nah, ternyata tu buket dari dia. Gue juga baru tau kemaren dari Rafa waktu kita masih di Pontianak. Ya, baru tiga harian lah gue tau."
"Terus dia tau ngga kalo lu sekarang hamil anaknya?" tanya Lily.
"Dia baru tau tadi," tutur Naya santai.
"What?" Lily berhasil terkejut mendengar penuturan Naya.
"Yang tadi gue telpon itu dia. Gue baru ngasi tau dia kalo gue hamil. Ini juga pertama kalinya gue yang ngubungin dia, Ly."
Lily hanya bisa melongo mendengar perkataan sahabatnya itu.
Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh! Yukss mampir!
__ADS_1