Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 12. Hati Patah vs Patah Hati


__ADS_3

Kelelahan yang menyelimuti Lily mengantarnya tidur hingga matahari tenggelam, dan bulan bertengger di langit malam. Bulu matanya yang lentik tampak bergerak, perlahan dia membuka matanya.


Lily mengerjapkan kedua matanya. Pantulan cahaya lampu mengenai matanya yang belum terbuka sempurna. Pantulan itu terasa sedikit menyilaukan kedua matanya. Rasa malas dan kantuk masih sangat mendominasi. Dengan sekuat tenaga Lily melawan rasa kantuk dan membuka matanya.


Setelah kedua matanya terbuka sempurna. Dia sontak meraih tasnya. Irama lagu di ponselnya berdering seiring dengan bangunnya dari tidur siangnya. Ia menatap layar ponsel.


Naya


Nama yang tertera di layar ponselnya.


Tak ingin telinganya sakit mendengar deringan ponsel berkali-kali, ia segera menaikkan tombol hijau itu ke atas.


"Ha..." belum sempat Lily berkata halo. Suara di seberang sana sudah membeo.


"Lily... lu kemana aja sih, gue dari tadi nelpon ngga di jawab? Lu masih di hotel? Kalo iya, gue kesana ya, nyusul. Kita nginep aja. Kan udah di bayarin Rafa, sayang dong." cerocos Naya panjang lebar.


Suara Naya yang melengking membuat Lily menjauhkan telinganya dari ponsel.


"Li... Lily... halo...!" teriak Naya di seberang sana.


"Duh... Nay... lu ngga kasian sama kepala dan telinga gue? Baru juga bangun tidur, Nay. Udah lu samber aja kek MRT." geram Lily sambil menghela napasnya.


"He... he... he... peace!" ucap Naya tak bersalah sambil mengangkat dua jari tangan kanannya keatas hingga membentuk huruf V, seolah-olah Lily dapat melihatnya.


"Jadi?" desak Naya.


"Iya, gue masih di hotel. Gue juga baru bangun, makanya dari tadi ngga angkat telpon lu. Kalo nginep gue mikir-mikir dulu deh, Nay." jawab Lily panjang.


"Yah... Ly. Nginep dong... Ya...?" Naya berusaha membujuk Lily lagi.


"Tapi gue ngga bawa ganti, Nay. Males gue kalo ngga ganti." jawab Lily malas.


"Lu tenang aja, gue udah bawain gantinya elu. Karena lu ngga jawab telpon gue, ya udah... gue cus... ke kos an. Terus minta kunci cadangan sama Mpok Atik, beres deh." ucap Naya dengan yakin.


"What?" teriak Naya sambil berdiri.


"Lu niat banget, Nay." Lily menghela napasnya.


"Ya udah, buruan kesini." Lily tak ingin memperpanjang percakapan. Naya sudah pasti menang jika adu mulut.


"iii... gitu dong, Ly. Gue otewe ya..." jawab Naya langsung memutuskan sambungan telponnya.


"Dasar blesteran lokal!" gerutu Lily.


Ponsel yang diputus sepihak itu baru saja akan diletakkan Lily di atas meja, namun sudah berdering kembali. Dia segera menatap kembali layar ponselnya.


Naya


Nama yang tertera lagi di layar ponselnya. Rasa kesal sempat melintasi hatinya. Baru saja dia bangun tidur, Naya sudah menerornya. Lily menyunggingkan senyum liciknya.


Lily membiarkan musik di ponselnya mengalun sampai bunyinya berakhir. Setelah selesai, dia segera menonaktifkan ponselnya.


"Haa... syukur-in!. Baru nyadar kan lu, belum nanya kamar dan lantai berapa maen putusin telpon aja." ucap Lily sambil tertawa.


***


Peregangan otot sangat diperlukan Lily saat ini. Seluruh badannya terasa remuk redam. Dia berdiri di samping tempat tidur. Dia menautkan kedua tangannya dan menaikkan ke atas, ke kiri, dan ke kanan sambil meliukkan tubuhnya. Ia melepaskan tautan kedua tangannya setelah dirasa cukup melakukan peregangan ototnya.


Tok... tok... tok...


Suara pintu kamar hotel Lily diketuk. Lily sempat mematung mendengar suara ketukan itu. Rasa takut mulai mendarat di hatinya. Dia takut jika yang datang itu adalah orang jahat.


"Ya ampun Lily, kan ada lubang buat ngintip." gumamnya sambil menepuk keningnya.


Lily melangkahkan kakinya ke arah pintu. Lubang kecil itu tepat berada di tengah pintu. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengintip dengan sebelah matanya.


Seorang gadis sedang berdiri di depan pintu kamar hotel. Gadis itu mengenakan pakaian kasual. Celana jeans sebetis dan kaos lilac yang ukurannya lebih besar sedikit dari tubuh gadis itu. Rambut cokelatnya diikat kebelakang seperti ekor kuda.


Sepatu kets putih yang dikenakannya sangat cocok dengan penampilannya saat ini. Di tangan kirinya tergantung dua buah paper bag, sedangkan tangan kanannya memainkan kunci mobil yang di pegang nya dari tadi.


"Cepet banget blesteran lokal datang." ucap Lily.


Naya sedang berdiri tepat di depan pintu kamar hotel Lily. Merasa tidak ada respon dari orang yang berada di dalam kamar, Naya mengetuk pintu dengan kuat. Kaki kanannya sengaja digerakkan maju mundur menghantam badan pintu.

__ADS_1


Lily terkekeh melihat tingkah absurd Naya. Lily memutar gagang pintu dan membukanya.


"Lama banget, Ly?" Naya berkata sambil menghamburkan tubuhnya masuk ke dalam.


"Yeee... elu nya yang kecepetan," balas Lily.


Setelah menutup pintu, Lily mengikuti Naya yang sudah duduk di kursi.


"Haa... akhirnya sampe juga." keluh Naya.


"Mana baju ganti gue? udah gerah gue, pengen cepet nyegerin tubuh." Lily menengadahkan tangan kanannya ke depan wajah Naya.


Naya menyodorkan sebuah paper bag yang tadi dibawanya.


"Good girl!" ucap Lily sambil mengedipkan sebelah matanya dan menghambur ke kamar mandi.


***


Tubuh Lily telah segar kembali. Pakaian ganti yang Naya bawa sangat sesuai dengan yang ingin dikenakannya. Celana Jogger hitam dengan atasan kaos lengan pendek warna pastel. Rambut hitamnya diikat ke belakang seperti Naya.


"Lu ada bawa sendal gue ngga, Nay?" tanya Lily.


"Ngga." jawab Naya. Tangannya masih sibuk menari di permukaan layar ponselnya.


"Ya... katanya beres." kesal Lily.


Naya menghentikan aktivitasnya. "Kan ada sendal hotel, Ly." ucap Naya sambil menunjukkan sepasang sendal berwarna putih dengan pinggiran warna ungu di bawah lemari gantung.


"Oh... iya, lupa gue kalo di hotel ada sendal." Lily terkekeh.


"Lily... Lily..." seloroh Naya.


***


Suara Naya kembali tenggelam. Gadis yang biasanya paling cerewet itu lebih banyak diam, semenjak menginjakkan kaki masuk ke kamar Lily.


"Lu ngapain tiba-tiba pengen nginep?" tanya Lily dengan curiga.


Mendengar pertanyaan Lily tidak membuat Naya langsung menjawabnya. Naya berdiri dari kursi yang didudukinya dan beralih ke atas kasur. Naya meraih bantal, dan memeluknya. Raut wajahnya terlihat sedikit lebih murung.


"Haaa..." Lily bingung mendengar perkataan Naya.


"Gimana maksudnya hati patah?" tanya Lily.


"Iya... hati gue patah. Gue ngeliat Mike jalan sama Rara." jelas Naya.


Lily menatap Naya dengan intens. Tidak ada nada bercanda dari ucapannya. Biasanya Naya memang sering menggoda dan terkenal paling absurd diantara mereka bertiga.


"Rara kenalan lu?" tanya Lily lagi untuk memastikan.


Anggukan kepala Naya sudah cukup menjelaskan bahwa saat ini Naya tidak sedang bercanda padanya.


"Hati gue patah. Patah banget. Kok bisa ya, mereka kek gitu di belakang gue?" tanya Naya.


"Emang si Mike sedikit berarti buat lu?" Lily bertanya sambil memicingkan sebelah mata.


Naya menoleh kesamping menatap Lily sambil menghela napas.


"Ada sih sedikit. Makanya hati gue patah." jawab Naya dengan malas.


Giliran Lily yang menghela napas panjang. "Lu dari tadi ngomongnya hati patah mulu. Yang bener itu patah hati, Nay." koreksi Lily.


"Emang lu aja yang lagi patah hati. Gue lebih parah kali. Stok pria lu kan masih ada selusin yang nganggur. Apa kabar gue yang cuma satu?" Lily berkata panjang lebar.


"Kalo lu emang patah hati karena pria yang lu cinta cuma satu, udah gitu lu setia. Kalo gue? kan, lu tau sendiri. Terus kalo patah hati itu sembuhnya la..." jelas Naya dengan serius tapi belum sempat menyelesaikan kata yang terkahir, Lily mendahuluinya dengan pertanyaan yang bahkan tidak perlu ditanyakan.


"Kalo hati patah?" Lily bertanya dengan tidak sabar. .


"Kalo hati patah sembuhnya bentar aja. Cukup sehari doang diratapi setelah itu cus ... alias patah hati KW..." jawab Naya sambil menirukan gerakan kendaraan melaju dengan tangannya.


Kelakuan Naya benar-benar membuat Lily takjub. Bisa-bisanya ada patah hati kw.


"Tapi Ly. Hati patah itu ternyata pedih juga, ya." ucap Naya sendu.

__ADS_1


Huwaa...


Suara tangisan pura-pura Naya mulai membahana.


"Jangan lebay deh!" ucap Lily sambil menjitak kening Naya.


"Apaan sih, Ly? Ngga bisa becanda." ucap Naya mengelus keningnya.


"Lu sama Rafa hobinya kompak. Sama-sama suka ngejitak gue." gerutu Naya.


~kruuyyuukk~


Cacing di perut Lily mulai berdemo. Lily baru sadar dia sama sekali belum makan malam.


Ha... ha... ha...


Kini giliran suara tawa Naya yang bergema. Suara tawa Naya tak bertahan lama. Lily membelalakkan kedua matanya.


"Udah ah. yuk ke resto hotel!" tawar Naya yang ingin menyelamatkan diri dari ocehan Lily.


~Kruyuukk~


Demo cacing di perut Lily sudah tak tertahankan. Ajakan Naya langsung diiyakan dengan menarik tangannya dan langsung keluar kamar. Naya tidak berani menertawakan Lily lagi. Daripada harus ceramah dadakan lebih baik diam.


***


Mereka berjalan beriringan menuju resto yang berada di lantai lima. Banyak hal yang mereka bahas selama perjalanan ke resto hingga tanpa mereka sadari mereka telah tiba di depan pintu masuk resto.


Mereka melangkahkan kaki masuk ke resto. Berbagai macam makanan, kue-kue, dan minuman sudah tersaji di meja prasmanan. Sehingga memudahkan pengunjung untuk mengambil makanan yang mereka inginkan.


Naya memilih tempat duduk yang dekat dengan meja prasmanan. Itu akan memudahkan mereka jika ingin menambah makanan lagi.


Pengunjung di resto mulai tampak ramai. Meja-meja yang tadinya lenggang, kini sudah dipenuhi dengan pengunjung. Langit malam semakin menghitam.


Naya dan Lily telah selesai menikmati makan malam mereka. Tapi mereka tidak ingin segera kembali ke kamar mereka. Naya memutuskan untuk tetap tinggal menikmati alunan musik live. Lily mengikuti jejak Naya. Terkadang mereka mengikuti lirik lagu yang dinyanyikan penyanyi seolah-olah mereka lah yang menyanyi.


Selain itu, pengunjung juga bisa request (memesan) lagu yang mereka inginkan. Begitu juga dengan Lily dan Naya yang sudah memiliki beberapa list (daftar) lagu yang akan mereka request.


Lily sangat menikmati suasana malam ini. Rasa beban di hatinya seakan terbang ke angkasa seiring dengan teriakan beberapa bait lagu di bagian reff.


Seorang pelayan menghampiri meja mereka. Di tangan pelayan itu tampak memegang sebuah buket bunga mawar merah. Buket itu berukuran sedang. Bunga-bunga mawar nya di rangkai sangat indah. Kesegaran bunga-bunga itu juga masih tampak seolah-olah baru saja di petik dari kebunnya.


Kedatangan pelayan yang membawa buket bunga mawar merah sontak membuat mereka terkejut. Pelayan itu memberikan buket itu kepada Lily. Sambil melihat lurus ke belakang punggung Lily dan Naya.


Pria di ujung sana yang memberinya perintah memberi kode kepadanya bahwa dia salah memberikan buket bunga itu.


"Eh... maaf, kak! saya salah." ucap pelayan itu sambil mengambil kembali buket dari tangan Lily.


"Ini bunga untuk kakak." jawab pelayan. Dia menyerahkan buket bunga kepada Naya.


Naya terlihat bingung dan bertanya "Siapa yang memberikan buket bunga ini? tanya Naya. Dia meraih dan memperhatikan buket bunga itu dengan seksama.


"Seorang pria di belakang kakak, yang duduk dekat meja bar." jawab pelayan itu sambil menunjuk ke belakang punggung Naya.


Naas nya, pria yang dibicarakan itu tidak berada di tempat duduk semula. Sehingga menimbulkan kesalahpahaman antara Naya dan pelayan.


Lily beranggapan bahwa pelayan itu yang memberi buket bunga mawar.


Ha... ha... ha...


Giliran Lily yang tertawa terbahak-bahak. Dia sampai memegang perut karena tawanya yang tidak mau berhenti.


"Oh my God, Nay. Kalo kata peribahasa ni pucuk dicinta ulam tiba. Baru juga hati patah udah diganti, dapat yang romantis pula sekaligus pelayan resto hotel. Udah mapan loh, Nay. Udah boleh keknya janur kuning menggantung." goda Lily sambil berusaha menahan tawanya.


Pelayan itu merasa tak enak hati atas kesalahpahaman yang terjadi antara dirinya dan Naya.


"Beneran kok, nona. Tadi ada orangnya disitu." terang pelayan.


Naya tak ingin merusak mood nya hanya karena buket mawar.


"Terima kasih." ucap Naya pada pelayan.


Pelayan itu menjawabnya dengan sopan dan meminta ijin untuk pergi meninggalkan mereka.

__ADS_1


"Kemana pria itu?" ucap pelayan dengan sedikit keras dan bingung.


__ADS_2