Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 88. Lullaby


__ADS_3

"Sayang, kau tidak ingat kejadian yang baru saja menimpa Zack?" tanya Rafa.


Liora berusaha mengingat kejadian saat Zack melamar Lily.


"Ah! Yang itu. Cin.." Liora belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Rafa langsung menutup mulut Liora dengan tangannya.


"Auw! Mengapa menggigitku, sayang?" tanya Rafa.


"Kau mau membuatku tewas di hari pertunangan ku, ya?" ketus Liora.


"Maaf, sayang," tutur Rafa dengan lembut.


"Udah deh, gue gerah nih!" kesal Naya.


Lily mengangkat tangan kanannya, dan menunjukkan ke Naya. Dia tidak berani berbicara karena Emily berada di antara mereka.


"Emangnya cincinku kenapa? Hmm ... Gue tau nih! Elu mau pamer kan? Gue juga ada kok. Lengkap!" balas Naya.


Naya salah mengerti dengan maksud Lily. Lily yang berencana memberi kode pada Naya justru mendapat serangan balik darinya.


"What? Cincin? Em mau lihat mommy!" pinta Emily.


Emily kecil berdiri dengan kedua tangan sambil berpegangan di belakang punggung kecilnya. Kaki kanannya di tekuk sedikit. Dia menggoyangkan kaki kanannya dengan gerakan yang membuat setiap orang melihatnya menjadi geram.


Emily mendongakkan kepala menatap mommy-nya. Dia membuka lebar kedua matanya. Kesan imut jadi bertambah di wajahnya.


Mam pus. Gerutu Lily dalam hati.


Zack segera meraih tangan kanan Lily dari belakang. Dia melepaskan cincin di jari manis Lily dengan cepat.


"Maafkan aku, sayang. Aku terpaksa melepasnya," bisik Zack di belakang telinga Lily.


Lily hanya bisa mengangguk agar Emily tidak curiga dengan kelakuan mereka.


"Lihat! Tidak ada cincin di jari tangan, mom!" ucap Lily bersemangat.


"Aunty bilang ada cincin!" seru Emily.


Emily menatap tajam ke arah Naya. Tatapannya sangat tajam seperti menuntut sebuah penjelasan.


"Ya ampun, Ly. Anak elu udah kek bukan anak balita aja," tutur Naya pelan. Bibirnya nyaris tidak bergerak saat mengeluarkan suara.


"Mana gue tahu. Bibitnya bukan dari gue," balas Lily dengan cara yang sama.


"Ehm, sayang. Sepertinya yang aunty lihat cahaya lampu kristal saat mommy mu menaikkan tangannya di udara," jelas Naya.


Naya baru ingat jika Emily sangat menyukai sesuatu yang berkilauan. Pantas saja Keith berusaha menutupi tubuhnya. Tidak bisa dibayangkan jika Emily sampai melihat gelang dan cincin yang saat ini dikenakannya.


"Mengapa tidak bilang dari tadi?" tanya Naya pada David sambil berbisik.


"Aku sudah memberimu kode, dear," jawab Keith lembut.


"Mana aku mengerti kodemu," balas Naya.


"Jadi kau hanya tahu kode 'itu' saja," goda Keith sambil mengangkat jari telunjuk dan tengahnya, dan di tekuk sedikit saat menekankan kata 'itu'.


"Ish, kau itu," gerutu Naya.


"Em, sayang. Ayo kita kembali ke kamar!" ajak Lily.


"No, mommy! Nanti saja. Em mau tunggu aunty Naya," jawab Emily tegas.


Sifat Emily yang satu ini sangat sulit dihadapi. Zack selalu kalah telak dengan sifatnya satu ini. Emily tidak akan mau menurut.


"Hoam. Aunty ayo sama-sama ke kamar!" ajak Emily sambil menguap.

__ADS_1


"Sayang. Aunty dan uncle masih mau jalan-jalan. Em sudah kelihatannya sudah mengantuk," ucap Naya lembut.


"Em tidak ngan- (hoam) tuk," jawab Emily sambil menguap.


"Ok. Ayo kembali ke kamar sayang!" seru Kita sambil meraih tubuh Emily dan menggendongnya.


"Ta-pi, mommy. Hoam," bantah Emily sambil menguap.


Lily meletakkan kepala Emily di pundak kanannya. Dia mengelus pelan kepala gadis kecil itu dengan penuh kasih sayang. Lily juga mengayunkan tubuh Emily sambil bersenandung.


"Mommy, Em masih mau ... hoam," ucapannya terhenti saat diserang kantuk.


Emily berusaha mengangkat kepalanya, tapi kantuk yang menyerang membuatnya kembali meletakkan kepalanya di pundak mommy-nya. Kedua mata Emily berayun. Dia menikmati buaian Lily.


"Ah, selamat!" seru Naya sambil melepaskan jas.


Sudut mata Emily menangkap cahaya yang berkilau. Dia segera mengangkat kepalanya.


"Em, mau itu!" teriak Emily.


Dengan keahliannya, Keith segera melepas gelang dan cincin Naya. Dia menaruhnya ke dalam saku kemeja.


"Mau apa sayang?" tanya Zack.


"Itu! Em mau i-tu!" seru Emily.


Gadis kecil itu mengerjapkan kedua matanya.


"Tadi Em lihat ada yang berkilau disana!" ucap Emily.


Naya yang ditunjuk oleh Emily hanya bisa melambaikan tangan sambil tersenyum.


"Mana? Tidak ada sayang," ucap Zack.


"Ok, mommy," jawab Emily lemah sambil meletakkan kembali lehernya ke pundak Lily.


"Fa, gue duluan ya. Emily udah ngantuk," ucap Lily.


"Ok."


"Liora, gue balik ke kamar dulu ya," sapa Lily pada Liora sebelum meninggalkan pesta.


"Iya, Ly. Ketemu besok lagi ya!" ucap Liora.


Lily hanya menganggukkan kepalanya.


"Sini! Biar aku saja yang gendong," tawar Zack sambil mengambil Emily dari belakang.


"Hhmmm," gerutu Emily sambil mengeratkan pelukannya di leher Lily.


Emily merasa nyaman di gendongan mommy-nya. Dia tidak ingin pindah ke pelukan yang lain.


"It's okay. Biar aku saja," ucap Lily sambil menenangkan Emily.


"Nay, Keith. Kita duluan ya," pamit Lily.


"Ok, gue juga udah mau balik ke kamar. Capek juga gue," keluh Naya.


"Sampai jumpa besok," ucap Zack sambil menjabat tangan Keith.


"Sekali lagi congratz, bro," ucap Zack yang kini menjabat tangan Rafa.


Lily, Zack, Nana, dan Leon berjalan meninggalkan pesta.


"Emily lucu ya, sayang," ucap Liora.

__ADS_1


"Kau mau?" tanya Rafa.


"Tentu saja aku mau punya anak selucu Emily," jawab Liora.


"Kali begitu, ayo kita buat!" ajak Rafa sambil berbisik di telinga Liora.


Liora langsung meninggalkan Rafa. Dia tidak ingin Rafa melihat wajahnya yang memerah karena malu. Malu dan kesal bercampur aduk di hari Liora.


Bisa-bisanya dia berbicara seperti itu dengan santai. Seperti mengajak pergi ke mall saja. Dasar Rafa! Oceh Liora dalam hati.


"Hei, sayang! Tunggu!" teriak Rafa sambil setengah berlari menyusul Liora.


"Hahaha. Syukur-in!" ledek Naya.


"Kita juga harus kembali ke kamar, dear. Aku tidak ingin kalian berdua kelelahan," ucap Keith lembut sambil mengelus perut Naya.


Tawa Naya terhenti saat mendengar ucapan Keith.


"Ok. Seluruh tubuhku juga sudah pegal," jawab Naya.


"Mau aku pijat?" tawar Keith.


"Dengan senang hati," jawab Naya sambil mengedipkan sebelah matanya.


Naya dan Keith menjadi orang yang terakhir meninggalkan hall hotel. Semua tamu sudah berangsur meninggalkan hall hotel sebelum mereka.


...✳️✳️✳️...


Lorong lantai 5 Hotel X


Ting


Pintu lift terbuka.


Lily, Zack, Nana, dan Leon keluar dari lift. Mereka berjalan hingga ke pintu kamar Lily. Emily kecil terlihat tertidur pulas di gendongan Lily. Dia meminta Zack untuk membantunya membuka pintu kamar.


Sesampainya di kamar, Emily segera merebahkan tubuh Emily diatas kasur. Dia membuka sepatu Emily, dan meminta Nana untuk menyiapkan air hangat serta handuk kecil.


Lily membuka gaun yang dikenakan Emily perlahan. Dia tidak ingin mengganggu tidur putrinya.


"Ini nona airnya," ucap Nana.


"Terima kasih, Nana. Nana tinggalkan saja Em padaku. Biar aku mengurusnya. Nana bisa beristirahat lebih dulu," tutur Lily dengan sopan.


"Baiklah, nona. Terima kasih," ucap Nana sambil undur diri.


Lily sangat cekatan mengurus anak kecil. Dia mengelap tubuh Emily agar tidak gerah saat tidur nanti. Setelah selesai mengurusi Emily. Lily segera merapikan kembali pakaian dan alat bersihnya.


"Eee ayam. Ya ampun, Zack. Kau mengagetkanku saja," ucap Lily sambil mengelus dadanya.


"Sejak kapan kau latah, sayang?" tanya Zack.


"Sejak tadi," jawab Lily asal.


Zack melangkahkan kakinya mendekati Lily. Dia kemudian duduk di samping Emily yang tertidur pulas.


"Dia tidak pernah diurusi seperti ini," ucap Zack sambil merapatkan selimut putrinya.


Ucapan Zack tersirat kesedihan di sana.


💕💕💕


Hai my lovely friends! Aku ada novel yang recomended banget loh! Yukss mampir .... di jamin seru banget lohh 😘😘😘


__ADS_1


__ADS_2