Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 76. Mommy not Aunty


__ADS_3

Nana bergegas turun ke lantai dasar menggunakan lift. Selama di dalam lift, Nana terlihat gusar karena tidak enak dengan seorang room boy yang ditugasi untuk menjaga box-box kuenya. Dia meremas ujung bajunya untuk mengurangi rasa tidak enaknya.


Ting


Pintu lift terbuka. Nana bergegas keluar dari lemari besi itu. Dia setengah berlari menuju seorang room boy yang terlihat sedang berdiri menjaga box-box kuenya.


"Permisi," ucap Nana pelan.


"Maaf, saya agak lama," tutur Nana bersalah.


"Tidak apa-apa nyonya. Apa box-box ini akan di bawa masuk ke dalam, nyonya?" tanya room boy sopan.


"Iya. Sebentar ya. Saya cari pelayan wanita yang tadi," ucap Nana sambil berlalu pergi mencari pelayan wanita yang tadi menghampirinya saat baru memasuki lobi hotel.


...✳️✳️✳️...


Zack telah tiba lebih dulu di resto hotel. Dia melirik jam di tangan kanannya. Karena sibuk mendengarkan laporan dari earphonenya, dia tidak menyadari jika Leon keluar dari lift. Dia baru tahu saat tiba di dalam restoran. Saat melepaskan hendak menarik kursi untuk duduk, dia menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang.


Zack sedikit terkejut mendapati Leon yang tidak berada di dekatnya. Untuk beberapa saat Zack berpikir mungkin saja Leon kembali ke kamarnya karena tertinggal sesuatu.


Saat melirik jam tangannya, dan setelah menghitung waktu yang terbuang. Hampir satu jam Zack menunggu pria itu datang. Dia mulai merasa geram dan jengah. Tangan kanan Zack memijat kepalanya yang tidak pusing. Dia melihat ponsel yang tergeletak diatas meja.


"Astaga! Kenapa dari tadi aku tidak menelponnya," tutur Zack.


Zack sudah seperti orang yang sedikit linglung beberapa Minggu terakhir. Semenjak pria itu kehilangan dua orang wanita yang sangat berarti di dalam hidupnya. Zack meraih ponsel, dan segera menghubungi Leon.


Tut ... Tut ... Tut ...


Tut ... Tut .... Tut ...


Zack menutup ponsel dan melemparnya asal saja ke atas meja. Dia sangat kesal karena Leon tidak menjawab panggilannya. Selain itu, dia ingin segera menyelesaikan tujuan utamanya datang ke hotel X. Pandangan mata Zack beralih ke pintu depan resto. Dia melihat siluet Nana. Saat Zack hendak berdiri untuk mengejarnya, siluet Nana menghilang.


Dia kembali terduduk. Hatinya sangat menggebu saat itu. Siluet Nana sudah memberinya sedikit harapan. Dimana ada Nana pasti ada putri kecilnya.


Zack kembali merenung. Rindu di hatinya menyeruak keluar. Air mata kembali keluar tanpa ijin dari kedua matanya. Pria manapun, jika sudah berhubungan dengan wanita yang mereka cintai apalagi menghilang pasti akan mengeluarkan air mata. Terutama untuk ibu.


Dia segera mengusap air mata yang tanpa ijin meleleh di kedua pipinya. Dia memanjatkan doa agar segera dipertemukan dengan kedua wanita yang paling berharga setelah ibunya. Mendiang ibunya tetap menempati tahta tertinggi.


...✳️✳️✳️...


Leon berusaha menggapai ponsel yang berada di saku kanan celananya. Tidak seperti biasanya. Ponsel Leon kali ini tidak bergetar. Ponselnya bernyanyi merdu, menyanyikan lagu dari Mahen.


...🎵 🎵🎵...


Jangan lagi rindu cinta

__ADS_1


Ku tak mau ada yang terluka


Bahagiakan dia aku tak apa


Biar aku yang pura pura lupa


...🎵🎵🎵...


Lily segera menatap Leon. Awalnya tatapan mata Lily mengisyaratkan kebingungan dan tidak percaya dengan yang didengarnya. Akhirnya, tatapan Lily berubah menjadi sebuah tatapan yang mengejek. Leon ingin segera memutuskan panggilan itu. Dia melihat sekilas ke layar ponselnya. Tuan Zack.


Astaga yang menelpon pas sekali dengan nada dering ku saat ini. Leon berkata dalam hati. Dia masih ingat tujuan tuan Zack datang ke kota hujan ini. Dia ingin menggagalkan pesta pertunangan tuan Rafa dan Lily. Dugaan mereka awalnya adalah Lily yang bertunangan dengan Rafa. Nyatanya mereka salah.


Dia sudah mengetahuinya. Sedangkan tuannya itu masih belum tahu jika yang bertunangan dengan tuan Rafa adalah seorang gadis yang bernama Liora. Kekasih hati tuan Rafa sendiri.


"Caile, yang jomblo galau amat lagunya," goda Lily sambil terkekeh.


Mereka sedang berada di dalam kamar Lily. Lily membawa Emily ke dalam kamarnya. Leon hanya mengikuti mereka saja. Dia ingin kedua wanita berharga tuannya dalam keadaan aman. Sebelum para pengawal lain datang, dia memutuskan untuk menjaga dan mengawal mereka sendiri.


"Sekali-kali kan tidak apa nona," ucap Leon malu-malu.


"Hahaha, lama-lama juga ngga apa kok Leon," Lily kembali menggoda Leon.


"Mommy, Em lapar," ucap Emily pada Lily sambil menarik pelan gaun Lily.


"Oh, sayang aunty lapar ya. Sebentar ya sayang, aunty pesan makanan dulu," ucap Lily sambil mendudukkan Emily kecil diatas sofa.


Emily menatap wajah Lily dengan kedua mata yang sengaja dilebarkan olehnya. Lily segera mencubit gemas kedua pipi chubby gadis kecil itu. Tingkahnya sangat menggemaskan saat melakukan seperti itu.


"Sayang, kasian mommy nanti," tutur Lily pelan.


"Mommy tidak peduli pada Em," tutur gadis itu.


Tidak ada raut kesedihan di wajah gadis kecil itu. Lily sedikit bingung dengan perubahan sikap Emily yang terlihat sedikit lebih pintar dari usianya saat ini.


"So, you are my mommy," (jadi, kau adalah mamiku) tutur Emily kecil sambil memeluk erat tubuh Lily.


Lily menatap Leon. Gadis itu menuntut penjelasan padanya. Leon yang mengerti langsung membuka suara.


"Nona muda Emily dan Nana menghilang sudah hampir satu bulan," tutur Leon.


"A-pa?"


Lily tak percaya dengan yang baru saja didengarnya. Dia segera mengurai pelukan Emily, dan menatap wajah gadis kecil itu. Kesedihan perlahan menyeruak sampai mengeluarkan air matanya.


Lily tidak habis pikir bagaimana bisa Zack kehilangan Emily. Untung saja Em bersama Nana. Dia tidak bisa membayangkan jika Em hanya sendirian di luar sana. Lily memeluk erat tubuh Emily. Menciumi pucuk kepala gadis kecil itu berkali-kali. Dia tidak peduli dengan air matanya yang mengalir dengan deras. Hatinya sangat perih mengingat ucapan Leon.

__ADS_1


"Ba-bagaimana bisa Zack kehilangan Em?" tanya Lily terbata sambil menahan isakkan tangisnya.


"Saat itu mansion di serang oleh Brandon yang merupakan mantan dari Amber. Dia ingin merebut nona muda dari tuan Zack," jelas Leon.


"Emily putri kandung Zack. Mengapa dia ingin merebutnya?" tanya Lily sambil menatap Leon.


"Karena sebelum menikah dengan tuan Zack, Amber telah hamil beberapa Minggu dan menggugurkannya. Calon bayi yang dikandungnya adalah milik Brandon," jelas Leon.


"Aku sudah tahu dari awal dia wanita seperti apa. Sekarang di mana wanita itu? Mengapa dia tidak melindungi Em?" tanya Lily.


Air matanya kini mulai mereda. Lily perlahan menguasai dirinya.


"Tuan Zack menyerahkannya pada Brandon," jawab Leon.


"Apa maksudmu?" tanya Lily penasaran.


"Tuan Zack menceraikan Amber saat itu juga. Awalnya Brandon tidak ingin menerimanya. Akan tetapi, setelah di jelaskan oleh tuan Zack bahwa Amber bersih. Pria itu dengan senang hati menerimanya kembali," terang Leon.


"Ya ampun, Leon. Kau tahu otakku tidak sepintar otakmu. Apa bisa kau jelaskan dengan kata-kata yang mudah saja?" pinta Lily.


"Maafkan aku, nona Lily," ucap Leon sambil tersenyum.


"Bagian mana dari kata-kataku yang tidak anda mengerti?" tanya Leon sopan.


"Bersih," ucap Lily cepat.


"Bersih?" tanya Leon.


Leon merasa bingung karena nona Lily tidak mengerti kata 'bersih'. Bersih adalah sebuah kata yang sangat sederhana. Semua orang pasti mengerti arti dari kata itu.


💕💕💕


Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh! Yukss mampir ... 😘😘😘


Kehamilan merupakan sebuah impian besar bagi semua wanita yang sudah berumah tangga.


Begitu pun dengan Arumi. Wanita cantik yang berprofesi sebagai dokter bedah di salah satu rumah sakit terkenal di Jakarta. Ia memiliki impian agar bisa hamil. Namun, apa daya selama 5 tahun pernikahan, Tuhan belum juga memberikan amanah padanya.


Hanya karena belum hamil, Mahesa dan kedua mertua Arumi mendukung sang anak untuk berselingkuh.


Di saat kisruh rumah tangga semakin memanas, Arumi harus menerima perlakuan kasar dari rekan sejawatnya, bernama Rayyan. Akibat sering bertemu, tumbuh cinta di antara mereka.


Akankah Arumi mempertahankan rumah tangganya bersama Mahesa atau malah memilih Rayyan untuk dijadikan pelabuhan terakhir?


Kisah ini menguras emosi tetapi juga mengandung kebucinan yang hakiki. Ikuti terus kisahnya di dalam cerita ini**!

__ADS_1



__ADS_2