
Zack mengepal kedua tangannya melihat tingkah Amber. Dia sangat menyesalkan perbuatannya. Memasuki kamar putrinya saja dia enggan, apalagi memeluknya.
"Kali ini tidak akan ada lagi kesempatan untuk mu! Ini adalah awal permulaan hidupmu tanpa kami," geram Zack.
Amber kembali ke kamar dan merebahkan dirinya diatas kasur empuknya. Otaknya seakan buntu untuk mencari solusi untuk hari ini. Dia memilih pasrah saja dengan apa yang akan terjadi nanti.
Hujan di luar sana bukannya berhenti justru semakin lebat. Bedanya angin yang kencang tadi sudah tidak melanjutkan tugasnya bersama petir dan guntur.
* * *
"Bixie!" seru Brandon.
"Iya tuan," jawabnya.
"Bagaimana persiapan untuk nanti malam?" tanya Brandon sambil memainkan ponsel di tangan kanannya.
"Semuanya sudah siap tuan," jawab Bixie.
Bixie adalah kaki tangan Brandon. Dia dipercaya untuk memimpin penyerangan ke mansion Zack. Malam ini Emily kecil harus jatuh ke dalam tangannya.
"Pukul berapa sekarang?" tanya Brandon.
Bixie mengangkat tangan kanannya dan melihat jam tangan digitalnya.
"Pukul satu siang tuan," jawab Bixie sambil menurunkan tangan kanannya.
"Kita akan menyerang mansion Zack pukul lima. Aku ingin menyerang satu jam lebih awal," ucap Brandon dengan tegas.
"Apa bisa?" tanya nya lagi untuk memastikan.
"Jika anda berkenan, saat ini kita juga bisa menyerang mansion Zack, tuan," ucap Bixie.
Brandon tersenyum mendengarnya. Penyerangan satu jam lebih awal ke mansion Zack pasti sudah membuat mereka terkejut. Dia pasti akan berhasil merebut seseorang yang seharusnya menjadi miliknya.
"Sesuai dengan keinginan anda, tuan," jawab Bixie.
Bixie segera menghubungi wakil tim nya untuk segera melakukan persiapan. Kurang lebih empat jam lagi mereka akan menyerang mansion Zack.
...✳️✳️✳️...
"Tuan!" seru Leon.
"Ada apa?" tanya Zack.
"Semuanya sudah siap sesuai dengan perintah anda," lapor Leon.
"Bagus. Aku yakin mereka bisa menyerang kita kapanpun," tukas Zack.
"Tuan!" seru Leon.
"Apa lagi?" tanya Zack.
__ADS_1
"Aku baru saja mendapat informasi jika tuan Rafa telah membawa pergi nona Lily dan sahabatnya keluar dari Jakarta," lapor Leon.
Brak ...
Gebrakan pada permukaan meja membuat Leon sedikit terkejut. Dia tidak menyangka akan melihat respon tuan nya akan seperti itu.
"Untung aku tidak ada riwayat penyakit jantung," hela Leon dalam hati sambil mengusap dadanya perlahan.
"Mengapa aku baru dikabari?" tanya Zack. Dia sangat marah mendengar informasi yang baru saja didengarnya. Dia merasa sangat geram pada Rafa. Lagi-lagi, pria brengs*k itu selalu saja selangkah dari dirinya.
"Kepergian mereka sangat dipersiapkan, tuan. Sehingga sangat sulit untuk mengetahuinya lebih awal," jawab Leon.
"Kemana mereka pergi kali ini?" tanya Zack sambil berjalan mondar-mandir. Tangan kirinya berada di pinggang, dan tangan kanannya memegang keningnya yang tiba-tiba berdenyut.
"Maaf, tuan. Untuk itu aku masih mencari tahu kemana mereka pergi," jawab Leon.
Zack menghempaskan tubuhnya ke kursi di depan monitor. Dia sangat kesal dengan keadaan saat ini. Dua orang wanita berbeda generasi yang sangat disayanginya dirampas perlahan. Yang satu sudah dibawa pergi, dan yang satu lagi akan diambil paksa dalam beberapa waktu ke depan.
Dua hal yang sama, dua kejadian yang sama, tapi di waktu yang berbeda. Kebahagiaannya seolah lenyap tak bersisa.
"Tuan!" seru Leon.
"Nona muda Emily mencari anda," ucap Leon lagi.
Zack tersadar dari lamunannya. Emily. Ya, dia masih memiliki Emily saat ini. Tak akan dia biarkan Brandon dengan mudah mengambil Emily darinya. Karena Emily memang miliknya. Putri kecilnya yang di rawatnya sepenuh hati.
Sedangkan Lily, dia akan segera mencarinya setelah urusan Emily selesai. Dia akan mengambil kembali apa yang sudah seharusnya menjadi miliknya. Bahkan jika perlu, dia akan merebut paksa Lily dari Rafa.
"Daddy!" seru Emily sambil berlari ke arah Zack.
Zack baru saja memasuki ruangan putrinya yang sudah di design seperti kamar aslinya. Dia merentangkan kedua tangannya untuk meraih gadis kecil itu kedalam pelukannya.
"Daddy, Em ingin jalan-jalan keluar," pinta Emily.
Zack menatapnya sambil mengusap rambut cokelat sebahunya. "Tunggu sebentar lagi sayang, Em akan jalan-jalan keluar bersama Nana dan pengawal lainnya," tutur Zack lembut.
"Uncle-uncle itu Daddy?" tanya Emily sambil menunjuk ke arah pengawal yang dari kemarin sudah menemaninya.
"Iya sayang. Mereka akan melindungi Em," jawab Zack.
"Kenapa Daddy?" tanya Emily lagi dengan wajah polosnya.
Anak seusia putrinya memang memiliki rasa ingin tahu yang besar. Mereka akan bertanya apa saja yang membuat mereka penasaran atau mereka tidak tahu. Zack menjelaskan pada putrinya dengan sabar.
"Mereka akan lindungi Em dari orang-orang jahat. Di luar sana ada beberapa orang jahat yang ingin mengambil Em dari dad," jelas Zack.
"Em tidak mau Daddy, Em tidak mau," ucap Emily berkali-kali sambil menggelengkan kepalanya.
"Jadi Em harus menurut pada Daddy, ok?"
"Ok Daddy," jawab Emily sambil mengulurkan jari kelingking kanannya. Tandanya dia akan menepati janjinya.
__ADS_1
Zack menyambut jari kelingking putrinya dengan menautkan jari kelingkingnya.
"Em, dad ingin bertanya sesuatu?" tanya Zack pelan.
"Apa Daddy?"
"Apa Em ingin tinggal bersama mommy?" tanya Zack.
Gadis kecil itu langsung menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Mengapa?" tanya Zack penasaran.
"Em cuma mau tinggal dengan Daddy dan Nana," jawabnya tegas.
"Bukankah Em sayang mommy?" tanya Zack.
"Em sayang mommy, tapi cuma segini Daddy," jawab Emily sambil menunjukkan satu jari telunjuknya pada Zack.
Zack menautkan kedua alis matanya. Berusaha mencerna maksud putrinya.
"Sayang Em buat Daddy dan Nana segini," ucap nya lagi dengan menampilkan semua jari tangan dan jari kakinya.
Zack tertawa melihatnya. Sekarang dia mengerti maksud dari putrinya itu.
"Bagaimana jika mommy pergi jauh dan tidak tinggal lagi dengan kita? Apa Em akan sedih?" tanya Zack lagi untuk menyakinkan dirinya sendiri.
"It's okay Daddy," jawab Emily dengan santainya.
"Are you sure?" tanya Zack.
"Ya," jawab Emily singkat.
"Ok, jika Em sudah berkata seperti itu," ucap Zack.
Zack semakin merapatkan gendongannya. Dia melihat Emily yang terlihat sedikit mengantuk. Dia menimang gadis kecil itu, berusaha untuk menidurkannya.
Hujan diluar sana masih saja belum berhenti. Amber terbangun dari tidurnya. Dia segera meraih ponsel yang tergeletak diatas tempat tidurnya. Waktu menunjukkan pukul empat lebih tiga puluh menit sore.
Dia merasa sangat kesal. Bisa-bisanya dia tertidur selama itu, dan dalam kondisi genting saat ini. Dia segera melarikan dirinya ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, dia segera berjalan ke walk in closet. Dia mencari-cari pakaian kasual yang bisa dia kenakan.
"****!" umpat Amber.
Dia kesal melihat semua lemari pakaiannya berisi gaun. Sekarang dia baru menyesal tidak pernah mengenakan membeli celana atau baju kaos. Dengan pencarian yang cukup lama, akhirnya dia mendapatkan sebuah celana legging hitam panjang yang sudah lama tidak dipakainya. Diraihnya legging hitam itu, dan di pasukannya dengan gaun biasa miliknya.
Setidaknya dengan memakai legging dapat memudahkannya untuk berlari disaat dia melarikan diri.
Disisi lain ...
Beberapa mobil sedan hitam mulai berjalan menembus lebatnya hujan. Di setiap mobil berisi empat orang yang mengenakan pakaian serba hitam. Mereka tidak menggunakan senjata sama sekali. Karena tugas mereka hanya melumpuhkan lawan mereka saja.
Perjalanan mereka kali ini adalah dengan misi menyerang mansion Zack, dan mengambil putri kecilnya.
__ADS_1