Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 59. Tentang Perasaan


__ADS_3

Karena terburu-buru keluar, Lily lupa membawa serta ponselnya. Dia berniat kembali lagi ke ruang tengah. Pintu ruang tengah terbuka sedikit. Lily sudah hampir memasuki ruangan itu saat mendengar percakapan Naya dan Rafa tentang dirinya.


Tubuh Lily mematung dan terasa kaku saat mendengar perintah Naya pada Rafa. Dia sampai menutup mulut dengan kedua tangannya agar teriakannya tidak terdengar oleh mereka.


Lily memundurkan langkah kakinya perlahan. Setelah dirasa aman, dia segera membalikkan tubuhnya dan berlari sejauh-jauhnya dari sana. Dia ingin menjauh dari Rafa yang selama ini sudah dianggap sebagai saudara sendiri. Sahabat sekaligus sahabatnya.


Lily sangat bingung bagaimana harus bersikap, jika Rafa nanti benar mengutarakan perasaan pada dirinya. Tanpa terasa, air mata Lily mengalir di kedua pipinya. Kali ini dia tidak berlari lagi melainkan berjalan dengan sedikit kencang. Di usapnya air mata yang jatuh dan membasahi kedua pipinya. Berbagai pikiran berkecamuk di dalam otak dan hatinya.


Tanpa terasa, kedua kakinya membawa Lily ke sebuah taman di dekat komplek perumahan mereka. Dia memilih duduk di sebuah bangku yang letaknya berada di ujung taman. Dia tidak ingin di ganggu oleh siapapun saat ini. Sendiri. Dia butuh kesendirian. Berusaha untuk mencerna semua yang telah terjadi padanya akhir-akhir ini.


Rafa memang perhatian pada dirinya dan Naya. Selama ini Lily menganggap semua perhatian Rafa adalah hal yang wajar. Mengingat mereka sudah bersahabat sejak lama. Banyak sekali teman-teman mereka yang iri dengan kedekatan mereka bertiga. Bahkan ada yang bilang mana mungkin jika Rafa tulus berteman dengan kami. Rafa pasti akan jatuh cinta diantara kami berdua.


Ucapan mereka kini terngiang di telinga Lily. Bagaimana mungkin yang mereka harapkan benar terjadi saat ini. Rafa justru memilih dirinya yang sekarang mendapat predikat jomblo. Dulu, Rafa digosipkan akan bersama Naya. Mengingat dirinya yang saat itu sudah memiliki seorang kekasih. Rafa dan Naya menjadi bulan-bulanan mereka saat itu.


Akhir-akhir ini perhatian Rafa sangat luar biasa. Dia bahkan tetap memberikan gaji pada dirinya dan Naya meskipun mereka tidak bekerja. Waktu itu Lily berpikir karena Naya sedang tersandung masalah yang sangat besar. Jadi semuanya terlihat wajar.


Lily baru sadar saat Rafa membawanya kesana kemari menjauh dari Zack. Potongan puzzle mulai saling berhubungan. Beberapa waktu terakhir, Rafa lebih fokus kepada dirinya. Lily tahu bukannya Rafa tidak perhatian pada Naya. Hanya saja masalah yang dihadapi Naya sudah tidak ada lagi.


Rafa sangat gigih menjauhkan Lily dari Zack hingga saat ini dia juga dibelikan rumah oleh Rafa jauh dari ibu kota. Perasaan Lily menjadi campur aduk dan bimbang. Rasa pusing menghantam kepalanya berkali-kali. Dia ingin menepis semua kenyataan ini. Dia tidak ingin ada perasaan lain yang timbul diantara persahabatan mereka.


Air mata Lily sudah seperti air keran di kamar mandi ketika mengisi bak air. Hatinya sakit. Perasaan tidak enak mulai melingkupi seluruh perasaannya. Rinai hujan mulai turun, dan menghampiri tubuhnya.


Lily segera bangkit dari bangku taman. Di kota hujan ini jika sudah turun rinai hujan pasti nantinya akan menjadi hujan yang sangat lebat. Lily tidak ingin kehujanan, dia segera bergegas kembali ke rumah. Benar saja, baru beberapa langkah dia berlari, hujan lebat mulai mengejarnya dari belakang.


Sedikit lagi, dia hampir sampai di gerbang rumah. Rafa yang melihat kondisi Lily seperti itu justru tertawa tebahak-bahak. Baru kali ini dia melihat seseorang bermain kejar-kejaran dengan hujan. Naya yang baru saja keluar dari pintu depan merasa heran melihat kelakuan Rafa.


Naya melihat arah pandang Rafa. Dia melihat Lily yang berlari kalang kabut agar tidak terkena hujan. Naya juga ikut tertawa melihatnya.


"Eh Nay. Taruhan yuk. Kalo lu menang gue yang bayarin gaun pengantin elu!" seloroh Rafa.


Dengan senang hati Naya menyambut taruhan yang sangat menggiurkan itu.


"Ok. Gue yakin Lily bakalan ngga kena hujan," ucap Naya.


"Kalo gue sebaliknya. Deal!" seru Rafa.

__ADS_1


"Deal!" mereka berdua saling berjabat tangan.


Suara tawa yang tadi mereka keluarkan kini menghilang diganti dengan suasana yang menegangkan. Mereka berdua sama-sama menatap Lily. Tak satupun diantara mereka yang mengeluarkan suara. Mereka berdoa masing-masing di dalam hati berharap memenangkan taruhan dadakan Rafa.


Lily yang tidak mengetahui bahwa dirinya dijadikan bahan taruhan oleh Naya dan Rafa terus berlari sekuat tenaga. Sedikit lagi dia sampai di teras depan rumah. Suara hujan semakin dekat membuat Lily mengerahkan seluruh sisa kekuatannya.


Hap


Lily sampai dengan selamat tanpa terkena air hujan. Hujan pun segera membasahi atap rumah mereka.


"Aaa ..." teriak Naya dan Rafa bersamaan.


Naya berteriak bahagia. Sedangkan Rafa berteriak frustasi karena harus mengeluarkan uang untuk membayar gaun pengantin Naya.


"Lu emang bestie gue, Ly," cetus Naya sambil memeluk Lily.


"Dah ... babang Rafa! Jangan lupa transfer ya. Masih ingat kan nomor rekening gue," ucap Naya sambil menggaet lengan Lily, dan segera mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Lu dari mana aja neng?" tanya Naya.


"Tuh mata kenapa? Udah ngga keliatan bentuknya," tanya Naya sambil memperhatikan kedua kelopak mata Lily.


"Oh, tadi sempet angin kenceng Nay. Mata gue kemasukan debu. Lu tau sendiri kalo gue udh kemasukan debu kek gimana gue nguceknya," jawab Lily. Dia terpaksa membohongi Naya. Dia tidak ingin sahabatnya tahu jika dia habis menangis. Untung saja matanya sangat sensitif jika terkena debu.


"Nih, dari tadi Liora nelpon," ucap Naya sambil menyerahkan ponsel Lily.


"Liora nelpon? Tumben!" seru Lily.


"Lu jawab aja entar kalo dia nelpon. Lu juga bakalan tau kenapa dia ngubungin elu," jawab Naya.


"Gue tinggal ya, Ly. Gue mau boci dulu," tutur Naya sambil menguap.


"Boci apaan, Nay?" tanya Lily bingung.


"Bobok ciang Lily," jawab Naya sambil beranjak pergi meninggalkan Lily menuju kamarnya.

__ADS_1


Lily segera beranjak ke kamarnya. Dia ingin membersihkan diri dulu sebelum Liora menghubunginya lagi.


"Eh Ly! Entar malem lu ikut gue yaa!" ajak Rafa yang baru saja masuk ke dalam.


"Kemana?" tanya Lily tanpa menoleh.


"Ntar malem kita makan malam berdua di resto favoritnya elu," ucap Rafa.


"Ngga ah, Fa. Gue sibuk," ucap Lily sambil berlari menuju kamarnya.


Baru saja Rafa ingin menyanggahnya, Lily sudah berlari ke kamarnya.


"Kenapa tuh anak! Tumben," ucap Rafa sambil melangkahkan kakinya menuju ruang tengah. Dia berniat melanjutkan game online nya yang tertunda gara-gara Naya tadi.


"ish, emang tuh si Rafa. Mau ungkapin perasaan kek biasa saja ngajak pergi makan," gerutu Lily.


"Eh kok gue malah ngarep yang romantis ya, hehehe ..." Lily terkekeh dengan kelakuannya sendiri.


Dia segera membersihkan dirinya. Setelah mandi dan berganti pakaian, dia segera duduk diatas kasur empuknya. Dia meraih ponselnya dan menyentuh layar ponsel. Dia mencari di daftar panggilan. Baru saja dia hendak menghubungi Liora. Ponselnya sudah berdering lebih dulu dan menampilkan nama Liora disana.


"Halo," sapa Lily.


"Ha-lo, Ly," ucap Liora sambil terbata.


Lily dapat mendengar dengan jelas jika saat ini Liora sedang menangis.


"Kamu kenapa Liora?" tanya Lily.


"Ra-fa, hiks ... hiks ... Rafa, Ly. Dia m ..."


Tut ... Tut ...


Sambungan telpon terputus. Membuat Lily sangat penasaran. Apa yang akan Liora sampaikan padanya. Lily menerka-nerka kata yang diawali dengan huruf m dan dengan kejadian tadi pagi.


"Ah!' teriak Lily sambil menutup mulut dengan kedua tangannya. Kebiasaan Lily jika sudah terkejut pasti seperti itu.

__ADS_1


"Jangan-jangan Liora mau bilang kalo Rafa mutusin dia."


__ADS_2