
Bram keluar dari hotel dengan perasaan campur aduk. Lelah, kesal, senang, marah, dan frustasi berkolaborasi dengan sangat baik di pikiran dan hatinya.
Dia berjalan ke arah parkir mobil di basemen hotel. Setelah masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengaman, dia segera menghidupkan mesin mobil dan melakukan mobilnya perlahan. Dia mengarahkan mobilnya menuju keluar kota hujan.
Belum sampai setengah perjalanan, Bram menghentikan mobilnya. Jalanan saat itu sedang sepi. Jarang kendaraan yang berlalu lalang. Sehingga perbuatan yang dilakukannya cukup aman untuk dirinya.
Dia segera menepikan mobilnya ke bahu jalan. Bram sedang memikirkan sesuatu yang menurutnya penting. Tapi sangat susah sekali untuk diingat. Dua Minggu yang lalu otaknya masih sangat fresh. Dia tidak pernah lupa akan hal sekecil apapun. Otaknya dengan cepat bekerja mengingat hal-hal yang kecil.
Selama dua Minggu terakhir, saat tuan Rafa memintanya untuk menemaninya di kota hujan, saat itulah otak Bram sedikit korslet. Sepertinya lebih dari separuh otaknya korslet gara-gara mengurusi segala keperluan tuan Rafa. Akan tetapi, yang diurus justru sibuk dengan permainan game online di ponselnya.
Bram meletakkan kedua tangannya di kemudi. Dia mengetuk kemudi dengan jari-jarinya. Berusaha menetralkan pikirannya. Dia mengatur napasnya agar bisa merilekskan pikiran dan tubuhnya.
"Bingo," ucap Bram sambil menegakkan tubuhnya.
Dia segera meraih ponsel,dan membuka kunci layar ponselnya. Leon. Sebuah kontak yang saat ini bisa menyelematkan hidupnya.
Tut ... Tut ...
Tepat bunyi kedua, panggilan darinya segera dijawab dari Leon.
"Halo, Leon. Aku menagih janji padamu!" ucap Bram.
"Tunggu! Mengapa kau terdengar terburu-buru?" tanya Leon penasaran.
"Kau ingin versi panjang atau pendek?" Bram balik bertanya padanya.
"Versi pendek saja," pinta Leon.
"Aku ingin kau membantuku membeli seporsi bakso raket di Jakarta!" pinta Bram.
"Memangnya kau tidak di Jakarta?" tanya Leon.
"Kan tadi kau bilang versi pendek. Mengapa kau bertanya lagi?" kesal Bram.
"Hehehe. Kali begitu tukar ke versi panjang saja," jawab Leon sambil terkekeh.
__ADS_1
"Kau itu," gerutu Bram.
"Ayolah Bram! Apa kau tidak ingin aku membalas budi mu? tanya Leon.
Bram menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Begini, tuan Rafa akan menikah dua hari lagi ..." Bram belum menyelesaikan ucapannya sudah dipotong saja oleh Leon.
"APA?" teriak Leon yang sangat memekakkan telinga kanan Bram.
Bram spontan menjauhkan ponsel dari telinga nya. Dia sampai menggosok telinga kanan nya sedikit kencang.
"Halo, Bram! Bram! Apa kau masih disana?" tanya Leon.
"Kau mau membuatku tuli, ya?" Bram balik bertanya.
"Hehehe ... maaf. Aku kaget!" Leon berkata dengan nada sedikit bersalah.
"Aku tidak mau berbicara panjang lebar lagi denganmu! Tunggu kau disini saja. Belikan aku seporsi bakso raket Jakarta, antar ke hotel X di kota Bogor!" perintah Bram.
"AP...?"
Setelah chatnya terkirim dan terbaca oleh Leon. Dia segera menonaktifkan ponselnya. Bram menghidupkan mesin mobil dan memutar balik arah tujuan. Setidaknya saat ini dia memiliki waktu istirahat sekitar setengah hari. Wajah Bram yang kaku kini bisa rileks.
Lain hal nya dengan Leon. Dia seperti mendapat angin segar. Dia segera meninggalkan perusahaan dengan tergesa-gesa. Setidaknya dia sudah menemukan satu titik terang diantara dua masalah yang membebaninya selama sebulan terkahir ini.
Meskipun ingin segera sampai di mansion tuan Zack. Leon tidak ingin mengebut di jalanan. Dia tidak ingin mengambil resiko agar sampai di mansion secepatnya. Hatinya sangat menggelora, tidak sabar untuk memberitahu tuannya tentang info yang sangat penting.
Leon segera menghubungi anak buah kepercayaannya. Dia menyuruhnya untuk menyelidiki pesta pertunangan yang akan diadakan di hotel X kota Bogor dua hari mendatang. Setelah selesai memberi instruksi, dia kembali menjalankan laju mobilnya.
Beberapa saat kemudian, Leon tiba di mansion tuan Zack. Leon keluar dari mobil dan memantapkan langkahnya masuk ke dalam mansion. Mansion kini terlihat sangat sepi dan sunyi. Tidak ada celotehan nona mudanya. Tidak ada mainan yang berserakan. Yang pasti tidak ada wajah imut yang selalu memberinya senyuman.
Leon sangat merindukan semua itu. Rasa rindu pada nona kecilnya mungkin tidak sebanding dengan rasa rindu yang di derita tuannya. Saat ini saja, Leon hampir tidak mengenal tuan nya itu. Tubuhnya menjadi kurus. Penampilannya sangat berantakan. Wajah tampannya terlihat sangat redup meskipun sudah berada di bawah cahaya lampu kristal.
"Apa yang kau punya?" tanya Zack pada Leon. Pertanyaan yang sama setiap kali Leon menghampirinya. Zack bertanya dengan membelakangi Leon.
__ADS_1
Saat ini Leon sedang berada di ruang kerja di mansion tuannya. Dia menatap sedih seorang pria yang berdiri menghadap ke jendela. Entah apa yang dilihatnya di luar jendela sana. Leon salut kepada tuan Zack. Meskipun dalam keadaan terpuruk saat ini. Dia masih memperhatikan penampilannya. Cara berpakaiannya masih rapi dan elegan.
"Tuan, aku baru saja mendapat informasi jika tuan Rafa akan mengadakan pertunangan dalam waktu dua hari ke depan di kota Bogor," jelas Leon.
Zack yang tadinya merasa sangat malas untuk merespon Leon. Kini membalikkan tubuhnya menghadap Leon.
"Apa itu benar?" tanya Zack.
"Informasi yang saya dapatkan sangat akurat tuan," jawab Leon.
"Apa kau yakin dengan sumber mu?" tanya Zack lagi.
Dia tidak ingin mendapat harapan palsu lagi. Sudah berapa kali Leon memberinya informasi yang berbuah menjadi sebuah harapan palsu. Untuk itu, dia sangat malas jika Leon datang mengunjunginya. Hasilnya pasti selalu nihil. Tapi kali ini, pernyataan Leon berhasil menarik perhatiannya.
"Pasti tuan. Karena dari asisten tuan Rafa sendiri yang menghubungiku, Bram," jelas Leon.
Zack semakin terlihat bersemangat mendengar informasi yang selama ini sangat dinantinya. Setidaknya dari dua wanita yang menghilang dari hidupnya, dia bisa menemukan salah satu dari mereka.
"Ayo kita pergi!" perintah Zack sambil melangkahkan kakinya.
"Tunggu tuan! Aku masih ingin memastikan terlebih dahulu siapa tunangan tuan Rafa. Aku sudah menyuruh salah seorang anak buah ku untuk mencari informasi lebih rinci lagi disana," jelas Leon.
"Aku tidak perduli, Leon. Di mana ada Rafa pasti ada Lily," ucap Zack dengan tegas.
"Tapi tuan. Bagaimana jika tunangan tuan Rafa adalah nona Lily?" tanya Leon. Pertanyaan Leon berhasil membuat rahang Zack mengeras.
"Aku akan merebutnya! Kali ini aku tidak akan melepaskan Lily lagi," ucap Zack dengan tegas.
"Baiklah tuan jika anda sudah memutuskan. Mari kita berangkat sekarang!" ajak Leon pada tuannya.
Zack dan Leon segera berangkat menuju kota hujan. Dapat dipastikan mereka akan tiba disana sekitar tengah malam nanti. Meskipun sekarang masih sore, tapi kemacetan Jakarta pasti akan menjadi satu-satunya penghalang untuk perjalanan mereka.
"Tuan, kita akan singgah ke suatu tempat dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ke kota hujan," tutur Leon.
"Untuk apa?" tanya Zack tidak sabar.
__ADS_1
"Aku harus memenuhi satu syarat. Karena syarat itulah aku bisa mendapat informasi tentang tuan Rafa," jawab Leon sambil menyetir mobilnya.
Zack menatap Leon dari kaca spion dalam mobil. Tatapannya sangat tajam hingga membuat Leon salah tingkah. Dia sangat penasaran apa syarat yang harus dipenuhi oleh Leon.