
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Emily kecil terlihat mengantuk karena setengah hari ini dia belajar menjadi kakak yang baik untuk baby Leon. Dia belajar memangku baby Leon sambil dipegangi Lily, memasukkan kancing baju Leon, kecuali mengganti popok.
Saat baby Leon mengompol atau buang air besar, Emily akan pergi sejauh mungkin. Dia tidak tahan dengan baunya. Setelah baby Leon bersih dan wangi, Emily akan menghujaninya dengan kecupan di seluruh wajah baby Leon. Lily dan Zack berpamitan pulang dengan Emily yang tertidur di dalam dekapan Lily.
"Gue duluan ya! Kasihan Em." Lily berpamitan pada Naya, Liora, Keith, dan Rafa.
"Cie, mau unboxing ya!" Rafa masih belum puas menggoda Lily dan Zack. Dia tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk menggoda mereka.
Liora menyikut lengan Rafa. Hal yang dari tadi ingin dia lakukan. Suaminya itu tidak pernah puas menggoda Lily dan Zack. Kadang, Liora merasa tidak enak pada pasangan muda itu.
"Iya sayang." Rafa menjawab Liora tanpa mendengar pertanyaan.
"Gokil lu, Fa. Liora ngga ada ngomong apa-apa." ketus Naya.
"Gue sama bini gue itu udah ter-connect (terhubung). Jadi, tanpa dia bicara juga gue udah tahu maksudnya apa. Noh lihat! Kalo udah kek gitu raut wajahnya artinya dia lagi ngomel."
Liora menatap tajam pada Rafa. Ingin rasanya dia mengambil cobek yang tadi dia lihat di dapur Naya. Mukit suaminya itu sudah tidak ada remnya.
__ADS_1
Rafa langsung tidak berani bertingkah saat melihat tatapan mata Liora yang sangat tajam. "Alamat, alamat!" gerutu Rafa sambil memegang leher bagian belakangnya.
"Alamat tidur diluar ya Fa!" Lily tertawa melihat Rafa yang tidak berani bereaksi lagi. Begitu pula dengan Naya.
"Pengalam .." Rafa ingin membalas godaan dari kedua sahabatnya itu. Akan tetapi, ucapannya menggantung saat Liora semakin menatap tajam padanya.
Lily dan Naya terkekeh melihat tingkah Rafa. Mereka puas saat Rafa tidak bisa menyerang balik mereka. Karena menertawakan Rafa, Emily bergerak hendak bangun karena tubuh Lily yang berguncang karena tertawa. Lily segera menenangkan Emily agar tidak terbangun.
"Biar aku yang gendong." Zack menawarkan diri untuk menggendong Emily. Kali ini dia tidak ingin langsung merebut Emily seperti tadi.
"Hati-hati Tante dan oom. Nanti main-main ke sini lagi ya!" Naya berkata dengan suara yang kecil dan di cadel kan khas anak kecil.
"Bye bye baby L." Ucap Lily sambil meraih tangan mungil putrinya dan melambaikan pada baby L.
Perjalanan pulang terasa lebih cepat. Lalu lintas malam ini ramai lancar. Waktu yang diperlukan untuk perjalanan pulang lebih cepat sekitar sepuluh menit dari waktu pergi tadi.
Sesampainya di mansion. Zack meminta Lily untuk menyerahkan Emily kepadanya. Dari tadi istrinya itu menggendong dan memeluk putri mereka. Zack yakin tangannya pasti pegal. Lily segera menyerahkan tubuh Emily pada Zack. Lily langsung berlenggang menuju kamar mereka. Sedangkan Zack menuju kamar Emily.
__ADS_1
Lily segera menghambur ke kamar mandi saat tiba di kamar. Tubuhnya terasa lelah dan lengket. Dia ingin membersihkan tubuh dan menikmati waktu malamnya dengan damai.
Itu hanya rencana Lily. Zack memiliki rencana lain. Dia berencana memakan Lily malam ini. Selama setengah hari dia membiarkan Rafa menjadikan dia bahan candaan. Malam ini akan Zack buktikan bahwa dia tidak gagal.
Zack segera kembali ke kamar setelah meyerahkan Emily pada Nana. Dia merasa senang membayangkan apa yang akan dia lakukan nanti. Namun, dia terkejut saat masuk ke dalam kamar.
Zack dapat melihat dengan jelas Lily sudah merebahkan tubuh di atas kasur. Dia juga melihat tubuh Lily yang bergerak sedikit sen su al.
Melihat gerakan dari tubuh Lily, pria atletis itu segera menghambur ke kamar mandi. Dia membersihkan diri secepat kilat. Zack tak ingin membuat Lily lama menunggunya.
Setelah mengeringkan tubuhnya, Zack melilitkan handuk di sekitar pinggang. Dia tidak ingin mengenakan apa pun karena sudah pasti nanti dia tidak membutuhkan pakaian.
Zack perlahan mendekati Lily. Setelah berada di samping tempat tidur, Zack justru terkejut mendapati Lily yang sudah tertidur pulas. Pria atletis itu hanya bisa tersenyum. Dia merapikan selimut Lily dan mengecup pelan keningnya.
"Selamat tidur sayang." Ucap Zack setelah menghujani Lily dengan kecupan di kening berkali-kali.
Jika saja dia tahu akan begini, dia pasti akan mengenakan pakaian dalam. Dia mala harus berjalan kembali ke lemari pakaian dalam. Dengan santainya, Zack melepas handuk dan masuk ke dalam selimut yang sama dengan istri tercintanya.
__ADS_1