
Kembali ke waktu Emily dan Nana di bawa kabur oleh sebuah mobil.
Emily duduk di pangkuan Nana. Gadis kecil itu tidak tahu bahwa saat ini dirinya sedang berada dalam situasi yang sangat berbahaya. Nana mendekap erat tubuh mungil itu. Dia berusaha mencari ketenangan dengan mencium pucuk kepala Emily. Sesekali dia merapalkan doa untuk keselamatan mereka.
Nana tahu siapa yang membawa mereka pergi. Salah satunya adalah
"Nana, kita mau kemana?" tanya Emily pada Nana sambil mendongakkan kepalanya.
"Kita akan pergi ke suatu tempat sayang," jawab Nana pelan.
"Kemana Nana?" tanya Emily lagi.
"Nana juga kurang tahu kita akan pergi kemana sayang," jawab Nana jujur.
Kedua bola mata biru menatap lekat mata Nana. Seperti mencari sesuatu disana.
"Nana, kita diculik ya?" tanya Emily polos.
Nana tidak berani menjawab pertanyaan yang begitu saja terlontar dari mulut mungil Emily. Dia hanya bisa mendekap tubuh gadis kecil itu semakin erat.
"Nana!" seru Emily.
Nana mengurai pelukan dan menatap wajah mungil itu.
"Iya sayang," jawab Nana.
"Kalo di culik itu yang ada dor-dor nya kan?" tanya Emily dengan wajah polosnya.
Dua orang yang berada di kursi depan tersenyum mendengar ucapan gadis kecil itu.
"Maaf mengecewakan anda, nona muda," ucap Xavier. Yang tak lain adalah tangan kanan tuan James, kakek Emily.
Xavier terkekeh mendengar penuturan Emily yang sangat lucu. Gadis itu menanyakan jika penculikan pasti ada dor-dor nya. Dia tahu yang dimaksud oleh gadis kecil itu adalah baku tembak. Tapi kenyataannya, mereka hanya menggunakan alat kejut listrik untuk melumpuhkan pihak lawan.
Perintah tuan James sangat tegas dan jelas. Tidak boleh ada senjata tajam, bahkan tindak kekerasan saat penjemputan Emily.
"Uncle-uncle tukang culik ya?" tanya Emily polos. Dia membalikkan tubuh mungilnya menghadap ke depan.
"Tidak nona muda. Kami adalah pengawal," jawab Xavier.
__ADS_1
"Yah, tidak seru. Bukan uncle tukang culik," sebal Emily.
"Maaf mengecewakan anda sekali lagi, nona kecil," jawab Xavier.
"Mengapa memanggilku berbeda-beda?" tanya Emily.
Gadis kecil itu selama ini mengamati setiap ucapan yang dikatakan para maid, pengawal, dan penjaga keamanan di mansion nya.
"Semuanya sama saja nona," jawab Xavier.
"Berbeda! Yang satu kecil, satunya lagi muda. Jadi aku ini kecil atau muda?" tanya Emily dengan wajah yang menekuk.
"Hahaha ..." Xavier tertawa mendengarnya.
Disaat Xavier beradu bicara dengan Emily. Pengawal yang tadi menyertai Nana dan Emily keluar dari lorong, memberinya kode untuk bersiap-siap. Awalnya Nana tidak mengerti dengan kode yang dimaksud oleh pria itu. Akhirnya dia paham dengan memperhatikan bahasa mulutnya.
"Baiklah. Kita akan berganti mobil. Disana ada sebuah mini market. Belilah makanan untuk nona muda!" perintah Xavier pada Nana.
Beberapa saat kemudian. Mobil yang mereka kendarai tiba di sebuah mini market. Xavier memarkirkan mobilnya perlahan. Setelah mobil berhenti, dia segera membuka kunci mobil.
"Aku beri waktu sepuluh menit untuk kau membeli kebutuhan nona muda. Perjalanan kita masih jauh," perintah Xavier pada Nana.
Pria yang tadi memberi kode pada Nana menyelipkan sebuah amplop padanya tanpa sepengetahuan Xavier.
Mereka bertiga memasuki mini market. Emily masih betah berada di dalam gendongan Nana. Xavier dari jauh melihat mereka bertingkah seperti biasa. Dia sama sekali tidak curiga akan tindak tanduk mereka di dalam mini market.
Xavier berjalan ke arah samping mini market. Dia mengambil kunci mobil lain di dalam saku celananya. Mobil yang tadi mereka kendarai sudah di parkirnya di halaman parkir mini market.
"Ingat bertingkah seperti biasanya. Aku akan mengecoh Xavier. Dia saat dia lengah. Kau harus segera pergi dari sini!" perintah Bob.
"Siapa namamu?" tanya Nana.
"Tidak penting, Nana," jawab Bob.
"Penting bagiku. Setidaknya aku akan membalas budi mu kelak," jawab Nana.
Bob hanya tersenyum mendengarnya. Dia menatap Nana. Terlihat kesungguhan di mata wanita paruh baya itu.
"Bob Jefferson," jawab Bob.
__ADS_1
"Terima kasih Bob," ucap Nana.
"Jaga nona muda dengan baik. Maaf, aku tidak bisa memberi lebih banyak," tutur Bob.
"Tidak. Ini lebih dari cukup. Kau membebaskan kami. Aku yakin kau memiliki alasan yang kuat untuk itu," balas Nana.
"Berhati-hatilah!" seru Bob.
Nana mengangguk pelan. Dia mengeratkan Emily di dalam gendongannya. Gadis kecil itu diam karena sibuk dengan cemilannya. Nana sengaja memberinya cemilan jely yang disukainya agar gadis kecil itu tetap tenang selama pelarian.
Xavier memasuki mini market. Dia segera menghampiri Bob. Bob memberi kode pada Nana untuk ke titik yang tepat agar tidak terlihat. Nana segera mengikuti perintahnya.
"Apa mereka sudah selesai?" tanya Xavier sambil mengarahkan kepalanya pada Nana dan Emily.
"Sebentar lagi kurasa," jawab Bob.
"Setelah ini kau akan mendapatkan bonus yang besar. Putrimu akan sehat kembali," tutur Xavier.
Saat nya. Bob membatin didalam hatinya. Dia segera membalikkan tubuhnya menghadap Xavier. Tubuhnya di buat sebagai benteng agar Nana bisa kabur.
"Semua berkat dirimu. Terima kasih Xavier," ucap Bob sambil menepuk pelan pundak kanan Xavier.
"It's okay. Aku senang bisa membantumu," balas Xavier.
Mereka kemudian berbincang ringan sambil sesekali melihat ke arah Nana. Dua kali Xavier melirik, Nana dan nona mudanya masih berada di sana. Di saat lirikan ketiga, Nana dan nona muda nya tidak ada di tempat semula.
Xavier berpikir mungkin saja Nana pindah ke bagian lain. Dia masih santai saja, dan tidak berminat untuk menatap ke arah lain. Lima menit berlalu, dia baru merasakan sesuatu yang aneh. Kedua matanya menyorot ke seluruh ruangan mini market. Dia tidak menemukan sosok Nana disana.
"Si al!" umpat Xavier. Dia segera menepuk lengan kiri Bob, mengajaknya untuk mencari Nana dan Emily.
Mereka menyisir seluruh ruangan mini market. Tidak ada satu ruangan pun yang luput dari pencarian mereka. Xavier akhirnya memutuskan untuk meminta ijin pada manager mini market untuk ke ruangan cctv. Dia ingin melihat rekaman sekitar sepuluh hingga lima belas menit yang lalu.
Setelah mendapat izin dari pihak manager mini market. Mereka segera menuju ruangan cctv dengan dipandu oleh seorang pegawai mini market tersebut.
Mereka tiba di ruangan cctv yang terletak di lantai dua. Lantai dua pada mini market itu digunakan sebagai kantor. Ada beberapa ruangan yang terdapat disana. Ruang cctv terletak di sebelah kiri paling pojok.
Xavier berkata sopan pada petugas disana. Dia meminta untuk di putar rekaman sepuluh hingga lima belas menit sebelumnya.
"Si al!" umpat Xavier setelah melihat tayangan ulang itu berkali-kali. Dia menggebrak meja tanpa dia sadari.
__ADS_1
Berkali-kali tayangan cctv di putarnya. Dan hasilnya tetap sama. Nana langsung menghilang begitu saja.
"Siapa disana yang membantunya?" geram Xavier.