
Leon melakukan mobilnya ke arah timur Jakarta. Syarat yang harus dipenuhinya berada di daerah Jakarta Timur, dan hanya ada disitu. Jalan raya hari ini sangat bersahabat. Tidak butuh waktu lama untuk tiba di sebuah pusat belanja di bagian timur.
Leon memasuki halaman parkir pusat perbelanjaan. Setelah memarkirkan mobilnya dengan benar, dia mematikan deru mesin mobilnya. Sebelum dia melepas sabuk pengamannya, Leon melihat ke arah kaca spion dalam mobil. Tampak raut wajah tuannya yang terlihat sangat kusut. Dia tahu jika tuannya kebingungan melihat tempat tujuan mereka adalah sebuah pusat perbelanjaan.
Zack berpikir keras. Mencari hubungan antara syarat yang ditukarkan dengan sebuah informasi yang sangat akurat.
"Tuan, apa anda ingin mengikuti saya ke dalam atau menunggu di mobil?" tanya Leon. Dia tahu jika tuannya itu kurang suka dengan keramaian. Kecuali saat membawa nona Emily bermain di mall.
"Aku tunggu di sini saja. Kau cepatlah selesaikan urusanmu!" perintah Zack.
"Baik, tuan," Leon segera keluar dari mobil dan bergegas ke tujuannya, yaitu lantai bawah bagain food court.
Kurang lebih hampir setengah jam Zack menunggu Leon. Yang ditunggu akhirnya kembali juga. Dia melihat Leon membawa sekantong besar, yang di duganya adalah makanan.
Leon segera memasuki mobil, dan menaruh kantong plastik yang di bawanya di kursi penumpang di sampingnya.
"Maaf tuan, membuat anda menunggu," ucap Leon sopan.
Yang diajak bicara justru diam saja. Leon tidak memasukkan dalam hati perlakuan tuan nya. Dia tahu, saat ini tuannya itu hanya terfokus pada satu orang, nona Lily. Tubuhnya saja yang berada disini, tapi pikirannya pasti sudah sampai di kota hujan.
Leon segera menghidupkan mesin mobilnya. Tak ingin mengukur waktu lagi, dia segera meninggalkan halaman parkir gedung itu.
Selama perjalanan menuju kota Bogor, Zack tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sudah hampir sebulan dia tidak melihat Lily. Bagaimana keadaannya sekarang? Seperti apa rupanya? Apa yang dia lakukan saat ini? Apa dia akan terkejut saat melihatnya tiba-tiba hadir di acara pertunangan? Zack bermonolog di dalam hatinya.
Dia memejamkan kedua matanya, berusaha mengusir pikiran dan perasaan yang sangat menggebu itu. Zack hanya berniat untuk melepas lelah dan beban yang selama ini menggerogotinya. Alhasil, dia justru tertidur lelap.
Leon yang melihat dari kaca spion dalam hanya bisa tersenyum. Perasaan lega menghampiri dirinya. Dia berharap kali ini, tuannya menemukan kebahagiaan yang selama ini tertunda.
...✳️✳️✳️...
Rumah kontrakan Nana dan Emily.
__ADS_1
"Nana, please!" Emily memohon pada Nana sambil menangkupkan kedua tangannya jadi satu.
Wajahnya dibuat seimut mungkin agar Nana mau mengabulkan keinginannya. Dia juga sengaja bersimpuh di bawah kaki Nana. Nana yang melihat nona mudanya seperti itu, membuat hatinya sakit dan tidak tega.
Nona mudanya hanya minta dibelikan boneka panda yang berada di sebuah toko mainan di depan hotel X. Bukannya dia tidak mau menuruti keinginan nona Emily. Akan tetapi, keadaan keuangan mereka mulai menunjukkan sedikit kekhawatiran.
Selama ini, untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, Nana berjualan kue keliling. Dia juga membawa serta Emily berjualan kue keliling. Setiap ada yang bertanya tentang Emily. Dia pasti menjawab jika Emy adalah cucunya. Emily juga sengaja dipanggil dengan sebutan nona. Setidaknya hal kecil itu yang bisa dilakukan Nana agar pelarian mereka tidak terendus oleh anak buah tuan James.
"Hmm, bagaimana jika kita berjualan dulu. Nenti setiap nona membantu Nana berjualan kue. Nana akan memberikan sedikit uang untuk nona muda. Uang itu harus nona tabung untuk membeli boneka panda yang nona inginkan," jelas Nana dengan lembut.
Emily terlihat bingung dengan ucapan Nana. Baru kali ini dia mendengar kata 'tabung'. Maklum anak balita masih dalam proses belajar menyerap kata-kata baru. Nana yang melihatnya tersenyum sambil menahan tawa melihat ekspresi yang diberikan oleh nona mudanya. Nana meraih tubuh mungil itu kedalam gendongannya.
"Maksudnya, uangnya disimpan dulu. Setelah cukup kita pergi ke toko membelinya," jelas Nana.
"Oh, kalo sudah segini ya Nana?" tanya Emily sambil membuka kedua tangannya lebar.
"Hahaha. Iya sayang, kalo sudah segitu baru kita beli boneka pandanya," tutur Nana sambil tertawa.
"Mau kemana nona?" tanya Nana sambil menurunkan tubuh mungil itu.
"Jualan kue. Biar Em bisa cepat beli bonekanya," ujar Emily.
"Nanti sayang. Besok pagi kita baru jualan. Sekarang kita buat dulu kuenya," jawab Nana sambil menjelaskan kepada Emily.
Emily melihat ke belakang Nana. Beberapa jenis bahan untuk membuat kue yang biasa dilihatnya sehari-hari masih terbungkus rapi. Dia tersenyum melihatnya dan berkata pada Nana "Ayo Nana, kita baut kuenya!"
Nana hanya tersenyum dan membiarkan tangan mungil Emily menuntunnya ke tempat yang ingin ditujunya.
...✳️✳️✳️...
Malam hari hotel X
__ADS_1
*Drt ... drt ... drt ...
Drt ... drt ... drt* ...
Ponsel milik Bram sudah hampir setengah jam bergetar. Sedangkan si empunya ponsel masih betah bermain di alam mimpinya. Karena panggilannya tidak diangkat, si penelpon memutuskan untuk ke bagian resepsionis hotel. Dia ingin menanyakan nomor kamar Bram.
Setelah mendapat nomor kamar Bram, Leon segera berjalan menuju kamar Bram yang terletak di lantai lima. Saat keluar dari lift yang berhenti di lantai lima. Tanpa sengaja Leon bertemu dengan Lily. Dia segera memberi hormat padanya.
"Selamat malam nona Lily," sapa Leon.
"Malam," jawab Lily sambil menatap Leon. Dia berusah menebak-nebak siapa pria yang sedang berdiri di depannya.
"Ah, kau Leon kan?" tanya Lily.
"Benar nona," jawab Leon sambil tersenyum.
"Kebetulan sekali kau ada disini. Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Lily.
"Aku sedang membantu teman, nona," jawab Leon.
Dia terpaksa berbohong pada Lily. Tak ingin merusak rencana tuannya. Akan tetapi, tidak sepenuhnya Leon berbohong. Kenyataannya dia memang membantu Bram. Hubungannya dengan Bram bisa dikategorikan sebagai teman.
"Oh! Aku tinggal dulu ya, Leon. Ada yang harus aku lakukan," tutur Lily.
"Baik nona, silahkan," jawab Leon sambil memberi Lily jalan.
Leon menatap kepergian Lily. Dia merasa arah langkah kaki yang membawa Lily entah kemana, sama dengan arah tujuannya saat ini. Leon pikir mungkin hanya kebetulan. Dia kemudian berjalan menuju kamar Bram.
Dari kejauhan, Leon melihat sosok Lily yang sedang berdiri didepan pintu kamar seseorang. Dia memperhatikan setiap nomor kamar yang tertera didepan pintu masing-masing kamar.
Benar saja dugaannya. Lily mengetuk pintu kamar yang kebetulan sama dengan tujuan Leon. Lucunya, Lily tidak menyadari jika saat ini Leon sedang berdiri tepat di belakangnya.
__ADS_1