Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 100. Ingat Keinginan Emily


__ADS_3

Zack menikmati melihat Lily yang sedang bergelayut manja di atas kasur. Nasib baik sedang bertengger padanya. Tak ingin membuang waktu, dia segera menuju kamar mandi tanpa sepengetahuan Lily. Sebelum Zack ke kamar mandi, dia mengunci pintu kamar dan menyembunyikan kuncinya di balik bantal sofa.


Kali ini aku pastikan berhasil, sayang. Zack bermonolog di dalam hati sambil menampilkan senyum licik di sudut bibirnya.


"Kok perasaan dingin ya!" seru Lily sambil memegang leher belakangnya.


"Siapa yang ngomongin gue," Lily berbicara sendiri sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia mendapati tak seorang pun berada di dalam kamar. Tak ingin ambil pusing, Lily kembali menikmati kasur empuknya.


Zack yang saat ini berada di dalam kamar mandi, mempercepat ritual mandi. Dia tidak ingin Lily tertidur. Bisa-bisa rencananya tidak berhasil lagi. Zack tidak akan pernah tega memaksa Lily melakukan sesuatu jika si pemilik tubuh se xy itu mengantuk atau tertidur. Apalagi ini adalah kali pertama mereka. Pasti tidak akan mudah.


Zack merampungkan ritual mandinya hanya dalam hitungan menit tanpa membasahi rambut. Dia mengeringkan tubuh dengan handuk dan memilih mengenakan dalaman saja.


Pria tampan itu tersenyum saat melihat Lily masih bergelayut manja dengan mata sayu di atas kasur. Zack menaiki tempat tidur perlahan. Dia bersuara sedikit agar Lily tidak terkejut akan kehadirannya yang tiba-tiba.


Meski sedikit bersuara, kehadiran Zack berhasil membuat Lily terkejut. Gadis itu spontan membalikan tubuh. Kini, tubuh Lily tepat berada di bawah Zack.


"Zack, aku .." ucapan Lily terhenti saat Zack mengunci bibir Lily.


Zack dapat merasakan tarikan napas Lily yang tercekat. Penolakan Lily tidak berlangsung lama. Gadis itu larut dalam permainan. Zack dapat merasakan Lily mulai rileks. Dia melepaskan diri dari Lily dengan perlahan. Ada satu hal yang harus diluruskan sedikit olehnya. Dia tidak ingin membuat Lily salah paham.


"Sayang, ini adalah kali pertamaku. Begitu juga kau," ucap Zack dengan suara parau.


Lily yang masih dalam keadaan setengah sadar hanya bisa mengangguk.


"Kau ingat bagaimana Emily bisa hadir?" tanya Zack lembut.


Lily merasa kesal saat Zack secara sengaja atau pun tidak mengingat kembali akan hadirnya Emily.


"Aku belum pernah melakukan sekali pun, ok!" Zack segera berkata saat melihat perubahan wajah Lily.


"Apa yang ingin kau katakan?" Lily akhirnya membuka suara. Suaranya terdengar sangat aneh. Dia sendiri sempat tergenang mendengar suara serak nan lembut yang keluar dari bibirnya.


"Aku tidak ingin kau salah paham. Meskipun aku tidak pernah melakukan hal itu. Namun, aku konsultasi dengan beberapa pakar agar pasangan merasa nyaman di saat pertama," ucap Zack tanpa filter. Penjelasan Zack berhasil membuat wajah Lily memerah. Lily tak sanggup mengeluarkan kata-kata. Dia hanya bisa mengangguk tanda mengerti.

__ADS_1


"Apa kau siap?" tanya Zack sambil tersenyum.


Siap atau tidak, cepat atau lambat, semuanya pasti akan terjadi juga. Bisa-bisanya dia menanyakan pertanyaan konyol ini. Lily bermonolog di dalam hati.


Tubuh Lily yang tadinya rileks menjadi sedikit tegang. Dia kembali gugup saat teringat yang akan mereka lakukan setelah ini. Zack mengunci bibir Lily perlahan. Meleburkan kegugupan yang menghampiri Lily. Zack membimbing Lily dalam permainan. Dia mengikuti setiap arahan dari pakar yang ditemuinya.


"Ah!" teriak Lily.


"Sakit?" tanya Zack sambil refleks menarik tubuhnya.


Lily mengangguk. Dia tidak mampu berkata-kata. Rasa nyeri perlahan menjalar ke seluruh tubuhnya. Mereka bilang tidak sakit. Dasar Naya pembohong. Gerutu Lily di dalam hati.


"Padahal aku sudah mengikuti arahan mereka," ucap Zack pelan.


"Zack," lirih Lily.


"Ya, sayang. Maafkan aku menyakitimu," ucap Zack sambil mengecup lembut kening Lily.


"Siapa mereka yang kau sebut pakar?" tanya Lily sambil menahan napas.


Lily tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Bagaimana mungkin suaminya yang jenius itu menganggap Rafa dan Keith sebagai pakar dalam hal seperti ini. Khususnya Rafa. Dia seratus persen yakin pasti Rafa mengerjai Zack. Awas kau Rafa! Lily mengutuk Rafa dalam hati.


"Sayang, dengarkan aku! Kita berdua sama-sama belum berpengalaman dalam hal ini. Bagaimana jika mengalir saja?"


"Kau benar sayang. Maafkan aku!" ucap Zack dengan wajah sedih.


"Jangan sedih Zack!" bujuk Lily.


"Aku hanya ingin memberi yang terbaik untukmu saat pertama kali. Untuk itu, aku bertanya pada mereka," jelas Zack.


"Zack. Aku tahu niat baikmu. Aku sangat menghargainya," ucap Lily sambil memegang wajah Zack dengan kedua tangan. Dia menatap lembut wajah suaminya.


"Terima kasih sayang," ucap Zack sambil me nge cup pelan bibir Lily.

__ADS_1


"Aku rasa kita pasangan suami-istri yang aneh," ucap Lily saat Zack melepas bibirnya.


"Maksudmu?" tanya Zack sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Mana ada pasangan yang banyak bicara saat akan melakukan malam pertama." Lily sambil tertawa pelan saat mengucapkan kalimatnya sendiri.


"Tentu saja ada. Kita," jawab Zack. Pria itu mendekatkan keningnya ke kening Lily sambil menertawai kebodohan mereka. Untuk sesaat, Lily lupa akan rasa sakit yang tadi dia rasakan.


"Zack."


"Ya," jawab Zack singkat.


"Mengapa dia masih berdiri?" tanya Lily polos sambil mengarahkan pandangannya ke bagian bawah tubuh Zack.


Pertanyaan Lily tidak membuat Zack tertawa. Justru semakin menambah gairah.


"Maafkan aku sayang. Sepertinya aku tidak bisa melewatkan malam pertama kita begitu saja. Lagipula, kau harus ingat keinginan Emily," ucap Zack. Suara pria itu terdengar sedikit lebih serak.


"Zack ..." Ucapan Lily terpotong saat Zack kembali mengunci bibirnya.


Udara di dalam kamar mereka seketika bertambah panas secara perlahan. Sahutan demi sahutan menggema di seluruh kamar. Kali ini Zack berhasil melakukan penyatuan mereka.


Zack dapat merasakan kuku Lily yang menembus ke kulit punggungnya. Namun, Zack tidak memperdulikan sakit yang dirasakan punggungnya. Kesakitan Lily pasti berkali lipat.


Lily sempat meronta menahan sakit. Berapa kali dia berusaha menyingkirkan tubuh Zack saat penyatuan mereka semakin dalam. Namun, semua itu dapat di atasi oleh Zack.


Setelah pergulatan penolakan yang cukup panjang, akhirnya Zack dapat mengendalikan Lily. Begitu pula dengan Lily. Kali ini dia berhasil menjadikan Lily sebagai wanitanya.


"Selamat tinggal gadisku," ucap Zack saat melepas tautan sebentar.


"Selamat datang wanitaku," Zack menimpali ucapannya. Kali ini dia mengatakannya dengan lembut tepat di telinga Lily.


Zack menghujani Lily tanpa ampun. Tiga bulan waktu yang tidak terasa namun cukup lama. Akhirnya terbayarkan di sore hari yang mendung. Pergulatan mereka hampir sampai puncaknya hingga suara ketukan pintu kamar sedikit membuyarkan.

__ADS_1


Zack tak ingin ambil pusing dengan suara ketukan pintu. Dia masih ingin mengentaskan apa yang sudah dimulainya. Akan tetapi, ketukan pintu semakin menjadi-jadi mengisyaratkan bahwa di pelaku ingin segera masuk ke dalam kamar.


__ADS_2