
"Itu sangat jelas sekali karena Lily dan Naya sudah seperti adikku sendiri. Kau pasti tidak akan tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat dicintai," Rafa berucap dengan lembut.
Kedua matanya menatap kosong ke langit-langit hall. Dia mengingat sosok yang sangat dirindukannya. Walaupun tubuhnya tidak hadir, setidaknya kedua matanya mewakili untuk melihat pernikahannya.
"Aku tahu," tutur Keith.
Rafa menatap Keith penuh arti.
"Aku kehilangan dua orang yang aku sayangi. Ayahku dan nenek buyutku. Nenek buyutku baru saja meninggal selama seusia kandungan Naya. Jika dia melihat Naya saat ini, dia pasti akan senang," lirih Keith.
Rafa menepuk pundak Keith pelan. Mereka sama-sama mengalirkan energi positif untuk saling menguatkan.
"Ibuku."
Rafa dan Keith langsung menoleh ke belakang saat mendengar sebuah suara yang tiba-tiba hadir di antara mereka. Zack berjalan maju ke depan. Menyeruak di antara mereka.
"Aku kehilangan ibuku saat berusia sembilan tahun. Dengan terpaksa tinggal bersama ayah yang sangat ku benci," jelas Zack sambil merangkul Rafa dan Keith
Mereka bertiga saling berpelukan memberi semangat satu sama lain.
"Terima kasih," Zack mengucapkannya dengan tulus.
"Untuk apa?" tanya Rafa bingung.
"Terima kasih sudah menjaga Lily selama ini untukku. Kau saudara terbaik," tutur Zack.
"Setidaknya ada juga hiburanku," balas Rafa sambil duduk santai.
"Apa maksudnya?" Keith bertanya pada Zack.
"Dia melarikan Lily dariku sampai ke pulau Kalimantan," Zack menjelaskan pada Keith sambil tersenyum.
"Hah! Pantas saja aku sulit menemukan Naya waktu itu," Keith tak kalah terkejutnya.
"Maksudmu Rafa juga menyembunyikan Naya darimu?" tanya Zack kepada Keith.
"Yes."
Hahahaha
Suara tawa Rafa menggema di seluruh hall. Beberapa pelayan khusus untuk pesta pernikahan mereka sampai terkejut mendengar suara tawa Rafa.
"Mengapa kau melakukan itu?" tanya Zack dan Keith bersamaan.
"Dua gadis itu adalah adik-adikku. Mana mungkin aku melepaskan mereka begitu saja dengan pria yang harus ku uji dulu kesetiaan dan perjuangannya," Rafa menjawab pertanyaan mereka dengan tegas.
Zack dan Keith hanya bisa saling pandang.
__ADS_1
"Tunggu nanti saat kalian akan melepaskan putri kalian kepada seorang pria. Begitulah perasaanku pada Lily dan Naya," jelas Rafa sambil berlalu pergi.
Zack meresapi ucapan Rafa. Saat ini dia sudah memiliki seorang putri. Suatu saat nanti putri kecilnya itu akan tumbuh besar. Putri kecilnya pasti akan memiliki seorang pujaan hatinya nanti. Zack langsung menaikkan kedua bahunya saat membayangkan saat itu tiba.
"Kau kenapa?" tanya Keith bingung melihat Zack yang tiba-tiba bergidik.
"Benar kata Rafa," Ucap Zack pada Keith. Pria itu msih terlihat bingung.
"Tunggu saat kau memiliki seorang putri, kau pasti mengerti," timpal Zack sambil menepuk pelan pundak kanan Keith.
Tidak butuh waktu lama, Keith sudah mengerti yang di maksud oleh Zack.
"Aku berharap bayiku nanti laki-laki," Ucapan Keith di sambut dengan suara tawa Zack dan Rafa.
"Hei, cepatlah kesana! Apa kalian masih akan menunda lagi? Sudah hampir waktunya," ucap Rafa yang berjarak beberapa langkah.
*
*
Tamu undangan sudah mulai memadati hall. Tamu-tamu VVIP khusus untuk anak-anak yatim piatu dan kaum duafa sudah terisi penuh. Untuk kerabat para pengantin berada di meja VIP, dan untuk tamu undangan umum berada di meja biasa.
Para tamu sangat takjub dan mengagumi niat baik para pengantin yang memuliakan anak yatim dan kaum duafa. Ditambah dekorasi yang sangat menentramkan jiwa. Pilihan para wanita memang tidak pernah salah.
Zack, Rafa, dan Keith juga di buat kagum oleh para gadis mereka yang sangat antusias untuk mengundang anak yatim piatu dan kaum dhuafa. Mereka sangat yakin bahwa mereka tidak salah memilih istri.
Lantunan lagu A Thousand Years by Christina Perri mengiringi setiap langkah mereka.
🎵🎵🎵
Heart beats fast
Colors and promises
How to be brave?
How can I love when I'm afraid to fall?
But watching you stand alone
All of my doubt suddenly goes away somehow
One step closer
🎵🎵🎵
Saat berjalan, dia selalu menebarkan senyum kepada seluruh tamu undangan. Kesan lucu semakin melekat padanya. Banyak yang mengabadikan momen saat Emily kecil memimpin jalan.
__ADS_1
Iringan pengantin wanita berhenti di depan pengantin pria mereka masing-masing tepat berhentinya lagu yang mengiringi mereka.
Satu persatu mereka menyelesaikan ijab kabul. Zack tersenyum senang saat Lily telah sah menjadi istirnya, begitu pula sebaliknya. Setelah Zack giliran Keith. Pria itu terlihat tegang. Namun, masih dapat di atasi olehnya. Dengan perlahan dan pasti, Keith mengucapkannya dengan lancar.
Rafa mendapat giliran terakhir. Padahal rencana awal mereka adalah Rafa yang pertama mengucapkan ijab kabul. Akan tetapi, di saat penghulu hadir. Rafa justru meminta Zack untuk yang pertama kali melakukannya. Tentu saja tawaran Rafa di sambut baik oleh Zack. Dia sudah tidak sabar menjadikan Lily sebagai istrinya.
Setelah Zack dan Keith selesai mengucapkan ikrar pernikahan, suasana kembali tenang. Saat ini para tamu dan kedua pasang pengantin sedang fokus dengan Rafa.
Rafa terlihat sangat gusar. Padahal selama ini, dia terkenal paling santai dan cuek. Lily tidak menyangka jika Rafa akan gugup maksimal.
"Syukurin!" celetuk Lily yang untungnya saja hanya didengar oleh Zack.
"Sayang," ucap Zack lembut.
"Biarin. Biar tahu rasa," timpal Lily.
"Nah iya. Dulu aja dia jahilnya ngga ketulungan," Naya menyahut.
"Dear. Kasihan Rafa. Selama ini dia sudah menjaga kalian dengan sangat baik. Lagipula mengucapkan ijab kabul bukan sesuatu yang mudah," jelas Keith.
"Tanggung jawab kami semakin besar. Tubuhku saja sampai bergetar," timpal Zack.
"Benarkah?" tanya Lily tak percaya.
Lily pikir hanya mengucapkan begitu saja. Ternyata ada makna di balik setiap kata.
"Tentu saja. Ayolah, beri Rafa semangat!" bujuk Zack.
Lily mengangguk dan menghampiri Naya. Dia membisikkan sesuatu pada Naya. Setelah itu, mereka berdua menghampiri Rafa.
Semakin mereka melangkah mendekati Rafa, semakin terasa aura kegugupannya. Butiran keringat sebesar biji jagung turun bergantian tanpa henti. Lily merasa sangat kasihan dan menyesal telah merutukinya tadi. Yang dikatakan Zack tentang mengucapkan ijab kabul benar.
Naya juga merasakan hal yang sama. Dia menyesal telah mengejek Rafa tadi. Kedua gadis itu berdiri di samping Rafa. Mereka berusaha untuk menyemangati Rafa.
"Fa, lu baca doa dalam hati. Minta di mudahin sama Allah SWT. biar lancar Ijan qabulnya," Lily memberi saran pada Rafa.
"Iya, Fa. Lu pasti bisa kok," Naya menimpali.
"Gue bukan takut ijab kabulnya," tutur Rafa pelan.
"Terus apa dong?" tanya Lily penasaran.
"Kasihan Liora udah ngga sabar mau dihalalin sama elu, Fa," Naya menimpali ucapan Lily.
Rafa memberi kode pada Lily dan Naya agar segera mendekatinya. Kedua gadis itu mengikuti perintah Rafa. Kemudian, dia berbisik pada Lily dan Naya tentang alasannya seperti itu.
Lily dan Naya berteriak saat mendengar bisikan Rafa.
__ADS_1