Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 38. Rahasia


__ADS_3

"Aunty kenapa melihat Em seperti itu?" tanya Emily.


Lily tersadar dari lamunannya. Dia meraih Emily masuk ke dalam pelukannya. Dia memeluk erat tubuh kecil Emily.


"Apa kau akan merindukan aunty jika kita tidak bertemu?" tanya Lily.


Gadis kecil itu menatap Lily dengan lekat.


"Aunty mau pergi?" tanya Emily polos.


"Begini sayang. Emily kan punya mommy. Nanti setelah mommy pulang, Em pasti akan menghabiskan waktu bersamanya," jelas Lily.


"Tapi Em lebih senang dengan aunty."


"Aunty tahu sayang. Aunty juga sangat sayang Emily. Hanya saja aunty juga memiliki kehidupan aunty sendiri."


"Apa aunty tidak ingin bertemu Em lagi?" tanya Emily. Kedua matanya sudah mulai berkaca-kaca.


"Oh tidak sayang. Em salah. Aunty tentu saja ingin bertemu Emily. Tapi tidak bisa seperti ini, setiap hari," jelas Lily.


"Kenapa aunty?"


"Karena kita tinggal di rumah yang berbeda," jelas Lily lagi.


"Aunty tinggal di rumah Em saja," tawar gadis kecil itu.


Lily menangkupkan kedua tangannya ke wajah mungil Emily.


"Tidak bisa sayang. Nanti mommy Emily sedih jika aunty tinggal disana. Em mau membuat mommy bersedih?" tanya Lily.


Emily hanya bisa menggelengkan kepalanya. Meskipun dia tidak dekat dengan sosok mommy nya tapi dia tidak suka membuat seseorang bersedih.


"Em mau bertemu aunty terus?" tanya Lily.


"Mau aunty, mau!" seru Emily.


"Tapi Em harus janji jika nanti kita bertemu tidak boleh tahu Daddy."


"Siap aunty! Emily janji!"


"Jika kita tidak bisa bertemu, aunty janji akan melakukan panggilan video call dengan Em. Tapi ingat, Daddy Emily tidak boleh tahu. Ini rahasia kita berdua."


"Em mau, Em mau. Iya kan Nana. Nana tidak boleh bilang Daddy!" serunya pada Nana.


Nana hanya menganggukkan kepala dan tersenyum.


"Ada satu hal lagi," ucap Lily.


"Apa aunty?" tanya Emily tidak sabar.


"Aunty akan pulang ke Jakarta nanti malam. Aunty ingin Em berjanji sesuatu."


"Kenapa aunty pulang? Em juga mau ikut aunty pulang."

__ADS_1


"Aunty harus pulang karena aunty banyak pekerjaan."


Emily berpikir sangat keras sampai kedua alisnya tampak bertaut.


"Emily juga ada pekerjaan."


Ha ... ha...


Ketiga wanita di dalam kamar itu tertawa mendengar ucapan Emily. Mereka membayangkan pekerjaan apa yang dilakukan oleh Emily kecil.


"Aunty, Em serius."


Gadis kecil itu melipat kedua tangannya di depan dada sambil mencibirkan bibirnya.


"Ok, ok. Memangnya apa pekerjaan Em?" tanya Lily. Dia berusaha meredakan emosi gadis kecil itu yang sedikit naik.


Emily melepaskan lipatan kedua tangannya. Dia mulai melebarkan jemarinya seperti orang yang hendak mulai berhitung. Dia membuka jarinya satu persatu sambil menghitung pekerjaannya.


"Banyak aunty. Em minum susu, makan, mandi, main, nonton, dan ... hmmm ... apalagi Nana?" tanya nya pada Nana.


"Tidur siang," jawab Nana.


"Ah iya, tidur siang. Jika Em tidak tidur siang, Em akan rewel. Itu kata Nana. Iya kan Nana?"


Nana hanya tersenyum dan mengangguk saja. Sedangkan Lily dan Naya menahan mulutnya agar tidak tertawa terbahak-bahak. Kedua tangan mereka memegang perut mereka masing-masing. Naya yang tidak tahan segera berjalan ke kamar mandi. Dengan perutnya yang besar sangat sulit untuk menahan air kecil jika tertawa. Lily berusaha menetralkan dirinya. Dia tidak ingin membuat Emily kecewa karena telah menertawakannya.


"Ok. Banyak sekali pekerjaan Em. Tapi pekerjaan aunty lebih besar."


"Em boleh ikut aunty pulang. Tapi tunggu setelah tiga hari baru Em menyusul aunty pulang," jelas Lily.


"Tiga hari itu berapa aunty?" tanya Emily dengan polosnya sambil membuka jarinya lebar-lebar di hadapan Lily.


Lily menutup dua jari mungilnya.


"Nah, ini tiga hari."


"Tapi ini jari aunty bukan hari!" protes Emily.


Lily hanya bisa menghela napasnya. Terkadang sangat sulit menjelaskan sesuatu pada seorang anak balita.


"Nana yang akan menghitungnya untuk Emily ok," ucap Lily.


"Ok"


"Tapi ingat Em. Em tidak boleh rewel mencari aunty. Kasihan Nana."


"Ok aunty," jawab Emily sambil mengacungkan kedua jari jempolnya.


"Dan apalagi Em?" tanya Lily. Dia ingin mengetes Emily sedikit. Apakah dia ingat akan rahasia mereka atau tidak. Sejauh ini gadis kecil itu sangat bisa diandalkan.


"Jangan kasi tau Daddy dan tidak boleh rewel cari aunty," tuturnya sambil tersenyum.


"Ah, pintar sekali sayangnya aunty."

__ADS_1


Lily memeluk erat tubuh mungil Emily.


"Karena Em pintar, tidur siang kali ini sama aunty dan aunty Naya ya." Ucap Naya yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Awalnya Naya sangat khawatir jika Lily menceritakan kepulangan mereka nanti malam pada Emily dan Nana. Akan tetapi, setelah melihat dan mendengar kesungguhan Emily membuat dia percaya akan keputusan Lily. Gadis kecil itu merupakan sekutu yang sangat baik bagi mereka.


* * *


Emily merengek kepada Daddy nya. Dia meminta ditemani bermain di kolam renang. Nana yang biasanya mengurus Emily merasa tidak enak badan sehingga dia meminta bantuan tuan nya untuk menjaga dan mengurus Emily sebentar.


Emily dan Nana melakukan itu dengan sengaja. Karena saat ini aunty cantiknya, aunty Naya, dan uncle Rafa sedang bersiap-siap untuk ke bandara. Lily meminta mereka untuk membantunya. Tentu saja gadis kecil itu dengan senang hati membantu aunty kesayangannya itu.


"Lu sogok pakek apaan tuh bocah jadi nurut gitu?" tanya Rafa.


"Idih, emang elu sekolah aja pakek nyogok," jawab Lily.


"Eh ngga ada gue sekolah nyogok. Amnesia ya elu, gue kan gini-gini selalu juara umum di sekolah," balas Rafa bangga.


"Hmm ... iya iya, yang waras ngalah aja deh," timpal Naya.


"Udah buruan, Fa! Ntar keburu turun tuh si Zack," perintah Lily. Dia tidak ingin rencananya gagal hanya karena berdebat terus dengan Rafa.


"Iye ... iye."


Bang Doni yang tempo hari menjemput mereka dari bandara sudah siap dengan mobilnya. Dia akan mengantar mereka ke bandara.


"Apa kabar bang?" tanya Naya.


"Baik non," jawabnya.


"Syukurlah. Yuks bang tancap gas!" seru Lily.


Mobil yang mereka kendarai perlahan meninggalkan parkiran hotel. Jalanan tampak lenggang sore ini. Jam pulang kerja karyawan sudah berlalu satu jam yang lalu sehingga mereka bisa sampai di bandar lima belas menit lebih cepat.


Bang Doni membantu mereka menurunkan koper dari bagasi mobil.


"Perasaan kemaren pergi cuma bawa satu koper deh. Kok sekarang pas balik gue malah bawa tiga koper?" tanya Lily.


"Elu masih mending tiga. Apa kabar gue, Ly!" seru Naya.


Lily melihat kearah Naya. Meskipun koper-koper itu tidak besar tapi membawa lima koper cukup lumayan lelahnya. Hanya Rafa yang terlihat santai. Dia sama sekali tidak membawa kopernya.


"Fa, kok lu ngga bawa koper?" tanya Lily bingung.


"Iya Fa, bukannya kemaren pas beres-beres koper lu jadi dua ya?" tanya Naya.


"Ya iyalah gue anteng. Koper-koper gue udah aman sentosa. Udah gue paketin kemaren," jawab Rafa enteng.


"i .. Rafa, bukannya bilang dari kemaren!" ucap Lily dan Naya kompak.


~Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh! Yukss mampir~


__ADS_1


__ADS_2