
Bram yang ditelpon oleh Rafa segera meninggalkan taman kota. Dia segera menuju hotel yang sangat terkenal di kota itu. Semua persiapan pesta sudah sembilan puluh persen selesai. Hanya tinggal tokoh utamanya saja yang tampil di pesta nanti.
Bram memasuki hotel dengan tergesa-gesa. Dia tidak ingin membuat tuan Rafa tercintanya itu mengoceh sepanjang waktu atas keterlambatannya.
"Bram! Kenapa kau lama sekali?" tanya Rafa.
Bram tidak ingin menjawab pertanyaan tuannya. Karena jika di jawab sama dengan tetap salah, lebih baik diam. Dia hanya bisa mengeluarkan napasnya dengan kasar. Padahal dia berada tidak begitu jauh dari hotel. Dia juga berlari untuk segera tiba di hotel. Tak ingin memperpanjang kekesalan tuannya. Dia segera menanyakan perihal mencarinya.
"Ada apa tuan?" tanya Bram sambil mengatur napasnya.
"Liora ingin memakan bakso raket yang berada di Jakarta. Cepatlah pergi membelinya!" perintah Rafa tanpa menoleh ke arah Bram. Dia sedang sibuk memainkan game online di ponselnya.
"A-pa tuan?" tanya Bram terkejut. Dia sampai tergagap mendengar perintah yang aneh dari tuannya.
"Beli bakso raket di Jakarta!" Rafa mengulangi perintahnya dengan santai.
"Baik, tuan. Apa ada lagi?" tanya Bram.
"Tidak ada. Itu saja. Ingat dua hari lagi pestaku!" Rafa mengingatkan Bram tanpa menatapnya.
"Iya tuan. Aku berangkat sekarang," ucap Bram. Dia segera undur diri dan berbalik melangkahkan kakinya menuju pintu luar hotel.
"Bram!" panggil Rafa. Kali ini dia membalikkan tubuhnya menghadap Bram.
"Iya, tuan," jawab Bram sopan.
"Hati-hati di jalan," ucap Rafa mengingatkan Bram.
"Terima kasih tuan," jawab Bram.
"Kau sudah seperti robot saja, Bram," kekeh Rafa.
Saat menghadapi anda dan calon nyonya memang harus seperti robot, tuan. Jika tidak, separuh nyawaku pasti sudah menghilang. Mengapa nasibku serumit ini. Punya majikan yang aneh. Si tuan, menjadi lebih cerewet saat gugup. Sedangkan calon nyonya, selalu meminta makanan yang aneh-aneh saat gugup. Sungguh pasangan yang sangat aneh bin ajaib. Bram menggerutu di dalam hatinya.
Bram hanya tersenyum di depan tuannya. Tapi di hatinya, menahan jutaan keluhan pada tuannya itu. Apa hendak di kata, yang menjadi tuannya adalah tuan Rafa dan dia hanya seorang asisten.
"Aku permisi, tuan," tutur Rafa.
"Eh, Bram!"
"Iya tuan," jawab Bram sambil menghentikan langkah kakinya.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan. Kalau ada lubang di jalan jangan lupa lompat seperti kodok," tutur Rafa santai.
"Aku pergi tuan," jawab Bram.
Dia segera mengambil langkah seribu. Tuannya itu semakin hari semakin aneh. Jangan sampai nanti tiba masa ku menikah akan seperti mereka. Amit-amit. Gerutu Bram dalam hati.
...✳️✳️✳️...
Lily, Naya, dan Liora saat ini sedang berada di dalam kamar hotel. Mereka bertiga menghabiskan waktu bersama sebelum pesta pertunangan Liora dan Rafa diadakan.
Rasa haru melingkupi relung hati Lily. Dia sangat bahagia untuk kedua sahabatnya. Naya dan Rafa. Naya dan Rafa sudah menemukan tambatan hati mereka. Labuhan hati mereka telah berlabuh di dermaga yang tepat.
Butiran bening mengalir menuruni kedua pipi Lily. Dia segera mengusap air mata yang tanpa izin keluar dari kedua matanya. Dia tidak ingin merusak moment bahagia kedua sahabatnya.
"Eh, Yora, mau tau ngga? Gara-gara waktu itu sambungan telpon lu terputus di tengah. Gue sampe mikir yang macem-macem. Apalagi tuh si kue semprong, dari pagi ngomongnya udah rada aneh," ketus Lily.
Dia masih sedikit kesal dengan Rafa dan Liora atas kejadian sebulan yang lalu. Lily dibuat salah paham oleh mereka berdua.
"Liora, Lily. Bukan Yora!" seru Liora.
"ish, sama aja," balas Lily tidak mau kalah.
"Beda Lily," timpal Liora.
"Kenapa, Nay?" tanya Lily dan Liora bersamaan.
"Ini si baby nendang-nendang mulu dari tadi," ucap Naya sambil mengusap perutnya.
"Cari bapaknya kali, Nay!" seru Lily.
"Iya. Setuju gue sama Lily. Biasanya kalo udah dielus sama bapaknya kalem dia. Perasaan gue bapaknya hari ini belum nongol deh!" seru Liora.
"Cie ... yang baru dua Minggu bergaul terus sama gue dan Naya, logat bicaranya udah disadap dengan sempurna nih," goda Lily.
"Gimana ngga. Pagi, siang, sore, malem, terus ketemu pagi lagi sama kalian terus. Udah pasti ketularan aku," jawab Liora sambil mencibirkan bibir bawahnya pada Lily.
"Iya keknya. Si baby manja banget akhir-akhir ini. Kek udah ngerti aja sama bapaknya," timpal Naya.
Liora melihat Naya yang sedikit meringis, segera membantu menggosok punggung belakang sahabatnya itu. Sedangkan Lily berjongkok di depan perut buncit Naya sambil mengusap dan berbicara pada baby di dalam perut Naya.
"Sayangnya aunty diem ya. Bentar lagi Daddy nya datang baru loncat-loncat. Sekarang biarin mommy bantu beresin urusan aunty Liora dulu ya sayang," ucap Lily dengan tulus.
__ADS_1
"ih, langsung diem loh si baby!" seru Naya.
"Calon nurut sama aunty Lily nih!" seru Lily.
"ih, enak aja. Yang hamil gue, emaknya. Ya, harus nurut gue dulu dong," celetuk Naya.
"Iya ... bumil. Hehehe," jawab Lily sambil terkekeh.
"Eh, ngomong-ngomong. Tumben lu engga cari makanan yang aneh-aneh, Yora!" seru Lily.
"Nah iya. Gue hampir lupa. Lu kan kalo udah gugup bawaannya makan terus, Lio," timpal Naya.
"Udah kok," jawab Liora.
"Kapan?" tanya Lily.
"Tadi. Sekitar lima belas menit yang lalu," jawab Liora santai.
"Gue penasaran nih," ucap Naya.
"Sama, Nay. Gue juga. Lu pesan apaan kali ini, Yora?" tanya Lily.
"Gue pesen bakso raket Jakarta," jawab Liora dengan entengnya.
"LIORA!" teriak Lily dan Naya bersamaan.
Mereka tidak habis pikir dengan kelakuan aneh calon istri sahabat mereka. Bisa-bisanya dia meminta Rafa untuk ke Jakarta hanya untuk membeli bakso raket. Lagipula, di kota hujan banyak sekali penjual bakso yang tidak kalah enaknya. Lily dan Naya sampai menepuk jidat mereka masing-masing.
"Lu ngalah-ngalahin Naya aja deh. Perasaan gue waktu Naya ngidam duki sampe sekarang, ngga pernah aneh-aneh deh permintaannya," jelas Lily.
"Gimana nanti kalo lu beneran ngidam, Lio. Ngga bisa gue bayangin deh," timpal Naya.
"Parah banget lu, Yora. Dua hari lagi udah mau pesta justru nyuruh Rafa pergi jauh-jauh," tatar Lily.
"Kayaknya bukan Rafa deh yang pergi. Kalo gue ngga salah dengar sih. Rafa nyuruh Bram yang pergi beli," jawab Liora santai.
"Emang beneran cocok deh elu sama Rafa. Bener-bener pasangan yang klop," ucap Lily tak habis pikir.
"Lagian apa ngga basi tuh bakso. Lumayan kali perjalanan dari sini ke Jakarta. Terus balik lagi," timpal Naya.
"Bodo amat. Yang penting hasrat gue tersalurkan," tukas Liora.
__ADS_1
Lily dan Naya hanya bisa menggelengkan kepala mendengar penuturan Liora. Mereka beranggapan bahwa keanehan Rafa sudah seratus persen tertular ke Liora.