Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 27. Tujuh Tahun Yang Lalu (Zack)


__ADS_3

Salah satu tembakan berhasil mengenai Zack.


Dia tersungkur ke tanah. Rasa sakit perlahan menyusup ke tubuhnya. Dia harus bangkit. Dia memusatkan seluruh kekuatannya agar bisa bangkit. Zack berdiri dan terhuyung. Perut kanannya yang tertembak semakin menjadi sakitnya.


Duar ...


Zack berlari dengan sisa tenaganya. Yang ada di benaknya saat ini adalah menyelamatkan diri atau mati sia-sia. Kedua pria tadi mengejarnya sambil melepaskan tembakan.


Dia terus berlari mencari tempat persembunyian. Zack terdesak, ujung jalan itu mengarah langsung ke sungai Thames. Tanpa pikir panjang dia langsung menceburkan diri ke sungai.


Flash back off


Byur ...


Tubuh Zack merosot ke dalam bath tub. Air bath tub sampai tumpah keluar dan membasahi lantai kamar mandi. Dia sempat tertidur ketika mengenang peristiwa tujuh tahun yang lalu.


Memori itu bagaikan mimpi. Disaat dia terjun ke dalam sungai Thames, tubuhnya justru merosot ke dalam bath tub sehingga membuatnya tersadar.


Zack segera membersihkan tubuhnya. Sudah cukup dia berendam. Dia tidak ingin mati konyol karena ketiduran dan tenggelam di dalam bath tub hanya karena mengenang peristiwa masa lalunya.


Tubuhnya telah bersih dan segar. Dia segera keluar dari kamar mandi tanpa apa pun yang menutupi tubuhnya. Kamar hotel ini sudah dijadikan kamar pribadi miliknya semenjak dia tiba di Indonesia bersama Emily dan Amber.


Dia berjalan ke walk in closet mengambil baju ganti. Setelah berpakaian, dia mengambil sebotol minuman soda. Kemudian dia duduk di kursi kerjanya.


Drt ... drt ...


Amber is calling


Layar ponselnya menyala dengan nama Amber disana. Zack hanya memainkan ponselnya tanpa ada niat untuk menjawab panggilan itu. Amber menelponnya berkali-kali, dan Zack tidak menjawab panggilan itu satu kali pun.


Dia membuka kaleng soda, dan mulai menyesap minuman itu. Dia meminumnya sampai tandas.


Zack teringat kembali kejadian malam itu. Kejadian yang membuatnya terikat dengan wanita yang dikenalnya namun tidak dicintainya.


Flash back on


Setelah Zack berhasil naik ke dermaga, pandangannya mulai kabur.


Bruk. Tubuhnya terjatuh ke atas dermaga. Tenaganya sudah terkuras habis untuk bisa bangkit lagi. Matanya terpejam. Meskipun dalam keadaan seperti itu, dia masih bisa mendengar beberapa langkah kaki yang mendekati dirinya. Setelah itu, dia sudah tidak sadarkan diri lagi.


Keesokan harinya, dia terbangun di sebuah kamar yang tidak asing baginya. Dia berusaha bangun, tapi tubuhnya masih begitu berat. Dia melihat ke arah perut kanannya. Luka tembak itu sudah di perban.


Zack merebahkan kembali tubuhnya. Dia kemudian menoleh ke sisi kanan tempat tidur. Disana ada seorang pria paruh baya yang sedang duduk dan sejak tadi memperhatikan dirinya. Pria itu tak lain adalah ayahnya. James Alexander.


Dia merasa sangat geram. Kejadian tadi malam mulai berputar-putar di kepalanya. Dia sadar akan satu hal dan membalik badannya dengan kasar.


"Kenapa kau lakukan itu padaku?" geram Zack.


James mencondongkan tubuhnya ke depan. Dia menatap Zack dengan rasa jijik.


"Bagaimana bisa aku memiliki keturunan yang tidak berguna sepertimu," umpat nya.


"Aku tidak berguna? Kau pikir aku mau menjadi anakmu?" balas Zack.


"Aku tidak peduli. Setidaknya wanita itu melahirkan bayi laki-laki," James berkata sambil menghela napasnya


"Wanita itu adalah ibuku," amarah Zack memuncak. Ingin rasanya dia meninju pria tua itu. Jika saja dia tidak ingat pesan ibunya untuk selalu menghormatinya. Dia sudah melayangkan tinjunya.


"Aku tidak ingin negosiasi lagi. Kau adalah keturunan Alexander. Baik, jika kau tidak ingin melanjutkan kekuasaan ku. Dua hari lagi kau akan menikah dengan Amber White. Wanita yang sudah ku pilihkan untukmu. Dalam setahun kau sudah harus memiliki keturunan. Jika dia perempuan, kau bisa mengasuhnya. Tapi jika itu adalah anak laki-laki, aku yang akan mengasuhnya. Dia yang akan menjadi penerus ku selanjutnya. Sedikit saja kau membantah, gadis ini akan celaka," terang James yang diikuti oleh seorang asistennya yang memberikan sebuah ponsel.


Layar ponsel itu menampakkan sosok seorang gadis yang sangat dicintainya. Air mata Zack tumpah saat melihatnya. Rasa sedih itu kemudian berganti amarah yang sulit dikendalikannya. Dia melihat sebuah titik merah di baju yang dikenakan Lily. Titik merah itu tepat mengenai jantungnya.

__ADS_1


"****," umpat Zack.


"Kau mengerti!" desak James.


Zack hanya bisa menganggukkan kepalanya. Ponsel yang berisi sosok Lily dilemparkan James padanya. Dia meraih ponsel itu dan menatap lekat pada gadis yang sangat dirindukannya.


"Kenapa hanya ingin memilikimu sangat sulit sekali?" dia bertanya sendiri pada dirinya. Diusapnya layar ponsel yang memperlihatkan wajah Lily.


Flash back off


Air mata Zack menetes di pipinya. Kenangan itu membuatnya sakit. Dia harus membuang jauh-jauh perasaannya pada Lily.


Setelah memberinya keturunan yang adalah seorang bayi perempuan. Pria tua itu baru mengijinkan Zack kembali ke Indonesia, dan mengembangkan usahanya.


Emily lahir hanya dalam kurun waktu tujuh bulan. Meskipun begitu dia tidak prematur. Kelahiran Lily memberinya sedikit harapan. Setidaknya dia bisa kembali ke Indonesia dan menjaga wanitanya dengan caranya.


Drt ... drt ...


Amber.


Lagi-lagi nama yang tertera di layar ponselnya. Wanita ini sangat berisik sekali. Dengan berat hati dia menjawab panggilan itu.


"Ah sayang, kau dimana? kenapa lama sekali menjawab telpon ku?" tanya Amber dengan suara yang dibuat-buat.


"Di kantor," jawab Zack sekenanya.


"Aku dalam perjalanan pulang ke mansion, ayah James juga turut serta denganku. Apa kau bisa segera pulang?" tanya Amber.


Zack menggenggam erat ponselnya. "S*al, baru saja aku mengingat kejadian tujuh tahun lalu. Pria tua itu sudah tiba saja", rutuk nya dalam hati.


"Setelah urusan ku selesai," jawab Zack dan langsung memutuskan sambungan ponselnya.


Dia segera mencari kontak Nana dan menghubunginya.


"Aku ingin kau membawa Emily ke ruang bawah tanah. Ingat Nana jangan sampai Emily tahu jika dia di bawa kesana," perintah Zack langsung memutuskan sambungan telponnya.


Dia yang tadinya ingin istirahat sejenak dari kekalutan hatinya, harus segera bergegas kembali ke mansion. Entah apa lagi yang diinginkan oleh tua bangka itu.


Mansion utama Zack


Nana yang menerima perintah dari tuannya, segera menjalankan perintahnya. Dia tahu jika perintah itu turun berarti tuan besar sedang dalam perjalanan kesini. Tuannya sangat menyayangi putrinya dan tidak ingin Emily di pertemukan dengan kakeknya. Karena menurut tuannya, Amber dan Ayahnya sama sekali tidak peduli dengan Emily. Jadi untuk apa mereka dipertemukan.


"Emily sayang, Daddy sebentar lagi pulang. Bagaimana jika bersembunyi dan memberi kejutan," bujuk Nana.


"Hore ... sembunyi. Em mau sembunyi Nana. Em mau mengejutkan Daddy," Emily bersorak sambil memeluk kedua kaki Nana dengan tangan mungilnya.


"Kalau begitu Em harus tutup mata dulu. Nana akan gunakan ini untuk menutup mata Em," bujuk Nana lagi. Dia menunjukkan pita berwarna merah yang cukup untuk menutup mata gadis kecil itu.


Emily mendongak keatas dan menatap pita merah yang terayun di tangan Nana.


"Em mau Nana. Ayo cepat tutup mata Em!" perintah gadis kecil itu tidak sabaran.


Nana segera menutup mata Emily dan membawanya ke ruang bawah tanah. Ruangan ini sangat rahasia. Hanya tuannya, dia, dan beberapa pengawal yang mengetahui letak ruangan ini.


Dia menggendong Emily dan membawanya pergi dari taman. Nana harus mengendap agar tidak ketahuan dengan para pelayan lain. Kamera cctv sudah di nonaktifkan dan diganti dengan tayangan lain selama Nana berjalan ke kamar Emily.


Setelah aman, Nana menurunkan Emily sebentar tanpa membuka penutup matanya. Baru saja dia hendak membuka pintu di balik lemari pakaian Emily, tangan mungil gadis kecil itu hendak meraih penutup mata dan membukanya.


"Jangan sayang! Kita belum bersembunyi dengan baik," perintah Nana sambil menurunkan kedua tangan Emily.


Emily hanya mengangguk. Dia sangat penurut. Pintu itupun terbuka. Nana segera menggendong Emily dan masuk ke dalam kotak yang hanya muat untuk tiga orang dewasa. Kotak itu segera meluncur turun ke bawah.

__ADS_1


Mereka mendarat dengan aman. Dua orang pengawal sudah siap menunggunya. Mereka berjalan beriringan di sepanjang lorong. Cahaya lampu yang terang membuat mereka mudah berjalan. Di ujung lorong itu terdapat sebuah kamar yang sudah disiapkan untuk Emily.


Salah seorang pengawal membukakan pintu untuk Nana. Dia menundukkan sedikit kepalanya sebagai tanda hormat pada Nana. Setelah Nana dan Emily masuk ke dalam kamar. Mereka segera menutup pintu itu.


Nana menurunkan Emily dan membuka penutup matanya. Pandangan mata Emily sedikit kabur karena terlalu lama ditutup.


"Nana, kita sembunyi di kamar Em?" tanya Emily.


"Iya sayang. Kita sembunyi disini ya," jawab Nana.


Karena merasa berada di dalam kamarnya sendiri, Emily langsung bermain dengan mainannya.


Ruangan itu sengaja di desain Zack persis sama dengan kamar Emily agar dia merasa nyaman. Bahkan pakaian, pernak-pernik, dan mainannya persis sama dengan kamar aslinya diatas. Melihat Emily sudah nyaman dengan ruangan ini, Nana langsung menghubungi tuannya untuk mengabari bahwa mereka sudah aman.


Drt ... drt ...


Zack langsung menjawab panggilan yang masuk tanpa melihat siapa yang menelponnya.


"Halo tuan," sapa Nana.


"Ya," jawabnya singkat.


"Nona muda sudah aman," lapornya.


"Bagus. Aku sebentar lagi tiba di mansion," jawab Zack. Dia menyetir sendiri mobilnya ke mansion. Dia tidak ingin urusan dengan ayahnya segera selesai.


Beberapa saat kemudian


Mobil yang dikendarai Zack sudah memasuki halaman mansion nya. Dia sedikit bernapas lega karena mobil pak Alan belum tiba di mansion. Itu tandanya dia tiba lebih dahulu dari mereka. Zack segera menepikan mobilnya. Dia kemudian memasuki mansion dengan cepat.


Dia segera duduk di sofa ruang tamu menunggu mereka. Tidak sampai setengah jam suara mobil terdengar di depan mansion. Amber dan James berjalan memasuki mansion bersama.


Zack menatap kedatangan mereka dengan tajam. Amber melangkahkan kakinya dengan percaya diri. Dia segera menghampiri Zack dan merangkulnya.


"Oh sayang, aku sangat merindukanmu," dia berkata dengan manja sambil merangkul lengan Zack.


Zack tak ingin berdebat saat ini. Dia hanya ingin segera menyelesaikan pertemuaan ini dengan ayahnya.


James duduk berhadapan dengan mereka. Tatapan mata mereka saling bertemu. Keduanya saking menatap tajam.


"Aku tidak akan berbasa-basi. Aku ingin penerus ku. Dalam waktu dekat ini aku ingin Amber hamil anak laki-laki!" perintahnya.


Amber tersenyum senang mendengarnya. Itu artinya dia akan hamil lagi. Dan kali ini dia harus hamil anak laki-laki. Beberapa dokter terkenal sudah dipersiapkan ayah mertuanya untuk mendapatkan keturunan laki-laki.


"Kau pikir gampang. Bagaimana jika seorang putri lagi yang lahir?" tanya Zack dengan emosi.


"Jika perempuan lagi, aku akan mencarikan mu seorang wanita yang bisa melahirkan anak laki-laki," terang James.


"What? Bagaimana bisa begitu ayah?" teriak Amber. Dia tidak terima jika ada wanita pengganti dirinya.


Zack tersenyum sinis mendengarnya. Ada kelegaan sedikit di hatinya. Setidaknya dia bisa terlepas dari Amber. Untuk memiliki anak lagi, dia tidak akan mau.


Amber segera berlari ke kamarnya. Dia tidak ingin mendengar kelanjutan diskusi ayah dan anak itu. Dia merasa sangat kesal, ayah dan anak itu semaunya mengatur hidupnya.


Amber menghempaskan pintu kamarnya. Dia tidak terima dengan perlakuan yang diterimanya. Niatnya ke London mengadu pada ayah mertua agar mendapat dukungan darinya. Merasa sangat kecewa dan kesal, dia menghancurkan isi kamarnya. Hatinya terasa sakit. Dia tidak di hargai oleh mereka.


"Tunggu saja. Jika aku bisa memberi keturunan laki-laki. Aku akan menuntut seluruh hak ku," teriaknya histeris.


~Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended loh. Yukss mampir.


__ADS_1


Jangan lupa mampir yaa... happy reading guys...😘😘😘


__ADS_2