Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 89. Memilikimu


__ADS_3

Ucapan Zack membuat perasaan Lily terasa perih. Dia paham yang dimaksud dengan Zack. Emily jauh dari sentuhan ibu kandungannya.


"Ehem. Aku ingin membersihkan diri dulu," ucap Lily.


Suasana menjadi sedikit canggung saat membahas Emily dan ibu kandungnya. Ly segera beranjak ke kamar mandi. Dia ingin segera melepas gaun yang mulai membuatnya gerah, dan membersihkan make up.


Lily sangat tidak suka jika tidur masih dalam keadaan tidak bersih. Untung saja saat ini mereka berada di kota hujan. Jadi, dia hanya mandi paling banyak dua kali dalam sehari. Beda halnya di Jakarta. Dalam sehari dia bisa mandi sampai tiga kali. Apalagi jika cuaca sangat panas. Jatah mandinya akan bertambah.


Meskipun menggunakan air conditioner, tetap saja ada perbedaan antara tubuh yang bersih setelah mandi, dan yang belum.


Zack hanya tersenyum saat Lily beranjak pergi ke kamar mandi. Dia kembali menatap wajah putrinya yang tertidur.


"Kau hebat sayang. Kau bisa mengambil hatinya dalam waktu yang singkat," ucap Zack pelan sambil mengecup kening putrinya.


Tubuh Emily bergerak saat Zack mengecup keningnya. Dia membalik tubuhnya ke samping. Zack segera menepuk pelan punggung mungil Emily. Gadis kecil itu kembali tenang, melanjutkan bunga tidurnya.


Lily keluar dari kemar mandi sambil melepas handuk pembungkus rambutnya. Dia sengaja mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi. Khawatir jika Zack masih berada di dalam kamarnya.


Benar saja dugaan Lily. Zack tertidur di samping Emily. Lily tersenyum melihat dua orang yang dia sayangi tertidur pulas.


"Astaga, Zack," ucap Lily pelan.


Zack tertidur dengan pakaian yang masih lengkap beserta sepasang sepatunya. Lily membuka sepatu Zack perlahan. Dia tidak ingin mengganggu tidur si empunya sepatu.


Untuk pakaian, Lily sengaja membiarkannya. Sangat aneh jika dia mengganti pakaian Zack. Lagipula mereka masih dalam status tunangan. Berbeda jika statusnya sudah menjadi seorang istri. Lily hanya tersenyum dengan pikiran konyol yang baru saja melintas di benaknya.


Setelah membuka kedua sepatu Zack, Lily meletakkan sepatu di rak sepatu. Dia tidak suka sesuatu yang tidak berada di tempatnya. Lily kembali ke kamar untuk menyisir rambut, dan duduk di ujung tempat tidur. Selesai menyisir rambut, Lily kembali menatap wajah Zack dan Emily. Wajah yang seperti malaikat saat tidur.


Hari ini mungkin dia beruntung Zack melamarnya. Lily tidak ingin menaruh harapan besar untuk hubungan mereka kedepannya. Ada semburat kebimbangan di sana saat Lily mengingat kembali perjalanan kisah kasih mereka.


Dia hanya ingin semuanya berjalan seperti air saja. Mengalir ke tempat seharusnya. Dia bersyukur saat ini bisa merasakan dilamar dan menjadi tunangan seseorang.


Lily bangkit dari duduknya. Dia berjalan ke arah jendela yang mengarah ke balkon. Dibukanya jendela. Angin malam ini sangat bersahabat. Cahaya bintang bagaikan permata yang sangat indah.


Dia tersenyum saat mengingat putrinya itu sangat menyukai sesuatu yang berkilauan.


"Em, pasti senang jika melihatnya," ucap Lily pelan sambil mengagumi indahnya langit malam.


"Apa yang dia sukai?" tanya Zack pelan sambil memeluk Lily dari belakang.


Lily terkejut saat Zack tiba-tiba memeluknya.


"Sorry, membuatmu terkejut sayang," ucap Zack pelan.


"Ish, kau itu," oceh Lily.


"Kau benar! Langitnya sangat indah sekali. Jangankan Em, aku juga sangat menyukainya," ucap Zack pelan.

__ADS_1


Zack menggenggam tangan kanan Lily. Dia teringat akan cincin Lily di jari manis. Zack mengangkat tangan kanan Lily keatas. Pancaran sinar bintang menerpa cincin berlian Lily. Cahayanya sangat berkilauan.


"Cantik!" seru Lily sambil menatap jari manisnya yang kini berkilauan.


"Ya, sangat cantik. Tapi kau lebih cantik," ucap Zack.


Lily tersipu saat mendengar rayuan Zack.


"Zack!"


"Ya, sayang."


"Sejak kapan kau pandai merayu?" tanya Lily tanpa menoleh.


Saat ini dia merasa sangat nyaman bersandar di dada bidang Zack.


"Sejak tadi pagi saat aku melihatmu dan Emily lagi," jawab Zack.


"Zack. Maafkan aku," ucap Lily.


"Jangan meminta maaf lagi, please," bujuk Zack.


"Baiklah," jawab Lily singkat.


"Sayang, dengarkan aku!" perintah Zack sambil memutar tubuh Lily menghadap dirinya.


"Sayang, aku ingin kita menikah Minggu depan. Apa ok?" tanya Zack.


"O-ok," jawab Lily cepat tanpa mengalihkan pandangannya.


Lily masih terpukau dengan sepasang mata biru. Dia sangat merindukannya. Malam ini, Lily bisa menatapnya lagi dan ingin menikmati keindahan mata Zack.


"Kau yakin sayang?" tanya Zack.


"Apanya yang yakin?" tanya Lily yang mulai sadar.


"Aku tadi mengajakmu menikah Minggu depan," ucap Zack dengan santai.


"APA?" teriak Lily.


Zack segera menutup mulut Lily dengan tangan kanannya. Dia memberi kode pada Lily untuk menahan suaranya. Dia tidak ingin Emily bangun dan merusak momen yang penting bagi dia dan Lily.


Lily mengangguk pelan. Zack melepaskan bekapan. Dia melanjutkan kembali ucapannya .


"Kau sudah menjawab ok tadi," timpal Zack.


"HAH!" teriak Lily.

__ADS_1


Zack segera membekap lagi mulut Lily. Dia menoleh ke arah tempat tidur. Mencoba melihat di keremangan cahaya tempat tidur. Si gadis kecil masih pulas dengan tidurnya. Zack merasa lega melihat Em tidak bergerak sama sekali.


"Sayang. Nanti Em bangun," tutur Zack lembut.


Lily menganggukkan kembali kepalanya.


"Habisnya kau membuatku terkejut dua kali," protes Lily.


"Hehehe. Sorry," ucap Zack sambil terkekeh.


"Jadi, bagaimana menurutmu?" tanya Zack lembut.


"A-aku," Lily terbata saat akan menjawab Zack. Air matanya kembali luruh membasahi pipi.


"Jangan menangis, please!" bujuk Zack.


"Zack, ini tangis bahagia," jelas Lily.


"Tangis bahagia? Sejak kapan orang yang bahagia mengekspresikan diri dengan menangis?" tanya Zack sambil menggoda Lily.


"Zack!" seru Lily.


"Aku hanya bercanda. Jadi kau senang? Artinya kau setuju?" tanya Zack.


"Zack, perasaanku campur aduk saat ini. Semuanya begitu cepat. Setelah beberapa tahun, kita baru bertemu kembali. Baru dua jam yang lalu, kau melamarku. Sekarang, kau justru ingin kita menikah," tutur Lily.


"Aku tahu semuanya begitu cepat. Kau pasti belum siap untuk ini," ucap Zack datar.


"Aku bahagia, Zack. Sungguh. Tapi ini begitu cepat," ucap Lily sambil mengusap pelan wajah Zack dengan kedua tangannya.


"Maafkan aku tidak memperhatikan perasaanmu!" sesal Zack.


"Aku hanya tidak ingin kehilanganmu lagi. Hatiku sangat sakit saat berjauhan darimu," ucap Zack.


Lily segera memeluk Zack. Dia tidak ingin mendengar ungkapan kesedihan dari bibir Zack. Sudah cukup mereka berdua merasakan kesedihan yang tidak berujung.


"Tolong beri aku waktu, please!" pinta Lily.


"Tentu sayang. Aku akan bersabar menunggu jawaban darimu," ucap Zack sambil membalas pelukan Lily.


Zack mengusap pelan punggung Lily. Dia mendekap erat Lily. Meskipun Lily masih belum bisa mengambil keputusan. Setidaknya, kini Lily sudah berada dekat dengan dirinya.


💕💕💕


Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh! Yukss mampir... Ceritanya seru banget loh! Penasaran kan! Yukss mampir 😘😘😘


__ADS_1


__ADS_2