Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 44. Rahasia Amber


__ADS_3

Tubuh Amber seketika mematung saat mendengar suara pria itu. Padahal sudah hampir tiga tahun dia menghilang darinya.


"Atau kau ingin aku mengendong mu kesini?" tawar pria itu.


Amber berusaha untuk tenang. Dia harus menyingkirkan perasaan takut dan bersalah. Tidak pernah terlintas sedikit pun di benaknya akan menghadapi situasi seperti ini. Saat ini dia sangat Bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.


Pria di seberang sana bangkit dari sofanya yang empuk. Dia melangkahkan kakinya perlahan sambil menampilkan senyuman smirk nya.


"Kau tahu sayang, kau terlihat semakin cantik sekali," goda pria itu.


Pria itu semakin berjalan mendekatinya. Keringat dingin perlahan keluar dan turun melalui kulit putihnya yang mulus.


"Kau tahu, aku sudah lama menantikan momen ini."


Pria itu semakin mendekat. Manambah ketakutan yang hampir terlewat batas. Mulut Amber yang biasanya sangat pandai merayu kini terdiam seribu bahasa. Lidahnya menjadi sangat kelu. Dia sampai merutuki dirinya sendiri. "S**l! Mengapa tubuhku menjadi sangat kaku."


Pria itu kini berada tepat dihadapannya. Dia membelai rambut cokelat Amber yang panjang. Diambilnya ujung rambut Amber dan dihirupnya aroma favorit yang selama ini menghilang.


"Masih aroma yang sama," ucap pria itu.


Amber dengan susah payah menelan salivanya.


"Seingat ku, kau sangat cerewet sekali. Mengapa sekarang menjadi pendiam seperti ini?", tanya pria itu.


Ketakutan yang Amber rasakan membuat dirinya menumpahkan air matanya dari kedua matanya.


"Oh cup, cup, jangan menangis sayang! Wajahmu yang cantik ini sangat tidak cocok untuk mengeluarkan air mata," bujuk pria itu sambil mengusap kedua pipinya.


Pria itu merapatkan tubuhnya. Amber tersentak saat dia melakukan hal itu. Kini tubuh mereka sangat berdekatan. Amber dapat mencium aroma mint yang selalu melekat pada tubuh pria itu.


Dengan cepat dia langsung menggendong Amber dengan bridal style. Amber hanya bisa memejamkan kedua matanya. Dia berjalan menuju sofa sudut itu. Di rebahkannya tubuh Amber diatas sofa.


"Kau bisa membuka matamu sekarang!" perintah pria itu.


Ketakutan saat ini merajai dirinya. Sangat sulit baginya untuk membuka kedua matanya. Matanya seolah-olah di lem dengan lem super. Dia tahu kedatangan pria di depannya ini bukan untuk bernegosiasi. Akan tetapi meminta hak nya.


Dengan perlahan dia membuka kedua matanya. Pria itu kini duduk di seberangnya. Dia menyilang kan kaki dan menautkan kedua tangannya di depan dada.


"Kau tahu. Aku mulai merasa sedikit kesal," ucap pria itu.


Amber masih ingat dengan jelas jika pria itu mengatakan kesal, apapun akan dilakukannya termasuk kekerasan.


"A-a-ku."


Amber berkata dengan terbata-bata.


"Bagus. Kau mulai mengerti sekarang. Pelan-pelan saja," tutur pria itu.


Lagi. Air mata Amber kembali tumpah.


"Ma-af ka-n a-ku," satu kalimat yang berhasil lolos dari mulut Amber walaupun dengan terbata-bata.


"Awal yang bagus," tutur pria itu.


"Aku rasa sudah cukup. Aku tidak akan berlama-lama lagi. Dimana anakku? Ah, tepatnya putriku?" tanya pria itu.


Deh

__ADS_1


Amber sudah tahu dia pasti akan menanyakan hal ini. Kedua tangannya bergetar. Bahkan tubuhnya ikut bergetar hebat.


"Dia bukan putrimu," jawab Amber perlahan.


Pria itu menghela napas dan merubah posisi duduknya. Dia mencondongkan badannya dan menatap tajam.


"Dengar! Aku bisa saja langsung mengambilnya dari mansion Zack dengan sangat mudah. Aku beri kau waktu tiga hari untuk membawanya padaku!"


"Jika dalam tiga hari kau tidak membawanya kesini. Bersiaplah untuk yang terburuk!" ancam pria itu.


"Brandon, aku mohon," ucap Amber sambil bersimpuh dan memeluk kedua kaki Brandon.


Brandon segera melepas pelukan dikakinya.


"Jangan pernah menyentuhku lagi!"


Amber menatapnya tidak percaya. Baru saja beberapa menit yang lalu dia bersikap sangat lembut.


"Pergi sekarang!" perintah Brandon.


Amber masih diam di tempatnya, dia tidak ingin pergi begitu saja. Dia harus bisa menyakinkan Brandon agar tidak mengambil Emily.


"Brandon, aku berani bersumpah dia bukan putrimu. Dia adalah putri kandung Zack," ucap Amber.


"Aku tidak ingin mendengar penjelasan apapun! Kau pikir aku tidak tahu apa yang terjadi!" Kali ini Brandon terlihat sangat murka. Wajahnya memerah menahan amarah. Jika Amber adalah seorang pria, dia pasti sudah memukulinya habis-habisan.


"Aku tidak akan mengulanginya lagi. Pergi dari sini!"


Amber segera bangkit. Memohon padanya juga sangat percuma saat ini. Dia berjalan menuju pintu kamar. Tangan kanannya sudah memegang gagang pintu.


"Ingat. Tiga hari!"


Sesampainya di dalam mobil, Amber berteriak histeris. Dia memukulkan kedua tangannya pada kemudi. Air matanya berhasil tumpah tanpa hambatan.


Flash back on


Tiga tahun yang lalu


"Halo sayang," sapa Amber.


"Halo. Ada apa kau menghubungiku pagi-pagi sekali?" tanya Brandon.


"Sayang dengarlah! Aku ada kabar baik untukmu," ucap Amber dengan manja.


Brandon yang masih dalam kondisi setengah bangun, segera sadar dari tidurnya.


"Katakan?" ucapnya dengan suara parau.


"Apa kau yakin ingin mendengarnya melalui telpon?" tanya Amber.


"Oh ayolah sayang. Aku sangat penasaran."


"Baiklah jika itu mau mu. Aku hamil," tutur Amber.


Pengakuan yang mendadak itu berhasil membuat Brandon mematung. Dia terdiam cukup lama. Amber sampai berteriak memanggilnya.


"BRANDON!"

__ADS_1


"Aw ... Apa kau ingin membuat telingaku tuli?" tanya Brandon sambil menggosok telinganya.


"Aku sudah dari tadi memanggilmu. Tapi kau tetap diam saja," rajuk Amber.


"Hei, jangan marah please! Aku sangat senang sekali mendengarnya," bujuk Brandon.


"Kau serius?"


"Tentu saja. Kapan aku pernah berbohong padamu?" Brandon balik bertanya padanya.


"Hmm ... tidak ada," jawab Amber sambil menggelengkan kepalanya seolah-olah Brandon dapat melihatnya.


"Berapa bulan umurnya?" tanya Brandon dengan sangat lembut.


"Kemarin aku sudah memeriksanya ke dokter kandungan. Usianya sekitar sepuluh Minggu" jelas Amber.


"Kenapa kemarin tidak mengajakku sayang?" tanya Brandon.


"Bukannya kemarin aku sudah mengabari mu? Kau bilang sedang rapat di kantor. Jadi, ya sudah aku pergi sendiri saja," tukas Amber.


"Oh, jadi kemarin itu kau menghubungiku untuk pergi ke dokter kandungan?"


"Iya."


"Astaga ternyata aku salah. Aku pikir kau itu memintaku untuk menemanimu pergi berbelanja lagi." Brandon berbicara sambil menahan tawanya.


"Ha, berarti selama ini kau tidak suka ya menemaniku berbelanja?" Amber memulai aksi merajuknya.


"Tidak. Tentu saja tidak. Aku bukannya tidak suka menemanimu, hanya saja saat berbelanja kau pasti hilang kendali. Aku hanya lelah saja menunggumu," jelas Brandon panjang lebar.


"Kau itu."


"Brandon aku harus mengakhiri panggilan ini. Ayahku memanggil ku," ucap Amber.


"Ok. Wait ada satu hal lagi. di rumah sakit mana kau memeriksakan kandungan bayi kita?"


Amber merasa sangat senang saat Brandon mengatakan bayi kita.


"Aku periksa di rumah sakit X bagian kandungan.


"Ok, bye."


"bye," ucap Amber sambil memutuskan sambungan telponnya.


Dia segera bergegas keluar kamar dan menemui ayahnya.


"Amber!" panggil ayahnya.


"Ya, apa ayah mencari ku?" tanya Amber.


"Ayah memang mencari mu. Beri salam pada paman James!" perintah ayahnya. Amber hanya mengangguk dan melaksanakan perintah ayahnya. Setelah itu dia duduk kembali di samping ayahnya.


"Kedatangan tuan James hari ini adalah melamar mu untuk putranya Zack Alexander," jelas ayahnya.


Amber sangat tahu dan mengenal keluarga Anthony. Mereka adalah keluarga terkaya di negara I. Putranya Zack Alexander sangat terkenal di kaumnya.


Niat jahatnya mulai timbul saat dia mendengar tuan Anthony melamarnya, dan akan dijadikan seorang menantu disana.

__ADS_1


Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended loh! Yukss mampir



__ADS_2