Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 63. Pendamping Wanita


__ADS_3

Ingatan masa lalu yang pahit itu masih membekas. Terutama pada Rafa. Kematian Rania membuat hubungan dengan kedua orang tuanya semakin jauh. Rafa masih menyalahkan kedua orang tuanya yang kurang peduli pada Rania hingga akhir hidupnya.


Lain hal nya dengan Lily sampai saat ini dia tidak pernah mengetahui efek dari kecelakaan yang dialaminya beberapa tahun lalu. Tante, Rafa, dan Naya hanya mengatakan jika matanya hanya mengalami efek dari benturan saja. Lily sangat mudah dibohongi saat itu.


"Gue ingat kok, Fa," jawab Lily.


"Kecelakaan lu waktu itu parah banget Ly," jelas Rafa.


"Bukannya gue cuma kecelakaan ringan ya, Fa? Terus apa hubungannya dengan ungkapan perasaan lu ke gue?" tanya Lily.


Rafa sedikit terkejut mendengar pertanyaan Lily. Dia memang akan mengutarakan perasaannya pada Lily. Bagaimana Li bisa mengetahui akan hal itu.


"Ok. Lu dengerin ucapan gue ya," pinta Rafa sambil menatap tajam Lily.


Lily sedikit merasa salah tingkah saat di tatap Rafa seperti itu. Ada perasaan tidak enak hati saat Rafa berlaku seperti itu padanya. Dia memutuskan untuk langsung menolak Rafa bersamaan dengan pengakuan hatinya.


"Lily, gue ..." ucapan Rafa terpotong karena langsung di sanggah oleh Lily.


"Maaf Fa. Gue ngga bisa!" tegas Lily.


Semburat kecewa terpancar di wajah tampan Rafa.


"Lu kok tega Ly sama gue?" tanya Rafa lirih.


Keringat dingin mulai membasahi tubuh Lily. Gugup kini menyerang dirinya. Dia tidak menyangka Rafa akan meresponnya seperti itu.


"Gu-e," ucap Lily terbata dan langsung di potong oleh Rafa.


"Padahal gue udah berharap banyak sama lu," jelas Rafa dengan wajah sedihnya.


Perasaan Lily semakin menciut melihat wajah Rafa yang seperti itu. Dia berusaha untuk meyakinkan Rafa bahwa hubungan mereka hanya sebatas sahabat, tidak akan pernah lebih dari itu.


"Maafin gue ya, Fa," lirih Lily.


"Ya, mau gimana lagi. Gue juga ngga bisa maksain elu. Gue cuma mau meluluskan permintaan Rania yang terakhir," sedih Rafa.


"Maksud lu, Fa?" tanya Lily.


"Ly, Rania pengen nanti dia bisa jadi pendamping gue saat gue nikah nanti," jelas Rafa.


Ly semakin bingung mendengar ucapan Rafa. Dia sampai memijat keningnya dengan tangan kanannya.


"Fa, gue bingung ni. Beneran sumpah," ucap Lily masih sambil memijat keningnya.


Rafa menatap Lily. Dia menangkap ada sesuatu yang salah arti. Dia memperbaiki posisi duduknya, dan mulai menjelaskan pada Lily dengan perlahan.


"Lu dengerin gue ya!" pinta Rafa.


Lily hanya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kecelakaan lu waktu itu parah banget, Ly," Rafa meraih kedua tangan Lily memberinya ketenangan.


"Lu mengalami kebutaan karena benturan yang keras," jelas Rafa. Dia merasakan Lily terkejut dan berusaha menarik kedua tangannya dari genggaman tangannya. Dia memberi isyarat pada Lily agar mendengarkan penjelasanya sampai akhir dengan mengedipkan kedua matanya perlahan.


"Rania mendonorkan kedua retina matanya buat lu. Sebagai gantinya, dia ingin di saat gue nanti nikah, lu yang harus jadi pendamping pengantin mempelai wanita," jelas Rafa.


Lily sangat terkejut mendengar kejujuran Rafa. Kedua kelopak matanya kini dibasahi dengan cairan bening. Rania kecil yang sangat disayanginya memberikan sesuatu yang sangat berharga untuknya. Bagaimana mungkin dia tidak meluluskan permintaan terkahir Rania.


Lily ingat di saat dia mengalami kecelakaan, Rania juga mengalami hal yang sama dengannya. Nyawa Rania tidak bisa diselamatkan setelah bertahan kurang lebih dua puluh empat jam. Itulah yang menyebabkan Rafa menjadi tidak terlalu dekat lagi dengan kedua orang tuanya.


Kedua mata Lily membulat sempurna saat dia mengingat sesuatu yang lain.


"Tunggu. Jadi lu mau gue jadi pendamping pengantin wanita?" tanya Lily.


"Iya," jawab Rafa sambil menganggukkan kepalanya.


"Oalaaa ... jadi yang di maksud ungkapin perasaan lu itu, ini Fa!" tukas Lily.


"Lha iya. Emang menurut lu apaan?" Rafa balik bertanya.


"Hehehe ... ngga ada," Lily terkekeh sendiri akan kebodohan dirinya.


Rafa melirik Lily sekilas. Dia bingung dengan tingkah Lily yang semakin hari semakin aneh saja. Kadang Rafa merasa bingung dengan Lily antara lemot dan aneh. Rafa bergidik membayangkan Lily berada diantara kedua kata itu.


"Lu tuh anehnya! Tadi aja nangis. Sekarang senyam-senyum ngga jelas!" seru Rafa.


"Gue tuh udah mempersiapkan hati kalo aja lu bakal ngamuk. Sebenernya gue masih mau simpen rahasia Rania dari elu, cuma dari kemaren-kemaren Naya yang suruh gue jujur sama elu," jelas Rafa.


"Week ...," ledek Lily.


"Lagian nih ya, gue penasaran. Kenapa lu ngga ngamuk? Biasanya kan elu paling benci tuh kalo gue sama Naya sembunyiin sesuatu dari elu!" tutur Rafa penasaran.


Lily segera meminum air yang sudah tersedia di atas meja makan.


"Mampus gue! Ngga mungkin gue bilang kalo gue salah paham. Bisa terbang tuh bocah ke langit ke tujuh kalo gue sempet baper dikit," gerutu Lily dalam hati.


"Hoi, ditanya malah bengong," ucap Rafa sambil mengibaskan tangan kirinya di depan wajah Lily.


"Apaan sih, Fa!" cemberut Lily sambil melipat kedua tangannya.


"Lagian elu, ditanya malah bengong," ucap Rafa santai.


"Kalo gitu, gue mau Fa jadi pendamping pengantin wanita," jelas Lily.


"Beneran! Ngga pakek bohong kan?" tanya Rafa.


"Ya udah, ngga jadi," Lily berpura-pura cemberut.


"Eh, jangan dong neng," rayu Rafa.

__ADS_1


"Wek ..." Lily menjulurkan sedikit lidahnya pada Rafa.


"Tapi ngomong-ngomong nih Fa. Kok elu mendadak mau kawin sih?" tanya Lily.


"Udah jodohnya," jawab Rafa.


"Eehh nih bocah, tumben ngomongnya bener," celetuk Lily.


"Terus, gue mesti bilang wow gitu?" Rafa balik bertanya pada Lily.


"ish, lu tuh ya! Betewe kemaren Liora nelpon gue nangis-nangis," ucap Lily.


"Terus?" tanya Rafa.


"ih, kok lu biasa aja sih Fa," cemberut Lily.


"Terus gue mesti bilang wow gitu!" seru Rafa. Dia sengaja mengulangi kalimatnya yang tadi.


"Sekali lagi lu ngomong kek gitu, gue tampol lu pakek sendal jepit gue," ancam Ly sambil melepaskan sendal jepit kanannya.


"Eiitss, maen tindak kekerasan nih," ucap Rafa.


"Lagian elu aneh-aneh aja," teriak Lily.


"Gue putusin Liora."


"What? Apa?" teriak Lily.


"Kalo udah what, ngga usah pakek kata 'apa' lagi, Ly!" seru Rafa.


"Lu sakit ya? Atau kesambet?" tanya Lily sambil meletakkan tangan kanannya ke kening Rafa.


"Enak aja. Elu kali," balas Rafa sambil menepis tangan kanan Lily dari keningnya.


"Lagian lu maen putusin Liora. Emangnya selama ini lu ngga cinta sama dia?" tanya Lily.


"Ya cinta lah," jawab Rafa.


"Kalo cinta kenapa di putusin?" desak Lily.


"Ini nih! Sifat lu berdua sama aja. Ngambil kesimpulan selalu di tengah. Ngga pernah mau dengerin sampai selesai. Akhirnya salah paham. Emangnya gue ngga tau, kalo elu ngira gue bakalan nembak elu. Mimpi!" tukas Rafa sambil menoyor kening Lily.


"ish, Rafa!" cebik Lily.


"Gue emang putusin dia," jelas Rafa. Dia langsung menempelkan telunjuk kanannya pada bibir Lily.


"Gue putusin dia sebagai pacar. Ta ... pi gue ngelamar dia sebagai istri gue! Paham?" jelas Rafa.


Lily hanya bisa terkekeh. Jika diingat-ingat lagi, memang dia dan Liora memiliki kebiasaan yang sama. Sama-sama gagal paham.

__ADS_1


__ADS_2