
"Nona muda di culik!"
Kedua mata Zack langsung membulat. Kedua tangannya mengepal sangat kuat.
"Apa maksudmu?" tanya Zack penuh penekanan.
"No-na muda di culik tuan!" jawab pengawal itu terbata.
"Kau bertugas mengawasi dan menjaganya. Bagaimana kau bisa lalai!" Amarah Zack memuncak.
Dia ingin menghadiahi pengawal itu dengan beberapa tinjuan. Tapi apa gunanya? Apa Emily-nya akan kembali?
Leon yang menyadari emosi tuan nya yang kapan saja bisa meledak segera menengahi permasalahan itu.
"Tuan aku rasa kita tahu siapa yang menculik nona muda!" seru Leon.
"Apa maksudmu?" tanya Zack geram. Dia terus berusaha menahan emosinya agar tidak meledak. Putri kesayangannya dengan mudah dibawa pergi oleh seseorang. Dia pikir seluruh rencananya berhasil. Nyatanya, masih ada celah pada rencananya.
"Tuan, pengawal yang aku suruh untuk mengawal dan menjaga nona Emily dan Nana ada dua orang. Tapi yang datang memberi kabar hanya seorang. Kita harus memberinya kesempatan untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi," jelas Leon panjang lebar.
"Kau benar, Leon!" seru Zack dengan suara masih tertahan.
"Suruh pengawal itu kemari! Minta dia jelaskan semuanya sekarang!" teriak Zack. Apabila matanya bisa menghasilkan api di saat marah, saat ini pasti tidak akan ada yang mau mendekatinya.
Leon segera memenuhi permintaan tuan nya. Dia mengarahkan telunjuknya maju mundur pada pengawal itu. Pria itu segera melangkahkan kaki ke arah Leon dan tuannya. Dia berjalan dengan langkah terseret dan dengan napas yang memburu.
"Jelaskan sekarang!" perintah Leon.
"Kami sudah berhasil keluar dari lorong. Nona Emily meminta untuk berhenti sebentar karena ingin buang air kecil. Setelah itu, kami kembali berjalan. Sebuah mobil sedan hitam datang menghampiri kami. Aku pikir itu ada mobil jemputan kami. Ternyata bukan," jelas pengawal itu.
Dia berusaha mengambil napas karena kondisi tubuhnya masih belum stabil. Ketika dia sadar dari pingsannya, dia segera bangkit dan berlari menuju mansion untuk segera memberitahu tuannya. Dia sangat tahu diri. Karena kelalaiannya, nona mudanya dapat di culik di depan mata.
"Seorang pria keluar dari mobil, dan menghampiri kami. Aku sempat melihat wajah terkejut Nana yang sepertinya mengenal pria itu, dan aku yakin penculikan ini dibantu oleh partner ku. Sebenarnya aku sudah sangat curiga di awal saat dia ditempatkan bersamaku untuk mengawal dan menjaga nona muda. Karena ini kali pertama kami bertemu dan bertugas bersama," jelas pengawal itu lagi.
"Si al! Si al!" teriak Zack.
"Mengapa kau tidak melapor lebih awal?" tanya Zack sambil berusaha menahan emosinya.
__ADS_1
Dia berjalan mondar-mandir sambil memegang sebelah pinggangnya, dan tangannya yang bebas mengusap keningnya.
"Maaf tuan, aku sudah memberikan laporan di awal. Akan tetapi, tuan mengatakan tidak masalah," jawab pengawal itu.
Ucapan pengawal itu membuat Zack teringat kejadian kemarin malam.
Flash back on
Malam itu saat Zack selesai bermain dan menidurkan Emily, dia kembali ke ruangannya karena mendapat panggilan dari Leon.
Leon melaporkan segala persiapan besok dan sudah menempatkan beberapa anak buahnya yang handal. Dia juga melaporkan keluhan dari salah seorang pengawal. Pengawal itu tidak ingin bertugas dengan partner nya yang sekarang.
Selama ini dia mengawal dan menjaga nona Emily dengan temannya yang sudah lama berpasangan dengannya. Tapi, dari kemarin partner nya tidak bisa dihubungi sama sekali. Setelah mencoba berkali-kali menghubungi partnernya dan diakhiri dengan kegagalan, dia mendapat sebuah pesan singkat darinya yang mengatakan bahwa dia tidak enak badan. Dia tidak bisa mengawal dan menjaga nona muda untuk besok.
Pengawal itu sempat curiga. Dia tidak ingin menerima pesan itu mentah-mentah. Dia segera berkunjung ke rumahnya. Saat tiba di depan rumahnya. Partner nya terlihat dalam kondisi yang memang tidak baik. Dia tidak enak untuk mengganggunya lebih lama. Saat itu dia hanya berdiri di depan pintu rumah tanpa masuk kedalam. Karena tidak ingin mengganggu waktu istirahatnya, dia segera pamit dan kembali bertugas.
Dia melaporkan kejanggalan di hatinya itu pada Leon. Akan tetapi, Leon harus melapor dulu kepada Zack.
"Tuan!" seru Leon.
"Apa ada masalah atau kendala lagi?" tanya Zack.
"Begini tuan, seorang pengawal yang biasa mengawal dan menjaga nona muda merasa tidak cocok dengan partner barunya. Dia merasa sedikit aneh. Dia meminta untuk di cari pengganti yang lain atau bekerja sendiri saja," lapor Leon.
"Tidak! Biarkan saja tetap seperti itu. Bukannya hanya orang baru. Aku yakin dia belum terbiasa saja dengan partner barunya itu," jawab Zack.
"Baiklah tuan. Aku akan segera menghubunginya," ucap Leon sambil meninggalkan tuannya.
Flashback off
Zack teringat akan perkataannya kemarin malam. Ternyata dia sendiri yang membuat celah. Dia memukulkan kedua tangannya ke permukaan meja. Dia sangat mengamuk. Baru saja dia menyelamatkan putri kesayangannya dari tangan Brandon. Kini putrinya justru di culik oleh orang lain.
Zack tahu siapa yang telah menculik Emily. Dari penjelasan pengawal itu, dia mengatakan bahwa Nana terkejut saat melihat seorang pria yang keluar dari dalam mobil. Nana pasti mengenal pria yang menculik mereka.
"Siapkan seluruh pasukan. Jika perlu minta bantuan tambahan. Waktunya menyerang markas ayahku!" perintah Zack.
Di sisi lain di dalam mobil.
__ADS_1
Emily duduk sambil dipangku dan dipeluk Nana.
"Kita mau kemana Nana?" tanya Emily bingung. Dia sudah bertanya pada Nana-Nya berkaki-kali. Akan tetapi, Nana hanya diam. Nana-nya tidak terlihat seperti biasanya. Nana biasanya sangat cerewet sekali.
"Nana! Nana!" panggil Emily berkali-kali.
"Eh, iya sayang," jawab Nana.
"Kita mau kemana?" tanya Emily.
Nana menatap Emily penuh kasih sayang. Kemudian menjawab pertanyaan Emily dengan lembut.
"Nana rasa, kita akan pergi ke mansion miliknya grandpa," tutur Nana lembut.
"Grandpa?" tanya Emily bingung.
"Iya, grandpa sayang. Emily belum pernah bertemu dengan grandpa, bukan?" tanya Nana lembut.
"Iya, Em belum pernah bertemu dengan grandpa. Em mau, Nana. Em mau bertemu grandpa," tutur Emily kegirangan.
Nana hanya bisa tersenyum. Setidaknya dia tidak terlalu banyak membohongi Emily. Memang benar adanya jika Emily belum pernah sekalipun bertemu dengan grandpa nya.
"Nana!" seru Emily lagi.
"Iya sayang," jawab Nana sambil mengelus pelan rambut cokelat Emily.
"Grandpa seperti apa?" tanya Emily penasaran.
"Nana tidak tahu seperti apa sayang!" seru Nana.
"Apa Nana tidak pernah bertemu grandpa?" tanya nya lagi.
"Tentu saja sudah," tutur Nana lembut.
"Jika sudah, grandpa seperti apa?" tanya nya lagi.
"Sayang, Nana tidak bisa menjelaskannya padamu. Nana memang pernah bertemu dengannya bahkan bekerja dengannya. Tapi Nana sangat sulit menjelaskan seperti apa grandpa Em sekarang," jelas Nana.
__ADS_1