Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 71. Lily, Leon, Bram


__ADS_3

"Ehem," Leon berdehem.


Lily sama sekali tidak mendengar suara seorang pria di belakangnya. Dia justru menggedor pintu kamar Bram semakin kencang.


"Ehem. Nona!" panggil Leon.


Lily menoleh ke belakang. Dia hanya ber-oho ria dan kembali menghadap pintu kamar. Dia kembali mengetuk pintu kamar Bram.


Leon bingung melihat kelakuan nona Lily. Dia hanya bisa tersenyum melihat tingkah konyolnya. Dia seratus persen yakin jika saat ini nona Lily sangat mengantuk tapi terpaksa harus ke kamar Bram. Apa urusannya? Entahlah. Leon tidak ingin ikut campur.


Bisa jadi besok adalah hari yang melelahkan untuknya. Mengingat tuannya itu akan melakukan sesuatu yang nekat. Untuk itu, Leon tidak ingin membuat lelah dirinya untuk saat ini.


"Bram! Bram!" teriak Lily sambil mengetuk pintu kamar Bram.


"Nona," panggil Leon.


Lagi. Lily hanya menoleh ke belakang. Responnya masih sama seperti yang tadi.


"BRAM!" Lily berteriak sekencang-kencangnya.


"Ya ampun nih orang, pingsan atau tewas?" gerutu Lily.


"Sepertinya pingsan, nona," jawab Leon.


"Iya juga ya. Kalo tewas mana mungkin bisa pulang ke Jakarta. Hehehe," ucap Lily sambil terkekeh.


"Eh!" seru Lily sambil menatap ke belakang.


Dia mengerjapkan kedua matanya. Melihat sosok pria yang tadi bertemu di dalam lift.


"Leon! Kenapa bisa di sini?" tanya Lily bingung.


"Aku ada keperluan dengan Bram, nona," jawab Leon sopan, dan sambil tersenyum.


"Kok bisa sama?" tanya Lily lagi.


Leon mengangkat tangan kanannya yang memegang sekantong besar bungkusan plastik berwarna hitam. Lily melihat bungkusan di tangan Leon dengan alis yang ditekuk.


"Itu apa?" tanya Lily.


"Pesanan Bram," jawab Leon.


"Apa?" tanya Lily lagi.


Kantuknya spontan hilang saat Leon mengajaknya bermain tebak-tebakan. Jika saja bukan karena permintaan si ibu hamil, dia pasti tidak akan peduli. Yang memesan bakso raket Liora, tapi yang tidak sabaran memakannya justru Naya.


Dia merasa sedikit menyesal akan keputusannya tidur di kamar Naya. Di sinilah dia berada sekarang. Di depan kamar Bram. Dia menggedor pintu kamar Bram seperti istri yang sedang mengamuk mendapati suaminya selingkuh.


Dan tanpa sengaja bertemu dengan Leon di lift. Berlanjut bertemu kembali di depan pintu kamar Bram.


"Maaf, jika saya lancang. Apa yang nona juga lakukan di sini?" Leon balik bertanya pada Lily.


"Aku disuruh mengambil pesanan bakso raket oleh temanku, hoam," jawab Lily sambil menguap.

__ADS_1


"Aah. Aku rasa ini yang ada inginkan, nona," tutur Leon sambil mengangkat kembali bungkusan di tangan kanannya.


"What?" Lily terkejut melihat bungkusan di tangan kanan Leon.


"Kok bisa? Bagaimana ceritanya?" tanya Lily.


Lily seratus persen dalam kondisi sadar dari kantuk yang menderanya. Bagaimana dia tidak terkejut. Setahunya Bram yang diperintahkan untuk membeli bakso di Jakarta, bukan Leon.


"Bram meminta bantuan-ku untuk membelinya di Jakarta, nona," jawab Leon sopan.


"Ooh. Terus sekarang dia di mana?" tanya Lily.


Leon menunjuk ke arah belakang Lily dengan jari telunjuk kirinya. Lily segera mengikuti arah jari telunjuk Leon.


Bram berdiri tepat di belakang Lily dengan wajah habis bangun tidur.


"Hoam," Bram menguap lebar-lebar tanpa menutup mulut.


Dia berdiri menyandarkan tubuhnya ke permukaan pintu kamar.


"Wah. Parah lu Bram," ucap Lily.


"Mau masuk ngga nih? Atau mau reunian di luar?" tanya Bram sambil menahan kantuknya.


Sisa harinya, dia manfaatkan semaksimal mungkin untuk beristirahat. Beberapa hari terakhir, dia merasakan tubuhnya sudah tidak berbentuk lagi. Untung saja ada cermin. Bram masih bisa melihat seluruh anggota tubuhnya masih berada di tempatnya masing-masing. Hampir semua perintah tuannya, membuat pikiran, tenaga, dan tubuhnya remuk redam.


Lily segera menyerobot masuk ke dalam kamar Bram. Leon juga mengikuti langkah Lily.


"Aku tanya nona Lily. Bagaimana perasaan dan tenaga-mu beberapa hari terakhir?" tanya Bram.


"Lelah, remuk, butuh refreshing," jawab Lily.


"Nah, begitu juga dengan saya nona," jawab Bram sambil menjatuhkan dirinya ke atas kasur king size.


"Iya juga sih ya. Keknya kerjaan lu paling berat deh," tutur Lily.


Bram hanya bisa mengacungkan jempol kirinya ke udara. Dia ingin segera melanjutkan tidurnya yang entah beberapa jam lagi dapat dipastikan akan terganggu oleh suara tuannya.


"Bram, lu kalo ngantuk ngomongnya jadi aneh. Hehehe," ejek Lily.


Bram hanya menatap Lily malas. Dia ingin Lily dan Leon segera meninggalkan kamarnya. Setiap detik yang mereka habiskan sangat berarti baginya.


"Thanks, bro bantuannya," seru Bram.


"You're welcome," (sama-sama) balas Leon.


"Baksonya tolong berikan saja ke nona Lily, hoam," ujar Bram sambil menguap.


Leon segera memberikan bungkusan yang sudah dari adi siang dibawanya. Untung saja tuannya tidak dalam mode cerewet. Jika iya, telinganya harus pegal mendengar semua isi ceramahnya. Bagaimana tidak? Mobilnya sudah bau bakso.


"Ok. Makasih ya Leon," ujar Lily.


"Sama-sama nona," balas Leon.

__ADS_1


Lily segera mengambil alih bungkusan, dan beranjak pergi meninggalkan kamar.


"Tunggu nona!" teriak Leon.


Lily segera menghentikan langkah kakinya saat mendengar seruan Leon.


"Ya," seru Lily.


"Maaf atas kelancangan-ku. Aku ingin bertanya, siapa yang akan bertunangan nanti?" tanya Leon.


"Oh. Rafa," balas Lily cepat.


"Tuan Rafa. Siapa pasangannya nona?" tanya Leon penuh selidik.


Leon masih belum mendapatkan informasi yang lengkap dari anak buahnya dikarenakan tuannya itu sudah buru-buru mengajaknya ke kota hujan.


"Ya, sudah pasti dengan ...," kalimat Lily terputus.


"Aduh, maaf ni teman-teman tersayang. Ngobrolnya sambung di luar kamar ya. Aku benaran amat sangat ngantuk," timpal Bram.


"Hahaha. Astaga Bram. Bahasa lu makin aneh aja Bram. Ngalahin bahasa yang di terjemahin sama Mbah G," ejek Lily sambil terkekeh.


"Please, Ly!" pinta Bram.


Dia sudah sangat berusaha menahan kantuk yang kembali menyerangnya tiba-tiba.


"Iya, iya. Gue balik ke kamar dulu ya. Makasih Leon. Selamat tidur Bram," tutur Lily sambil berlalu pergi meninggalkan Bram dan Leon di kamar.


"Lu mau nginap di sini?" tanya Bram.


"No," jawab Leon cepat.


Leon segera pergi mengikuti langkah kaki Lily. Dia berusaha mengejar Lily. Tapi sayang, baru saja Leon muncul di belokan, pintu lift tertutup.


"Ah, terlambat," kesal Leon.


Dia melangkahkan kakinya menuju lift yang baru saja naik. Dia memencet tombol di sebelahnya. Menunggu lift yang lain berhenti dan membawanya ke tempat tujuannya.


Drt ... drt ...


Leon segera mengangkat ponsel yang bergetar di saku celana kanannya.


"Halo," sapa Leon.


"Tuan, Jeremy menemukan keberadaan nona muda," tutur si penelpon.


"Nona muda yang mana?" tanya Leon.


"Astaga tuan, nona muda kita," balas si penelpon.


"Sejak kapan ada nona muda bernama kita di mansion. Bisa tidak kau langsung saja bicara. Aku sudah sangat lelah," jawab Leon dengan kesal.


"Maaf tuan. Maksud saya. Nona muda Emily sudah ditemukan," tutur si penelpon.

__ADS_1


__ADS_2