
"Seseorang yang belum kau kenal," ucap Zack.
"Apa dia kerabatmu?" tanya Lily.
"Tidak juga. Hanya seseorang yang baru aku kenal," jawab Zack.
"Tidak masalah untukku," jawab Lily lembut.
"Thank you," ucap Zack pelan sambil mengecup pelan kening Lily.
"Jangan mesra-mesraan deh!" seru Naya.
"Eh, gue lupa masih ada elu, Nay. Hehehe," ucap Lily sambil terkekeh.
"Yuk ah, balik ke hotel! Gue gerah nih," ajak Naya.
"Sama, gue juga," balas Lily.
Lily bangkit dari kursi dan meraih tangan Zack agar mengikutinya. Mereka melangkahkan kaki menuju pintu keluar cafe.
Naya yang melihat Lily mulai beranjak pergi, segera bangkit dari kursinya. Keith membantu Naya berdiri. Dia tahu sangat sulit bagi Naya untuk berdiri di saat perutnya sudah besar. Mereka berjalan sambil bergandengan. Saat akan keluar pintu cafe, Keith menghentikan langkah kaki.
"Kenapa, Keith?" tanya Naya bingung.
"Bokap nyokap itu apa artinya, dear?" tanya Keith pelan.
"Hahaha, astaga Keith! Jadi kau tidak tahu arti bokap nyokap?" tanya Naya sambil menahan tawa yang tadi sudah pecah.
"Pelankan suaramu, dear," pinta Keith.
"Sorry. Hihihi," jawab Naya sambil menutup mulutnya.
"Jadi, apa artinya?" tanya Keith.
Keith masih penasaran dengan arti bokap nyokap. Dia tadi hanya berpura-pura mengerti agar tidak menjadi bahan bulian Lily dan Rafa.
"Bokap itu papa. Nyokap itu artinya mama," jelas Naya.
"Ah, ternyata itu artinya!" seru Keith.
"Memangnya kau kira apa artinya?" Naya balik bertanya pada Keith.
"Aku pikir artinya ada hubungan dengan nama makanan," tutur Keith.
Belum sempat Naya membuka mulutnya, Keith langsung membekap mulut Naya dengan lembut. Dia tidak ingin Naya menertawainya lagi. Mereka akhirnya meninggalkan cafe.
...✳️✳️✳️...
"Ah! Mommy!" teriak Emily.
Lily mendengar teriakan Emily segera menoleh ke belakang.
"Ada apa sayang?" tanya Lily khawatir.
"Cantik," ujar Emily sambil berjalan menghampiri Lily.
Emily bergelayut manja di kaki Lily. Dia tahu saat ini mommy-nya sedang di make up. Dia tidak ingin mengganggu.
"Mom pikir kau kenapa. Mom kaget sekali," tutur Lily pelan.
__ADS_1
"Hihihi," Emily tertawa pelan.
"Nana!" panggil Lily.
"Iya nona," jawab Nana.
Nana segera berjalan menghampiri Lily.
"Nana, apa Em sudah makan?" tanya Lily.
Lily hampir saja melupakan jadwal makan pagi Emily. Dia harus bangun pagi-pagi sekali untuk membenahi diri.
Semenjak menjadi ibunya. Emily selalu ingin makan ditemani oleh Lily. Bahkan, tidur juga harus bersama. Tugas Nana berkurang sangat banyak saat Lily menjadi ibu nona mudanya.
Gadis kecilnya sudah tidak merasa kesepian lagi. Tingkah lakunya juga menjadi normal seperti kebanyakan anak seusianya. Tidak seperti nona Emily yang dulu. Seorang anak balita yang pendiam. Hanya Nana yang menjadi temannya.
Lily mengajarkan banyak hal pada Emily. Gadis kecil itu juga sudah pandai bergaul mencari teman. Nana sangat bersyukur akan hal itu. Tuan Zack sangat pantas mendapatkan nona Lily. Setelah pengorbanan besar yang sudah dilaluinya.
"Nona Emily sudah makan, nona," jawab Nana sopan.
"Terima kasih, Nana. Aku khawatir dia belum makan," jawab Lily sambil tersenyum dan mengusap pelan puncak kepala Emily.
"Em pintar kan, mommy?" tanya Emily.
Gadis kecil itu sangat senang jika mommy memujinya.
"Tentu saja. Putri mommy pintar. Sekarang Em istirahat dulu, ok. Mom tidak ingin Em kelelahan saat pesta nanti," bujuk Lily.
"Okie-dokie mommy, cup," ucap Emily sambil mengecup punggung tangan kanan Lily.
Lily selalu saja terharu dengan tingkah Emily yang selalu memberi kejutan kecil. Padahal hanya sekedar mengecup saja. Lily dapat merasakan ketulusan dari tingkah putri kecilnya.
"Ayo sayang," jawab Nana sambil undur diri dari Lily.
"Nana!" panggil Lily.
"Iya nona," jawab Nana sambil menghentikan langkah kakinya dan membalikkan tubuhnya.
"Nana harus memakai gaun yang sudah ku pilihkan untukmu!" perintah Lily.
"Tapi nona. Gaun itu sangat bagus. Harganya pasti sangat mahal. Aku tidak berani memakainya," tolak Nana sopan.
"Please, Nana. Kau sudah seperti ibu bagiku, dan nenek bagi Em. Pakai ya Nana!" bujuk Lily sambil menangkupkan kedua tangannya.
Melihat kesungguhan hati nona Lily. Membuat Nana menjadi tidak tega. Sebenarnya Nana sangat menyukai gaun pilihan Lily. Gaun itu sangat bagus dan elegan. Warna gaunnya juga senada dengan warna gaun Lily dan nona mudanya.
Nana merasa sangat terharu atas perlakuan Lily kepadanya. Selama dia bekerja di mansion. Belum pernah diperlakukan seperti itu.
"Baiklah nona. Aku akan mengenakan gaunnya," jawab Nana.
"Terima kasih, Nana," ucap Lily sambil tersenyum.
"Oh iya, Nana. Setelah menidurkan Em. Nana harus segera kembali ke mari untuk di make up, ok," timpal Lily.
"Baik, nona. Saya permisi," jawab Nana.
"Em juga mau di make up, mommy," pinta Emily setengah merajuk.
Dia merasa jika mommy dan Nana tidak akan mengajaknya berdandan.
__ADS_1
"Tentu saja. Tapi nanti sayang. Sekarang Em istirahat dulu, ok! Nanti mommy sendiri yang akan merias wajah Em," jelas Lily lembut.
"Ok, mommy. Ayo Nana, kita tidur!" seru Emily.
Nana dan Emily segera beranjak pergi meninggalkan Lily. Kegiatan make up nya tertunda karena iklan dari Emily.
"Putri anda lucu sekali, nyonya," ucap Shinta yang merupakan MUA Lily.
Lily menanggapinya dengan tersenyum. Karena saat ini bibirnya sedang di poles.
"Papanya pasti bule. Ajarin dong nyonya gimana caranya dapet satu yang seperti papa anaknya?" tanya Shinta.
Meskipun banyak bicara, Shinta sangat profesional. Dia tetap menjalankan tugasnya sebagai MUA. Lily masih tidak menjawab. Dia tidak ingin mengulangi hingga ke sekian kali jika riasannya tidak rapi. Lebih baik di katai sombong dulu.
Shinta baru menyadari mengapa wanita yang diajaknya berbicara tidak memberi respon. Setelah sadar saat ini dia sedang merias di daerah wajah dan bibir, Shinta menertawai kebodohannya sendiri.
"Hihihi, maaf nyonya. Aku memang banyak bicara. Aku mengerti mengapa kau tidak merespon ku," ucap Shinta sambil tertawa kecil.
Setengah jam kemudian, Lily sudah siap dengan tampilan wajah yang lebih cantik. Lily menatap tidak percaya. Dia tidak percaya jika gadis yang sedang menatap dirinya adalah dirinya sendiri.
"I-ni, aku?" tanya Lily sambil tergagap.
"Tentu saja, nyonya. Memangnya siapa lagi!" seru Shinta yang juga menatap ke cermin.
"Kau hebat!" seru Lily.
Lily sangat takjub dengan hasil riasan Shinta. Sangat pantas dijuluki seorang MUA profesional.
"Tidak! Wajah anda memang sudah cantik. Ralat. Sangat cantik. Aku hanya memberi sentuhan sedikit saja," tutur Shinta.
"Bakatmu juga luar biasa. Aku sangat menyukainya. Sesuai dengan keinginanku," ucap Lily senang.
Ting tong ...
Lily beranjak dari kursinya saat mendengar bel kamarnya berbunyi. Dia tidak ingin ada keributan yang membuat putri kecilnya terbangun.
"Eits, anda mau kemana, nyonya?" tanya Shinta.
Shinta menahan Lily dengan menekan kedua pundak Lily. Lily yang tadinya akan bangkit, langsung terduduk kembali.
"Aku ingin membuka pintu," jawab Lily.
"Tidak! Anda duduk saja di sini! Biar aku yang membukanya," tutur Shinta.
Belum sempat Lily menjawab, gadis itu sudah pergi saja meninggalkannya.
Shinta segera melangkahkan kakinya menuju pintu kamar. Dia tidak ingin si tamu memencet kembali bel.
Seorang pria bule berdiri dengan gagah di hadapannya. Meskipun rambutnya hitam, warna kulit bulenya sangat kentara. Pria mengenakan jas yang di ingat Shinta setelan yang senada dengan pengantin pria.
Ya ampun. Pantesan anaknya lucu. Bapaknya ganteng kek gini. Eits ... sadar Shin. Itu laki orang. Batin Shinta.
"Maaf tuan, pengantin pria dilarang bertemu dengan pengantin wanita sebelum resmi," ucap Shinta sambil menutup pintu.
Leon terdiam saat pintu di hadapannya di banting agak kuat.
💕💕💕
Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh! Penasaran kan? Daripada penasaran sama novelnya, Yuksss mampir 😘😘😘
__ADS_1