
Mobil Zack memasuki halaman parkir rumah sakit ibu dan anak. Emily, putrinya yang baru berusia tiga tahun terserang demam tinggi. Emily berada di dekapan pengasuhnya. Amber, ibu kandungnya sibuk dengan urusannya yang tidak pernah jelas.
Dari kecil, Emily di asuh oleh pengasuh yang dipilih sendiri oleh Zack. Pasca melahirkan, Amber terserang baby blues. Dia sangat tidak suka dengan si kecil Emily. Dari awal pernikahan dia juga menolak untuk memiliki anak, hanya karena takut tubuhnya tidak bisa kembali seperti semula. Zack yang melihatnya merasa sangat kecewa dengan kelakuan Amber. Setiap harinya, Amber hanya sibuk merayu dirinya.
Tatapan mata Zack terhenti, melihat sepasang manusia yang berjalan beriringan. Tubuh Lily yang saat ini lebih berisi terlihat seperti seorang wanita yang baru hamil. Pria di sampingnya juga terlihat tampan. Dia mencengkram kemudi mobilnya dengan sangat kuat.
Api cemburu mulai berkobar. Dia menatap mereka dengan sangat tajam.
"Daddy." panggil Emily.
Zack tersadar jika saat ini prioritas utamanya adalah putrinya.
"Iya sayang." jawab Zack lembut.
"Dokternya mana?" tanya Emily pelan.
"Sebentar sayang. Dad akan parkir dulu mobilnya." jawab Zack menenangkan putri kecilnya.
Zack mengesampingkan perasaan cemburu yang menderanya. Setelah mesin mobilnya mati, dia segera meraih putrinya ke dalam gendongannya. Tubuh putrinya saat ini begitu panas. Dia berjalan sangat cepat ke ruang dokter anak. Dia sudah menyuruh Leon untuk segera memberinya nomor antrian lebih dulu. Meskipun dia seorang CEO perusahaan telekomunikasi yang sangat terkenal. Dia tidak ingin menggunakan kekuasaannya semena-mena.
"Selamat pagi, tuan. Perkenalkan saya dokter Jimmy." sapa dokter anak itu.
Zack menganggukkan kepalanya. "Putri ku sepertinya terserang demam. Tubuhnya sangat panas sekali. Pengasuhnya sudah memberinya obat pereda panas, tapi panasnya masih tidak turun." ucap Zack khawatir.
"Halo gadis cantik!" sapa dokter Jimmy.
Emily yang di sapa oleh dokter Jimmy tersenyum. Mata mungilnya berkedip menambah imut wajahnya. Mata birunya sangat menawan, persis seperti warna mata ayahnya.
"Oom dokter periksa, ya." ijin dokter Jimmy pada Emily
__ADS_1
Dokter Jimmy melakukan berbagai serangkaian pemeriksaan. Dari hasil diagnosanya, Emily terserang tipes. Dia harus di rawat selama beberapa hari ke depan sampai sehat kembali.
Zack bernegosiasi untuk merawat Emily di rumah saja. Mendengar permintaan Zack, dokter Jimmy menjelaskan beberapa hal yang harus dilakukannya saat merawat seorang pasien di rumah.
Beberapa jenis obat diresepkan oleh dokter Jimmy. Zack meminta pengasuh Emily untuk segera menebus obat yang diresepkan tadi. Sambil menunggu pengasuhnya kembali, Zack membawa Emily berjalan ke lobi rumah sakit. Disana terdapat beberapa permainan untuk anak-anak. Melihat ada mainan, sontak membuat Emily meminta turun dari gendongan Daddy nya.
"Turun Daddy." pintanya.
Zack menurunkan Emily dari gendongannya. Emily berjalan pelan ke arah perosotan. Setelah melihat putrinya aman di tempat bermain, dia memilih duduk di samping perosotan. Dia memperhatikan Emily dengan seksama.
Kau tahu, kenapa aku memberinya nama Emily. Karena aku bisa terus menyebut namamu, Lily. Nama yang hampir mirip di sebut. Zack bermonolog dalam hatinya.
Dia teringat akan kejadian yang tadi. Dimana dia melihat Lily yang sedang berjalan beriringan dengan seorang pria. Yang mungkin adalah kekasih atau suaminya. Belum lagi postur tubuh Lily yang terlihat lebih berisi sebelumnya.
Zack juga teringat akan laporan Leon beberapa bulan yang lalu. Dia mendapati vitamin untuk wanita hamil. Potongan-potongan puzzle itu mulai disusunnya satu persatu. Ketika sudah bersatu, dia tersentak. Raut wajahnya sudah tidak karuan.
"Daddy." suara kecil itu memanggilnya. membuatnya tersadar dari pikirannya. Tangan mungil Emily menggapai tanda minta di gendong.
Di sisi lain.
Lily dan Naya sudah berada di dalam mall. Hari ini mereka terlihat seperti selebriti. Kemanapun mereka pergi, setiap pasang mata pasti memperhatikan mereka. Lebih tepatnya, memperhatikan pengawal tampan mereka.
"Huh ... sumpah, bener-bener capek gue." ketus Lily.
"Kalo lu udah capek, kita pulang aja Ly. Lagian sejak kapan lu cepet capek kalo jalan-jalan? Seingat gue, lu paling doyan jalan-jalan deh," ucap Naya.
Lily memutar kedua bola matanya.
"Gue itu capek bukan capek jalan-jalan, Nay. Capek gue di ikutin sama pengawal. Udah gitu nih, lu liat! Pandangan kaum hawa beraneka warna ngeliatin kita dari tadi." Jawab Lily sambil menunjuk asal kaum hawa di sekitar nya dengan memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
Naya yang melihat ke arah yang ditunjuk Lily dengan bibirnya, langsung terkekeh. Dia sebenarnya juga merasa jengah dengan adanya pengawal. Tapi mau bagaimana lagi. Rafa sangat protektif dengan mereka. Jangankan hal kecil seperti ini. Mulai hari ini saja, Rafa sudah mempersiapkan dua orang koki untuk menangani menu makanan sehat untuk mereka. Dia tidak bisa membayangkan jika Liora mendapat perlakuan seperti mereka. Naya sampai bergidik ngeri membayangkannya.
"Lu kenapa, Nay?" tanya Lily penasaran.
Sebelum menjawab pertanyaan Lily. Naya merangkul kan tangannya ke lengan Lily dan mengajaknya berjalan ke arah food court.
"Lu laper lagi?" tanya Lily tak sabaran.
Naya hanya tersenyum. Sesampainya di food court, dia meminta Lily untuk memilih makanan yang diinginkannya dan untuknya. Selama hamil, nafsu makannya bertambah dua kali lipat bahkan lebih. Dalam sehari dia bisa saja makan sampai lima kali. Belum lagi di tambah dengan camilan.
Lily dan Naya memilih duduk di dekat jendela. Sudah menjadi kebiasaan mereka jika makan di luar selalu saja memilih dekat jendela, pojokan, atau dekat meja prasmanan. Dekat jendela, mereka bisa sambil melihat pemandangan di luar sana. Pojokan jika ada yang ingin mereka ceritakan. Prasmanan, khusus di resto hotel, memudahkan mereka untuk mengambil dan menambah makanan. Apalagi jika mereka memilih dinner yang All you can eat.
Makanan yang di pesan Lily pun tiba dan diletakkan di atas meja. Meja yang mereka pilih sebenarnya cukup luas yang diperuntukkan enam pengunjung. Akan tetapi, permukaan meja itu hampir penuh dengan berbagai macam hidangan.
Naya sampai membelalakkan kedua matanya. Dia sampai beberapa kali mengalihkan pandangannya antara Lily dan hidangan diatas meja.
"Lu ngga salah, Ly?" tanya Naya terkejut.
"Ngga lah. Perut gue udah konser maksimal. Lu juga pasti udah laper berat," jelas Lily.
Naya saat ini memang sangat lapar. Tapi tak serakus itu untuk menghabiskan semua hidangan diatas meja.
Menu mereka di hiasi dengan Chicken Steak with Mozarella, paket ayam betutu, kwetiaw daging, bakso, sushi, chicken soup, corn soup, salad buah, beberapa potong cake, dan beberapa gelas minuman kebangsaan, es teh.
Mereka memakannya dengan hikmat. Naya yang tadinya tidak yakin dengan semua makanan itu akan habis, dibuat takjub. Semua hidangan itu bersih tak bersisa. Malahan dirinya makan lebih banyak dari Lily.
Setelah selesai mengisi perut mereka. Mereka tidak langsung pulang. Mereka masih betah duduk di tempat makan. Selain itu, untuk menurunkan makanan agar benar-benar mendarat di dalam lambung dan diserap sempurna oleh tubuh.
"Aaaa ..." teriak Lily.
__ADS_1
Naya terkejut melihat Lily yang sudah basah dari atas kepala sampai pundaknya.