
Leon dan Nana menatap ke arah Emily. Mereka mengira wanita yang dipanggil 'mommy' olehnya adalah Amber. Dugaan mereka salah. Wanita yang dipanggil 'mommy' oleh Emily kecil adalah Lily.
Leon dan Nana saling pandang. Leon berpikir keras, sejak kapan nona mudanya itu memanggil nona Lily dengan sebutan mommy. Nana tak kalah herannya dengan Leon. Karena selama ini yang dia ketahui bahwa nona kecilnya itu memanggil Lily dengan sebutan aunty.
Entah sejak kapan, sebutan aunty yang biasa melekat pada diri Lily, kini berubah menjadi 'mommy'. Meski dalam kebingungan, Nana dan Leon tetao tersenyum melihat kedua wanita berbeda generasi itu saling bertukar ciuman kecil. Si gadis kecil tampak sangat menikmati saat perut kecilnya di cium berkali-kali oleh Lily.
"Aku sangat senang melihatnya," ucap Nana.
"Yah. Kau benar Nana. Aku juga sangat senang melihat mereka," timpal Leon.
"Nona Lily memang sangat cocok menjadi ibunya nona muda Emily. Mereka seperti pinang di belah dua," ucap Nana.
"Kau benar lagi Nana. Sangat disayangkan mereka tidak ditakdirkan menjadi ibu dan anak kandung. Jika iya, nona muda pasti akan menjadi anak yang selalu ceria," balas Leon.
"Maksudmu, nona muda tidak senang dibawah asuhan ku?" tanya Nana sambil melirik Leon.
"Bu-kan begitu, Nana. Maksudku, nona muda pasti akan mendapatkan kasih sayang yang utuh dan sempurna. Tidak seperti saat tiga tahun terakhir. Hanya daddy-nya yang sangat menyayanginya," jelas Leon.
"Kau benar Leon. Semuanya sudah ditakdirkan," tutur Nana.
"Bisa jadi mungkin Nana. Tuan Zack dan nyonya Amber," ucap Leon sambil memperbaiki kesalahannya dalam berucap. "Maksudku Amber," timpal Leon.
"Apa maksudmu?" tanya Nana bingung.
"Dia bukan nyonya di mansion kita lagi, Nana!" seru Leon.
Nana semakin memiringkan kepalanya. Wajah Nana menunjukkan tuntutan untuk sebuah jawaban.
"Sebulan yang lalu, saat pelarian nona Emily. Tuan Zack menceraikan Amber. Dia diberikan kepada Brandon. Dia adalah mantan kekasih Amber empat tahun lalu, sebelum menikah dengan tuan Zack," jelas Leon.
"Apa masih ada lagi yang tertinggal?" tanya Nana penasaran.
Astaga Nana. Kau sudah seperti ibu-ibu yang sangat penasaran. Leon bermonolog di dalam hatinya.
"Brandon mengira, nona muda Emily adalah putrinya. Jelas-jelas nona Emily adalah putri kandung dari tuan Zack. Setelah aku mencaritahu semua tentang Amber. Aku segera melaporkannya pada tuan Zack. Satu hal yang membuatku muak dengan wanita itu," jelas Leon.
"Apa?" tanya Nana.
Tingkat penasarannya sudah mulai meroket, bersiap mengelilingi seluruh angkasa.
"Amber melakukan aborsi saat usia kandungannya masih beberapa Minggu. Dia hamil di luar nikah. Calon bayi yang dikandungnya adalah anak dari Brandon. Karena itulah, Brandon mengamuk. Dia merasa telah dicurangi habis-habisan oleh kekasih hatinya sendiri," jelas Leon.
Leon segera memberikan kode diam untuk Nana. Dia masih ingin melanjutkan ceritanya setelah membasahi kerongkongannya yang mulai mengering. Dia mengambil botol minum milik Emily. Dengan gerakan gesit, Leon segera meminum habis air didalam botol mainan itu.
"Amber bersih. Artinya, tuan kita tidak pernah menyentuhnya sama sekali. Untuk itulah Brandon mau menerimanya kembali," jelas Leon.
"Bagaimana dengan nona muda Emily? Tidak mungkinkan seorang bayi lahir langsung menjadi besar," timpal Nana.
"Bayi tabung Nana," jelas Leon.
"Ah!" pekik Nana pelan.
__ADS_1
Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Sekarang dia tahu alasan mengapa nyonya Amber tidak menyayangi nona muda Emily. Nona Emily bukan yang dia inginkan. Dia hanya menginginkan tuan Zack dan harta kekayaan. Dia rela menghabisi calon bayinya sendiri. Pantas saja nona mudanya juga tidak begitu peduli dengan nyonya Amber.
"Sekarang aku tahu alasannya. Dasar rubah betina!" geram Nana.
"Wah, Nana! Ternyata anda bisa mengutuk seseorang," seru Leon dengan sopan.
Perbedaan umur Nana dan Leon sangat jauh. Mereka lebih cocok seperti ibu dan anak. Karen itulah, Leon selalu berbicara dengan sopan kepada Nana.
"Kau itu! Ya ampun, aku hampir lupa dengan kue-kueku!" teriak Nana sambil menepuk keningnya.
Nana segera melangkahkan kedua kakinya menghampiri dua orang wanita berbeda generasi itu.
"Nana!" pekik Lily saat melihat Nana mendekati dia dan Emily.
"Nona Lily," ucap Nana sambil memeluknya dengan erat.
Nana juga merindukan Lily. Gadis itu sangat sopan. Selain itu, dia sangat pandai mengasuh anak kecil. Wanita yang bisa mengasuh anak kecil, menandakan bahwa wanita itu sangat baik menjadi seorang ibu.
"Apa kabarmu, Nana?" tanya Lily sambil mengurai pelukannya.
"Aku baik. Bagaimana kabarmu, nona?" Nana balik bertanya pada Lily.
"Seperti yang Nana lihat. Aku juga sangat baik," jelas Lily.
Lily dan Nana sambil tersenyum dan sesekali berpelukan.
"Nana! Em tidak bisa napas," ucap gadis kecil itu sambil merentangkan kedua tangannya diantara tubuh Lily dan Nana.
Lily membenahi tubuh Emily. Dia mengangkat tubuh mungil itu dan menggendongnya. Emily memeluk erat leher Lily seolah tak ingin melepaskan Lily.
"Apa yang Nana lakukan di sini?" tanya Lily.
"Ah, aku hampir lupa lagi. Aku ahrus mengantarkan kue-kue ku untuk acara pertunangan nanti sore," jelas Nana.
"Maksud Nana pesta pertunangan jam tiga sore nanti?" tanya Lily.
"Iya benar, nona Lily," jawab Nana.
"Oh, jika benar itu adalah pesta pertunangan temanku," tutur Lily.
"Maksud anda tuan Rafa?" tanya Leon.
Leon segera menyela pembicaraan antara Lily dan Nana.
"Ma-af, aku menyela pembicaraan kalian," sesal Leon.
"Tidak apa-apa Leon. Apa ada masalah?" tanya Lily curiga.
"Ti-dak, tidak ada," timpal Leon.
"Pasti ada apa-apa," timpal Nana.
__ADS_1
"Hmm, a-ku pikir yang akan bertunangan dengan tuan Rafa adalah nona Lily," ucap Leon tak enak hati.
"What?" tanya Lily tak percaya.
"Yah, kan itu hanya tebakanku saja. Siapa suruh tuan Rafa tidak menuliskan nama lengkap mereka di kartu undangan," jawab Leon.
"Selain itu?" tanya Lily penasaran.
"Di undangan hanya tertulis R & L. Aku pikir R untuk Rafa, dan L untuk Lily," jelas Leon.
"Kau sudah gi la, ya!" teriak Lily.
"Jadi untuk siapa?" Nana giliran bertanya.
"Tentu saja L disana itu untuk Liora," tukas Lily.
"Apa yang anda maksud nona Liora Foy?" tanya Nana.
"Iya Nana. Ada apa Nana? tanya Lily santai.
"Kue-kue yang harus aku antarkan adalah kue untuk nona Liora," jelas Nana.
"Astaga Nana!" teriak Lily dan Leon bersamaan.
"Ternyata benar kata sebuah ungkapan. Dunia itu seperti daun kelor. Kemanapun kita pergi pasti suatu saat akan bertemu kembali," ucap Nana.
"Ada-ada saja Nana," tutur Lily.
"Nona Lily, tolong jaga Emily! Aku akan segera turun ke bawah untuk menyerahkan pesanan kue-kue ku," pinta Nana memohon.
💕💕💕
**Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh! Penasaran? Yuks mampir! 😘😘😘
...👇👇👇...
Gadis Scorpion**
"Where is, Minerva Bee?" tanya Austin menyeruak kumpulan orang yang sedang mengelilingi Minerva.
"Here is Me." ucap Minerva membuat seorang Austin Wycliff terpana.
Gadis yang tadi ditabraknya ternyata yang mengalahkannya kali ini. Tidak hanya itu, Minerva juga akan makan malam gratis di cafenya selama satu minggu. Austin berjalan ke arah Minerva dan bertanya siapa dia sebenarnya. Karena selama ini Austin memang tidak terkalahkan.
"Who are you?" tanya Austin sambil menatap kedua netra Minerva.
"Bukankah kau lebih tahu siapa yang kini menjadi lawan mainmu?" tanya Minerva menantang Austin.
Austin sedikit terkejut mendengar jawaban Minerva kali ini. "Baiklah, kau berhak makan malam gratis di cafeku selama satu minggu penuh. Dengan syarat kita akan tetap bermain selama itu. Kita lihat siapa yang lebih unggul di antara kita." ucap Austin sambil meninggalkan Minerva.
__ADS_1