
Lamaran kedua Zack membuat Lily sulit tidur malam itu. Sedangkan si tersangka penyebab dia tidak bisa tidur justru terlelap. Setelah di hari kejadian lamaran kedua. Akhirnya, Lily memberi Zack jawaban atas lamaran keduanya. Dia bersedia menjadi istri dan mommy untuk Emily.
Disinilah dia dan kedua sahabatnya berada, di sebuah butik khusus gaun pengantin. Mereka bertiga sedang mencoba gaun pengantin yang cocok untuk mereka.
"Ya ampun! Gue seneng banget. Kita bertiga bisa nikah barengan," seru Naya.
Diantara mereka bertiga, Naya lah yang paling heboh. Malam itu, Naya juga di lamar oleh Keith. Keith tidak ingin anak mereka lahir dalam keadaan kedua orang tuanya belum resmi menikah.
Sedangkan Liora. Gadis itu terlihat biasa saja. Liora lebih dewasa diantara mereka bertiga. Dia sangat pandai menyembunyikan sesuatu. Semenjak memiliki seorang putri, perasaan Lily lebih peka dari biasanya.
Dia menghampiri Liora yang sedang duduk di pojokan sambil melihat majalah gaun.
"Yora!" seru Lily.
"Liora, Ly," ucap Liora membenarkan.
"Ih, Yora aja. Lidah gue kadang keseleo manggil Liora," ucap Lily sambil terkekeh.
"Terserah lu aja deh," ucap Liora santai.
"Lu kenapa? Dari tadi gue perhatiin keknya kurang semangat," tanya Lily.
"Gue ngga apa-apa kok," jawab Liora singkat.
"Jangan boong sama gue! Gue tau pasti ada something wrong," jelas Lily.
"Eleh ... mentang-mentang dapet laki bule original," sela Naya.
Naya baru saja selesai fitting gaun pengantinnya. Dia melihat Lily dan Liora yang sedang duduk di pojokan. Naya segera menghampiri mereka.
"Elu udah selesai, Nay?" tanya Lily.
"Udah," jawab Naya singkat.
"Liora, elu kenapa? Jangan di pendem sendiri. Coba deh cerita sama kita-kita," tutur Lily.
"Iya bener. Cerita deh!" bujuk Naya.
Liora menutup majalah dan meletakkannya di atas meja. Dia menimbang-nimbang apa perlu berbicara dengan kedua sahabatnya atau cukup mencari solusinya sendiri.
"Beberapa hari lagi udah mau hari H loh, Yora. Ntar yang tukang make up in bingung ngeliat wajah lu," tutur Lily.
"Emang wajah gue kenapa?" tanya Liora bingung.
"Wajah elu udah kek emak-emak kalo ngoceh. Bener kata Lily. Kasihan banget sama tukang make up-nya. Bingung mau make over wajah elu kek gimana," timpal Naya.
"Hihihi," Naya dan Lily tertawa cekikikan.
Liora tahu kedua sahabatnya itu berusaha untuk menghibur dirinya. Usaha mereka sedikit berhasil. Ketegangan yang dirasakan Liora berangsur rileks.
"Tapi, kalo gue cerita jangan heboh ya?" tanya Liora.
"Janji!" seru Lily sambil mengangkat dua jari tangannya.
"Iya, gue janji," timpal Naya.
__ADS_1
Liora menarik napasnya sebelum membuka suara.
"Gue bingung dengan malam pertama," tutur Liora pelan.
Liora terlihat malu setelah mengucapkan kalimat itu. Dia langsung menundukkan kepalanya.
"Ya ampun, Liora. Gue kira apaan," teriak Naya.
"Sst, Nay. Elu mau gue pinjamin toak masjid di seberang sono?" tanya Lily.
"Oops, sorry. Habisnya gue kaget. Elu gelisah cuman karena MP sama Rafa," jujur Naya.
"Tuh kan, heboh," sesal Liora.
"Sorry deh. Namanya juga kaget. Emang ada orang kaget bisik-bisik?" goda Naya.
"Bener juga sih. Hehehe," timpal Liora sambil terkekeh.
"Gue juga sa-ma sih," ucap Lily ragu.
"Hah! Elu juga?" tanya Liora dan Naya bersamaan.
Lily hanya bisa mengangguk saja. Setidaknya dia merasa lega. Liora memiliki perasaan yang sama dengannya. Begitu juga sebaliknya.
"Oh my God! Bukannya elu udah punya Emily?" tanya Naya.
"Ampun deh, Nay! Kapan gue bunting sama lahirin Emily?" Lily balik bertanya pada Naya.
"Eh iya ya. Gue lupa," ucap Naya sambil tertawa.
"Kok pada ngeliatin gue sih?" tanya Naya.
"Elu kan pakarnya. Ceritain harus gimana?" tanya Lily.
"Pakar apaan?" tanya Naya.
"Tuh!" ucap Liora sambil menunjuk perut Naya dengan jari telunjuk kanannya.
Naya melihat arah yang ditunjuk Liora. Naya hanya bisa tersenyum dan kembali menatap kedua sahabatnya.
"Salah besar kalo nanya gue," tutur Naya.
"Udah tokcer gitu masih di bilang salah nanya," oceh Lily.
"Elu lupa ya, Ly. Ini bayi prosesnya gimana?" tanya Naya.
"Eh iya. Gue lupa," ucap Lily sambil menepuk jidatnya.
"Bearti sama aja dong. Elu juga ngga berpengalaman," seru Liora.
Mereka bertiga menghempaskan tubuh ke sandaran sofa.
"Udah deh! Ngga usah mikirin MP!" seru Naya.
"Udah gue coba, Nay. Ngga mau dipikirin malah kepikiran," tutur Lily.
__ADS_1
"Sama. Gue juga gitu. Apalagi kalian tau lah Rafa seperti apa gayanya," ucap Liora.
"Eh, kalian berdua kan udah lama sahabatan sama Rafa. Sebelum pacaran sama gue, dia pernah pacaran ngga atau deket sama cewek mana aja?" tanya Liora.
"Ngga ada sih, Yora," jawab Lily.
"Iya. Cuma kita berdua aja kok. Lagian mana ada yang mau sama si kue semprong," ucap Naya.
"Hihihi," mereka bertiga tertawa bersama.
"Jadi gimana dong? Di antara kita ngga ada yang tahu MP?" tanya Liora.
Ada rasa khawatir di sana. Mungkin dia terlalu berlebihan memikirkan hal semacam itu. Dia juga sempat berpikir, apa hanya dia yang memiliki pikiran mesum seperti itu.
Kejujuran Lily membuat hatinya lega. Perasaannya sama seperti yang dirasakan Lily.
"Udah deh, jangan dipikirin lagi! Makin dipikir makin riweh," ucap Naya.
"Iya juga sih. Mending ngurusin persiapan hari H," timpal Liora.
"Jadinya mau kek gimana, bodo amat deh. Yang paling penting siapin diri sama hati aja," tutur Lily.
"Tapi, kalo kita intip dikit di film gimana? Dosa ngga ya?" usul Lily.
"Ya ampun, Ly. Elu itu penasaran tapi takut dosa. Gimana sih, Ly?" seru Naya.
"Iya juga, ya. Hehehe," Lily terkekeh dengan kekonyolannya.
"Ok fix. Ngga usah kita bahas lagi! Kasus di tutup sampai di sini," ucap Liora sambil memukulkan tangannya ke permukaan meja dengan pelan.
"Setuju!" ucap Lily dan Naya bersamaan.
...✳️✳️✳️...
Cafe Z
Selagi menunggu wanita mereka fitting gaun pengantin. Para pria tengah asyik bersantai di sebuah cafe Z yang letaknya hanya berseberangan dengan butik.
Mereka memilih menunggu di cafe daripada harus ikut serta ke butik. Zack dan Keith tidak masalah dengan hal kecil seperti itu. Lain halnya dengan Rafa. Dia sangat tidak suka menunggu seorang wanita saat akan fitting gaun.
Masih enak menemani ke salon dari berbelanja dan fitting gaun. Waktu satu jam sudah seperti berabad-abad saja.
"Thank, Fa. Sudah menjaga Lily selama ini," ucap Zack tulus.
Zack tetap berterima kasih pada Rafa. Meskipun Rafa mengerjai dirinya dengan cara menjauhkan Lily. Dia tahu jika Rafa sangat menyayangi Lily dan Naya seperti adiknya sendiri. Dia juga tahu jika Rafa melakukan itu hanya ingin membuktikan apakah dia pantas untuk Lily atau tidak.
"Untung saja kau cepat. Jika sedikit saja kau terlambat, aku tidak akan melepaskan Lily untukmu," goda Rafa.
Zack tersenyum mendengar ocehan Rafa. Dia mengangkat gelas minumannya dan mengajak Rafa dan Keith bersulang.
"Untuk para wanita kita yang hebat," ucap Zack.
Ting ... Ting ...
Suara gelas yang beradu seperti melodi yang indah.
__ADS_1