Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 26. Tujuh Tahun Yang Lalu (Zack)


__ADS_3

Zack berjalan menuju kamar pribadi di hotelnya. Pak Alan yang tadi mengantar disuruhnya segera ke bandara untuk menjemput Amber. Tepat sepuluh menit sebelum dia tiba di hotel pribadinya, ponsel pak Alan berdering. Amber menelponnya agar segera di jemput.


Setelah sampai di kamarnya, dia segera melepaskan seluruh pakaiannya. Tempat yang paling pas untuknya saat ini adalah bath tub. Dia butuh mendinginkan seluruh tubuhnya, bahkan mungkin pikiran dan hatinya.


Zack berusaha menyelami permasalahan yang dihadapinya. Dia berbaring di bath tub dengan mata terpejam. Satu persatu bayangan masa lalu mulai kembali masuk ke dalam memorinya.


Masa lalu yang pertama muncul di benaknya adalah saat hari terkahir dia bertemu Lily. Perpisahan yang sangat menyakitkan baginya. Tanpa mengucapkan perpisahan dan parahnya tanpa memberi aba-aba pada Lily bahwa dia akan pergi.


Flash back on


Tujuh tahun yang lalu


Sabtu, 14 Febuari 2015.


Seharusnya adalah hari kencan mereka. Waktu itu mereka seperti pasangan muda umumnya. Merayakan valentine yang merupakan perayaan hari kasih sayang bagi sejuta umat pasangan muda sedunia. Zack terbilang sudah dewasa saat itu. Umur nya yang menginjak dua puluh tujuh tahun masih bisa mengikuti tren anak muda yang berpacaran.


Ini adalah yang ketiga kalinya mereka merayakan valentine. Mereka sudah berjanji bertemu di restoran biasa pukul delapan malam.


Saat itu Lily masih tinggal dengan paman dan bibi dari ayahnya. Mereka sangat ketat sekali apalagi dalam hubungan asmara. Dia tidak pernah membiarkan Zack untuk menjemputnya di rumah. Mereka selalu bertemu di tempat yang sudah dijanjikan sebelumnya.


Lily tiba di restoran tiga puluh menit lebih awal. Sebenarnya Zack juga sudah berada di restoran saat itu. Dia tiba lebih cepat satu jam. Dia juga menyamarkan tubuhnya agar tidak dikenali oleh Lily. Dia mengamati Lily dari jauh.


Lily terlihat sangat cantik malam itu. Dia memakai dress merah jambu selutut tanpa lengan. Riasannya juga sederhana, namun kecantikannya tetap memancar. Sesekali dilihatnya Lily menatap ponselnya. Melihat kesana kemari mencari seseorang yang ditunggunya.


Perasaan Zack sangat terluka melihat wanita yang sangat dicintainya mulai resah menungguinya. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, Lily masih setia menunggunya yang tak kunjung datang.


Zack dapat melihat ketika Lily mencoba menghubunginya berkali-kali. Ponselnya sengaja di nonaktifkan agar Lily tidak bisa menghubunginya.


Kristal bening mulai turun di kedua pipinya. Wajah cerianya berubah menjadi sendu. Zack hampir goyah dengan keputusannya saat melihat butiran bening itu semakin deras.


Tanpa disadarinya, air matanya juga berhasil tembus dari bentengnya. Mereka berdua menangis bersama dalam diam dengan jarak yang sedikit jauh.


Pengunjung restoran mulai semakin berkurang. Penyanyi live music telah selesai mempersembahkan lagunya yang terakhir. Lily bangkit dari kursinya. Dia melangkahkan kakinya dengan gontai. Zack ingin merengkuh Lily ke dalam pelukannya, tapi diurungkannya. Seseorang dari gedung sebelah sedang memperhatikan gerak geriknya.

__ADS_1


Setelah melihat Lily sudah menaiki tadi online. Zack segera meninggalkan restoran. Dia segera meneruskan rencananya yaitu meninggalkan kota dan Lily.


Satu bulan telah berlalu dari kejadian malam itu. Setelah semuanya terkendali, Zack mencoba menghubungi Lily kembali. Tentu saja tidak akan berhasil di awal. Dia berusaha meyakinkan Lily bahwa sejujurnya dia tidak ingin meninggalkannya. Dia juga menceritakan bahwa dia berada disana saat itu. Dia terlalu pengecut untuk menampakkan dirinya di hadapan Lily. Meskipun dengan alasan untuk melindungi Lily dari orang suruhan ayahnya.


Dia juga menjelaskan pada Lily jika dia sedang berusaha untuk melepaskan diri dari garis keturunan ayahnya yang merupakan seorang mafia. Dia tidak ingin meneruskan kekuasaan ayahnya.


Lily akhirnya yakin akan dirinya. Dia mau mencoba untuk berhubungan jarak jauh. Zack selalu rutin menelpon Lily setiap hari. Setiap malam mereka akan video call sehingga hubungan jarak jauh yang mereka jalani tidak terasa sudah berjalan hampir lima tahun.


Dalam lima tahun terakhir, Zack selalu mencari kesempatan agar bisa pulang ke Indonesia untuk menemui Lily atau sebaliknya. Meminta Lily untuk mengunjunginya. Semua itu tidak bisa terwujud. Selalu saja ada kendala yang dihadapi oleh mereka. Zack sadar siapa orang dibalik semua kendala itu. Selama masih bisa ditanganinya, dia akan menganggap semuanya baik-baik saja.


Celakanya di tahun kelima, dia mengalami suatu kejadian yang membuatnya terjebak dengan seorang wanita bernama Amber White.


Zack nekad untuk terbang ke Indonesia. Dia sudah tidak bisa menanggung beban rindunya pada Lily. Cukup sudah dia menunggu selama lima tahun ini. Akhirnya dia tahu penyebab dari kendala yang selalu menghadang setiap kali dia akan pulang ke Indonesia atau sebaliknya, Ayahnya.


"Da*n, kenapa aku begitu bodoh selama ini. Bisa-bisanya aku melupakan pria tua itu," Zack merasa sangat kesal. Dia sampai memukul kemudi dengan sebelah tangannya. Memasuki pusat kota, Zack berhenti untuk mengisi bensin.


Setelah selesai dengan urusan mobilnya, Zack segera masuk ke dalam mobil. Dia menghidupkan mesin dan perlahan menancapkan gasnya. Dia melirik ke jam tangannya. Kurang lebih dua puluh menit lagi dia akan tiba di sebelah barat kota London.


Memasuki area yang cukup sepi, Zack mengerem mendadak mobilnya. Seseorang menodongkan pistol tepat di bagian belakang kepalanya.


"Who are you?"(siapa kau?) tanya Zack tanpa takut.


"You don't need to know. I just want to finish my job as soon as possible,"(kau tak harus tahu. Aku hanya ingin menyelesaikan tugas ku secepat mungkin) ancam pria itu.


Tok ... tok ...


Seorang pria mengetuk kaca jendela mobilnya.


"Open it!"(buka!) perintah pria yang berada di dalam mobil.


"Is it a robbery?"(apakah ini perampokan?) tanya Zack.


Pria yang berada di dalam mobil hanya mendengus. Dia menyuruh Zack segera membuka pintu mobil dan mengikuti mereka.

__ADS_1


"Listen to me! I have some cash on my pocket. You can take all and the car,"(dengarkan aku! aku punya uang di dalam dompet. Kau bisa ambil semua dan mobilnya) Zack berusaha bernegosiasi dengan mereka.


"Unfortunately this is not a robbery, young man,"(sayangnya ini bukanlah perampokan anak muda) jelas pria yang mengetuk kaca jendela tadi.


"So, what do you want?"(jadi, apa yang kau inginkan?)


"You,"(kau) jelas pria yang masih menodongkan pistolnya.


"Do you want to kill me?"(apa kau akan membunuhku?) tantang Zack.


"Nop,"(tidak) jelas pria satunya.


"Just make a little scratch,"(hanya membuat sedikit goresan)


Zack tidak takut sama sekali dengan mereka. Dia mencoba mempelajari situasinya saat ini. Dia berusaha mencari celah agar bisa melarikan diri.


Pria yang menodongkan pistol ke kepalanya kini berjalan perlahan ke depan. Wajahnya berhadapan dengan Zack. Zack tidak mengenali mereka karena wajah mereka ditutupi oleh topeng. Pria itu terus berjalan mundur sambil menodongkan pistol.


Zack tak mau tinggal diam. Dia perlahan mundur selangkah demi selangkah.


"Stop! don't move!" (berhenti! jangan bergerak!) ancam pria itu.


"One more step, and I will shoot you," (selangkah lagi, dan aku akan menembak mu) ancam pria yang memegang pistol.


Bukannya takut, Zack justru semakin mempercepat langkah kakinya. Pria itu segera melepaskan tembakannya.


Dor ...


Dor ...


Duar ...


Suara tembakan diiringi dengan suara guntur menggema di kesunyian malam itu. Hujan deras mengguyur tubuh mereka.

__ADS_1


Hai.. my lovely readers. Aku ada novel yang recommended loh. Yuks... mampir!



__ADS_2