
Kedua pasangan itu berlenggang memasuki restoran. Si wanita merangkul manja lengan prianya. Mereka adalah Amber dan Zack. Jika diperhatikan mereka adalah pasangan yang sangat serasi. Si pria memiliki tubuh yang tegap, berwajah tampan, dan sepasang mata biru yang mempesona. Si wanita memiliki rambut pirang yang indah. Wajahnya yang cantik sangat pas dengan pria di sampingnya. Beberapa pengunjung yang ada di sana sempat dibuat takjub oleh mereka.
Mereka melangkahkan kaki dengan sangat seirama. Orang yang melihat pasti mengira mereka adalah pasangan yang sangat bahagia.
Mereka duduk di meja yang sudah di reservasi sebelumnya. Untung saja jarak meja makan Lily berjarak lima meja dari samping kanannya. Kelima meja itu penuh dengan pengunjung yang sedang menikmati makan siang mereka. Sehingga Lily tersembunyi dengan sempurna.
Kalau sudah dasarnya licik, tetap saja licik. Disaat hendak duduk, Amber tak sengaja melihat bayangan seorang wanita yang mulai dikenalnya. Amber menajamkan penglihatannya. Senyum licik pun terbentuk di sudut bibirnya.
"Zack, disana ada meja yang kosong. Aku ingin pindah kesana." pinta Amber dengan lembut. Amber menunjuk meja kosong yang berbeda berjarak hanya satu meja di belakang meja Lily.
Mendengar permintaan Amber, Zack menghembus kasar nafasnya. Zack menoleh ke arah meja yang di tunjuk Amber. Dia berdiri dari duduknya tanpa rasa curiga. Zack dan Amber berjalan ke arah meja yang diinginkan Amber. Kini mereka duduk lebih dekat dengan Lily.
Makan siang Lily, Rafa, dan Bram hampir selesai. Mereka masih duduk di restoran sambil menghabiskan waktu untuk bertemu klien di hotel. Hotel tersebut berada di seberang restoran mereka saat ini. Sehingga tidak memerlukan waktu lama untuk kesana.
Beberapa saat kemudian
Tiga orang pelayan mengantarkan menu makanan yang sudah dipesan Amber dan Zack. Amber memesan satu set shabu-shabu untuk dirinya. Dia mulai menyalakan kompor gas mini yang telah disediakan. Tidak perlu menunggu waktu lama, kuah kaldu yang berada di dalam panci mulai berderak. Kuah itu mulai menghangat. Amber melirik ke arah Lily dan tersenyum licik.
"Aauuwww... sayang, ini panas." Amber berteriak manja. Dia sengaja menyentuhkan jari manisnya ke panci yang mulai panas untuk menarik perhatian wanita yang tak jauh dari mejanya.
Merasa tak mendapat respon dari targetnya, Amber ingin mengulang kembali perbuatannya. Dia melirik sebentar ke arah Lily. Dia tak mendapati Lily di kursinya. "Kemana gadis itu?" dia bertanya sendiri di dalam hati. Amber berpikir keras dan penasaran kemana perginya Lily. "Kedua orang pria yang bersamanya masih berada disana. Dia pasti masih disini." ucap nya di dalam hati.
Amber memulai ritual makannya. Dia memulainya dengan mengambil bahan-bahan yang ingin dimasukkannya ke panci. Beberapa ekor udang, cumi, irisan daging, dan ayam. Setelah semua makanan hewani itu matang sesuai dengan keinginannya, Amber mengangkat dan menaruhnya ke dalam mangkuk yang sudah disiapkannya. Berikutnya, Amber memasukkan beberapa jenis sayuran dan bihun. Dia mengaduknya secara perlahan.
Sedangkan Zack hampir selesai dengan makanannya. Zack hanya memesan chicken steak. Dia tidak ingin memakan makanan yang repot, seperti Amber.
Amber menikmati memasak shabu-shabunya. Seketika dia lupa tujuannya untuk memanas-manasi Lily. Dirasa cukup matang, Amber mulai menyendok sayur-sayur yang matang itu ke mangkuknya. Tak ingin dress yang di pakainya ternoda, dia menyendok nya dengan perlahan seperti gaya putri kerajaan.
Satu sendok
Dua sendok
Tiga sen...
Bruukkk ...
Tubuh Amber limbung ke depan. Rasa panas mendera dirinya. Dua mangkuk yang berisi makanan di atas meja tumpah, isinya berserakan. Belum lagi tumpahan kuah dari panci yang masih mendidih mengenai tangan kanannya. Amber berdiri dan menjerit kesakitan.
Pengunjung di sekitar meja Amber terkejut mendengar teriakannya. Ada yang tersedak, ada yang latah melempar sendok nya ke Amber, dan kebanyakan dari pengunjung memandang tajam kepadanya. Zack hanya menatap Amber dan tidak berniat untuk membantunya.
Lily perlahan bangkit dari jatuhnya yang pura-pura. Tangan kanannya memegang kursi yang di duduki Amber sebagai tumpuan untuk berdiri.
Sibuk dengan kesakitan nya, Amber tak mengetahui jika kursinya bergeser sekitar beberapa sentimeter. Amber perlahan mendaratkan bokongnya di kursi.
__ADS_1
Prangg...
Clinggg ...
Bruuukkk...
Piring, mangkuk, sendok, garpu, dan gelas melayang di udara dan landing (mendarat) sempurna di lantai dengan irama yang indah. Bokong Amber juga tak ingin ketinggalan ikut mendarat di lantai. Amber terjatuh dari kursinya. Sebelah bokongnya tak menyentuh permukaan kursi namun melayang di udara. Tubuhnya limbung menyebabkan dia terjungkal dari kursinya.
Dress yang dikenakan Amber kini bertambah beberapa motif tiga dimensi dengan motif irisan daging, ayam, cumi, udang, bihun, dan sayuran. Ditambah dengan corak kuah kaldu di bagian bawah dress nya. Lily membuat sebuah karya yang sangat unik.
"Ooooppppsss... sorry (maaf)!" ucap Lily sambil menangkupkan kedua tangan ke mulutnya.
Wajah Amber yang semula berwarna putih, perlahan berubah menjadi merah. Dia semakin berteriak histeris.
"KAU ...!" Amber menunjuk wajah Lily. Dia berdiri perlahan. Saat ini otak dan hatinya ingin meledak. Yang dia inginkan saat ini adalah menampar Lily. Dia juga ingin menyeretnya keluar restoran. Lily telah membuatnya malu. Harga dirinya terkoyak.
Baru beberapa langkah ke arah Lily, Langkah Amber terhenti. Zack menarik lengan kanannya. Zack membisikkan sesuatu kepadanya. Amber terpaksa menahan amarahnya yang sudah sangat membuncah.
Zack memanggil beberapa pengawalnya. Dia memerintahkan mereka untuk membawa Amber pulang. Amber menolak untuk mengikuti mereka. Zack memberikan pandangan yang mengintimidasi. Dengan sangat terpaksa, Amber menuruti Zack dan pergi dengan pengawal.
Saat melihat kejadian yang menimpa Lily, Rafa dan Bram langsung berlari ke arahnya. Rafa tak ingin sesuatu terjadi lagi pada Lily. Bram segera memanggil pelayan untuk membersihkan kekacauan itu, sedangkan Rafa segera meminta maaf kepada para pengunjung di sekitar tempat kejadian. Rafa juga meminta pengunjung untuk melanjutkan makan siang mereka kembali.
Zack menatap Lily dengan intens. Lily sadar jika saat ini Zack sedang menatapnya. "hmmm... setelah sekian purnama, akhirnya kau menatapku." ucap Lily didalam hatinya.
Keadaan restoran saat itu sempat sunyi karena kejadian yang tak terduga itu. Beberapa waitress (pelayan restoran) yang sudah dipanggil Bram segera membersihkan kekacauan yang terjadi. Sehingga para pengunjung tidak terasa terganggu. Mereka kembali menikmati makan siang mereka.
Jantung Lily berdetak tak karuan. Debaran itu terasa lagi. Seminggu yang lalu dan tadi pagi , Zack sama sekali tidak menatapnya. Saat ini Zack berdiri dihadapannya dan hanya berjarak beberapa sentimeter. Lily dapat mencium aroma mint dari tubuh Zack. Aroma itu masih sama seperti yang dulu.
"Jangan pernah mencoba untuk menyakiti istriku lagi!" perintah Zack dengan tegas. Zack berkata tepat di samping kanan wajah Lily.
Ucapan Zack membuat Lily tersentak. Tubuhnya lemas dan membeku di saat yang bersamaan. Lily tidak menyangka jika Zack akan berkata seperti itu kepadanya. Zack benar-benar telah melupakan dirinya. Butiran bening itu kembali meluncur di kedua pipinya. Lily menangis tanpa terisak.
Dari meja seberang, Rafa dapat melihat Lily kembali terguncang. "Damn (Bere**sek)!" umpat Rafa. Rafa berjalan ke arah Lily. Dia tahu saat ini Lily sangat butuh sandaran. Rafa bahkan dapat merasakan sakit hati yang Lily rasakan. Langkah kaki Rafa terhenti mendapati Lily yang lagi-lagi di luar dugaannya.
Perkataan Zack membuat hati Lily terluka parah. "Baik. Kau sudah melupakanku. Kalau begitu aku akan melepaskan dan merelakan mu." ucap Lily dalam hatinya.
Segera ditepisnya sisa air mata yang menurutnya tak berarti. Lily mengatur napas dan dengan cepat dapat mengontrol dirinya.
"Aku melepaskan dan merelakan mu, Zack. Ini adalah air mataku yang terakhir. Aku pastikan tidak ada lagi Lily di hidupmu." Lily berkata dengan lantang. Lily juga menatap Zack dengan berani.
Zack menghentikan langkahnya saat mendengar perkataan Lily. Dia membalikkan tubuhnya. Kedua mata mereka kini saling menatap tajam. Zack melihat keteguhan di kedua mata Lily.
"Aku pastikan itu." balas Zack.
__ADS_1
Lily tersenyum. Apa yang dirasakannya kini sangat jauh berbeda dengan sebelumnya. Tidak ada perasaan cinta, marah, sedih, dan ragu. Semuanya hilang tak berbekas. Melihat punggung Zack yang kini pergi keluar restoran pun sudah tak membuat hatinya bergetar lagi.
"Gue baik-baik aja, Fa." belum sempat Rafa bertanya, Lily sudah menjawab pertanyaan yang belum sempat dilontarkannya. Rafa hanya terdiam mendengar ucapan Lily.
Selesai dengan tugasnya, Bram pun berjalan mendekati Lily dan Rafa. Bram mengingatkan mereka bahwa waktu untuk bertemu dengan klien di hotel tinggal sepuluh menit lagi. Bukannya Bram tega pada Lily. Akan tetapi, dia harus profesional.
"Lu masih mau ikut ke hotel atau pulang, Ly?" tanya Rafa pelan.
"Udah jauh-jauh kesini, yaa... gue ikut lah." Lily menjawabnya sambil tertawa pelan.
Lily, Rafa, dan Bram kini sedang memasuki hotel. Sesampainya di lobi hotel, Rafa segera menuju meja receptionist (penerima tamu). Rafa memesan sebuah kamar untuk Lily. Keadaan Lily saat ini jauh dari kata baik. Walaupun bibirnya berkata tidak. Tapi, Rafa tahu betul keadaannya. Sedangkan Bram dan Lily menunggu di lobi hotel.
Setelah mendapatkan kunci kamar, Rafa menghampiri Lily. Rafa memberikan kunci itu pada Lily.
"Ini apa, Fa?" tanya Lily. Kunci itu di bolak baliknya beberapa kali. Bentuk kunci kamar itu hanya berupa kartu yang bentuknya mirip dengan kartu ATM.
"Kartu remi." jawab Rafa asal.
"Ooohhh..." Lily kembali menyandarkan tubuhnya ke belakang. Punggungnya mengenai permukaan sofa dengan lembut.
Pletakkk...
Rafa mentoyor kening Lily. Lily spontan memegang keningnya. "Salah gue apa sih, Fa? Lu maen jitak aja. Lama-lama lebar juga di kening gue kayak lapangan futsal." keluh Lily.
"Ini tuh kunci kamar lu." terang Rafa sambil menunjukkan kartu yang di pegang Lily.
Lily memperhatikan kartu itu dengan seksama. Baru kali ini Lily melihat kunci yang bentuknya tidak seperti kunci di rumah atau di kosan nya.
"Udah kek kartu ATM aja. Terus kenapa dikasi ke gue?" tanya Lily.
"Lu istirahat aja di kamar. Kan yang mau ketemu klien, gue sama Bram. Mau nginep disini juga terserah elu." jawab Rafa sedikit panjang.
Rafa memanggil seorang bell boy (pelayan hotel) untuk mengantar Lily ke kamarnya. Waktu mereka hanya tinggal beberapa menit lagi. Rafa paling tidak suka jika seseorang harus menunggunya, apalagi dengan klien ataupun rekan bisnisnya.
"Makasih ya, Fa. You're the best! (kamu yang tebaik)." Lily mengucapkannya dengan sangat tulus. Tak lupa dua jempol juga diacungkan ke arah Rafa plus kedipan sebelah matanya.
Mengingat waktunya yang semakin pendek, Rafa menjawab Lily hanya dengan tersenyum. Dia memberi kode kepada Bram untuk segera bertemu kliennya. Rafa dan Bram melangkahkan kaki mereka dengan cepat. Mereka meninggalkan Lily dengan seorang bell boy.
Sepeninggal Rafa dan Bram, Lily pun segera melangkahkan kakinya mengikuti bell boy yang ditugaskan untuk mengantarnya ke kamar. Mereka menuju lift yang terletak tidak jauh dari tempat duduk Lily.
Beberapa menit kemudian Lily telah tiba di depan kamarnya. Bell boy itu juga mengajari Lily bagaimana membuka pintu dari luar dengan kartu dan lainnya.
Lily terperangah melihat kamar yang diberikan Rafa untuknya. Kamar ini lebih cocok untuk pasangan yang baru menikah. Lily mengitari setiap sudut kamar itu. Menikmati setiap fasilitas yang di berikan.
__ADS_1
"Kasur hotel emang beda sama kasur kos an." Lily berbicara sendiri sambil merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Seluruh jiwa dan raganya kini terasa lelah.
Kedua kelopak mata Lily perlahan tertutup. Dalam lelahnya, dia tertidur cepat dengan pulasnya.