Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 16. Pengakuan


__ADS_3

Sudah hampir dua bulan Lily dan Naya tinggal di apartemen sebelah Rafa. Liora juga telah kembali ke negaranya. Selama mereka tinggal di apartemen, yang mereka lakukan hanya makan, tidur, dan berjalan di sekitar apartemen.Tak heran sekarang berat badan mereka bertambah, terutama bumil.


Setiap pagi, Rafa selalu menyempatkan dirinya singgah sebentar untuk mengecek keadaan Lily dan Naya. Setelah dirasanya keadaan mereka baik. Barulah dia berangkat ke perusahannya.


Saat ini Naya sudah terbebas dari kursi roda yang selama ini menyiksanya. Kandungan dan baby nya juga sangat sehat. Perutnya sudah terlihat membuncit. Dua Minggu sekali mommy dan daddy nya selalu datang berkunjung untuk melihat keadaannya.


Awalnya mereka sangat terkejut mendengar berita itu dari Rafa dan Liora. Namun, dengan akal sehat, mereka dapat menerima keadaan putri semata wayang mereka. Karena tinggal berbeda kota, mommy dan daddy Naya hanya bisa berkunjung dua Minggu sekali.


"Aaa ..." teriak Lily.


Naya yang sedang meminum susu hamilnya sampai menyemburkan keluar susu yang baru masuk ke dalam mulutnya. Dia segera merampungkan minum susunya. Dan pergi melihat Lily yang berada di ruang tengah.


"Kenapa sih, Ly?" tanya Naya.


"Jarumnya nambah lagi satu langkah ke kanan." ucap Lily, menunjuk ke arah timbangan.


Dia berjalan ke arah sofa dan menghempaskan tubuhnya.


"Gara-gara Rafa ni." kesal Lily.


Hi ... hi ... hi ... Naya menertawai Lily.


"Eh, Nay. Besok kan kita ke dokter kandungan. Pulangnya kita singgah ke mall ya." rayu Lily.


"Hmmm... boleh juga sih. Tapi ijin dulu sama Rafa." ucap Lily sambil merebahkan tubuhnya di samping Lily.


"Oiya ... lupa gue!" ucap Lily menepuk keningnya.


"Eh ... betewe lu ngerasa ngga sih. Si kue semprong udah berasa kek suami aja." ucap Lily.


"Hi... hi... hi... iya juga sih Ly." kekeh Naya.


Naya menghela napasnya. Dia sudah berpikir dari kemarin. Ia ingin menceritakan kejadian yang dialaminya beberapa bulan yang lalu. Perlakuan dua sahabat nya membuat nya merasa tidak enak hati. Dia merasa begitu jahat telah menyembunyikan hal yang begitu penting pada mereka.


"Ly, gue mau cerita tentang kehamilan gue." ucap Naya pelan.


Lily langsung menegakkan tubuhnya. "Lu yakin mau cerita, Nay?" tanya nya.


Naya mengangguk pelan.


"Kurang lebih tiga bulan yang lalu, sama dengan usia kandungan gue saat ini. Gue dapat tugas dari Rafa buat menangani proyek yang di Bali selama lima hari. Sebenarnya proyek itu ditangani Novi. Tapi karena jadwalnya sama dengan jadwal operasi adek nya, jadinya gue yang gantiin." jelas Naya.

__ADS_1


"Bentar, Nay. Gue ke dapur dulu." ucap Lily. Dia segera bangkit dan melangkahkan kakinya menuju dapur. Tidak perlu waktu lama, ia sudah kembali ke ruang tengah dengan membawa beberapa cemilan dan minuman. Naya sampai terperangah melihat kelakuan Lily.


"Lily...Lily... gue yakin pasti besok nambah selangkah ke kanan lagi tu jarum timbangan." ucap Naya.


Dia hanya terkekeh mendengar perkataan Naya.


"Kalo udah cerita kek gini pasti lama, Nay." ucapnya sambil membuka minuman kalengnya.


Naya hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Terus setibanya gue di Bali, gue langsung ke hotel yang udah di reservasi sama kantor sebelumnya. Gue sibuk banget, keadaan proyek disana cukup repot. Malahan waktu penyelesaian proyek nya molor sehari." jelas Naya.


"Malam terakhir gue di Bali. Gue nyantai di cafe hotel dengan beberapa rekan bisnis. Waktu itu juga ada Mike. Gue baru berhubungan dengan Mike dua mingguan. Mike ke Bali juga karena ada urusan bisnis. Dia baru aja tiba, dan kebetulan nginep di hotel yang sama dengan gue." tambah Naya.


kriuk... kriuk ...


Lily mendengarkan cerita Naya sambil memakan potato chips nya. Gayanya sudah seperti seseorang yang sedang nonton telenova.


"Jadi bapak anak lu, si Mike?" Lily tiba-tiba bertanya.


"Hhmm.. gue belom kelar, Ly." ucap Naya.


"Lanjut ngga ni?" tanya Naya.


Mulut Lily penuh dengan keripik kentang, dia hanya menganggukkan kepalanya saja tanda dia setuju.


"Terus seingat gue, gue di kasi minuman sama Mike. Pas pula kan, gue haus. Jadi gue minum aja langsung. Ngga lama setelah minum, kepala gue pusing banget, pandangan mata gue berbayang, dada gue sesak, dan parahnya badan gue rasanya panas. Ngga enak banget pokoknya." jelas Naya.


"Terakhir yang gue ingat, gue di papah sama Mike kembali ke kamar. Dalam perjalanan menuju kamar, gue sempat dengar suara tumbukan. Kek suara orang saling bertinju. Habis itu gue ngga tau lagi apa yang terjadi." tambah Naya. Dengan susah payah Naya menelan saliva nya. Dia merasa kesusahan melanjutkan ceritanya.


"Nay, kalo ngga mau dilanjutin juga ngga kok. Gue ngerti." Lily berusaha menenangkan Naya.


Naya menggeleng, dia mulai bersuara kembali.


"Keesokannya gue bangun di kamar yang asing. Yang pasti bukan kamar gue. Setelah itu, lu tau sendiri apa yang udah terjadi dengan gue." ucapnya sambil mengusap perutnya.


Di genggamnya kedua tangan Naya. Dia tahu sekuat-kuatnya Naya pasti ada sisi rapuhnya. Apalagi setelah kejadian ini, Naya terlihat lebih dewasa.


"Gue ngerasa perlakuan Rafa sekarang ke gue sebagai bentuk rasa bersalahnya. Gara-gara gue gantiin Novi ke Bali, terjadilah hal yang tak diinginkan. Kemaren sempat gue bahas sama Rafa. Gue udah yakinin dia kalo ini murni kesalahan gue sendiri." ucap Naya.


"What? lu udh cerita ke Rafa?. Kok gue ngga diajak?" serentetan pertanyaan mulus keluar dari mulut Lily.

__ADS_1


"Kemaren gue udah bilang ke elu. Lu nya aja sibuk baca novel online. Terus lu bilang lu telat aja taunya ngga apa." jelas Naya.


Lily berusaha mengingatnya. Tak lama kemudian dia terkekeh sendiri. "Oh... iya ya, Nay."


"Maafin gue ya, Ly. Kalo sekarang gue baru bisa cerita sama lu." ucap Naya dengan sedih.


"iiii ... bumil melo banget deh. Ngga apa-apa kok, Nay. Gue super-duper ngerti kok." ucap Lily.


Naya senang memiliki sahabat seperti Lily dan Rafa. Sangat sulit dibayangkan jika dia sendiri dalam keadaan seperti ini. Mungkin keadaannya tidak akan sebaik saat ini.


"Udah... ngga usah dipikirin siapa bapak calon ponakan gue. Yang penting elu sama debay sehat." seloroh Lily.


Naya spontan memeluk Lily.


"Makasih banget aunty." ucap Naya sambil bersuara seperti anak kecil.


* * *


Lily berdiri resah di samping Naya. Dia tidak terbiasa bepergian dengan pengawal. Hal itu juga dirasakan oleh Naya.


Rafa menugaskan beberapa pengawal untuk Lily dan Naya. Sebelum pergi ke dokter kandungan, Rafa sudah memberitahu mereka bahwa mereka akan di kawal oleh beberapa pengawal. Mereka tidak dengan mudah menerimanya.


Lily segera menelpon Liora. Dia mengadukan perbuatan Rafa pada mereka. Dia berharap Liora dapat membantu mereka lepas dari pengawal.


Namun, dengan berat hati Liora menolaknya. Bukannya dia tidak ingin membantu. Tapi Rafa sudah mengabarinya lebih dulu agar tidak membantu Lily maupun Naya jika mereka mengadu.


Tibalah mereka di parkiran rumah sakit ibu dan anak. Ketika mereka turun dari mobil, hampir semua orang yang melihat mereka terperangah. Mereka bagaikan orang kaya ataupun kolega dari seorang pejabat. Walaupun pengawal yang diberikan Rafa hanya memakai kaos oblong dan celana jeans panjang. Tetap saja terlihat seperti pengawal.


Lily dan Naya jalan bergandengan. Mereka benar-benar merasa aneh dengan perlakuan ini. Awas aja kue semprong. Ntar sore kalo ketemu, habis lu. Gerutu Lily dalam hati.


Pemeriksaan kehamilan kali ini tidak lama. Tidak ada hal-hal yang mengkhawatirkan. Kondisi ibu dan bayinya sehat.


Selesai pemeriksaan, Lily segera mengarahkan pengawal untuk mengantar Naya kembali ke mobil dan menunggunya di sana. Dia yang akan pergi menebus obat Naya di apotik bersama seorang pengawal.


Sepanjang perjalanan ke apotik, dia dapat melihat dengan jelas pandangan kaum hawa yang melihat pengawalnya. Pengawal yang di bawa Lily cukup tampan. Tubuhnya tinggi dan kekar. Terlihat dari otot lengannya yang menyembul keluar dari lengan kaosnya. Wajar saja kaum hawa mengaguminya.


Setelah selesai menebus obat Naya. Lily segera kembali ke mobil. Tujuan mereka setelah ini adalah mall terdekat. Jadi, dia tak ingin membuang waktu. Rafa memberinya mereka waktu hanya tiga jam di mall.


Lily berjalan beriringan dengan pengawalnya. Dia yang menyuruhnya untuk berjalan beriringan. Rasanya aneh saja, tiba-tiba diperlakukan seperti inces.


Perjalanan Lily kembali ke mobil, bertepatan dengan masuknya sebuah mobil mewah ke halaman parkir rumah sakit ibu dan anak. Seseorang yang berada di dalam mobil itu menatap tajam ke arah Lily dan pria di sampingnya.

__ADS_1


__ADS_2