
Tangisan Emily membuat hati Lily sakit mendengarnya. Ingin sekali dia membalikkan tubuhnya dan menenangkan gadis kecil itu.Tapi ucapan Zack yang telah menyakitkan hatinya berhasil membuat dia untuk tidak menoleh ke belakang.
Zack melihat kepergian Lily dengan perasaan kacau. Maksudnya ingin membangun kembali percakapan antara mereka berdua justru membuat Lily pergi.
Emily yang berada di gendongannya masih setia mengeluarkan air matanya. Kedua matanya mulai terlihat sembab. Dia tak henti-hentinya memanggil nama Lily. Putri kecilnya benar-benar sudah jatuh cinta pada Lily.
Zack membawa Emily kembali ke kamarnya. Suara tangisnya mulai mereda tapi sesekali masih terisak.
Nana yang dari tadi melihat terserang kebingungan. Satu hal yang pasti yang dapat dia simpulkan bahwa diantara tuannya dan nona Lily pasti ada sesuatu. Mereka mungkin sudah saling mengenal jauh sebelumnya. Dia tidak ingin berkutat pada pikirannya itu. Semakin dipikirkan kepalanya semakin pusing.
Emily yang dari tadi menangis akhirnya diam. Dia tertidur karena kelelahan menangis. Baru kali ini Emily menangis sangat lama dan sulit untuk ditenangkan.
Zack menyelimuti putri kecilnya dengan selimut. Dia sengaja membawa Emily ke kamarnya. Dia juga menyuruh Nana untuk beristirahat di kamar sebelah.
Dia menatap wajah damai putrinya. Dibelainya rambut Emily dengan lembut.
"Apa kau juga menyayanginya Em?" tanya Zack pelan.
"Dia memang wanita yang baik. Seandainya saja Dad berjuang sedikit lagi, dia pasti menjadi mommy mu," lirihnya sambil merebahkan tubuhnya di samping putri kecilnya.
* * *
Huwa ...
Suara tangis Emily kembali pecah. Zack terkejut dan terbangun dari tidurnya. Rupanya dia juga tertidur saat merebahkan tubuhnya di samping Emily tadi pagi.
"Putri dad kenapa hm?" Zack merengkuh tubuh putrinya dan mengusap punggungnya perlahan.
"Em ma-u au-n-ty," jawabnya terbata sambil menahan tangisnya.
Astaga, putri kecilnya itu masih mencari Lily. Zack pikir dia akan melupakannya. Seperti biasanya Emily sangat mudah melupakan sesuatu jika sudah dialihkan dengan yang lain. Kali ini berbeda. Lily sudah mendapat tempat di hatinya.
"Baiklah. Ayo kita cari aunty!" ajak Zack dengan tersenyum.
Emily langsung mengangguk dan merekatkan pelukannya pada Zack
"Tapi Em harus janji berhenti menangis dulu dan tidak boleh menangis lagi," bujuk Zack.
Gadis kecil itu segera mengelap kedua pipinya dengan kedua tangan mungilnya. Dia juga berjanji tidak akan menangis lagi.
Mereka keluar dari kamar dan menuju receptionist. Mereka turun menggunakan lift karena tempat yang mereka tuju berada di lantai satu. Lift yang mereka naiki saat ini berada di lantai sebelas. Tiba di lantai sembilan lift berhenti. Seorang gadis masuk tanpa melihat orang yang berada di dalam lift. Dia sibuk dengan layar ponselnya. Tangannya terhenti di layar ponsel saat mendengar seseorang memanggil namanya dengan sebutan berbeda.
"Lily, aunty!" panggil kedua orang itu.
Lily segera menoleh. Belum sempat dia menghindar, Emily sudah merengkuhnya dengan kedua tangannya. Meskipun dia masih kecil, cengkeramannya terasa sangat kuat seolah-olah dia takut akan kehilangan orang yang dicarinya lagi.
Lily segera membenarkan tubuh Emily dan menggendongnya. Gadis kecil itu memeluknya sangat erat. Dia menepatkan kepalanya tepat di pundak Lily.
"Aunty jangan pergi lagi. Em rindu aunty."
__ADS_1
Ucapan polos gadis kecil itu berhasil menembus hatinya. Ada perasaan pilu ketika mendengar ucapannya. Dia mengusap punggung gadis kecil itu untuk menenangkannya. Emily kembali terisak namun tidak sekencang tadi.
"Please." Zack memohon pada Lily untuk tetap tinggal. Jika dia memaksa Emily dari gendongan Lily, sudah bisa dipastikan dia akan menangis lagi.
"Em sangat menyayangimu. Lihatlah kedua matanya! Matanya sampai bengkak karena menangisi mu. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya," jelas Zack panjang lebar.
Lily hanya diam mendengarnya. Baru kali ini Zack bicara padanya panjang lebar dengan suara yang lembut khas dirinya. "Untuk istri tercintamu, kau suruh aku untuk tidak mengganggunya. Sedangkan untuk anakmu kau pinta aku menjadi pengasuhnya. Enak sekali hidupmu Zack," Lily bermonolog di dalam hatinya.
"Aunty, apa Em nakal?" tanya Emily tiba-tiba. Dia mengangkat kepala dan menatap wajah Lily.
"Tidak sayang. Emily anak baik."
"Kalau Em baik, kenapa aunty tidak mau berhenti saat Em menangis."
"Oh itu, aunty kebelet sayang. Makanya aunty buru-buru pergi," bohong Lily pada Emily. Alasan kebelet sangat masuk akal. Siapapun bahkan anak kecil pasti tahu jika kebelet tidak akan bisa ditahan.
"Oh, kenapa aunty tidak pakai pempes?" tanya Emily dengan polosnya. Kata pempes yang keluar dari bibir mungilnya terdengar sangat lucu. Hanya kata itu yang belum bisa diucapkannya dengan benar.
"Aunty kan sudah besar mana mungkin pakai pampers lagi," jawab Lily dengan berpura-pura merajuk.
Ha ... ha ...
Tangisan Emily berganti menjadi suara tawa yang sangat renyah.
"Jangan-jangan Em yang masih pakai pampers," timpal Lily.
"ah, no ... no aunty. Em sudah besar. Sudah tidak pakai pempes lagi," jawabnya segera.
Zack tersenyum melihat pemandangan di depannya. Emily tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Selain Nana, tidak ada wanita yang dekat dengannya termasuk ibu kandungnya sendiri.
Ting
Pintu lift terbuka. Mereka telah tiba di lantai satu. Lily segera menyerahkan Emily pada Zack. Tidak terima akan diserahkan pada daddy nya. Emily justru menahan tubuhnya dan merekatkan pelukannya.
"Em tidak mau. Em mau sama aunty saja," pintanya.
"Sayang, aunty hanya akan pergi sebentar," jelas Lily.
"Em ikut aunty saja," pintanya dengan suara yang keras.
"Ini masih agak panas sayang. Aunty tidak ingin Em sakit," bujuk Lily.
"Em anak kuat aunty. Em ikut aunty!" perintahnya dan tidak mau di ganggu gugat.
Lily menatap Zack meminta bantuan padanya. Zack justru berpura-pura tidak melihat ke arahnya.
Dug
Lily menghampiri Zack dan menginjak kakinya. Dia kesal, Zack tidak bisa diajak bekerjasama.
__ADS_1
"Auw, kau memang tidak berubah. Jika kesal selalu saja menginjak kakiku," ucap Zack sambil meringis sakit.
Zack sebenarnya sangat senang melihat tingkah Emily seperti itu. Dia selalu ingin menempel terus dengan aunty nya. Artinya sangat memudahkan bagi Zack untuk mendekati Lily kembali.
"Kak Lily!" suara dua orang yang kompak memanggil Lily.
Kedua adik sepupunya sudah tiba. Mereka berjanji akan menemani Lily untuk wisata kuliner hari ini. Mereka berlari menghampiri Lily.
"Zack kumohon ambil Emily. Aku sudah terlambat," pinta Lily.
Dengan terpaksa Zack megambil Emily dari gendongannya. Namun tidak berhasil. Emily semakin mengeratkan pelukannya.
"Bagus sayang. Kau hebat," Zack berkata didalam hatinya. Lagi-lagi dia merasa senang melihat Emily seperti itu.
"i ... lucunya. Anaknya kak Lily ya?" tanya adik sepupunya.
Lily sempat mencubit lengannya pelan. "Anak temen," gerutunya.
"Di bawa aja kak. Pontianak kan nda terlalu besar kotanya. Jadi nda bakalan capek kalo diajak keliling-keliling," timpal adik sepupunya yang lain.
"Kenalin ini Atika, dan ini Bilin."
Lily memperkenalkan kedua adik sepupunya pada Zack. Mereka saling memperkenalkan diri dan bersalaman.
"Kalian mau kemana?" tanya Zack.
"Mau nambah berat badan kak," ucap Atika sambil tertawa.
Zack tersenyum mendengarnya.
"Tidak apa-apa ya jika Emily ikut kalian?" tanya Zack.
"Nda apa-apa kak. Nanti kita bisa jagain," jawab Bilin.
"Iya kak tenang aja. Bilin kan udah biasa jadi pengasuh," goda Atika.
"ish kau tu. Mana ada," oceh Bilin.
Zack tersenyum melihat tingkah mereka berdua.
"Aunty, Em ikut aunty," pinta Emily lagi dengan wajah memelas.
"Aduh lucunya," Atika mencubit gemas pipi Emily. Dia hanya tersenyum saja saat pipinya di cubit pelan oleh Atika.
"Please, Ly. Lakukan saja demi Emily," bujuk Zack.
Akhirnya mau tidak mau Lily membawa Emily serta mereka. Zack juga tidak mau membuang kesempatan ini. Dia turut serta dengan mereka. Mereka keluar dari hotel bersama.
Dari balik resto yang juga terletak di lantai satu. Sepasang mata menatap tajam pada Zack.
__ADS_1
~Hai my lovely readers. Aku ada novel yang recommended loh.. Yukss mampir!~