Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 32. Bilin


__ADS_3

Selesai dengan wisata kuliner mereka yang pertama, mereka lanjut pergi ke salah satu mall di kota itu. Mereka memilih mall yang terdekat. Karena waktu mereka sangat pendek. Dua adik sepupunya harus sekolah besok.


Mereka membawa Emily bermain di mall karena merasa kasihan dengannya yang dari tadi hanya mengikuti mereka berkeliling di jalanan. Lily meminta mereka untuk berkeliling saja setelah menikmati bubur pedas. Dia merindukan jalanan yang dulu pernah dia lalui waktu kecil dulu.


Banyak sekali yang sudah berubah dari kota ini. Semuanya tampak lebih modern. Banyak hotel-hotel besar yang di bangun dengan jarak yang tidak begitu jauh antara satu hotel dengan yang lainnya. Jalanan yang dulunya sempit kini tampak lebih lebar. Taman kota juga sudah bertambah satu.


Banyak perumahan elit yang sudah di bangun. Tata kota nya juga terlihat rapi dan cantik. Satu hal yang menarik di kota ini, masih banyak terdapat pohon-pohon di pinggir jalan dan hutan kecil di tengah bundaran Untan. Pohon-pohon itu di rawat dengan baik. Sehingga hampir tidak ada kecelakaan karena tertimpa pohon atau pohon tumbang.


Kota Pontianak tidak begitu luas sehingga tidak memakan banyak waktu untuk bepergian. Tapi anehnya, orang-orang disini justru menganggap jika pergi dari satu tempat ke tempat lain itu sudah jauh jaraknya. Bagaimana jika mereka tinggal di Jakarta. Mau singgah ke seberang jalan saja kadang harus memutar kendaraan terlebih dahulu.


Beberapa saat kemudian mereka tiba di mall yang terletak di jalan Ahmad Yani. Komplek ma ini sangat besar dan luas. Banyak terdapat beberapa ruko yang menjual makanan, mini market, barang pecah belah, dan masih banyak lagi.


Emily terlihat sangat antusias. Gadis kecil ini jika sudah ke mall senangnya bukan main. Bilin dan Atika segera mengajaknya ke area bermain anak-anak yang terletak di lantai tiga.


Mereka berempat menemani Emily bermain sambil duduk di pinggiran. Zack sesekali mendekati Emily jika dia memerlukan bantuannya. Sedangkan Lily, Atika, dan Bilin sibuk berselfie ria.


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Emily tampak sudah mulai kelelahan. Bukan hanya Emily saja. Akan tetapi, mereka berempat juga terlihat lelah. Mereka memutuskan untuk pulang.


"Udah di pesen belom taxi onlinenya?" tanya Lily pada Atika.


"Udah kak, tapi udah tiga kali di cancel."


"iii ... Bilin udah ngantuk dah nie," rengek Bilin sambil merebahkan kepalanya ke pundak Atika.


"ish ... ape sih Bilin nie!" keluh Atika yang merasa keberatan karena kepala Bilin yang menyender di bahunya.


"Lamak benar gak eee mobilnya nie," rengek Bilin lagi.


"Hmm ... Bilin kalo rewel lagi besok-besok ngga usah ikut aja. Ngga malu apa sama Emily. Emily aja ngga rewel kayak Bilin," oceh Lily.


"Ah bener tuh kak. Nanti hari Selasa kita tinggalin aja," timpal Atika.


Bukannya berhenti rewel, Bilin justru semakin menjadi. Dia seperti tidak ada malunya padahal mereka berada di depan pintu masuk mall. Untung saja disana terdapat empat kursi panjang di depan pintu masuk mall. Dua kursi di sebelah kanan, dan dua kursi di sebelah kiri. Sehingga pengunjung bisa menunggu jemputan atau taxi online tanpa lelah. Mereka duduk di kursi sebelah kanan. Taxi online yang mereka pesan akan tiba sekitar lima belas menit lagi.

__ADS_1


Zack berada sedikit jauh dari mereka karena banyak ibu-ibu yang ingin duduk, jadi dia mengalah untuk mereka. Sedangkan Emily sangat setia di dalam dekapan Lily. Gadis kecil itu bahkan terlihat mengantuk. Dia terlihat tidak bertenaga untuk mengoceh dan bermain lagi.


"Aaa ... kak Lily!" teriak Bilin.


"ish, kenapa sih Bilin?" tanya Lily sambil mengoceh.


"Itu kak, ganteng banget kek cowok Korea!" ucap Bilin sambil menunjuk ke arah seorang remaja laki-laki yang sedang duduk di tangga masuk mall.


Rasa kantuknya hilang seketika. Lily dan Atika sampai geram dibuatnya.


"iii ... giliran liat cowok ganteng langsung melek tuh mata," Lily langsung mencubit pelan lengannya.


Bilin tidak sadar dengan perlakuan Lily. Dia justru menggaet lengan Atika dan mengajaknya menghampiri remaja pria itu.


"iii ... ape sih Bilin? pergi sendiri sana!" protes Atika. Dia melepaskan rangkulan tangan Bilin.


"Ayolah, Tika. Kite samperin. Mukenye tu kek Logan, model remaja cowok Korea," pinta Bilin.


"Eh Bilin, jangan gitu deh jadi cewek!" oceh Lily. Dia tidak berani terlalu keras menegur adik sepupunya itu karena Emily sudah tertidur di dalam dekapannya.


"Bang ... bang 08 berapa bang?" tanya Bilin sambil cengar-cengir.


Lily dan Atika melihat remaja itu hanya berlalu saja dari hadapan Bilin. Dia sama sekali tidak memperdulikan pertanyaan Bilin. Menit berikutnya, mereka kompak menertawakan Bilin.


"ish ape jak? sok jual mahal," gerutunya sambil menghentakkan kakinya bergiliran.


"Ee ... udah dia sendiri yang salah malah nyalahin orang lain. Yang pecicilan siapa?" oceh Lily.


Zack yang melihat dari jarak yang tidak begitu jauh juga ikut terkekeh. Lily melihatnya sedang ikut menertawakan Bilin. Terbesit dalam pikiran Lily untuk menyuruh Zack yang meminta kontak remaja pria itu. Hitung-hitung mengerjainya selagi ada kesempatan.


"Zack! bisa bantu gadis pecicilan ini?" tanya Lily sambil memonyongkan bibir bawahnya dan menunjuk ke arah Bilin.


Zack mengangkat sebelah alis matanya. Dia pun beranjak dari tempatnya bersandar.

__ADS_1


"Baiklah. Apa yang kalian mau?" tanya Zack


"Apa kau bisa meminta nomor kontak remaja pria itu? tanya Lily sambil menunjuk ke arah remaja tadi. Remaja itu kembali ke posisinya semula.


"Dia?" tanya Zack sambil menunjuk ke arah remaja itu.


"Iya, dia. Memangnya masih ada lagi remaja pria lain yang ada disana," oceh Lily.


"Ok. Beri aku waktu tiga menit. "


"Sombong amat nie bule," gerutu Lily.


Zack berjalan mendekatinya. Sontak Bilin menjerit kegirangan. Dia segera menyembunyikan tubuhnya di belakang Lily.


"iii ... beneran kak Zack. Kok benaran sih kak Lily?" tanyanya malu-malu.


"Lah aneh, die sendiri yang kepengen tau nomor kontaknya malah sembunyi. Wah parah nie Bilin," ucap Lily.


"Tau nih. Udah di bantuin malah sembunyi. Eh ... tapi nanti bagi ya Bilin kontaknya," timpal Atika sambil merayu Bilin.


"Eleh ... lebih parah ternyata diam-diam mau," balas Bilin. Dia masih betah berada di belakang punggung Lily.


Ting ... Ting ...


Dua pesan masuk ke ponsel Atika. Pesan itu dari sulit taxi online. Dia mengatakan bahwa mobil sudah siap dan sudah berada tidak jauh dari mereka. Bilin langsung berlari ke arah taxi online. Dia tidak mau jika nanti ketahuan meminta nomor remaja itu.


Bilin akhirnya memasuki mobil dengan perasaan khawatir. Kepergiannya kemudian diikuti oleh Atika dan Lily.


"Pak, tunggu sebentar ya. Teman saya masih mengobrol diatas sebentar.," ucap Lily sopan.


"Nda ape-ape kok dek! Abang tunggu, tenang jak," ucap supir taxi itu.


Tidak perlu menunggu waktu lama. Zack berjalan ke arah taxi online. Wajahnya terlihat sendu. Bilin yang melihat wajah sendu Zack langsung terdiam. Harapannya sedikit pupus.

__ADS_1


~Hai my lovely readers. Aku ada novel yang recommended banget loh. Yukss mampir!~



__ADS_2