
Lily sangat menikmati waktunya saat ini. Sepulangnya dari hotel besok, dia akan segera menemui Rafa dan berterima kasih.
Hari ini sangat melelahkan dan menyita seluruh energinya. Kejadian yang terduga membuatnya ekstra berpikir untuk membalik keadaan. Setelah mendengarkan beberapa lagu yang di request oleh beberapa pengunjung lain, kini giliran lagu yang di request Lily dan Naya yang di nyanyikan.
Live music memang lebih keren. Selain bisa mendengar penyanyi bernyanyi secara langsung, pengunjung bisa merequest lagu yang diinginkan bahkan dapat bernyanyi bersama.
"Kali ini saya akan membawakan sebuah lagu, request dari kakak-kakak cantik yang duduk di sebelah sana. Nanti bareng-bareng ya kak, nyanyinya." ucap penyanyi cantik itu.
Prok... prok... prok ...
Suara tepuk tangan pengunjung membahana memberi semangat kepada penyanyi.
🎵 🎵 🎵
Wish I could, I could've said goodbye
I would've said what I wanted to
Maybe even cried for you
If I knew it would be the last time
I would've broke my heart in two
Tryna save a part of you
Pengunjung yang tak asing dengan lagu itu mulai mengikuti nyanyiannya. Lily dan Naya tidak mau ketinggalan. Apalagi di bagian Reff nya.
Lily dan Naya mulai bernyanyi. Lagu ini seperti mewakili perasaan mereka.
🎵 Reff
Don't wanna feel another touch
Don't wanna start another fire
Don't wanna know another kiss
No other name fallin' off my lips
Don't wanna give my heart away
To another stranger
Or let another day begin
Won't even let the sunlight in
No, I'll never love again
When we first met
I never thought that I would fall
I never thought that I'd find myself
Lying in your arms, mm, mm
And I wanna pretend that it's not true
Oh, baby, that you're gone
'Cause my world keeps turnin', and turnin', and turnin'
And I'm not movin' on
Back to reff.
...........
Wooo...
Prok... prok... prok..
Pengunjung resto berteriak dan bertepuk tangan. Mereka menikmati lagu itu sampai akhir.
"Gila... kena banget ke hati." ucap Naya.
"iiihhh ... emang lu punya hati?" tanya Lily mengejek.
__ADS_1
Naya menyikut lengan Lily. "Ngga ada, Ly. Adanya cuma ampela." ketus Naya.
"Di masak jadi sambel enak kek nya." tambah Lily.
"Lily...!" Naya mencubit pelan lengan kiri Lily.
"Auuw... sakit, Nay." imbuh Lily.
Ha... ha... ha... Mereka menertawai kelakuan mereka sendiri.
"Lempeng banget hati gue, Nay." ucap Lily.
"Sama, gue juga lempeng." Naya menghela napas dan menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Caela... cuma hati patah doank." ketus Lily.
"Cie... udah ikut-ikutan bilang hati patah." goda Naya.
Ha... ha... ha... Lagi-lagi mereka tertawa.
***
Perut yang kenyang membuat Lily terserang kantuk. Diajaknya Naya untuk kembali ke kamar. Yang dia inginkan saat ini adalah kasur kamar hotelnya yang empuk.
Mereka memilih berjalan dan menaiki tangga dari pada menggunakan lift. Hitung-hitung membakar lemak setalah makan. Lagipula lantai kamar Lily menginap hanya berjarak satu lantai.
Setibanya di kamar Lily langsung menghamburkan dirinya ke kamar mandi. Sebelum tidur, ia terbiasa menggosok gigi dan mencuci mukanya. Selesai dengan ritualnya, dia segera kembali ke tempat tidur dan menghempaskan tubuhnya diatas kasur.
Matanya sudah terasa berat. Yang dibutuhkannya hanya tinggal menutup matanya dan memanggil sang mimpi.
"Gue hamil, Ly." ucap Naya.
"Udah deh, Nay becanda nya. Gue ngantuk berat nih." ucap Lily sambil merapatkan guling yang dipeluknya.
"Usia kandungan gue udah jalan lima Minggu, Ly." terang Naya.
Perkataan Naya berhasil menarik respon Lily. Dia membalikkan tubuhnya menghadap Naya.
"Please, Nay. Jangan ngadi-ngadi deh. Gue ngantuk berat." ucap Lily setengah sadar.
Hening sesaat. Tak ada sahutan dari Naya. Lily membuka sebelah matanya. Dia sangat terkejut mendapati Naya menangis tanpa bersuara.
Rasa kantuknya seratus persen hilang. Direngkuhnya tubuh Naya. Saat ini dia dapat merasakan kesedihan Naya. Banyak pertanyaan yang ingin dilontarkannya. Namun ia sadar bahwa ini bukanlah saat yang tepat. Tangisan Naya yang tidak bersuara, kini pecah. Naya meringkuk dalam dekapannya.
* * *
Lily mengambil segelas air putih untuk Naya. Perasaannya sangat kacau. Apa yang terjadi pada Naya? Bagaimana Naya bisa hamil? Siapa pria yang harus bertanggung jawab?. Lily bermonolog dalam hati.
Naya meraih segelas air yang diberikan Lily dan langsung meminumnya.
Gluk... gluk... gluk ...
"Tambah lagi, Ly!" perintah Naya memberikan gelas yang sudah kosong pada Lily.
"Kemarau ya, Ly?" tanya Lily.
Ha... ha... ha... Lily dan Naya tertawa.
***
"Gue hamil, Ly." ulang Naya.
"Iya. Gue udah denger tadi, Nay." ucap Lily.
"Nay, banyak pertanyaan yang mau gue tanyain ke elu. Tapi, gue rasa ngga usah di bahas aja, Nay. Gue hanya menerka-nerka aja, Nay. Lu sampe kek gini pasti ayah dari calon bayi lu ngga tau atau ngga mau tanggung jawab." Lily berkata panjang lebar.
"Saran gue, sebaiknya sekarang lu fokus rawat calon baby lu, Nay." tambah Lily.
Naya terdiam. Penjelasan Lily sangat masuk akal. Untuk apa gue menangisi keadaan gue. Calon bayi gue ngga bersalah. Ini murni kesalahan gue. Naya bermonolog dalam hati.
Anggukan Naya menunjukkan bahwa dia setuju dengan usulannya. Dia memeluk Naya dan memberinya dukungan.
"Maafin gue ya, Nay. Gue ngga tau lu sampe kek gini." sesal Lily.
Naya mengurai pelukan. Naya menatap Lily dan berkata "Ngapain gue harus maafin lu. Ini murni kesalahan gue."
"Gue ngga ada di saat lu butuh gue, Nay. Gue aja ngga tau selama ini lu berhubungan dengan siapa." ucap Lily sedih.
"Ly, elu itu bertahun-tahun yang lalu udah ke beban sama perasaan elu. Gue ngerti kok keadaan lu. Lagian sekarang kan elu ada disini nemenin gue" terang Naya .
__ADS_1
Lily tersenyum senang. "Eh ... bukannya ke balik ya, Nay? Kirain gue, elu yang datang ngibur gue. Secara hari ini gue ketemu Zack and the gang udah kayak minum obat, sehari tiga kali." ucap Lily sambil tertawa.
"Ee... iya. Kok tadi lu bisa tau kamar gue?" tanya Lily.
"Ya iyalah. Gue tau dari Rafa. Lagian tadi gue udah di lobi. Gue cuma perlu ijin lu aja. Makanya gue nelpon." terang Naya sambil mengangkat kedua alis matanya.
"Pantesan cepet banget. Terus tadi lu kenapa nelpon lagi?" tanya Lily.
"Oh... itu. Gue kepencet deh keknya." seloroh Naya.
Lily menahan rasa geramnya. Jika saja dia tidak ingat kalau sahabat baiknya sedang di landa kesedihan, dia pasti sudah menjitak keningnya.
Hoam... Lily menguap sambil menutup mulutnya. Naya tak ingin mengganggu kantuk Lily lagi. Naya merebahkan dirinya di samping Lily, dan menarik selimut untuk mereka berdua.
* * *
Kring ... Kring ... Kring ...
Suara alarm sangat memekakkan telinga Lily. Ia meraihnya, dan membuka sebelah matanya.
07.30 waktu yang tertera di layar ponselnya. Lily menatap Naya yang masih tertidur. Dia mengguncang tubuh Naya dengan pelan.
"Nay ... bangun, Nay! breakfast loh." hoam ...
Lily menguap menutup mulutnya, matanya masih terasa ngantuk saat membangunkan Naya. Tubuh Naya sedikit bergerak. Dia mulai meregangkan ototnya.
"Jam berapa Ly?" tanya Naya sambil menutup mulutnya karena menguap.
"Setengah delapan. Yuk ah ... buruan turun sarapan." Lily masih tidak tega berpisah dengan kasur empuk itu, namun kenyataan harus dihadapi. Jika tidak bersiap sekarang, dia pasti akan terlambat ke kantor.
Dengan gontai Lily melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Satu jam kemudian ...
"Buruan dong, Nay. Ntar terlambat. Ngga enak juga kan sama Rafa." perintah Lily.
Naya masih santai bahkan setelah sarapan, Naya memilih untuk tiduran lagi.
"Lu ngapain mau masuk kerja kalo di kasi cuti?" pertanyaan Naya membuat Lily terkejut.
"Maksud lu, Nay?" tanya Lily.
"Rafa kan kasi cuti buat kita berdua selama tiga hari." jawab Naya.
"What? beneran Nay?." tanya Lily tak percaya.
" Ya beneran lah." jawab Naya sekenanya.
"Kok gue ngga dikasi tau?" tanya Lily dengan nada cemberut.
"Lah ... ini kan baru gue kasi tau." balas Naya.
"iisshh ... apaan sih lu, Nay? Emang dalam rangka apa Rafa kasi cuti plus fasilitas?" tanya Lily lagi.
"Pertama, Liora datang. Kedua, gue kemaren kasi tau Rafa tentang kehamilan gue." jelas Naya.
Mulut Lily berhasil membentuk huruf O.
"Ly ... entar kejadian kek gue lagi loh! insiden nyamuk itu." ucap Naya.
Lily segera menutup mulutnya. Mau kesal juga dia tidak bisa. Anggep aja aji mumpung deh. gumamnya dalam hati.
* * *
Buket bunga mawar masih rapi dan tergeletak di atas meja. Naya mengambil dan membolak-balik nya. Dia berharap mendapat informasi dari buket itu. Namun hasilnya nihil. Tak ingin memusingkan dirinya, Naya membuang buket bunga itu ke tempat sampah.
"Kok di buang, Nay?" tanya Lily.
"Ngga jelas dari siapa. Mending di buang aja." ucap Lily.
"Padahal bunganya bagus." ketus Lily.
Belum sempat membalas perkataan Lily.
Naya langsung berlari ke kamar mandi. Rasa mual tiba-tiba menyerang dirinya. Semua sarapan yang tadi di makan olehnya dikuras habis oleh mulutnya.
Naya terlihat lemas setelah mengeluarkan seluruh isi perutnya. Wajahnya terlihat punya. Buliran keringat dingin membasahi seluruh wajah dan tubuhnya. Lily tidak pernah melihat Naya seperti ini dan dalam situasi begini. Meskipun di landa kepanikan, ia berusaha menenangkan dirinya dan langsung memapah Naya untuk ke rumah sakit.
Karena Lily tidak bisa mengendarai mobil. Akhirnya dia memesan tadi online. Dia sangat khawatir melihat keadaan Naya. Naya terbaring lemah di pangkuan Lily.
__ADS_1
Ternyata pengorbanan cinta itu ngga akan ada akhirnya. Ucap Lily dalam hati. Ia membulatkan tekadnya untuk mengubur bahkan menghilangkan Zack di hati dan hidupnya. I'll never love again (aku tak akan mencintai lagi).