
Zack berjalan ke arah mobil dengan wajah sendu. Bilin yang melihatnya menjadi sedikit ciut hatinya. Dia sudah mengira pasti tidak berhasil.
"Kak, gimana kak?" tanya Bilin sedikit keras.
"Sst ... jangan keras-keras Bilin! Emily sedang tidur. Kalo sampe bangun, tanggung jawab ya," ancam Lily.
Zack masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah supir. Setelah semua penumpangnya siap, dia segera menghidupkan mesin mobil dan menancap gas perlahan.
"zyn***," dikte Zack dengan cepat.
"Itu apaan kak?" tanya Atika.
"Alamat Ig nya." ucap Zack datar.
"Aaa ... dapet ya kak. Nomor WA nya ngga ada kak?" tanya Bilin sambil berteriak heboh.
Pletak ...
Kening Bilin berhasil mendapat jitakan dari Lily. Dia geram melihat tingkah Bilin yang menurutnya sedikit genit. Tidak seperti Atika yang bisa menjaga dirinya.
"Auw ... sakit bah kak!"
"Bagus ngerasa sakit. Biar sadar," oceh Lily.
Setelah mendapatkan yang diinginkannya. Gadis remaja itu langsung diam. Tangannya sibuk berselancar di atas layar ponselnya. Keheningan sangat terasa di dalam taxi online yang mereka naiki.
Mereka tiba di hotel H kurang lebih lima belas menit. Bilin dan Atika langsung pamit untuk segera pulang ke rumah. Meskipun kedua orang tua mereka tahu bahwa mereka keluar dengan kakak sepupu mereka sendiri, mereka tetap harus mematuhi jam malam yang sudah di tetapkan oleh orang tua mereka.
"Kak kita langsung ya." tutur Atika. Dia segera menghampiri Lily dan Zack mencium tangan mereka sebagai tanda hormat.
Bilin juga tidak ketinggalan mengikuti hal yang sama.
"Iya, hati-hati di jalan ya. Inget langsung pulang!" seru Lily.
__ADS_1
"Iya kak," jawab mereka dengan kompak.
Lily tidak langsung masuk ke hotel. Dia masih mengantar kepulangan kedua adik sepupunya sampai mobil taxi online itu tidak terlihat lagi.
"Kamu dari dulu tidak pernah berubah. Selalu peduli dengan orang lain," ucap Zack.
Lily hanya tersenyum mendengarnya. Dia memberi kode ke arah Zack untuk mengambil Emily dari gendongannya. Diapun segera mengambil alih Emily.
Zack sengaja berjalan beriringan dengan Lily. Dia ingin memanfaatkan waktu seperti ini untuk mencoba mendekatinya.
Lily tidak berpikir hal yang aneh-aneh tentang kelakuan Zack. Dia hanya menganggapnya biasa saja. Mereka masuk lift bersama dan menekan lantai kamar mereka masing-masing.
Zack yang tadinya ingin memulai berbicara pada Lily, kini diam seribu bahasa. Bibirnya terasa sangat kelu. Beda sekali dengan yang sudah-sudah mereka lakukan hari ini. Selama jalan-jalan dengan kedua sepupunya, Zack bisa berbicara lepas dengan Lily.
Ting
Pintu lift berbunyi dan kemudian terbuka. Lily segera keluar dari kotak silver itu. Dia sudah berada di lantai sembilan kamarnya. Dia melangkahkan kakinya dengan santai tanpa menoleh ataupun sekedar basa-basi pada Zack.
Zack hanya dapat melihat punggung Lily menjauh dan pintu lift pun tertutup. Lantai kamarnya berada di lantai sebelas.
* * *
Zack mengetuk pintu kamar yang berada tepat di sebelah kamarnya. Kamar itu adalah kamar Emily dan Nana. Emily tidak akan bisa tidur jika tidak dengan Nana nya.
Mendengar pintu kamarnya diketuk, Nana segera membuka pintu itu. Tuannya berdiri di depan pintu sambil menggendong nona mudanya yang tertidur lelap. Dia segera mengambil Emily dari gendongan daddy nya.
"Tolong ganti dulu bajunya, Nana! Dia banyak bermain hari ini," perintah Zack.
"Baik tuan. Apa nona muda sudah makan, tuan?" tanya Nana.
"Aku rasa dia akan bangun besok pagi. Dia makan banyak hari ini," ucap Zack sambil mengusap pelan punggung gadis kecilnya.
Zack segera meninggalkan kamar mereka. Dia juga merasa sangat lelah hari ini tapi setidaknya dia bisa berbicara dengan Lily walaupun pada akhirnya Lily kembali bersikap biasa saja padanya.
__ADS_1
* * *
Dua hari kemudian
Setelah jalan-jalan mereka kemarin, Emily semakin lengket pada Lily. Kadang dia merasa bingung kenapa gadis kecil itu begitu lengket padanya. Sampai-sampai tadi malam Emily tidur bersamanya dan Naya. Belum lagi tingkah Zack yang mulai berubah seperti dulu. Membuat hati Lily menjadi gundah.
Hari ini adalah hari dimana dia dan adik sepupunya akan pergi wisata kuliner dan jalan-jalan lagi. Kali ini Rafa dan Naya akan ikut serta. Tujuan mereka kali ini adalah water front yang berada di tengah kota. Kata kedua adik sepupunya, di pinggiran sungai Kapuas kini telah di sulap menjadi tempat rekreasi yang sangat cantik dan menarik. Selain itu, mereka juga bisa menikmati suasana sungai Kapuas di waktu malam dengan menggunakan kapal.
Lily harus berusaha untuk menghindar dari Emily. Dia sudah bekerjasama dengan Nana. Nana akan mengurung Emily di kamar seharian agar Lily bisa pergi dengan leluasa. Rencana tinggallah rencana. Zack mengetahui rencana Lily dan Nana. Tentu saja dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Dengan sengaja dia pergi ke kamar Nana dan membawa Emily keluar kamar. Dia tahu jika Lily dan kawan-kawannya akan pergi pada pukul tiga sore dan bertemu di loby hotel. Zack menggenggam tangan mungil Emily. Mereka berjalan beriringan menuju lift. Tujuan Zack adalah membawa Emily turun ke loby dan berpura-pura sedang bermain disana.
Mereka tiba di loby hotel. Zack berusaha mencari sosok Lily ataupun temannya, tapi nihil. Dia tidak menemukan mereka sama sekali.
Rafa tersenyum licik saat melihat Zack berada di lobi hotel. Dia tahu jika pria itu tidak akan melepaskan kesempatan apapun untuk bersama Lily. Begitu juga dengannya. Dia tidak akan memberikan celah sedikitpun untuk Zack. Tiga hari ini dia memang sedikit longgar dengan Lily sehingga pria itu dengan leluasa dapat mendekati sahabatnya itu.
Tapi tidak untuk hari ini. Rafa sengaja membocorkan bahwa mereka akan pergi pada pukul tiga. Sebaliknya, mereka akan pergi pada pukul lima sore.
Zack Menunggu di lobi dengan sabar. Dia masih berpikir mungkin Lily dan teman-temannya akan turun terlambat. Setengah jam berlalu, Emily kecil mulai merasa bosan. Dia mulai merengek pada Daddy nya. Gadis kecil itu ingin kembali ke kamarnya bersama Nana.
Beberapa kali Zack bisa menahan Emily. Namun pada akhirnya dia menyerah. Putrinya sudah bisa di bujuk lagi. Dia segera memutuskan untuk kembali ke kamar dan segera turun lagi.
Rafa yang melihat Zack kembali ke kamarnya, langsung menelpon Lily untuk segera turun setelah lift berhenti di lantai di lantai sebelas. Hari ini pengunjung hotel tidak terlalu ramai sehingga tidak banyak yang menggunakan lift. Sangat mudah untuk mengetahui lift mana yang di tumpangi oleh orang dan mana yang tidak.
Lily dan Naya sudah siap di samping lift. Lift di sebelah kiri tangannya langsung terus melaju keatas. Dan benar saja lift itu berhenti di lantai sebelas. Lily segera memencet tombol lift yang berada di sebelah kanan. Tidak perlu menunggu lama, pintu lift itu segera terbuka. Lily dan Naya segera memencet tombol yang bertuliskan angka satu.
"Ya ampun, Nay. Gue berasa Maen petak umpet deh," ucap Lily.
"Ho oh, gue juga."
Mereka pun terkekeh dengan kelakuan mereka. Misi mereka berhasil mengelabui Zack. Rafa yang sudah menunggu mereka di parkiran mobil segera menghidupkan mesin mobilnya agar mereka segera meninggalkan halaman hotel. Atika dan Bilin juga sudah berada di dalam mobil bersamanya.
~Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh. Yukss mampir!~
__ADS_1