
Mereka senang bisa menghabiskan malam di Pontianak. Hingga waktu hampir menunjukkan pukul dua belas malam. Mereka harus segera pulang dan mengantar Bilin dan Atika terlebih dahulu.
Untung saja Lily sudah meminta ijin pada tante-tantenya itu bahwa dia akan membawa kedua adik sepupunya hingga larut malam. Jadi mereka berdua aman dari suara telpon ibu mereka. Malam ini adalah malam terakhir mereka di sini. Rafa baru saja mengatakan bahwa mereka akan segera kembali ke Jakarta besok dengan penerbangan terakhir.
Lily tidak bisa menolaknya karena yang mengatur semuanya adalah Rafa. Bahkan biaya hidup mereka selama ini juga Rafa yang menanggungnya. Terkadang Lily dan Naya merasa jika mereka seperti istri pertama dan kedua Rafa. Pemikiran sangat aneh bukan.
Karena pulang terlalu larut, Lily sampai mengingkari janjinya pada Emily. Dia berjanji padanya akan tidur bersamanya malam ini. Dengan syarat gadis kecil itu membiarkan dirinya istirahat di siang hari tanpa di ganggu olehnya.
Membohongi anak kecil ataupun orang lain memang salah. Tapi Lily terpaksa melakukannya. Jika tidak begitu dia tidak bisa terlepas dari gadis kecil itu seharian. Emily melihatnya seperti magnet saja. Tidak akan mau lepas seharian.
Lily memencet tombol lantai kamarnya. Saat ini dia merasa sangat lelah dan ingin segera kembali ke kamarnya.
Ting
Kotak silver itu telah selesai dengan tugasnya mengantar Lily ke lantai kamarnya berada. Lily segera keluar saat pintu itu terbuka. Baru beberapa langkah dia berjalan, kakinya di peluk oleh seseorang. Jika saja yang memerlukannya tidak bersuara, mungkin dia sudah berteriak saat ini.
"Aunty, kenapa lama sekali?"
"Oh, ya ampun Em. Kau mengagetkan aunty sayang," ucap Lily sambil meraih tubuh mungil Emily.
Emily hanya terkekeh mendengarnya.
"Kenapa belum tidur sayang?"
"Em tunggu aunty. Aunty kan janji malam ini tidur dengan Em."
Lily pikir gadis kecil itu sudah tertidur dan lupa akan janjinya. Apalagi ini sudah sangat larut malam. Sudah lewat batas waktu tidur anak-anak.
"Dia sudah tidur dari jam tujuh malam tadi. Entah kenapa dia terbangun dan memintaku untuk ke kamar mu," jelas Zack.
Lily sempat bergidik mendengar suara itu. Dia lupa jika Emily adalah putri mantannya itu. Tidak mungkin jika gadis kecil itu ke kamarnya sendirian, pasti ada ayahnya yang mengantar. Dia merasa sangat malas untuk berhadapan dengan Zack saat ini.
"Aku ambil alih Emily," ucap Lily.
Yang diajak bicara justru tidak bergeming dari tempatnya bersandar.
__ADS_1
"Kau bisa kembali ke kamarmu."
Lily mengatakannya dengan sedikit keras, berharap Zack segera pergi dari situ.
"Em bilang ingin tidur bersama-sama," tukas Zack.
"Ya, bukankah kau sudah mengantarnya?" cecar Lily.
"Dia ingin tidur bersamamu dan aku."
Ucapan Zack yang tidak masuk akal membuat Lily menatap kedua mata gadis kecil itu.
"Apa benar Em?" tanya Lily dengan tatapan tajamnya.
"No, no. Em hanya ingin tidur dengan aunty saja. Tidak dengan dad." jelas Emily dengan polosnya sambil bergelayut manja dengan Lily.
Lily menatap Zack dengan tanda tanya. Apa maksudnya berbicara seperti itu.
"Emily sayang bukannya tadi berbicara seperti itu pada dad?" tanya Zack lembut.
Zack langsung menegakkan tubuhnya dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Rasa malu menghinggapi dirinya. Bagaimana bisa dia dibodohi oleh putri kecilnya. Sejak kapan Emily kecil bisa mengelabui orang. Belajar dari mana dia. Zack langsung meninggalkan mereka.
Emily dan Lily saling berpandangan saat melihat Zack yang pergi begitu saja.
"Ok. Kita ke kamar aunty sekarang!" ajak Lily.
"Let's go!" seru Emily.
Zack merasa sangat kesal dengan kelakuan Emily. Bisa-bisanya dia mengelabui dad nya sendiri. Akhirnya dia memutuskan untuk berjalan keluar hotel untuk menghirup udara segar. Untung saja lokasi hotel ini berada di pusat kota. Banyak cafe yang masih setia membuka lebar pintu rukonya untuk menyambut para tamu dan pelanggan setianya.
Zack memilih cafe yang terletak tidak begitu jauh dari hotel. Letaknya hanya berseberangan. Dia memesan secangkir kopi pancung. Kopi khas kota Pontianak. Selama beberapa hari terakhir ini dia sangat suka menghabiskan malam di cafe itu dengan ditemani secangkir kopi pancung.
Udara yang dingin sangat pas dengan panasnya kopi yang baru saja diseduh oleh seorang pelayan. Kepulan asapnya membawa aroma yang sangat khas.
Dia duduk disana sendiri sambil menatap ke gedung hotel tempat mereka menginap. Dia membayangkan Lily dan Emily yang saat ini pasti mulai tertidur lelap.
__ADS_1
Dia juga membayangkan kedekatan Emily pada Lily yang sangat natural. Mengingat selama ini putrinya itu tidak pernah sekalipun dekat dengan ibu kandungnya dan wanita lain selain Nana dan Lily.
Ingin kembali ke masa lalu sangat tidak mungkin. Jika saja saat ini ada pintu ajaib Doraemon, dia ingin meminjamnya sebentar untuk kembali ke tujuh tahun yang lalu.
Zack tersenyum getir mengingat permintaannya yang seperti anak kecil. Mungkin Emily sendiri tidak pernah meminta hal yang aneh seperti itu.
Tak ...
Rafa menaruh minuman kalengnya di atas meja. Dia sengaja memilih duduk satu meja dengan Zack.
Zack heran melihat Rafa yang datang dan langsung duduk di mejanya.
"Tak perlu kaget kek gitu kali," ucap Rafa santai.
"Gimana rasanya dikerjain?" tanya Rafa.
Zack menaikkan sebelah alisnya. Dia sempat bingung dengan pertanyaan Rafa. Beberapa detik kemudian, dia tersadar jika kejadian hari ini ada campur tangan Rafa. Zack menyesap kembali kopinya. Dia tidak ingin berdebat dengan pria yang sekarang mulai menjengkelkan.
Rafa membuka minuman kalengnya. Dia menyesap minumannya perlahan. Minuman itu langsung habis tak bersisa. Dia meletakkan kaleng kosong itu dan memainkannya diatas meja.
"Ini terakhir kalinya gue ngeliat lu ngedeketin Lily!" ancam Rafa.
Zack hanya tersenyum licik. Dia mencondongkan tubuhnya. Matanya menatap Rafa dengan tajam. Hanya ancaman kecil seperti itu tidak akan membuatnya mundur.
"Aku akan lebih berjuang mendapatkannya kali ini."
"Tidak akan pernah terjadi," ucap Rafa. Dia berdiri dan meninggalkan Zack disana.
Sepeninggal Rafa, dia mengepalkan kedua tangannya. Ingin rasanya menggebrak meja tapi sangat mustahil di lakukan. Banyak pengunjung cafe yang masih betah duduk disana. Dia tidak akan mempermalukan dirinya di depan orang banyak.
Keesokan harinya, Lily membawa Emily untuk sarapan bersamanya. Mereka duduk bertiga bersama Naya. Sedangkan Rafa sudah sibuk pagi-pagi sekali. Dia sibuk mengurus kepulangan mereka ke Jakarta. Dia tidak ingin Zack mengetahui kepulangan mereka kali ini. Dia harus berkorban sedikit lagi agar kepulangan mereka tidak diketahui Zack.
Hari ini dilewati Lily, Naya, Emily, dan Nana seperti biasanya berdiam di dalam kamar Lily. Lily merasa sedih ketika menatap Emily. Dia senang jika selalu berada di dekat gadis kecil itu bahkan direpotkan olehnya. Hari ini dia akan kembali ke Jakarta tanpa memberitahu gadis kecil itu.
~Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh. Yukss mampir!~
__ADS_1