
"Fa, Rafa! Ayok buruan kita ke rumah sakit!" ajak Naya sambil mengguncang lengan kanan Rafa.
Rafa tersadar saat Naya mengguncang keras lengannya. Dia segera berbalik dan menggandeng tangan Naya menuju mobil.
"Cepat pak!" perintah Rafa.
Benar saja perasaan tidak enaknya ini. Sesuatu terjadi pada Rania. Tapi rasa itu semakin tidak karuan. Biasanya jika sudah tahu kabar tentang seseorang yang dikhawatirkan, rasa tidak enak itu akan mengikis perlahan. Tapi ini berbeda.
Drt ... drt ...
Ponsel Naya bergetar. Si empunya ponsel masih belum menyadari jika ponselnya berbunyi dari tadi. Naya juga merasakan kegelisahan yang teramat sangat.
Kurang lebih dua puluh lima menit, mereka tiba di rumah sakit internasional. Rafa dan Naya bergegas turun dari mobil dalam keadaan mobil belum berhenti sempurna. Mereka berlari menuju ruang IGD.
Didapatinya Bi Asih yang merupakan salah satu pelayan di rumah. Dialah yang selalu mengurus Rania dari bayi hingga besar. Wajah Bi Asih sembab. Tampak bekas air mata masih tercetak di kedua pipinya yang mulai keriput.
"Aden!" seru bi Asih.
Rafa segera mendekatinya.
"Non Rania, den," ucapnya lirih.
"Rania kenapa bi? Papa dan Mama kemana?" tanya Rafa sambil melihat ke sekeliling. Dia sama sekali tidak menemukan kedua orang tuanya di sana.
"Non Rania di rampok, den. Menurut polisi sepertinya non Rania berusaha melawan. Tapi karena hujan terlalu deras, non Rania tidak sadar berada di tengah jalan dan tertabrak mobil. Perampoknya melarikan diri tanpa membawa barang non. Hiks ... hiks ... Untungnya yang nabrak tanggung jawab den. Non Rania diantar langsung ke sini. Terus dia mencari dompet dan ponsel non Rania untuk menghubungi rumah," jelas bi Asih panjang lebar.
Rafa terdiam mendengar penjelasan bi Asih. Dia dapat melihat beberapa dokter dan perawat sedang berusaha menangani Rania.
"Terus papa dan mama kemana?" tanya Rafa.
"Tuan dan Nyonya besar hanya menyuruh saya yang menemani non Rania. Kata mereka ..." ucapan bi Asih terhenti.
"Kata mereka apa bi?" desak Rafa.
"Kata tuan dan nyonya, mereka ingin menunggu Aden pulang dulu ke rumah," jawab bi Asih.
"Apa? Di saat seperti ini mereka masih seperti itu!" teriak Rafa.
Dari dulu Rafa sangat tidak suka dengan perlakuan kedua orang tuanya pada Rania. Entah mereka hidup di zaman apa, sampai-sampai tidak memperdulikan anak perempuan mereka. Meskipun Rania adalah angkat. Tapi Rafa sangat menyayanginya sepenuh hati. Rafa yang selalu mencurahkan kasih sayangnya pada Rania. Dia sangat marah jika kedua orang tuanya membeda-bedakan mereka.
"Naya!" panggil seorang wanita.
Naya segera menoleh ke belakang saat namanya di panggil.
"Tante Rindi. Tante ngapain di sini?" tanya Naya bingung.
__ADS_1
"Lily, Nay," lirih Tante Rindi.
Naya terkejut melihat keadaan tante Rindi yang hampir sama dengan keadaan bi Asih saat ini.
"Lily kenapa tante?" tanya Naya.
"Hiks ... hiks ... Lily kecelakaan, Nay. Mobil taxi nya terjungkir balik karena tertabrak truk berlawanan arah," seru tante Rindi.
"Apa tan?" teriak Naya.
Rafa segera meraih tubuh Naya. Tubuhnya langsung limbung saat mendengar Lily kecelakaan dengan kondisi mobil yang jungkir balik. Dia tidak bisa membayangkan seperti apa penumpang yang berada di dalamnya.
"Tante dari tadi nelpon Naya. Tapi ngga diangkat. Kalian sendiri kenapa kesini?" tanya tante Rindi.
"Adik saya juga kecelakaan tante," ucap Rafa pelan.
Dia segera menggendong Naya, dan merebahkannya di kursi panjang.
"Fa, lu liat Lily!" seru Naya pelan.
"Tapi gimana dengan elu, Nay?" tanya Rafa.
"Gue ngga pa pa kok. Kan ada bi Asih. Biar Rania gue yang jagain sama bi Asih. Keknya Lily juga masih ditangani di IGD, Fa. Pasti masih deket-deket sini juga," jelas Naya.
Mereka kembali ke ruang tunggu. Mereka berempat larut dalam pikiran masing-masing. Lantunan doa dan harapan untuk Lily dan Rania tidak putus-putus mereka lantunkan.
Rafa dan Naya tidak ingin bertanya lebih jauh lagi kronologi kecelakaan yang menimpa Lily. Saat ini mereka fokus pada Lily dan Rania. Mereka berharap Lily dan Rania segera sadar.
Kurang lebih hampir satu jam mereka menanti dalam keputusasaan. Dokter yang menangani Rania segera keluar dan mengabari tentang keadaannya. Rania mengalami banyak pendarahan. Terutama luka dalam. Dokter mengatakan bahwa mereka sudah berupaya semaksimal mungkin.
Pendarahannya sudah terhenti. Semua luka di tubuhnya sudah dibersihkan. Kini hanya menanti kuasa Tuhan agar Rania segera sadar.
Tak berapa lama, dokter yang menangani Lily keluar dan mencari keluarga pasien. Tante Rindi segera menghampiri dokter. Dokter menyarankan untuk tetap berada di sisi Lily karena pasien sedang mengalami masa kritis.
Setelah beberapa jam penantian akhirnya Lily sadar, dan telah melewati masa kritisnya. Lily juga sudah dipindahkan ke kamar rawat begitu juga dengan Rania.
Kelopak mata Lily perlahan mengerjap. Setelah matanya terbuka sempurna, dia mengutarakan sebuah kalimat yang membuat mereka bertiga terkejut mendengarnya.
"Tante," panggil Lily.
"Iya sayang. Tante di sini," ucap tante Rindi sambil memegang tangan kiri Lily.
"Mati lampu ya, tan. Kok gelap, tan," lirih Lily.
Rafa yang mendengar segera menggelengkan kepalanya meminta tante Rindi berbohong pada Lily.
__ADS_1
"Iya lagi mati lampu," bohong tante Rindi sambil menahan tangisnya.
"Gue keluar sebentar ya, Ly. Cari lilin dulu," ucap Rafa.
"Kenapa ada suara Rafa, tan?" tanya Lily.
"Rafa kebetulan ada disini juga," jawab tante Rindi.
"Emangnya sekarang kita dimana tan?" tanya Lily.
Bagian tubuhnya yang terluka mulai terasa perih saat efek dari obat pereda nyeri mulai menghilang.
"Badan Lily sakit semua tan!" keluh Lily.
"Iya. Nanti kamu pasti sembuh kok."
Lily hanya diam. Matanya masih setengah mengantuk karena efek obat.
Rafa dan dokter yang menangani Lily masuk ke dalam kamar rawat. Dokter segera memeriksa kedua mata Lily. Dia sudah mendapat laporan dari Rafa bahwa Lily mengatakan pandangannya gelap.
Setelah melakukan pemeriksaan, dokter segera meminta Rafa dan tante Rindi untuk mengikutinya ke ruangan. Tinggallah Lily bersama seorang perawat.
Rafa dan tante Rindi sangat terkejut mendengar hasil dari diagnosa tadi. Lily mengalami kebutaan pada kedua matanya. Kebutaan itu akibat dari benturan yang sangat keras pada saat terjadi kecelakaan.
Belum selesai menata hatinya. Rafa dikejutkan oleh Naya yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan dokter.
"Fa, Rania sadar!" seru Naya.
Rafa segera bangkit dari duduknya. Tanpa aba-aba, dia berlari menuju kamar rawat adiknya.
"Rania. Apa yang kamu rasakan? Yang mana yang sakit? Kakak panggilin dokter ya!" Rafa sangat khawatir dengan keadaan adik kesayangannya.
"Ni-a nggak apa-apa kok kak," ucapnya sambil tersenyum.
"Syukurlah. Kamu pasti sehat. Harus semangat ya, sayang!" Rafa berusaha memberinya motivasi.
"Mama sama papa mana kak?" tanya Rania dengan suaranya yang lemah.
"Papa sama Mama masih sibuk di kantor. Kan udah ada kakak," ucap Rafa lembut.
Rania hanya tersenyum mendengar ucapan kakaknya. Keesokan harinya, Rania menghembuskan nafasnya yang terakhir. Pesan terakhir Rania, dia ingin tetap dapat melihat meskipun sudah tiada. Dia memberikan kornea matanya pada Lily.
Setelah kepergian Rania, Lily menjalani operasi transplantasi kornea mata. Operasi itu berhasil, dan Lily dapat melihat kembali.
Flash back off
__ADS_1