
Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, bis yang ditumpangi oleh Nana dan Emily telah tiba di terminal kota tujuan mereka. Bukan kota yang mereka tuju. Lebih tepatnya kota pelarian mereka. Nana hanya mengikuti instingnya.
"Nana, kita dimana? hoam," tanya Emily sambil menguap. Gadis kecil itu baru saja bangun dari tidurnya.
"Kita di kota Bogor sayang," jawab Nana sambil menurunkan tubuh Emily dari bis.
"Nana, mana Daddy?" tanya Emily.
"Daddy sedang sibuk sayang," jawab Nana. Dia terpaksa berbohong pada nona mudanya.
Nana membawa Emily keluar dari terminal. Sebelumnya dia bertanya pada seorang petugas di terminal tentang penginapan yang berada di pusat kota. Petugas itu juga membantu Nana memesan taxi online untuk perjalan ke penginapan.
Nana sangat berterima kasih kepada petugas terminal yang tulus membantunya. Tidak perlu menunggu waktu lama, mobil taxi online yang dipesan sudah tiba. Dia segera membawa serta Emily masuk kedalam mobil. Sejujurnya, dia sangat bingung dengan nasib mereka.
Uang yang diberikan Bob jauh dari cukup untuk dua bulan kedepan. Nana harus memikirkan cara bertahan hidup bersama nona mudanya. Dia memikirkan solusi terlebih dahulu jika tuannya masih belum bisa menemukan mereka dalam waktu kurang lebih dua bulan.
Mobil taxi memasuki sebuah halaman yang terlihat cukup luas. Mobil itu memasuki halaman penginapan yang dituju. Sepanjang perjalanan, Nana tidak memerhatikan arah tujuan mereka. Karena baginya sama saja. Dia sibuk memikirkan nasibnya dan nona mudanya.
Mobil perlahan berhenti. Nana memperhatikan suasana di sekitar penginapan. Penginapan ini tidak seperti penginapan umumnya. Lebih cocok di katakan rumah kontrakan yang di sekat. Lebih tepatnya seperti model rumah couple versi sederhana.
Nana turun dari mobil yang kemudian disusul oleh si kecil Emily. Emily terlihat bingung menatap ke sekelilingnya. Dia heran melihat lingkungan yang baru baginya.
"Nana, ini di mana?" tanya Emily.
"Kita akan tinggal disini dulu sayang," jawab Nana.
Kedua alis matanya tertekuk. Tandanya gadis kecil itu bingung.
"Kita tida tinggal di rumah besar Daddy lagi, Nana?" tanya Emily polos.
"Untuk sementara saja sayang. Hmm... ingat mainan rumah-rumahan, Em?" tanya Nana sambil mensejajarkan tubuhnya dengan gadis kecil itu.
"Em ingat, Nana."
"Nah, sekarang kita bermain rumah-rumahan," jawab Nana.
Senyuman indah menghiasi wajah mungil itu.
__ADS_1
"Em suka Nana. Ayo Nana kita masuk!" ajak Emily sambil menggenggam tangan Nana.
"Sebentar sayang. Nana harus bertemu pemilik rumah dulu. Setelah itu kita baru bisa masuk kedalam," jelas Nana.
"Harus begitu ya, Nana?" tanya Emily.
"Iya sayang. Nah, ayo sekarang kita hampiri rumah pemilik penginapannya!" ajak Nana.
"Ayo Nana!"
* * *
Satu Bulan kemudian
"Bagaimana?" tanya Zack pada Leon.
"Maaf tuan, kami masih belum bisa menemukan keduanya," jawab Leon.
Brak
Zack menggebrak meja kerjanya di mansion. Selama kehilangan Emily dan Lily, dia tidak pernah lagi mengurusi urusan perusahaannya. Semuanya diserahkan pada Leon. Pusat perhatiannya kini hanya mencari keberadaan dua orang wanita berbeda generasi yang sangat disayanginya.
Leon dan beberapa pengawal segera keluar dari ruang kerja Zack. Dia sangat frustasi saat ini. Rasa kehilangan yang teramat sangat mengisi setiap inci hatinya secara perlahan. Tubuh Zack merosot ke lantai. Dia meringkuk seperti bayi yang baru dilahirkan. Jika ada yang melihat kondisinya saat ini pasti tidak akan ada yang percaya bahwa dia adalah CEO dari sebuah perusahaan terkemuka di Jakarta.
Hidupnya terasa sangat hampa tanpa kehadiran si kecil Emily yang selalu berada di sisinya. Meskipun dia pergi keluar kota atau negara lain. Dia tetap bisa melihat Emily dari jarak jauh melalui panggilan video call. Tapi kini, mendengar suaranya saja tidak bisa. Apalagi melihat wajahnya.
Zack memperbaiki posisi tubuhnya. Dia kini duduk sambil melipat kedua kakinya. Kedua tangannya memegang kepalanya yang terasa akan pecah jika tidak dipegang.
"Lily. Apakah seperti ini yang kau rasakan saat berpisah denganku?" tanyanya pada diri sendiri.
"Apa ini yang dikatakan oleh kebanyakan orang? Karma," ucapnya lagi.
"Kau tahu, Lily. Baru satu bulan saja rasanya sudah seperti ini. Bagaimana kau bisa begitu kuat menahannya selama hampir tujuh tahun. LILY ..." teriak Zack frustasi.
Zack membenamkan kepala diantara dua kakinya. Dia berharap besok akan menjadi hari yang baik untuknya.
* * *
__ADS_1
Bram terlihat sangat lelah. Persiapan pesta pertunangan tuannya sangat menyita waktunya. Dia lebih senang mengurusi pekerjaan daripada harus mengurusi hal-hal yang berhubungan dengan acara. Acara apapun itu.
Bukan hanya waktunya, tapi tenaganya juga. Tuannya itu semakin hari semakin membuatnya kesal. Ada-ada saja permintaan yang menurutnya aneh.
Untuk menghilangkan penatnya, Bram memutuskan untuk bersantai di taman kota. Letaknya juga tidak terlalu jauh dari hotel tempat diadakannya acara pertunangan tuannya.
Bram memilih kursi yang letaknya di bawah pohon yang rindang. Dia melonggarkan otot-otot tubuhnya. Dia berniat untuk memejamkan kedua matanya sebentar.
Beberapa saat setelah memejamkan kedua matanya, Bram terbangun karena ada sesuatu yang mentoel pipi kanannya. Seorang gadis kecil berambut cokelat dan bermata biru berada di sampingnya. Gadis itu bukannya takut terhadap orang asing. Dia justru memberikan senyum terbaiknya pada Bram.
Bram mengangkat sebelah alis nya. Dia merasa sangat tidak asing dengan wajah gadis itu. Mungkin dia tidak pernah bertemu secara langsung. Akan tetapi, ingatannya sangat kuat jika sudah diberi tugas untuk menyelidiki sesuatu. Tapi kali ini, otak ya tidak bisa bekerjasama dengannya karena kelelahan yang tidak jelas.
"Apa kau tersesat anak manis?" tanya Bram.
"Tidak. Aku terdampar uncle," jawab gadis kecil itu dengan polosnya.
"Kau lucu sekali. Siapa namamu?" tanya Bram pada gadis kecil itu.
"Nama uncle dulu siapa?" gadis kecil itu balik bertanya padanya.
Bram tersenyum dan tertawa bersama. mendengar celotehannya.
"Nama uncle Bram. Dan kau?" tanya Bram.
"Nona," jawab gadis kecil itu.
"Nona. Nama yang unik," ucap Bram sambil mencubit pelan pipinya.
"Nona!" panggil seorang wanita paruh baya.
"Ah, nenek ku sudah memanggil. Da ... da ..." ucapnya sambil turun dari kursi taman dan melambaikan tangannya pada Bram.
Bram membalas lambaian tangan gadis kecil itu dan tersenyum padanya. Dia sempat tertegun melihat kepergian gadis kecil itu dan neneknya.
Bram juga merasa tidak asing dengan nenek gadis itu. Kepalanya jadi bertambah pusing memikirkannya. Tujuan ke taman adalah untuk menyegarkan otaknya dari kepenatan. Baru saja rileks, dia justru di baut pusing keluh gadis kecil dan neneknya.
Drt ... drt ...
__ADS_1
Ponsel di saku bajunya bergetar. Sebuah nama yang membuatnya lelah terpampang di layar ponselnya saat ini. Dia segera menjawab panggilan dan melangkahkan kedua kakinya berlawan arah dari gadis kecil dan neneknya.