
Dua Minggu kemudian.
"Mommy, mommy," panggil Emily sambil melompat di atas tempat tidur saat melihat Lily masuk ke dalam kamarnya.
"Pelan-pelan Em," ucap Lily sambil mempercepat langkahnya ke arah tempat tidur dan meraih tubuh kecil Emily.
"Anak mommy sekarang suka lompat-lompat ya."
"Iya, Em senang mau ketemu sama baby ... Baby apa ya tadi namanya mommy?" Gadis kecil itu mengerutkan kening seolah sedang berpikir keras.
"Namanya baby L .. L apa ya? Mommy juga lupa," ucap Lily sambil berpikir.
Nana tertawa saat melihat dua wanita berbeda generasi itu sedang memikirkan hal yang sama. Cara mereka sedang berpikir juga mirip. Padahal Lily adalah ibu sambung Emily. Akan tetapi, setelah beberapa lama Nana perhatikan, banyak kemiripan antara mereka.
Orang lain pasti tidak akan mengira jika mereka bukanlah ibu dan anak biologis. Setelah puas melihat tingkah mereka, Nana segera menyahut, "Baby Leon, nyonya."
"Ah, iya baby Leon," ucap Lily dan Emily bersama.
"Ayo, sayang. Daddy sudah menunggu di bawah!" ajak Lily sambil menggendong Emily dan meninggalkan kamar. Nana mengikuti mereka dari belakang.
Zack sedikit terkejut saat melihat Lily berjalan sambil menggendong Emily. Dia segera menghampiri mereka dan mengambil alih Emily dari gendongan Lily.
"Zack, biar aku saja yang gendong Em," ucap Lily sambil meraih tubuh Emily dari gendongan suaminya. Zack tidak memiliki pertahanan saat Lily mengambil Emily dari dalam gendongannya. Kini gadis kecil itu berada didalam gendongan Lily. Dia segera berjalan menuju mobil.
"Tunggu! Sayang biar aku saja," Zack menyusul Lily dan mengambil Emily dari dalam gendongan Lily.
__ADS_1
Akhirnya, terjadilah rebutan Emily di antara mereka. Awalnya Emily senang diperebutkan oleh mommy dan Daddy nya. Namun, lama kelamaan dia merasa pusing juga karena tubuhnya melayang ke sana kemari.
Tingkah mereka menjadi tontonan para maid. Begitu juga dengan Nana. Pemandangan seperti itu belum pernah terjadi sebelumnya di mansion. Ibu kandung nona muda mereka tidak pernah menyayanginya seperti itu.
Aksi rebutan Emily berakhir saat gadis itu berteriak, "Stop!" Lily dan Zack langsung berhenti saat mendengar teriakan Emily. Tubuh Emily saat ini berada di antara Lily dan Zack dengan kedua tangan mereka yang memegang tubuh Emily.
"Em Pusing," ucap Em. "Kenapa Em direbutkan? Memangnya Em piala?" ketus Emily.
"Ah, maafkan mommy sayang. Mommy hanya ingin Em berada di pelukan mommy," ucap Lily sambil berusaha menarik tubuh Emily ke dalam pelukannya dan tentu saja tidak semudah itu. Zack menahan tubuh Emily dengan kedua tangannya. Emily menatap ke arah daddy nya meminta jawaban.
"Em ingin adik bayi kan?" tanya Zack.
"Apa hubungannya Zack?" Lily melontarkan pertanyaan dengan ketus.
"Tentu saja ada sayang," potong Zack.
"Dad tidak ingin mommy lelah karena menggendong Em. Nanti Em bisa lama ketemu adik bayinya," jawab Zack.
Jawaban Zack mendapat respon yang baik dari Em. Gadis kecil itu langsung saja beralih menjadi sekutu Daddy nya. Berbeda dengan Lily yang terlihat terkejut mendengar jawaban Zack.
"Mommy. Em di gendong Daddy saja. Em ingin cepat-cepat ketemu adik bayinya mommy," ucap Emily.
"Tapi sayang .." sela Zack.
Emily mencondongkan tubuh mungilnya ke tubuh Zack. Kini Emily berada di dalam gendongan Zack. Lily tak bisa berkata-kata. Zack sangat pandai dalam memanipulasi pikiran Em.
__ADS_1
Zack meraih tangan Lily agar jalan bergandengan bersama. Namun, Lily tidak memperdulikan uluran tangan Zack. Dia langsung saja berlenggang menuju mobil. Pria Eropa itu tersenyum melihat tingkah sang istri yang sedang cemberut.
Lily langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang. Dia sudah bersiap untuk menyambut Emily. Kali ini Emily harus duduk di pangkuannya.
Zack memasukkan Emily terlebih dulu ke dalam mobil. Tak ingin buang kesempatan, Lily langsung meraih tubuh Emily dan mengangkatnya ke dalam pelukan.
Zack ingin berkata, tapi belum sempat bibir Zack bergerak, Lily langsung menyemprotnya, "Apa? Tidak ada alasan lagi. Kali ini aku duduk bukan berjalan."
"Nana ada obat tidak?" sela Emily.
"Nona muda sakit?" tanya Nana.
"Apanya yang sakit Em?" tanya Lily khawatir.
"Kepala Em. Em pusing lihat mommy dan Daddy rebutan Em, hihihi," ucap Emily sambil terkekeh.
"Ada-ada saja. Kali ini dad mengalah. Mommy boleh memangku Em," Zack mengibarkan bendera putih tanda menyerah.
Wajah Lily sudah seperti seekor singa betina yang siap menyerang musuh saat anaknya diganggu. Zack tak ingin membuat suasana hati Lily bertambah kusut. Tapi, di lubuk hatinya yang terdalam. Zack sangat senang Lily menganggap Emily sebagai putri kandung. Wanitanya sangat pantas untuk diperjuangkan.
"Mengapa kau senyum-senyum sendiri?" tanya Lily yang menangkap basah Zack sedang tersenyum.
"Tidak ada," jawab Zack sambil melingkarkan tangan ke pundak Lily.
"Jelas-jelas kau tersenyum," ketus Lily sambil membenarkan posisi duduk Emily agar nyaman.
__ADS_1
"Ya ampun sayang. Mengapa kau tiba-tiba jadi sensitif sekali?"