
"A-pa? Bisa tolong anda ulangi ucapan anda, tuan?" pinta Shinta.
"Aku ini bukan si pengantin pria," jawab Leon.
"Hah! Kenapa tidak bilang dari tadi!" ketus Shinta.
"Aku sudah mencoba memberitahumu. Dasar kau-nya saja yang dari tadi tidak mau mendengarkan," Leon tak kalah ketus.
"Kau kan bisa sambil bicara saat tadi saling mendorong pintu!" sengit Shinta tidak mau kalah.
"Sudahlah! Bicara dengan wanita memang merepotkan," tutur Leon.
"Tidak semua! Lily ku tidak begitu!" seru Zack yang masih berada di dalam sambungan video call.
Tadinya Lily mau protes dengan ucapan Leon. Akan tetapi, Zack sudah lebih dulu mewakilinya.
"Tuan!" seru Zack saat mendengar suara tuannya. Dia menoleh dan mendapati Nana serta calon nyonya-nya sedang duduk di sofa sambil makan cemilan. "Ah, Nana dan nona juga di sini?" tanya Leon.
Lily dan Nana hanya mengangguk. Mereka masih dalam mode menonton siaran langsung.
"Sudah berapa lama anda di sini nona?" tanya Leon.
"Lumayan."
"Lumayannya itu kira-kira berapa lama, nona?" desak Leon.
"Cukup menonton satu episode film Dora the Explorer," jawab Lily santai.
Leon merasa malu saat mendengar penuturan Lily. Itu artinya, Lily dan Nana sangat lama berada di sana.
"Leon! Cepat bawa sepatumu kemari!" perintah Zack.
"Eh, aku lupa masih ada kau di sambungan telpon," tutur Lily.
"Sayang!" keluh Zack.
"Mengapa suaramu terdengar mengeluh? Seharusnya aku yang marah. Kau curang!" seru Lily.
"Aku curang? Curang di mananya?" tanya Zack tidak terima dikatai curang oleh Lily.
"Sangat jelas sekali kalau kau itu curang. Seharusnya kau tadi tidak boleh meneriaki Leon seperti itu!" ketus Lily.
"Oh, itu! Tapi kau tidak mengatakan ada syaratnya," Zack mengingatkan Lily.
"Iya juga sih. Ah, sudahlah! Aku ingin kembali ke kamar. Bye!" ucap Lily sambil memutuskan sambungan video call nya.
__ADS_1
"Nyonya, bukannya sudah ku bi..." ucapan Shinta terputus saat Lily memotong pembicaraannya.
"Aku tidak memperlihatkan wajahku ke padanya. Kau sudah seperti emak-emak saja, hihihi," timpal Lily sambil terkekeh.
Nana mengikuti langkah kaki kembali ke ruang rias. Saat ini seharusnya Nana sudah di rias. Akan tetapi, calon nyonya-nya mengajaknya menonton siaran langsung.
Shinta berdiri dan merapikan gaunnya. Sedangkan Leon segera masuk ke dalam tanpa memperdulikan gadis yang tadi menjadi rivalnya. Leon mengambil dua pasang sepatu dari dalam lemari.
Tiga hari yang lalu setelah mereka berbelanja, tuannya lupa membawa tas belanjanya yang berisi dua pasang sepatu. Akhirnya, dia yang harus mengambil sepatu itu di kamar Lily.
Leon mengambil tas itu dengan sekali sentakan. Dia tidak ingin berlama-lama di sana. Dia kemudian berbalik dengan cepat.
Bugh
"Aduh!" teriak Shinta.
Lily dan Nana yang mendengar suara teriakan Shinta, langsung berlari ke arah sumber suara. Mereka tersenyum saat melihat Shinta berada di dalam pelukan Leon.
Shinta yang berjalan sambil merapikan gaunnya tidak melihat ke arah depan. Dia tanpa sengaja menabrak Leon yang saat itu sedang membalikkan tubuhnya. Dengan sigap Leon menangkap tubuh Shinta agar tidak terjatuh.
Shinta yang tadinya berteriak ingin marah, kini terdiam. Pria yang menopang tubuhnya terlihat sangat tampan. Pandangannya kali ini berbeda. Jika tadi dia pikir pria itu adalah si pengantin pria berbeda dengan saat ini yang Shinta ketahui dia adalah salah satu jomblo tertampan di kota ini.
Begitu juga sebaliknya. Baru kali ini Leon menatap lekat mata seorang wanita. Wajah Shinta terlihat sangat cantik di matanya. Bibirnya terlihat sangat ranum. Mata bagaikan batu permata hitam yang memantulkan wajahnya. Wajah mereka saling mendekat.
Keduanya saling terpesona. Jarak di antara mereka hanya berjarak beberapa senti saja hingga cahaya dari kamera Lily mengenai kedua sudut mata mereka.
"Auw!" teriak Shinta sambil menggosok bokongnya.
Leon segera undur diri, dia tidak ingin menjadi bulan-bulanan Lily. Pria bergegas keluar dengan setengah berlari.
"Yah!" seru Lily.
Dia kecewa karena gagal mendapatkan foto adegan mesra antara Leon dan Shinta. Kegagalannya karena dia lupa mengatur ulang kamera ponselnya.
"Aduh! Mimpi apa sih tadi malam," gerutu Shinta sambil berdiri.
Nana segera membantu gadis itu berdiri. Wanita paruh baya itu sebenarnya kasihan dengan Shinta. Namun, benar juga yang dimaksud Lily. Mana tahu si antara mereka nantinya akan tumbuh secercah cahaya cinta. Nana dapat melihatnya tadi saat Shinta dan Leon saling terpukau.
*
*
Hall Hotel X
Rafa dan Keith terpukau saat melihat dekorasi hall hotel yang akan mereka jadikan tempat berlangsungnya akad dan pesta pernikahan. Untung saja, para wanita memiliki warna favorit yang hampir sama. Jadi, tidak terlalu sulit untuk menentukan warna yang cocok untuk dekorasi ruangan.
__ADS_1
Nuansa kali ini di dominasi dengan warna hijau dan putih. Lily dan Liora sangat menyukai warna putih. Sedangkan Naya sangat menyukai warna hijau. Kombinasi warna yang sangat lembut.
"Aku tidak menyangka kita akan menikah bersama-sama," ucap Keith yang terlihat takjub dengan dekorasi pesta.
"Aku menyangka," balas Rafa santai.
Keith menatap Rafa sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Ya, aku percaya padamu," balas Keith sambil tersenyum.
"Hahaha. Aku hanya bercanda."
"Aku tahu. Ngomong-ngomong di mana asisten-mu?" tanya Keith.
Keith abru menyadari sudah hampir satu Minggu terakhir dia tidak melihat sosok Bram. Bahkan di acara pertunangan Rafa, pria itu tidak terlihat sama sekali batang hidungnya.
"Oh, Bram! Dia aku hukum," jawab Rafa.
"Mengapa?" Keith menatap Rafa penasaran.
"Kau sudah seperti Naya saja. Dia ku hukum karena meminta bantuan Leon saat Liora minta dibelikan bakso raket di Jakarta."
"Apa hubungannya?" Keith semakin penasaran.
"Tentu saja ada. Jika dia tidak meminta bantuan Leon. Zack sampai saat ini pasti belum menemukan Lily," tutur Rafa sambil tersenyum.
"Astaga, jadi kau sengaja menyembunyikan Lily dari Zack?" tanya Keith.
Pertanyaan Keith bersamaan dengan masuknya Zack ke dalam hall. Rafa tidak menyadari kehadiran Zack yang berada tepat di belakangnya. Keith yang berdiri di sampingnya saja bisa merasakan kehadiran seseorang yang baru saja memasuki hall.
Zack memberi kode pada Keith agar diam dan tetap melanjutkan pembicaraan mereka. Bukan tanpa alasan. Dia hanya ingin tahu perasaan Rafa yang sebenarnya.
"Tentu saja."
"Untuk apa kau melakukan itu?" desak Keith.
Rafa menatap Keith. Raut wajah Keith terlihat terkejut dan penasaran.
"Memangnya kau harus tahu, ya?" Rafa membalasnya dengan pertanyaan.
"Oh, ayolah Rafa! Ini pernikahan kita bertiga. Lagipula kau sudah terlanjur bercerita sedikit. Apa salahnya bercerita padaku," desak Keith.
__ADS_1
Rafa melengkungkan sedikit bibirnya. Dia mengangkat kedua bahunya sebelum menyetujui permintaan Keith.
"Sangat jelas sekali itu karena ...