
Amber merasa sangat tenang karena dapat menghindar dari Brandon. Dia memutuskan untuk melanjutkan hari ini dengan shopping di mall dan menghabiskan waktunya di salon langganannya. Dia merasa hidupnya kembali seperti semula.
Satu jam kemudian pak Wil datang dengan membawa sebuah paper bag di tangannya. Amber juga sudah siap dengan dandanan dan gaun selutut nya. Gaun adalah pakaian favoritnya. Baginya memakai pakaian kasual itu tidak membuatnya terlihat sexy.
Tok ... tok ..
Pak Will mengetuk pintu kamar nyonya nya.
Mendengar ketukan pintu kamarnya, dia segera berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Nyonya, ini ponsel dan nomor baru anda," ucap pak Wil sopan sambil menyerahkan paper bag yang dibawanya.
Amber meraih paper bag dan membukanya. Seyum lebar menghiasai wajahnya. Dia mengeluarkan kotak persegi panjang yang merupakan kotak ponsel keluaran terbaru. Matanya berbinar lebar melihat ponsel terbaru miliknya.
"Terima kasih. Kau boleh pergi sekarang! Oh iya, beritahu pak Alan suruh bersiap-siap sekarang. Aku akan turun sebentar lagi!" perintah Amber.
"Baik, nyonya."
Amber segera mengeluarkan ponsel barunya dari dalam kotak. Dia juga memasang kartu baru untuk nomor ponselnya. Setelah semuanya siap, dia mengambil tas Gucci terbarunya. Dia turun dengan perasaan yang sedang berbunga-bunga.
Pak Alan menyadari kehadiran nyonya nya. Dia segera membuka pintu penumpang sebelum wanita itu tiba di samping mobil.
Setelah nyonya nya duduk dengan nyaman dan aman. Pak Alan menutup pelan pintu mobil. Dia segera berjalan ke kursi supir, dan duduk di balik kemudi. Dia menghidupkan mesin mobil dan mengemudikannya perlahan keluar gerbang mansion.
Tanpa sepengetahuan Amber, Brandon sudah menaruh beberapa orang kepercayaannya untuk mengintai Amber dari luar mansion.
Kurang lebih tiga puluh lima menit, mobil Amber sudah memasuki halaman parkir sebuah mall ternama di Jakarta. Dia segera melangkahkan kedua kakinya ke tempat tujuan pertamanya, yaitu berbelanja beberapa gaun terbaru dan tas branded.
Zack tidak pernah memberinya batasan dalam berbelanja. Dia dapat melakukan sesuka hatinya. Kartu black card yang diberikan oleh Zack tidak akan pernah habis untuk dia gunakan.
Dia berlenggang layaknya seorang model profesional. Menenteng beberapa paper bag yang berisi beberapa gaun dan tas branded limited edition.
Tidak hanya sampai disitu. Setelah memuaskan nafsu belanjanya, dia segera berlenggang menuju salon langganannya. Dia ingin ingin mencuci rambut, mengecat kukunya, dan mengubah model rambutnya sedikit. Dia benar-benar menikmati waktunya saat ini dan seterusnya.
Disisi lain
"Halo tuan," sapa Leon.
"Ya. Bagaimana perkembangannya?" tanya Zack.
"Sesuai dengan yang ada prediksi tuan," jawab Leon.
"Bagaimana dengan pak Will?" tanya Zack.
"Pak Will juga menjalankan tugas sesuai dengan perintah tuan," jawab Leon.
"Bagus. Nanti malam aku akan kembali ke mansion. Ingat, berikan jalan untukku tanpa diketahui oleh pesuruh Brandon di luar mansion," perintah Zack.
__ADS_1
"Baik tuan."
Leon memutuskan panggilan telponnya. Besok adalah hari terakhir untuk nyonya Amber. Bisa dipastikan besok Brandon akan memaksa masuk ke mansion untuk mengambil nona muda Emily.
Dia bergegas kembali ke mansion. Membuat beberapa strategi untuk mengecoh anak buah Brandon yang berada di luar mansion. Tuannya harus berhasil ke mansion tanpa sepengetahuan mereka, dan pastinya tanpa sepengetahuan nyonya Amber. Karena setahunya, tuan Zack beserta Emily baru beberapa jam berada di Moscow, Rusia.
Keesokan harinya,
Ruang bawah tanah mansion Zack.
Emily terlihat sangat senang berada didalam gendongan Daddy nya. Dia sangat merindukannya selama dua hari ini. Begitu pagi menjelang, dilihatnya Daddy nya berada di sampingnya.
"Daddy, Em rindu."
"Daddy juga rindu Em," ucap Zack sambil menciumi kedua pipi Emily.
Zack masih suka menciumi gadis kecilnya itu. Dia sangat suka menghirup aroma bayi yang masih melekat di tubuhnya.
"Daddy, kapan kita ketemu aunty?" tanya Emily.
"Nanti sayang, kita pasti akan bertemu aunty," jawab Zack.
Emily diam dan mulai mengerucutkan bibirnya.
"Jangan seperti itu! Nanti bibir Em seperti mulut bebek," goda Zack.
"Em tidak mau Daddy," ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Ha... ha ... tentu saja tidak sayang," ucap Zack sambil mengusap rambutnya.
"Nana!" panggil Zack.
"Iya tuan," jawab Nana.
"Apa sudah dipersiapkan semuanya?" tanya Zack.
"Sudah tuan," jawab Nana.
"Bagus! Ingat apapun yang terjadi jangan pernah membalikkan tubuhmu bahkan hanya sekedar melirik ke belakang!" perintah Zack pada Nana.
"I-ya, tuan," jawab Nana gugup.
"Nana, aku tahu kau sangat gugup. Tapi kumohon kau harus kuat demi Emily, please!"
Mendengar permohonan tuannya membuat hati Nana menjadi kuat. Dia tersentuh saat tuannya itu bahkan memohon padanya untuk menjaga putri kecilnya.
"Aku siap, tuan. Apapun yang terjadi, aku akan menjaga nona Emily sekuat tenaga," jelas Nana.
__ADS_1
"Terima kasih, Nana."
"Daddy, memangnya kita mau kemana?" tanya Emily. Dia tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Daddy dan Nana nya.
"Kita akan bermain kejar-kejaran sayang," jawab Zack lembut.
"Wah! Benar Daddy?" tanya Emily.
Dia sangat senang bermain. Apalagi bermain kejar-kejaran. Emily membayangkan bagaimana serunya nanti bermain kejar-kejaran bersama Nana dan Daddy nya.
"Tapi sayang, bermain kejar-kejaran kali ini agak sedikit berbeda. Em harus tetap berlari bersama Nana meskipun Em mendengar suara petasan atau cahaya seperti kembang api," tutur Zack lembut.
Zack berusaha memberi pengertian pada putrinya. Dia tidak ingin menggunakan kata kasar seperti pistol dan tembakan. Dia tidak juga tidak ingin Emily mendapat trauma setelah kejadian hari ini. Kekerasan pasti akan terjadi malam ini, dan itu tidak akan mudah untuk dielakkan.
"Seandainya saja, Lily. Kau yang berada di sisiku pasti tidak akan pernah terjadi hal seperti ini," ucap Zack didalam hati. Rasa sesak mulai menyeruak di hatinya akibat dari sebuah penyesalan.
Emily kecil tampak berpikir. Gayanya seperti orang dewasa yang sedang memikirkan suatu masalah dan mencari solusinya. Siapapun yang melihatnya pasti merasa gemas dengan tingkah lucunya itu.
"Okie dokie Daddy," jawab Emily sambil mengarahkan jari kelingking kanannya pada daddy nya.
"Okie dokie sayang," jawab Zack sambil menautkan jari kelingking kanannya pada kelingking mungil Emily.
"Ingat sayang. Jangan pernah melihat apapun ok?" tanya Zack.
"Ok Daddy," jawab Emily.
* * *
Cuaca pagi ini mendung. Bahkan diramalkan akan turun hujan. Amber masih bermalasan dibawah selimutnya yang tebal. Udara dingin alami bercampur dengan AC membuatnya semakin mengeratkan tubuhnya dibawah selimut. Kebiasaan Amber saat tidur, dia lebih suka jendela kamar terbuka sedikit dan dengan gorden putih tipis.
Tidurnya tadi malam sangat nyenyak. Baru kali ini dia merasakan tidur yang sangat nyenyak setelah dua hari terakhir bergumul dengan pikirannya sendiri.
Cacing di perutnya berhasil mengalahkan rasa kantuknya yang mendera. Dengan malas Amber bangkit dari kasur empuk dan selimut hangatnya. Dia berjalan ke arah nakas untuk mengambil ponselnya, dan melihat jam yang tertera di layar ponsel barunya.
Pukul delapan lebih lima belas menit. Jarang sekali dia bisa bangun sepagi ini. Karena selama ini yang dia tahu, paling pagi dia bangun adalah pukul sepuluh lebih lima puluh lima menit.
Baru saja dia akan melangkahkan kakinya ke kamar mandi, tiba-tiba suara ponselnya kembali terdengar. Dia segera berbalik badan dan meraih ponsel miliknya.
Ting ... Ting ..
Bunyi notifikasi dua kali. Amber segera berjalan kembali dan mengambil ponselnya dari nakas. Dia merasa bingung siapa yang sudah menghubunginya, mengingat ponsel ini merupakan ponsel baru. Ditepisnya rasa penasarannya itu. Dia membuka perlahan ponsel baru miliknya. Nama si pengirim pesan masih belum tertera.
..."Amber sayang, jangan lupa!"...
Brandon
Seluruh tubuh Amber menegang. Dia terkejut membaca isi pesan itu. Wajahnya seketika memucat.
__ADS_1