Truly Madly Love

Truly Madly Love
Bab 18. Lily vs Amber


__ADS_3

Teriakan Lily menarik perhatian pengunjung lain. Mereka terkejut dan melihat ke arah Lily. Mereka sampai menghentikan aktivitas makan.


Naya yang berada di dekat Lily juga terkejut. Ketika melihatnya, Lily sudah dalam keadaan basah dari atas kepala sampai pundaknya.


"Oh ... maaf. aku tidak sengaja." jawab seseorang yang tidak sengaja menumpahkan segelas teh es ke Lily.


Tanpa menoleh, Lily sudah bisa pastikan siapa pemilik suara itu. Dasar nenek sihir. Batin Lily. Dia membalikkan badannya dan tersenyum.


"Tidak apa-apa, nyonya ember." ucap Lily tersenyum. Dia menekankan kata ember dengan keras. Dia juga mengusap pipi kanan Amber sebagai tanda peduli. Hal yang tidak masuk akal dilakukan Lily.


Tidak hanya pipi Amber yang di usapnya. Tangannya beralih ke pundak Amber dan meniggalkan jejak disana. Dia tersenyum karena kebodohan Amber yang tidak mengetahui pembalasan spontan nya.


Sebelum membalikkan tubuhnya menghadap Amber. Lily sempat meletakkan telapak tangan kanannya ke permukaan piring sisa kwetiaw. Tangan kanannya penuh dengan lemak dan berwarna cokelat karena kecap.


Telinga Amber cukup panas mendengar Lily yang memanggil ember. Tapi dia harus menahannya. Dia tak ingin kejadian di restoran waktu itu terulang lagi.


"Baiklah. Karena kau tidak apa-apa. Aku kembali ke meja ku dulu." ucap Amber lembut dengan nada yang sudah dipastikan sangat di buat-buat.


"Silahkan nyonya ember." ucap Lily dengan tersenyum. Tangan kanannya juga di gaya kan seperti orang yang mempersilahkan.


Amber berjalan kembali ke mejanya bak super model. Pengunjung lain di food court itu mentertawakan Amber yang berjalan melewati mereka.


Lily dan Naya juga tak mau kalah menertawakan kebodohan Amber. Naya yang dari tadi menahan mulutnya untuk tertawa, kini tertawa lepas.


Amber yang tadinya berjalan dengan penuh percaya diri, kini mulai merasa curiga. Sesampainya di mejanya, dia segera mengambil cermin make up nya. Dia membulatkan kedua matanya. Teriakan tertahan sangat menyiksanya. Dia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri. Amber menahan emosi yang memenuhi relung hatinya.


Dia mengambil tisu dan mulai membersihkan wajahnya. Keterkejutan Amber tak sampai disitu. Tangannya yang memegang cermin tak sengaja bergoyang ke kiri, menampilkan pantulan yang berhasil membuat sepasang mata yang melihatnya berdiri dan menggebrak meja.


Kelakuannya membuat pengunjung kembali melirik ke arahnya. Tersadar akan perbuatannya. Amber segera duduk dan membenahi diri.


Gaun favoritnya kotor di bagian pundak kiri. Gaun dari sutra itu adalah gaunnya yang paling cocok di tubuhnya. Potongan gaun itu menampilkan bentuk sempurna tubuhnya.


Tak perlu di carinya si pelaku. Dia sudah tahu jika itu Lily. Dia menatap tajam ke arah Lily. Namun gagal. Pandangan mata tajamnya di hadang oleh tubuh para pengawal.


Pengawal yang ditugasi untuk menjaga mereka terkejut melihat kejadian yang tiba-tiba itu. Mereka tidak menyangka jika wanita yang tadi lewat berniat jahat pada nona mereka.


Wajar saja jika mereka tidak mengiranya. Amber berjalan layaknya super model kelas teri sambil menyunggingkan senyumnya. Dia juga berpura-pura melambaikan tangannya ke arah Naya. Seolah-olah teman lama yang baru bertemu sahabatnya. Tentu saja kelakuan Amber membuat mereka tidak menaruh curiga, dan membiarkan dia lewat.


Ketika melihat Amber menatap tajam ke arah nona-nona mereka. Mereka segera memblok pandangan Amber. Mereka tidak ingin mengulang kesalahan hingga ke dua kalinya.


Naya akhirnya bisa mendiamkan mulutnya dari tertawanya yang dari tadi sangat susah untuk di hentikan.


"Ya ampun, Ly. Rambut sama baju lu sampe basah." ucap Naya peduli.


Lily memegang rambutnya yang basah. Dia juga memperhatikan bajunya yang hanya basah di bagian atasnya saja.


"Ngga apa kok, Nay." jawab Lily.

__ADS_1


"Eiitss ... kesempatan donk." tambahnya lagi.


"Kesempatan apa, Ly?" tanya Naya.


Lily tidak menjawab pertanyaan Naya. Dia malah memberi kode kepada Naya untuk diam dengan tangannya. Dia segera mengambil ponselnya. Di hidupkan nya kamera dan mulai ber selfi. Setelah itu, dia mengirimkan foto yang baru saja diambilnya kepada seseorang.


Drt... drt ... drt ...


Lily segera menaikkan tombol hijau di layar ponselnya.


"Iya, Fa." jawab Lily.


Selanjutnya Lily menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya pada Rafa. Dia juga mengatakan pada Rafa untuk tidak menyalahkan para pengawal. Karena mereka tidak bersalah. Siapapun pasti tidak akan menaruh curiga, jika seseorang berakting seperti layaknya seorang teman.


Lily mengirimkan foto dirinya yang setengah basah kepada Rafa. Tujuannya hanya satu, waktu mereka di mall dapat di perpanjang dengan alasan Lily harus ke salon dan membeli baju untuk ganti. Dan berhasil.


"Ok. Beres," ucap Lily.


"Ya ampun Lily, bener-bener deh. Lama-lama bisa bangkrut juga tu Rafa." ucap Naya.


"Biarin aja. Lagian dia juga yang mulai duluan. Siapa suruh jadi sahabat yang posesif." Lily menjawab Naya terkekeh.


"Bener juga sih," Naya membenarkan ucapan Lily.


Setelah mendapat persetujuan dari Rafa, mereka segera beranjak pergi meninggalkan food court. Salon yang biasa dikunjungi mereka terletak di lantai tiga. Mereka memilih menggunakan eskalator karena hanya naik satu lantai.


Pengawal yang mengiringi mereka dengan ketat menjaga mereka. Pengawal itu berdiri dengan dua orang didepan, dan satu orang di belakang.


Wanita itu segera berlari. Lily sempat melihat punggung wanita itu. Dasar nenek sihir tingkat dewa. Umpat Lily dalam hatinya.


Mereka singgah ke butik untuk membeli baju ganti Lily. Setelah itu, mereka berjalan ke arah salon. Lily hanya ingin creambath dan mencuci rambutnya. Naya yang tadinya hanya ingin menemani Lily. Akhirnya mengikutinya.


Lily sudah selesai mencuci rambutnya dan bersiap untuk dikeringkan. Dia duduk di kursi yang sudah disediakan.


"Apa yang kau lakukan, nona?" teriak seorang hairstylist yang menangani rambut Lily. Dia sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia sangat terkejut dengan kejadian yang tiba-tiba itu.


"Maaf ... aku tidak sengaja. Kakiku tersandung." ucap nya.


Pengunjung salon langsung melihat ke arah mereka. Begitu juga dengan para hair stylist, mereka segera menghentikan pekerjaannya mereka. Seorang wanita berambut pendek berjalan ke tempat kejadian. Postur tubuhnya sedikit pendek. Gaya berpakaiannya sangat elegan. Dia merupakan manager salon tersebut. Dia berjalan mendekati Lily.


Naya yang melihat manager itu langsung menghentikan langkahnya. Dia meminta manager itu untuk diam dahulu. Dia yakin Lily masih belum sadar dengan yang telah terjadi. Untuk itu, dia meyakinkan manager itu agar dia saja yang menjelaskan kepada Lily.


Lily yang masih tidak mengetahui yang telah terjadi, masih asyik bermain game di ponselnya. Dia pikir itu pasti hanya hal yang biasa saja. Sampai Naya menghampirinya.


"Ly, lu ngga apa-apa?" tanya Naya prihatin.


Lily mendongak melihat Naya.

__ADS_1


"Gue ngga apa-apa, Nay. Emang kenapa gue harus ngapa-ngapa?" Lily balas bertanya.


Naya menghembuskan napasnya kasar. Dia meminta sebuah cermin kepada salah seorang hair stylist. Setelah hair stylist itu berdiri di belakang Lily dengan memegang sebuah cermin, Naya memintanya untuk berdiri dan melihat ke arah cermin.


Lily terkejut. Rambut panjangnya yang indah lengket satu sama lain. Seperti di rekatkan oleh sesuatu.


"What?" pekik Lily.


"Apa yang terjadi dengan rambutku?" Lily bertanya dengan hair stylist nya.


Hair stylist itu tampak ketakutan. Walaupun itu bukan kesalahannya, tapi Lily sedang berada di bawah pelayanannya.


"Ma-af... nona." ucapnya takut.


Naya menenangkan Lily. Naya menjelaskan bahwa itu bukanlah kesalahan hair stylist nya.


Lily menoleh ke arah wanita penyebab rusak rambutnya.


Lily berusaha menahan emosinya. Dia hanya bisa mengepalkan kedua tangannya. Wanita itu tak lain adalah Amber. Puas dengan balas dendam kecilnya. Amber segera berbicara kepada manager salon. Dia memasang wajah sedih dan ketakutan. Dia bersedia mengganti rugi semuanya termasuk biaya salon Lily.


Manager itu menganggap Amber telah menunjukkan niat baik terhadap kesalahannya. Dia mau bertanggung jawab. Selain itu, dia tidak ingin ada keributan di salonnya. Jika sampai terjadi akan sangat merusak citra salon yang sudah susah payah di urus nya. Sehingga dengan mudahnya manager itu melepaskan Amber. Dengan senyum kemenangan, Amber melangkah pergi meninggalkan salon itu.


Lily ingin mengamuk tapi rambutnya sudah terlanjur rusak. Dia hanya bisa pasrah. Manager hotel berusaha menenangkan dan membujuknya. Akhirnya, dia setuju untuk merubah gaya rambutnya.


Matanya sembab menahan tangis. Naya yang melihatnya merasa kasihan. Dia tahu bahwa Lily sangat menyayangi rambut panjangnya. Dia merawatnya dengan sangat baik. Kejadian ini sudah tentu membuatnya terluka.


Beberapa saat kemudian ...


Kedua mata Lily menatap tak percaya ke cermin. Cermin itu memantulkan seorang wanita yang terlihat lebih cantik dan segar. Lily hampir tidak percaya bahwa itu adalah dirinya jika dia tidak melihat pakaian yang dikenakannya.


Naya juga sangat terkesima melihat penampilan baru Lily. Rambutnya hanya di rapikan dan dipotong sesuai dengan bentuk wajah Lily. Tidak banyak rambut yang terpotong. Rambut Lily masih terlihat panjang melewati bahunya.


Urusan mereka kini sudah selesai sepenuhnya. Mereka juga sudah terasa lelah. Yang saat ini mereka butuhkan adalah pulang kembali ke rumah dan merebahkan diri di kasur mereka yang empuk.


Di depan pintu mall, Lily melihat musuh bebuyutannya sedang berdiri. Dia terlihat sedang menunggu seseorang. Dia meminta Naya untuk kembali ke mobil terlebih dahulu. Awalnya Naya tak ingin mengikuti permintaannya, tapi dia berhasil meyakinkan Naya.


Seorang pengawal tetap menemani Lily. Dia adalah pengawal yang tadi menemaninya ke apotik. Dia bersiap, memberi aba-aba pada dirinya sendiri dan ...


Bruk ...


Lily menabrak Amber hingga dia terjungkal. Padahal dia hanya menyenggolnya sedikit saja. Seorang pria segera meraih Amber. Dia menatap Lily dengan sangat tajam.


Dia berjalan ke arah Lily dan mencengkram lengannya.


"Sudah kukatakan, jangan ganggu istriku," ucapnya tegas.


"Aku sangat menyesali pertemuan kita," tambahnya.

__ADS_1


Pengawalnya segera meraih tangan Zack dan menghempaskan nya. Tak ingin jadi tontonan orang, Zack segera merangkul pinggang Amber dan membawanya masuk ke mobil.


Lily tertegun melihat mereka.


__ADS_2